Home > Kebijakan Lingkungan > HUBUNGAN LINGKUNGAN DENGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH (DBD)

HUBUNGAN LINGKUNGAN DENGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH (DBD)

Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi seluruh wilayah Republik Indonesia. Gambaran keadaan masyarakat Indonesia pada masa depan atau visi yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan tersebut dirumuskan sebagai Indonesia Sehat 2011. Untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal Program Pemberantasan Penyakit menitik beratkan kegiatan pada upaya mencegah berjangkitnya penyakit, menurunkan angka kesakitan dan kematian serta mengurangi akibat buruk dari penyakit menular maupun tidak menular.
Penyakit menular masih menjadi masalah prioritas dalam pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia. Dalam daftar SPM (SK MENKES No.145710 Oktober 2003) sejumlah penyakit menular dicantumkan sebagai masalah yang wajib menjadi prioritas oleh daerah. Masalah penyakit menular masih memprihatinkan, beberapa jenis penyakit bahkan menunjukkan kecenderungan meningkat dan belum berhasil diatasi seperti TB paru, malaria, dan demam berdarah. 
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ataupun Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) yang dapat bermanifestasi sebagai Dengue Shock Syndrome (DSS) merupakan suatu penyakit menular tidak langsung. Cara penularannya melalui vektor nyamuk Ae. aegypti dan Aedes albopictus. Berdasar pengalaman sampai saat ini, pada umumnya yang paling berperanan dalam penularan adalah Ae. aegypti, karena hidupnya di dalam dan disekitar rumah; sedangkan Aedes albopictus di kebun-kebun, sehingga lebih jarang kontak dengan manusia.ii Penyakit DBD bersifat endemis, sering menyerang masyarakat dalam bentuk wabah dan disertai dengan angka kematian yang cukup tinggi, khususnya pada mereka yang berusia dibawah 15 tahun dimana angka kesakitan dan kematian tersebut digunakan sebagai indikator dalam menilai hasil pembangunan kesehatan dan sebagai akibatnya angka kesakitan dan kematian nasional selalu tinggi. Penyakit DBD sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang cukup serius untuk diwaspadai, karena sering menimbulkan wabah dan menyebabkan kematian pada banyak orang terutama anak-anak.
Di Indonesia, DBD cenderung semakin meningkat jumlah penderitanya dan semakin menyebar luas. Tahun 1968 penyakit ini baru terjangkit di Jakarta dan Surabaya. Dua puluh tahun kemudian, DBD telah menjangkiti 201 Dati II di seluruh Indonesia. Peningkatan jumlah penderita terjadi periodik setiap 5 tahun. Kejadian Luar Biasa terakhir pada tahun 1988 dengan jumlah penderita dirawat di rumah sakit 47.573 orang, dengan jumlah yang meninggal dunia 1.527 (CFR 3,2 %). Semula diperkirakan bahwa penyakit DBD hanya terjadi di daerah perkotaan saja tetapi ternyata dugaan tersebut salah, karena sekarang banyak ditemukan dipelosok pedesaan.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlah penderita serta semakin luas penyebaranya. Kondisi lingkungan yang buruk, genangan air yang tertampung dalam suatu wadah, tempat pemukiman yang padat khususnya daerah perkotaan, kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan khususnya untuk menguras bak mandi dan gerakan pemberantasan sarang nyamuk, adalah merupakan faktor pencetus berkembang biaknya nyamuk Ae. aegypti sebagai penyebab penyakit Demam Berdarah. Upaya–upaya pencegahan seperti Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Abatatisasi, dan Fogging, sudah sering dilakukan baik yang dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri ataupun oleh pihak instansi pemerintah, namun kenyataanya penyakit tersebut masih tetap muncul bahkan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Disamping itu juga diduga kuat ada pengaruh pada aspek lingkungan Fisik, lingkungan Biologi, lingkungan Sosial, Program , Regulasi, Tehnis Operasional, dan Peran Serta masyarakat dalam Program Pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue mulai dari Perencanaan (Planning) Pelaksanaan (Actuating) dan Monitoring (Controling ). Hal tersebut dapat dilihat dari input, proses, output dan outcamenya, sehingga identifikasi, analisis dan evaluasi yang menyangkut lingkungan terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue menjadi sesuatu yang sangat penting.
Pengertian Penyakit Demam Berdarah Dengue
“Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah Penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Ae. aegypti yang ditandai dengan demam mendadak 2 sampai 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai tanda perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan (petechiae), lebam (ecchymosis), atau ruam (purpura), kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau renjatan (shock)”. “Demam berdarah merupakan suatu penyakit akut yang disebabkan oleh infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk Ae. aegypti serta Aedes albopictus betina yang umumnya menyerang pada musim panas dan musim hujan”.
Demam Berdarah Dengue
Penyakit DBD adalah penyakit akibat infeksi dengan virus dengue pada manusia. Manifestasi klinis dari infeksi virus dengue dapat berupa demam dengue dan DBD. Penyakit demam berdarah dan terjadinya DBD dibagi menjadi 3 kelompok 2005 yaitu : 
1. Virus Dengue
Virus dengue termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali + 35-45 nm. Virus dapat tetap hidup (survive) di alam melalui dua mekanisme. Mekanisme pertama, transmisi vertikal dalam tubuh nyamuk. Virus ditularkan oleh nyamuk betina pada telurnya, yang nantinya menjadi nyamuk dewasa. Virus juga dapat ditularkan dari nyamuk jantan pada nyamuk betina melalui kontak seksual. Mekanisme kedua, transmisi virus dari nyamuk ke dalam tubuh makhluk Vertebrata dan sebaliknya.
2. Virus Dengue dalam Tubuh Nyamuk
Virus dengue didapatkan nyamuk Aedes pada saat melakukan gigitan pada manusia (vertebrata) yang sedang mengandung virus dengue dalam darahnya (viraemia). Virus yang sampai ke dalam lambung nyamuk akan mengalami replikasi (membelah diri atau berkembang biak), kemudian akan migrasi yang akhirnya akan sampai di kelenjar ludah.
3. Virus Dengue dalam Tubuh Manusia
Virus dengue memasuki tubuh manusia melalui proses gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah nyamuk mengigit manusia disusul oleh periode tenang + 4 hari, virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh manusia virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia) apabila jumlah virus sudah cukup, dan manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Tubuh memberi reaksi setelah adanya virus dengue dalam tubuh manusia. Bentuk reaksi terhadap virus antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dapat berbeda dan akan memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakit.
Demam dengue ditandai oleh gejala-gejala klinik berupa demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Gejala-gejala tersebut dijelaskan sebagai berikut :
1. Demam
Demam yang terjadi pada infeksi virus dengue timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40 oC) dan dapat disertai dengan menggigil. Demam hanya berlangsung untuk 5-7 hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali dalam turunnya suhu badan secara tibatiba (lysis), disertai dengan berkeringat banyak, dimana anak tampak agak loyo. Demam ini dikenal juga dengan istilah demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari sempat turun ditengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh.
2. Nyeri seluruh tubuh
Dengan timbulnya gejala panas pada penderita infeksi virus dengue, maka disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya yang dikeluhkan berupa nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung, nyeri ulu hati dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Gejala nyeri yang timbul dalam kalangan masyarakat awam di sebut dengan istilah flu tulang.
3. Ruam
Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue dapat timbul pada saat awal panas yang berupa ~flushing~ yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit berupa bercak-bercak merah kecil, seperti : bercak pada penyakit campak.
4. Perdarahan
Infeksi virus dengue terutama pada bentuk klinis demam berdarah dengue selalu disertai dengan tanda perdarahan. Tanda perdarahan tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan muncul setelah dilakukan test tourniquet.
Penyebab Demam Berdarah Dengue
Virus dengue yang dikenal saat ini ada empat serotipe. Keempatnya saling berkaitan sifat antigennya. Infeksi pertama dengan salah satu serotipe hanya akan memberikan proteksi sebagian terhadap ketiga serotipe lainnya, dan memungkinkan terjadi infeksi dengan ketiga serotipe yang lain tersebut. Menurut Depkes RI6 bahwa teori infeksi sekunder “The Secondary Heterologus Infection Hypothesis” yang dikemukakan oleh Halstead (1980) menyebutkan bahwa seseorang dapat menderita DBD jika mendapat infeksi ulangan tipe virus dengue berbeda. Misalnya : infeksi pertama oleh virus dengue tipe–1 (DEN-1) menyebabkan terbentuknya antibodi DEN -1, apabila kemudian terkena infeksi berikut oleh virus dengue tipe-2 (DEN-2) dalam waktu 6 bulan sampai 5 tahun pada sebagian dari yang mendepat infeksi kedua itu dapat terjadi suatu reaksi imunologis antara virus DEN-2 sebagai antigen dengan antibody DEN – 1 yang dapat mengakibatkan gejala Demam Berdarah dengue. Halstead, dkk. (1970) berkeyakinan bahwa Demam Berdarah Dengue yang disertai syok (dengue shock syndrome/DSS) dapat terjadi pada anak berumur kurang dari 1 tahun dengan infeksi virus dengue pertama kali, oleh karena anak tersebut dilahirkan dari ibu yang mempunyai immunitas terhadap dengue yang diberikan kepada bayinya melalui plasenta. Hypothesa yang lain mengemukakan bahwa infeksi dari setiap tipe virus dengue yang virulen dapat mengakibatkan timbulnya gejala Demam Berdarah Dengue yang disebut dengan Teori Infeksi Primer (Ditjen PPM & PLP, 1986).7
Demam berdarah baru terjadi apabila telah terinfeksi oleh virus dengue untuk kedua kalinya, atau mendapat virus dari sumber yang tidak sama. Infeksi yang pertama dengan atau tampa obat, demam tersebut sering sembuh sendiri atau berlalu begitu saja tanpa disadari oleh penderitanya. Orang yang terinfeksi kedua kalinya pada darah atau pipa-pipa pembuluh darah dalam di dalam tubuh yang telah terkontaminasi virus dengue itu menjadi lebih sensitif terhadap serangan yang kedua kali sehingga dalam tubuh mereka yang telah terkena virus dengue biasanya akan terjadi reaksi yang lebih dahsyat atau hypersensitivity, reaksi yang berlebihan atau terlalu sensitif itulah yang sesungguhnya menimbulkan tanda-tanda atau gejala yang disebut dengan demam berdarah (Indrawan, 2001).
Cara Penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue
Seseorang yang menderita demam berdarah, dalam darahnya mengandung virus dengue. Penderita tersebut apabila digigit oleh nyamuk Aedes, maka virus dalam darah penderita tadi ikut terhisap masuk ke lambung nyamuk dan virus akan memperbanyak diri dalam tubuh nyamuk dan tersebar di berbagai jaringan tubuh termasuk dalam kelenjar liur nyamuk. Nyamuk siap untuk menularkan kepada orang atau anak lain 3-10 hari setelah menggigit atau menghisap darah penderita.
Penularan penyakit terjadi karena setiap kali nyamuk menggigit (menusuk), alat tusuknya yang disebut proboscis akan mencari kapiler darah. Setelah diperoleh, maka dikeluarkan liur yang mengandung zat anti pembekuan darah (anti koagulan), agar darah mudah di hisap melalui saluran proboscis yang sangat sempit. Bersama liurnya inilah virus dipindahkan kepada orang lain.
Penyebaran
Kemampuan terbang nyamuk betina rata-rata 40 m, maksimal 100 m, tetapi secara pasif nyamuk dapat berpindah lebih jauh, misalnya : karena angin atau terbawa kendaraan. Ae. aegypti tersebar luas di daerah tropis dan sub tropis. Aedes dapat hidup dan berkembangbiak sampai ketinggian daerah + 1.000 m dari permukaan air laut, apabila berada di atas ketinggian + 1.000 m nyanuk tidak dapat berkembang biak, karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah (Depkes RI, 1992)v. Nyamuk Aedes pada saat ini telah terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia tidak terkecuali lagi di daerah atau tempat-tempat yang ketinggiannya mencapai lebih dari 1.000 m di atas permukaan laut yang dahulu dianggap tidak dapat didatangi atau dihuni oleh nyamuk tersebut (Indrawan, 2001). Kejadian penyakit DBD pertama kali ditemukan Manila, Filiphina pada tahun 1953. Kejadian di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanyak 24 orang. Beberapa tahun kemudian penyakit DBD menyebar kebeberapa propinsi di Indonesia (Depkes RI, 2004).
Pusat-pusat Penularan
Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat penularan virus dengue adalah kepadatan vektor, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, dan susceptibilitas dari penduduk. Mobilitas penduduk memegang peranan penting pada penularan virus dengue, karena jarak terbang nyamuk Ae. aegypti yang sangat terbatas, yaitu 100m. Tempat yang potensial untuk terjadi penularan DBD menurut Depkes RI (1992) adalah :
1. Wilayah yang banyak kejadian DBD
2. Tempat-tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah, sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar. Tempat-tempat umum itu antara lain sekolah, RS atau Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya.
3. Pemukiman baru di pinggir kota, karena di lokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah, maka memungkinkan diantaranya terdapat penderita atau karier yang membawa tipe virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal.
Distribusi Penderita Demam Berdarah Dengue
Distribusi penderita DBD menurut Suroso (1986), dapat digolongkan menjadi :
1. Distribusi menurut umur, jenis kelamin dan ras :
Berdasarkan data kejadian DBD yang dikumpulkan di Ditjen PPM & PLP dari tahun 1968 – 1984 menunjukkan bahwa 90% kejadian DBD terdiri dari anak berusia kurang daria 15 tahun. Ratio perempuan dan laki-laki adalah 1,34 : 1. Data penderitaan klinis DHF/DSS yang dikumpulkan di seluruh Indonesia tahun 1968 – 1973 menunjukkan 88% jumlah penderita yang dilaporkan adalah anak-anak di bawah 15 tahun. Faktor ras pada penderita demam berdarah di Indonesia belum jelas pengaruhnya.
2. Distribusi menurut waktu :
Dari data-data penderita klinis DBD/DSS 1975 – 1981 yang dilaporkan di Indonesia diperoleh bahwa musim penularan demam berdarah pada umumnya terjadi pada awal musim hujan (permulaan tahun dan akhir tahun). Hal ini dikarenakan pada musim hujan vektor penyakit demam berdarah populasinya meningkat dengan bertambah banyaknya sarangsarang nyamuk diluar rumah sebagai akibat sanitasi lingkungan yang kurang bersih, sedang pada musim kemarau Ae. aegypti bersarang di bejana-bejana yang selalu terisi air seperti bak mandi, tempayan, drum dan penampungan air.
3. Distribusi menurut tempat
Daerah yang terjangkit demam berdarah pada umumnya adalah kota/wilayah yang padat penduduknya. Hal ini disebabkan di kota atau wilayah yang padat penduduk rumah-rumahnya saling berdekatan, sehingga lebih memungkinkan penularan penyakit demam berdarah mengingat jarak terbang Ae. aegypti 100m. Di Indonesia daerah yang terjangkit terutama kota, tetapi sejak tahun 1975 penyakit ini juga terjangkit di daerah sub urban maupun desa yang padat penduduknya dan mobilitas tinggi.
Morfologi dan Lingkaran Hidup Nyamuk Ae. aegypti
Nyamuk Ae. aegypti berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran nyamuk rumah (Culex), mempunyai warna dasar yang hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badannya, terutama pada kaki dan dikenal dari bentuk morfologi yang khas sebagai nyamuk yang mempunyai gambaran lire (Lyre form) yang putih pada punggungnya. Probosis bersisik hitam, palpi pendek dengan ujung hitam bersisik putih perak. Oksiput bersisik lebar, berwarna putih terletak memanjang. Femur bersisik putih pada permukaan posterior dan setengah basal, anterior dan tengah bersisik putih memanjang. Tibia semuanya hitam. Tarsi belakang berlingkaran putih pada segmen basal kesatu sampai keempat dan kelima berwarna putih. Sayap berukuran 2,5 – 3,0 mm bersisik hitam.
Nyamuk Aedes albopictus, sepintas seperti nyamuk Ae. aegypti, yaitu mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian dadanya, tetapi pada thorax yaitu bagian mesotonumnya terdapat satu garis longitudinal (lurus dan tebal) yag dibentuk oleh sisik sisik putih berserakan. Nyamuk ini merupakan penghuni asli Negara Timur, walaupun mempunyai kebiasaan bertelur ditempat-tempat yang alami di rimba dan hutan bambu, tetapi telah dilaporkan dijumpainya telur dalam jumlah banyak disekitar tempat pemukiman penduduk di daerah perkotaan. 

Siklus Hidup Nyamuk Ae. aegypti

Nyamuk Ae. aegypti mengalami metamorfosis sempurna, yaitu telur – larva – pupa – dewasa. Stadium telur, larva dan pupa hidup didalam air, sedangkan stadium dewasa hidup diluar air. Pada umumnya telur akan menetas dalam 1 – 2 hari setelah terendam dengan air. Stadium jentik biasanya berlangsung antara 5 – 15 hari, dalam keadaan normal berlangsung 9 -10 hari. Stadium berikutnya adalah stadium pupa yang berlangsung 2 hari, kemudian selanjutnya menjadi dewasa dan melanjutkan siklus berikutnya. Dalam suasana yang optimal, perkembangan dari telur menjadi dewasa memerlukan waktu sedikitnya 9 hari . Nyamuk Aedes albopictus dalam berkembang biaknya juga mengalami metamorfosis sempurna dengan lama berkembang biaknya dari telur hingga dewasa adalah 7 – 14 hari dengan tiap-tiap fase : telur – jentik : 1- 2 hari, jentik kepompong 7 – 9 hari dan kepompong – dewasa 2-3 hari . Antara nyamuk Ae. aegypti dan Aedes albopictus lama siklus hidupnya tidak berbeda jauh.

Tempat Perindukan
Tempat perindukan nyamuk Aedes berupa genangan air yang tetampung disuatu wadah yang disebut kontainer, bukan pada genangan air di tanah. Kontainer ini dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Tempat penampungan air yang bersifat tetap (TPA)
Penampungan ini biasanya dipakai untuk keperluan rumah tangga seharihari, pada umumnya keadaan airnya adalah jernih, tenang dan tidak mengalir seperti bak mandi, bak WC, drum penyimpanan air dan lain-lain.
b. Bukan tempat penampungan air (non TPA).
Adalah kontainer atau wadah yang bisa menampung air, tetapi bukan untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum hewan piaraan, barang bekas (ban, kaleng, botol, pecahan piring/gelas), vas atau pot bunga dan lain-lain.
c. Tempat perindukan alami.
Bukan tempat penampungan air tetapi secara alami dapat menjadi tempat penampungan air misalnya potongan bambu, lubang pagar, pelepah daun yang berisi air dan bekas tempurung kelapa yang berisi air. Berbagai penelitian yang telah dilakukan terhadap perindukan nyamuk didapatkan bahwa :
1) Tempat perindukan alami lebih disukai bila dibandingkan dengan non alami.
2) Jenis kontainer tanah liat dan bambu paling disukai bila dibandingkan kontainer semen, kaca/gelas, aluminium dan plastik
3) Warna-warna kontainer terang (coklat muda, kuning dan merah) lebih disukai sebagai tempat berkembang biak.
4) Semakin dalam jarak permukaan air ke permukaan bejana semakin banyak didapatkan larva.

Habitat vektor
Habitat vektor mempelajari hubungan antara vektor dan lingkungannya atau mempelajari bagaimana pengaruh lingkungan terhadap vektor. Lingkungan ada 2 macam, yaitu Lingkungan Fisik dan Biologi  juga sedikit dipengaruhi oleh Lingkungan Sosial.
a. Lingkungan fisik
Lingkungan fisik ada bermacam-macam misalnya tata rumah, jenis kontainer, ketinggian tempat dan iklim.
1) Jarak antara rumah
Jarak rumah mempengaruhi penyebaran nyamuk dari satu rumah ke rumah lain, semakin dekat jarak antar rumah semakin mudah nyamuk menyebar kerumah sebelah menyebelah. Bahan-bahan pembuat rumah, konstruksi rumah, warna dinding dan pengaturan barang-barang dalam rumah menyebabkan rumah tersebut disenangi atau tidak disenangi oleh nyamuk. Berbagai penelitian penyakit menular membuktikan bahwa kondisi perumahan yang berdesak- desakan dan kumuh mempunyai kemungkinan lebih besar terserang penyakit.
2) Macam kontainer
Termasuk macam kontainer disini adalah jenis/bahan kontainer, letak kontainer, bentuk, warna, kedalaman air, tutup dan asal air mempengaruhi nyamuk dalam pemilihan tempat bertelur.
3) Ketingian tempat
Pengaruh variasi ketinggian berpengaruh terhadap syarat-syarat ekologis yang diperlukan oleh vektor penyakit. Di Indonesia nyamuk Ae. aegypti dan Aedes albopictus dapat hidup pada daerah dengan ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut
4) Iklim
Iklim adalah salah satu komponen pokok lingkungan fisik, yang terdiri dari: suhu udara, kelembaban udara, curah hujan dan kecepatan angin
a) Suhu udara
Nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah, tetapi metabolismenya menurun atau bahkan terhenti bila suhunya turun sampai dibawah suhu kritis. Pada suhu yang lebih tinggi dari 350 c juga mengalami perubahan dalam arti lebih lambatnya proses-proses fisiologis, rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25 0 C – 270 C. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali bila suhu kurang 100 C atau lebih dari 400 C.
b) Kelembaban nisbi
Kelembaban udara yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan keadaan rumah menjadi basah dan lembab yang memungkinkan berkembangbiaknya kuman atau bakteri penyebab penyakit. Kelembaban yang baik berkisar antara 40 % – 70%. Untuk mengukur kelembaban udara digunakan hidrometer, yang dilengkapi dengan jarum penunjuk angka relatif kelembaban.9
c) Curah hujan
Hujan berpengaruh terhadap kelembaban nisbi udara dan tempat perindukan nyamuk juga bertambah banyak.
d) Kecepatan angin
Kecepatan angin secara tidak langsung berpengaruh pada kelembaban dan suhu udara, disamping itu angin berpengaruh terhadap arah penerbangan nyamuk. Meskipun kondisi iklim dari suatu daerah berpengaruh terhadap vektor penyakit, mengingat keterbatasan alat maka pada penelitian ini yang akan dilakukan pengukuran langsung adalah suhu udara dan kelembaban udara.
b. Lingkungan Biologi
Nyamuk Ae. aegypti dalam perkembanganya mengalami metamorfosis lengkap yaitu mulai dari telur-larva-pupa- dewasa. Telur Ae. aegypti berukuran lebih kurang 50 mikron, berwarna hitam berbentuk oval menyerupai torpedo dan bila terdapat dalam air dengan suhu 20-40 ºC akan menetas menjadi larva instar I dalam waktu 1-2 hari. Pada kondisi optimum larva instar 1 akan berkembang terus menjadi instar II, instar III dan instar IV, kemudian berubah menjadi nyamuk dewasa memerlukan waktu antara 2-3 hari. Pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Ae. aegypti sejak dari telur sampai nyamuk dewasa memerlukan waktu 7-14 hari dan nyamuk jantan lebih cepat menetasnya bila dibandingkan nyamuk betina. Larva nyamuk Ae. aegypti lebih banyak ditemukan berturut-turut pada bejana yang terbuat dari metal, tanah liat, semen, dan plastik. Lingkungan biologi yang mempengaruhi penularan DBD terutama adalah banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan, yang mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan didalam rumah. Adanya kelembaban yang tinggi dan kurangnya pencahayaan dalam rumah merupakan tempat yang disenangi nyamuk untuk hinggap beristirahat.
c. Lingkungan Sosial
Kebiasaan masyarakat yang merugikan kesehatan dan kurang memperhatikan kebersihan lingkungan seperti kebiasaan menggantung baju, kebiasaan tidur siang, kebiasaan membersihkan TPA, kebiasaan membersihkan halaman rumah, dan juga partisipasi masyarakat khususnya dalam rangka pembersihan sarang nyamuk, maka akan menimbulkan resiko terjadinya transmisi penularan penyakit DBD di dalam masyarakat. Kebiasaan ini akan menjadi lebih buruk dimana masyarakat sulit mendapatkan air bersih, sehingga mereka cenderung untuk menyimpan air dalam tandon bak air, karena TPA tersebut sering tidak dicuci dan dibersihkan secara rutin pada akhirnya menjadi potensial sebagai tempat perindukan nyamuk Ae. aegypti.
Bionomik Vektor
Bionomik adalah kebiasaan tempat perindukan (breeding habit), kebiasaan menggigit (feeding habit), kebiasaan beristirahat (resting habit) dan jarak terbang.
1. Tempat perindukan nyamuk (Breeding Habit)
Tempat perindukan nyamuk Aedes berupa genangan-genangan air yang tertampung di suatu wadah yang disebut dengan kontainer bukan genangan air di tanah. Tempat bertelur yang disukai oleh nyamuk betina adalah dinding vertikal bagian dalam dari tempat atau kontainer yang berisi air sedikit dibagian atas permukaan air, dan terlindung dari cahaya matahari langsung dan nyamuk betina bertelur disaat-saat segera sebelum matahari terbenam. Tempat penampungan air yang ada di masyarakat biasanya berupa bak mandi dengan bahan terbuat dari porselin ataupun plesteran biasa, gentong dari tanah, drum dan lain-lain.
2. Kebiasaan menggigit (Feeding Habit).
Berdasarkan penelitian kebiasaan menggigit nyamuk betina Ae. aegypti terutama antara pukul 08.00 – 13.00 dan 15.00 -17.00 WIB, dengan demikian dapat dikatakan bahwa nyamuk betina menggigit pada pagi dan sore hari. Tempat menggigit lebih banyak di dalam rumah daripada di luar rumah. Menggigit dan menghisap darah manusia dan bisa menggigit beberapa kali hal ini dikarenakan pada siang hari nyamuk belum kenyang dalam mengambil darah, orang yang digigit sudah aktif bergerak, kemudian nyamuk terbang dan menggigit orang lagi sampai cukup darah untuk pertumbuhan dan perkembangan telurnya.
3. Kebiasaan beristirahat (Resting Habit)
Setelah menggigit selama menunggu pematangan telur nyamuk akan hinggap di tempat-tempat dimana terdapat kondisi yang optimum untuk beristirahat, setelah itu nyamuk akan bertelur dan menghisap darah lagi. Tempat-tempat yang disenangi nyamuk untuk hinggap/ istirahat adalah tempat-tempat yang gelap, lembab dan sedikit dingin, juga pada baju-baju yang bergantungan.
4. Jarak terbang
Nyamuk Ae. aegypti sehari-hari mempunyai kebiasaan terbang dekat permukaan tanah dan bergerak ke semua arah untuk mencari mangsa, mencari tempat bertelur, mencari tempat beristirahat dan melakukan perkawinan. Nyamuk betina dapat tebang rata-rata 50 meter, dan ada kalanya sampai sejauh dua kilometer. Di daerah yang padat penduduknya dan cukup banyak tempat air untuk bertelur, kemungkinan terjadi penyebaran sampai jauh sedikit sekali.
Kepadatan Vektor
Untuk mengetahui kepadatan vektor disuatu lokasi dapat dilakukan beberapa survai yang dipilih secara acak yang meliputi : Survai nyamuk, survai jentik dan survai perangkap telur. Sesuai dengan penelitian ini hanya akan dibahas tentang survai jentik. Survai jentik dilakukan dengan cara pemeriksaan terhadap semua tempat air didalam dan diluar rumah dari seratus rumah yang diperiksa disuatu daerah dengan mata telanjang untuk mengetahui ada tidaknya jentik. Dalam pelaksanaan survei ada 2 metode yang meliputi :
1. Metode singgle larva
Survai ini dilakukan dengan mengambil satu jentik disetiap tempat genangan air yang ditemukan ada jentiknya untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut jenis jentiknya.
2. Metode visual
Survai ini dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Dalam program pemberantasan penyakit demam berdarah dengue, survai jentik yang biasa digunakan adalah cara visual.
3. Survai Perangkap Telur (Ovitrap)
Tujuan dari survai perangkap telur adalah untuk mengetahui ada/tidaknya nyamuk Ae. aegypti dalam situasi densitas sangat rendah, yang mana dengan metode single larva tidak dapat menemukan adanya container positip. Ovitrap berupa bejana (kaleng, palstik atau potongan bambu) yang dinding bagian dalamnya dicat hitam dan diberi air secukupnya. Kedalam bejana tersebut dimasukan padel yaitu berupa potongan bambu atau kain yang tenunanya kasar dan berwarna gelap sebagai tempat menyimpan telur. Ovitrap ditempatkan di dalam dan diluar rumah, ditempat yang gelap dan lembab. Setelah satu minggu dilakukan pemeriksaan ada/tidaknya telur di padel.
Pemberantasan Vektor
Pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD seperti juga penyakit menular lainnya didasarkan pada usaha pemutusan rantai penularannya. Pada penyakit DBD yang merupakan komponen epidemiologi adalah terdiri dari virus dengue, nyamuk Ades aegypti dan manusia. Oleh karena sampai saat ini belum terdapat vaksin atau obat yang efektif untuk virus dengue, maka pemberantasan ditujukan terutama pada manusia dan vektornya. Yang sakit diusahakan agar sembuh guna menurunkan angka kematian, sedangkan yang sehat terutama pada kelompok yang paling tinggi terkena resiko, diusahakan agar jangan mendapatkan infeksi penyakit DBD dengan cara memberantas vektornya.
Menurut Harmadi Kalim (1976), sampai saat ini pemberantasan vektor masih merupakan pilihan yang terbaik untuk mengurangi jumlah penderita DBD. Strategi pemberantasan vektor ini pada prinsipnya sama dengan strategi umum yang telah dianjurkan oleh WHO dengan diadakan penyesuaian tentang ekologi vektor penyakit di Indonesia. Strategi tersebut terdiri atas 40 perlindungan perseorangan, pemberantasan vektor dalam wabah dan pemberantasan vektor untuk pencegahan wabah, dan pencegahan penyebaran penyakit DBD. Untuk mencapai sasaran sebaik-baiknya perlu diperhatikan empat prinsip dalam membuat perencanaan pemberantasan vektor, yaitu :
1. Mengambil manfaat dari adanya perubahan musiman keadaan nyamuk oleh pengaruh alam, dengan melakukan pemberantasan vektor pada saat kasus penyakit DBD paling rendah.
2. Memutuskan lingkaran penularan dengan cara menahan kepadatan vektor pada tingkat yang rendah untuk memungkinkan penderita-penderita pada masa viremia sembuh sendiri.
3. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah dengan potensi penularan tinggi, yaitu daerah padat penduduknya dengan kepadatan nyamuk cukup tinggi.
4. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat-pusat penyebaran seperti sekolah, Rumah Sakit, serta daerah penyangga sekitarnya. Pemberantasan vektor dapat dilakukan pada stadium dewasa maupun stadium jentik.
a. Pemberantasan vektor stadium dewasa
Pemberantasan vektor penyakit DBD pada waktu terjadi wabah sering dilakukan fogging atau penyemprotan lingkungan rumah dengan insektisida malathion yang ditujukan pada nyamuk dewasa. Caranya adalah dengan menyemprot atau mengasapkan dengan menggunakan mesin pengasap yang dapat dilakukan melalui darat maupun udara.
Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengasapan rumah dengan malathion sangat efektif untuk pemberantasan vektor. Namun kegiatan ini tanpa didukung dengan aplikasi abatisasi, dalam beberapa hari akan meningkat lagi kepadatan nyamuk dewasanya, karena jentik yang tidak mati oleh pengasapan akan menjadi dewasa, untuk itu dalam pemberantasan vektor stadium dewasa perlu disertai aplikasi abatisasi.
b. Pemberantasan vektor stadium jentik.
Pemberantasan vektor stadium jentik dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida maupun tanpa insektisida.
1.Pemberantasan jentik dengan insektisida.
Insektisida yang digunakan untuk memberantas jentik Ae. aegypti disebut larvasida yaitu Abate (temephos). Abate SG 1 % diketahui sebagai larvasida yang paling aman dibanding larvasida lainnya, dengan rekomendasi WHO untuk dipergunakan sebagai pembunuh jentik nyamuk yang hidup pada persediaan air minum penduduk, sehingga kegiatannya sering disebut abatisasi. Untuk pemakaiannya dengan dosis 1 ppm (part per-million), yaitu setiap 1 gram Abate 1 % untuk setiap 10 liter air. Abate setelah ditaburkan ke dalam air maka butiran pasir akan jatuh sampai ke dasar dan racun aktifnya akan keluar serta menempel pada pori-pori
dinding tempat air, dengan sebagian masih tetap berada dalam air. Tujuan abatisasi adalah untuk menekan kepadatan vektor serendahrendahnya secara serentak dalam jangka waktu yang lebih lama, agar Sedang fungsi abatisasi bisa sebagai pendukung kegiatan foging yang dilakukan secara bersama-sama, juga sebagai usaha mencegah letusan atau meningkatnya penderita DBD.
2. Pemberantasan jentik tanpa insektisida.
Cara pemberantasan vektor stadium jentik tanpa menggunakan insektisida lebih dikenal dengan pembersihan sarang nyamuk (PSN). Kegiatan ini merupakan upaya sanitasi untuk melenyapkan kontainer yang tidak terpakai, agar tidak memberi kesempatan pada nyamuk Ae. aegypti untuk berkembang biak pada kontainer tersebut. Caranya adalah dengan membersihkan pekarangan rumah dari kontainer yang tidak terpakai dengan menanam, membakar, atau dengan menguras, menggosok dinding bak mandi atau tempayan dan tempat penampungan air lain secara teratur setiap seminggu sekali.
Kebijakan Pemberantasan Penyakit DBD di Indonesia
Kebijaksanaan pemberantasan penyakit DBD di Indonesia meliputi : pengamatan penderita, pengobatan dan perawatan penderita, pengamatan vektor dan kegiatan penunjang berupa pendidikan masyarakat dan penelitian – penelitian.
Tujuan program pemberantasan Demam Berdarah Dengue yaitu :
1. Mengurangi kecenderungan penyebarluasan wilayah terjangkit DBD
2. Mengurangi kecenderungan peningkatan jumlah kejadian demam berdarah dengue, sehingga insiden tidak melebihi 50 per 100.000 penduduk.
3. Mengusahakan angka kematian (CFR) tidak melebihi 3 % pertahun.
Untuk mencapai tujuan program tersebut, Suroso (1984)10 mengemukakan kegiatan-kegiatan pokok pemberantasam sebagai berikut :
a. Penemuan kejadian
b. Penanggulangan fokus
c. Abatisasi masal
b. Penyuluhan kepada masyarakat
c. Pendidikan atau peningkatan ketrampilan dan penelitian
Strategi kegiatan pemberantasan selanjutnya disesuaikan dengan tingkat kerawanan suatu penyakit DBD yang meliputi desa/kelurahan endemis dan non endemis yang terdiri dari desa/kelurahan sporadis, desa/kelurahan
potensial dan desa/ kelurahan bebas :
a. Desa/kelurahan endemis
Desa/kelurahan yang dalam 3 tahun terakhir, terdapat kasus ataupun kematian karena demam berdarah dengue secara berurutan, meskipun jumlahnya hanya satu.
b. Desa/kelurahan sporadis
Desa/kelurahan yang dalam 3 tahun terakhir terdapat kasus ataupun kematian karena penyakit demam berdarah dengue tetapi tidak berurutan disetiap tahunnya .
c. Desa/kelurahan potensial
Desa/kelurahan yang dalam 3 tahun terakhir tidak pernah diketemukan kasus ataupun kematian karena penyakit demam berdarah dengue, tetapi penduduknya padat, mempunyai hubungan transportasi yang
ramai dengan wilayah lain dan persentase ditemukan jentik lebih 5 %
d. Desa/kelurahan bebas
Desa/kelurahan yang tidak pernah terjangkit DBD, dan ketinggiannya lebih dari 1000 m dari permukaan laut, atau yang ketianggiannya kurang dari 1000 m tetapi persentase rumah yang diketemukan jentik kurang dari 5 %.
Konsep Pemberantasan Penyakit Menular
Penyakit menular masih menjadi masalah prioritas dalam pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia. Imunisasi, surveilans, penanggulangan KLB, diare, malaria, demam berdarah, dll adalah beberapa masalah yang perlu mendapat perhatian secara serius dari pemerintah. Dalam kenyataan masalah penyakit menular masih memprihatinkan. Beberapa jenis penyakit bahkan menunjukkan kecenderungan meningkat, seperti misalnya TB paru, malaria dan demam berdarah.
Dalam proyek intensifikasi Pemberantasan Penyakit Menular (PPM) telah dilakukan banyak studi (riset) yang dilaksanakan Ditjen P2M, yang antara lain juga menemukan beberapa faktor resiko terhadap penyakit menular tertentu. Misalnya adalah hubungan antara pengangkutan batu bara dengan ratusan truk perhari di Banjarmasin ternyata berkaitan dengan ISPA, perkembangan kebun salak di Banjarnegara dengan malaria, domestic indoor polution berkaitan dengan pnemonia, dll. Dengan pengalaman dalam proyek IPPM tersebut Ditjen P2M, memutuskan untuk mengembangkan konsep manajemen Program Pemberantasan Penyakit Menular untuk tingkat daerah. Konsep tersebut menekankan beberapa hal yaitu :
1. Perencanaan dan Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit Menular harus berdasar fakta ( evidence based)
2. Manajemen P2M harus menjamin intervensi yang menyeluruh/holistik meliputi :
a. Penemuan Kejadian
b. Pengobatan
c. Intervensi terhadap faktor resiko perilaku
d. Intervensi terhadap faktor resiko lingkungan
e. Menggalang kemitraan seluas-luasnya.
3. Kemampuan manajemen seperti diatas perlu dikembangkan pada tingkat daerah, sejalan dengan kebijakan desentralisasi yang sudah dilaksanakan di Indonesia.
Konsep dasar manajemen Pemberantasan Penyakit Menular tersebut kemudian diuraikan menjadi fungsi-fungsi manajemen yang lebih operasional. Bentuk operasional tersebut terdiri dari 5 fungsi pokok yaitu : 
1. Fungsi manajemen umum
2. Fungsi sistim informasi termasuk disini monitoring dan evaluasi
3. Fungsi Perencanaan
4. Fungsi intervensi (terhadap kejadian, sumber penyakit, dan faktor resiko)
5. Fungsi menggalang kemitraan dan pemberdayaan masyarakat.
Beberapa pengertian yang termasuk dalam konsep manajemen Pemberantasan Penyakit Menular adalah sebagai berikut :
1. Manajemen P2M
Tatalaksana pemberantasan dan pengendalian penyakit dengan cara mengendalikan sumber penyakit dan atau berbagai faktor resiko penyakit secara paripurna dalam suatu perencanaan dan tindakan yang terintegrasi berdasar pada fakta yang dikumpulkan secara sistematik periodik dan terpercaya dalam suatu wilayah.
2. Faktor resiko
Semua faktor yang berperan dalam kejadian penyakit menular yaitu :
a. Adalah faktor kependudukan seperti umur, kebiasaan, pekerjaan, perilaku, pendidikan dan sebagainya.
b. Faktor lingkungan yang mengandung mikroba atau potensi penyebab penyakit seperti virus, bakteri, bahan kimia toksik maupun zat yang bersifat radiatif.
c. Kebijakan-kebijakan yang mendorong timbulnya kondisi lingkungan dan perilaku yang tidak sehat, seperti penggalian pasir, kontak seksual bebas, merokok ditempat umum atau disekitar ibu hamil atau anak-anak.
3. Sumber penyakit
Sumber penyakit menular bisa berasal atau berada dalam satu wilayah bisa berasal dari luar wilayah, karena mobilitas penduduk. Demikian pula media transmisi seperti pangan, air, udara, ataupun binatang penular bisa berasal dari luar wilayah. Oleh sebab itu penyakit menular memiliki sifat lintas batas.
4. Wilayah
Wilayah memiliki dua pengertian :
a. Wilayah dalam pengertian ekosistem. Penyakit menular akar kuat, (bounded) kedalam ekosistem, terutama yang dikeluarkan oleh binatang penular atau melalui reservoir penyakit.
b. Wilayah bisa bermakna wilayah kewenangan administratif pembangunan seperti kabupaten, dan pemerintah kota. Dengan demikian pemberantasan penyakit menular meski secara administratif merupakan kewenangan para Bupati dan Walikota, masalah penyakit menular pada hakekatnya adalah “borderless” atau lintas batas. Beberapa penyakit menular mempunyai sifat lintas batas Negara dan antar wilayah, khususnya berkaitan dengan dinamika mobilitas penduduk, barang dan jasa (teknologi). Oleh sebab itu kerjasama antar wilayah administratif / negara amat diperlukan.
5. Kemitraan
Mengingat bahwa berbagai faktor resiko berada dalam kewenangan sektor-sektor yang berbeda maka kemitraan merupakan salah satu upaya esensial dalam pemberantasan penyakit menular. Demikian pula peran lembaga swadaya masyarakat dan organisasi kemasyarakatan sangat menentukan keberhasilan berbagai intervensi dalam pemberantasan penyakit menular. Bahkan peran keluarga sebagai unit terkecil dalam lembaga masyarakat juga sangat besar perananya seperti misalnya dalam intervensi faktor resiko perilaku.
Penanggulangan Seperlunya
1. Penanggulangan seperlunya dilakukan untuk mencegah/membatasi penularan penyakit DBD di rumah penderita/tersangka penyakit DBD dan lokasi sekitarnya serta di tempat umum (misalnya : sekolah) yang diperkirakan dapat menjadi sumber penularan penyakit DBD lebih lanjut. Kegiatan yang dilakukan adalah penyemprotan insektisida oleh petugas kesehatan dan/atau pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh masyarakat serta penyuluhan kepada masyarakat.
2. Jenis kegiatan yang dilakukan ini berdasarkan hasil penyelidikan
epidemiologi :
a. Bila ditemukan penderita/tersangka penyakit DBD lainya, atau ditemukan 3 atau lebih penderita panas tanpa sebab yang jelas dan ditemukan jentik dilakukan penyemprotan insektisida di rumah penderita dan sekitarnya dalam radius 200 meter, 2 siklus dengan interval ± 1 minggu, penyuluhan serta pengerahan masyarakat untuk PSN.
b. Bila tidak ditemukan penderita seperti tersebut diatas tetapi ditemukan jentik dilakukan penggerakan masyarakat untuk PSN dan penyuluhan.
c. Bila tidak ditemukan penderita seperti tersebut diatas dan tidak ditemukan jentik dilakukan penyuluhan kepada masyarakat.
Analisa Situasi Demam Berdarah
Analisis situasi demam berdarah dengue (DBD) adalah merupakan langkah paling awal dalam penyusunan rencana strategi pemberantasan DBD di daerah kabupaten/kota. Baik tidaknya rencana stategi program sangat ditentukan oleh baik tidaknya pelaksanaan analisis situasi DBD kabupaten dan kota. Karena begitu pentingnya langkah ini maka diperlukan upaya yang cukup besar dan melibatkan banyak pihak, baik dari sektor kesehatan maupun sektor lainya.
Dengan melakukan analisis situasi DBD kabupaten dan kota, dapat diketahui :
1. Masalah Demam Berdarah Dengue yang ada di kabupaten dan kota.
2. Keadaan upaya–upaya pemberantasan Demam Berdarah Dengue yang selama ini dilakukan, faktor-faktor perilaku masyarakat, keberadaan vektor di suatu wilayah, bagaimana keadaan sumber daya yang tersedia, sumber dana, apa hasilnya, apa hambatan-hambatan yang dihadapi dan apa hal-hal yang mendukung upaya-upaya tersebut.
Tujuan analisis ini adalah :
1. Memahami masalah secara jelas dan spesifik sehingga persepsi tentang masalah dapat disamakan dan kebersamaan dalam menyusun rencana strategis dapat terwujud.
2. Mempermudah menentukan prioritas masalah.
3. Mempermudah penentuan alternatif pemecahan masalah.
Analisa situasi dilakukan dengan cara melakukan kajian terhadap beberapa aspek :
1. Aspek masyarakat
Ukuran/informasi yang dihasilkan :
a. Gambaran partisipasi masyarakat dalam pemberantasan Demam
Berdarah Dengue
b. Faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi masyarakat tersebut di masing-masing daerah.
c. Potensi keluarga dan kelompok masyarakat lain seperti tokoh formal, tokoh informal, kader kesehatan dan lain-lain.
d. Kontribusi keluarga dan kelompok lainya seperti LSM, lintas sektor, pihak swasta dan lain-lain.
2. Aspek Manajemen/Kebijakan
Ukuran / informasi yang dihasilkan :
a. Unsur input adalah semua hal yang diperlukan untuk dapat menyelenggarakan program pemberantasan Demam Berdarah Dengue. Unsur input ini banyak macamnya yang terpenting adalah sarana (material) kebijakan (policy), organisasi (organization) dan lain-lain.
b. Proses adalah semua tindakan yang dilakukan dalam program pemberatasan Demam Berdarah Dengue, seperti misalnya surveilans, PSN, fokus pemberantasan dan lain-lain.
c. Output adalah yang menunjuk pada penampilan (cakupan) program pemberantasan DBD.
4. Aspek Sumber daya
Ukuran/ informasi yang dihasilkan :
a. Jumlah tenaga yang terlibat dalam pemberantasan DBD di semua unit pelayanan kesehatan (UPK) seperti paramedis Pustu, paramedis Puskesmas, dokter Puskesmas dan Rumah Sakit, tenaga Kesling, distribusi tenaga, dan pelatihan yang pernah diikuti.
b. Jumlah tenaga atau kader dan distribusinya dan lain-lain.
5. Aspek Institusi
Ukuran/informasi yang dihasilkan :
a. Program-program yang telah dilakukan dalam penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue.
b. Kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mendukung pelaksanaan program penanggulangan Demam Berdarah Dengue.
6. Aspek Pembiayaan
Ukuran / informasi yang dihasilkan :
a. Jumlah biaya yang disediakan untuk program pemberantasan DBD
b. Distribusi pembiayaan dan pengelolaan baik di tingkat Kabupaten atau di tingkat Puskesmas.
c. Alokasi biaya yang disediakan untuk program pemberantasan sudah cukup apa belum dan lain-lain.
7. Aspek Tehnis Operasional
Ukuran/ informasi yang dihasilkan :
a. Teknis penanggulangan Demam Berdarah Dengue seperti Abatisasi,Fogging, PSN, dilaksanakan apa tidak.
b. Volume pelaksanaanya sudah mencukupi apa belum
c. Dosis yang digunakan sesuai standar apa tidak dan lain-lain.
8. Aspek Regulasi
Ukuran / informasi yang dihasilkan :
a. Undang-undang yang mendukung pelaksanaan Program Penanggulangan Demam Berdarah Dengue
b. Peraturan-peraturan yang ada (SK Menteri, Direjn, Perda , SK Bupati, SK Ka DKK dan lain-lain).
9. Aspek Lingkungan
a. Lingkungan Fisik
Ukuran / informasi yang dihasilan :
1) Kepadatan penghuni
2) Kelembaban
3) Suhu
4) Tempat perindukan
b. Lingkungan Biologi
1) Tempat peristirahatan ( korden, baju yang tergantung, tanaman hias dll )
2) Keberadaan jentik
c. Lingkungan Sosial
1) Kebiasaan mengantung baju, kebiasaan tidur siang, kebiasaan membersihkan tempat penampungan air.
2) Kebiasaan membersihkan halaman rumah, dan partsipasi masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk.
Categories: Kebijakan Lingkungan
  1. November 13, 2012 at 10:08 am

    Terimakasih Infonyasangat bermanfaat.. Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Kedokteran di UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Yogyakarta🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: