Home > Manajemen Lingkungan > KONSEP LINGKUNGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI(DAS) SEBAGAI DAYA DUKUNG LINGKUNGAN

KONSEP LINGKUNGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI(DAS) SEBAGAI DAYA DUKUNG LINGKUNGAN

Pertambahan jumlah penduduk membutuhkan perluasan lahan sebagai wadah aktivitas yang nantinya tumbuh dan berkembang. Apabila perkembangan tersebut tidak dikendalikan dengan baik maka dapat terjadi konversi lahan untuk aktivitas yang tidak sesuai dengan fungsi dan daya dukungnya yang akan berdampak pada penurunan daya dukung lingkungan. Pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan menyebabkan banyak penduduk yang memanfaatkan lahan yang rawan bencana sebagai lahan permukiman. Pemanfaatan lahan daerah rawan bencana sebagai permukiman merupakan suatu bentuk ketidaksesuaian dalam pemanfaatan lahan.
Perubahan penggunaan lahan, utamanya di perkotaan, dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan suatu kota. Pada awalnya perubahan penggunaan lahan tersebut terjadi di pusat kota, lama kelamaan, ketika pusat kota telah menjadi jenuh, mengarah ke pinggiran kota. Hal ini akan berakibat semakin banyaknya lahan pertanian ataupun hutan yang berubah menjadi kawasan permukiman, industri, perdagangan, jasa, dan lain sebagainya.
Perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi pemanfaatan lahan akan memberi tekanan terhadap ekosistem sumberdaya alam yang ada. Apabila tekanan tersebut melampaui daya dukung yang ada maka akan terjadi permasalahan degradasi lingkungan, seperti terjadinya banjir, erosi, tanah longsor dan kerusakan lingkungan lainnya.
Daerah aliran sungai (DAS) merupakan daerah yang dibatasi oleh punggung-punggung bukit dimana air hujan yang jatuh di daerah tersebut dialirkan melalui sungai sungai kecil kemudian ke sungai utama (Asdak, 2002). DAS merupakan satuan pemantauan tataguna lahan yang baik karena dalam suatu DAS terjadi siklus hidrologi yang dapat menunjukkan adanya keterkaitan biofisik antara daerah hulu dan hilir. Aktivitas perubahan penggunaan lahan yang dilaksanakan di daerah hulu dapat memberi dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit air, transport sedimen serta material terlarut lainnya. Secara hidrologis DAS memiliki karakteristik khusus yang berhubungan dengan unsur utamanya yaitu jenis tanah, tataguna lahan, topografi, kemiringan dan panjang lereng. Adanya keterkaitan antara input dan output pada suatu DAS dapat dijadikan dasar untuk menganalisis dampak suatu tindakan atau aktivitas pembangunan di dalam DAS terhadap lingkungan.
Daya dukung lingkungan suatu wilayah menjadi faktor penting yang harus diperhatikan agar proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berkelanjutan dalam arti mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa
mengabaikan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu setiap upaya pemanfaatan sumberdaya alam untuk kegiatan pembangunan haruslah berwawasan lingkungan (Soemarwoto, 1987). Salah satu cara pemanfaatan sumberdaya alam yang berwawasan lingkungan adalah menggunakan pendekatan satuan wilayah ekologis seperti Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka (Brutland dalam Budihardjo & Sujarto, 1998: 10). Dalam hal ini terdapat dua konsep utama yang menjadi kunci dari definisi tersebut yaitu konsep tentang kebutuhan atau needs dan konsep tentang keterbatasan atau limitation dari kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang (Hadi, 2001:2). Untuk itu diperlukan pengaturan agar lingkungan tetap mampu mendukung kegiatan pembangunan dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia.
Daya dukung lingkungan hidup mmenurut UU No. 23 tahun 1997 adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; sedangkan pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Daya dukung lingkungan adalah kapasitas atau kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan organisme secara sehat sekaligus mempertahankan produktivitas, kemampuan adaptasi, dan kemampuan memperbarui diri. Daya dukung lingkungan diartikan sebagai kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia ( Sunu, 2001: 6). Daya dukung lingkungan/ carrying capacity adalah batas atas dari pertumbuhan suatu populasi, dimana jumlah populasi tersebut tidak dapat lagi didukung oleh sarana, sumberdaya dan lingkungan yang ada. Atau secara lebih singkat dapat dijelaskan sebagai batas aktivitas manusia yang berperan dalam perubahan lingkungan. Konsep ini berasumsi bahwa terdapat kapastian keterbatasan lingkungan yang bertumpu pada pembangunan ( Zoer’aini, 1997b).
Proses perencanaan pembangunan dengan konsep daya dukung mengandung pengertian adanya kemampuan dari alam dan sistim lingkungan buatan untuk mendukung kebutuhan yang melibatkan keterbatasan alam yang melebihi kemampuannya, yang secara tidak langsung dapat menyebabkan degradasi atau kerusakan lingkungan. Keterbatasan fisik lingkungan dapat ditoleransi jika terdapat kompensasi biaya untuk menghindari resiko atau bahaya yang terjadi. Dengan demikian pembangunan hanya dapat dilakukan pada tempat yang memiliki zone potensial. Selain aspek fisik, daya dukung juga tergantung pada kondisi sosial, masyarakat, waktu dan tempat. Daya dukung lingkungan yaitu kemampuan sebidang lahan dalam mendukung kehidupan manusia ( Sumarwoto, 2000). Kemudian Notohadiprawiro (1991) menjelaskan bahwa daya dukung tersebut dinilai menurut ambang batas kesanggupan lahan sebagai suatu ekosistem untuk menahan keruntuhan akibat dampak penggunaan. Pembahasan daya dukung meliputi: tingkat penggunaan lahan, pemeliharaan mutu lingkungan, tujuan pengelolaan, pertimbangan biaya pemeliharaan dan kepuasaan pengguna sumberdaya. Implementasi daya dukung lingkungan dapat dilakukan dengan tiga cara:
1. Daya dukung lingkungan disusun pada level minimum sebagai aktivitas baru yang dapat diakomodasikan sebelum terjadi perubahan yang nyata dalam lingkungan yang ada. Misalnya: daya dukung untuk wilayah pertanian, kehutanan dan kegiatan wisata.
2. Perubahan dapat diterima, tetapi pada level tertentu dibatasi agar tidak mengalami proses degradasi serta sesuai dengan ketentuan standart. Cara ini kemungkinan dapat lebih meluas dan relevan terutama untuk ambang batas udara dan air. Contoh implementasi model ini adalah ijin pembuangan limbah yang disesuaikan dengan kapasitas jaringan air.
3. Kapasitas lingkungan diterima sebagai aktivitas baru. Model ini dipakai untuk manajemen sumber daya. Cara ini kemungkinan tidak relevan dengan kasus perkembangan kota, namun dapat relevan dalam kasus drainase yang menyebar pada lahan pertanian basah. Tata ruang secara umum memenuhi kriteria kesesuaian lahan, wawasan lingkungan dan wawasan ekonomi bila diterapkan secara bersama-sama. Penggunaan lahan di bawah kelayakan memang memenuhi kriteria kesesuaian (menghemat penggunaan lahan), namun potensi ekonomi lahan tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Pemanfaatan yang melampaui ukuran kelayakan berarti melanggar kedua kriteria tata guna lahan (kesesuaian dan wawasan lingkungan). Dalam hal ini penggunaan lahan terpaksa disubsidi dengan bahan dan energi berupa teknologi, sehingga lahan digunakan secara tidak efisien dan menjadi suatu sistem yang mantap semu (metastable).
Setiap daerah memiliki karakteristik geografi yang berbeda-beda serta ditambah dengan kegiatan manusia dengan berbagai kepentingannya, sehingga daya dukung lingkungan akan sangat bervariasi (Sunu, 2001: 10). Di daerah yang kondisi daya dukung lingkungannya masih relatif baik, sebagian masyarakat masih kurang memperhatikan dampak lingkungan sehingga mengakibatkan berkurangnya daya dukung lingkungan. Hal ini akan dapat berlaku sebaliknya, yaitu kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia akan berkurang. Perkembangan teknologi dan kemajuan industri akan berdampak pada kualitas daya dukung lingkungan yang pada akhirnya akan merusak lingkungan itu sendiri.
Lingkungan yang berada di sekitar kita sangat bervariasi, hal ini juga menunjukkan bervariasinya kemampuan pendukung dari lingkungan tersebut. Daya dukung tidak mutlak, melainkan dapat berkembang sesuai dengan faktor yang mendukungnya, yaitu faktor geografi (iklim, perubahan cuaca, kesuburan tanah, erosi); faktor sosial budaya dan iptek (Supardi, 1994) Dalam UU No.10 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, merinci daya dukung lingkungan menjadi tiga, yakni daya dukung lingkungan alam, daya tampung lingkungan binaan dan daya tampung lingkungan sosial. Namun, UU ini tidak merinci lebih jauh bagaimana daya dukung tersebut dapat diukur ataupun dihitung (Hadi, 2001: 11) Ada beberapa kebutuhan informasi sumberdaya lahan yang diperlukan diketahui, yaitu: tanah, iklim, topografi dan formasi geologi, vegetasi dan kondisi sosial ekonomi. Informasi tentang tanah pada akhirnya akan menunjukkan kondisi keragaman sifat lahan yang sangat penting dalam penilaian kemampuan lahan serta tindakan-tindakan budidaya yang diperlukan. Informasi iklim mencakup data tentang: temperatur, curah hujan, kecepatan dan arah angin. Informasi tentang topografi dan formasi geologi meliputi: ketinggian lahan di atas permukaan air laut, derajat kemiringan lereng, dan posisi pada bentang alam. Kondisi topografi berpengaruh secara tidak langsung terhadap kualitas tanah termasuk ancaman erosi dan potensi lahan untuk diusahakan. Vegetasi merupakan salah satu unsur lahan, yang dapat berkembang secara alami atau sebagai hasil dari aktivitas manusia baik pada masa yang lalu atau masa kini. Vegetasi dapat dipertimbangkan sebagai petunjuk untuk mengetahui potensi lahan dan kesesuaian lahan bagi suatu kegunaan tertentu melalui kehadiran tanaman-tanaman indikator (Sitorus, 1998: 25).
Konsep daya dukung lingkungan meliputi tiga faktor utama, yaitu: kegiatan/ aktivitas manusia, sumberdaya alam dan lingkungan. Kualitas lingkungan dapat terjaga dan terpelihara dengan baik apabila manusia mengelola daya dukung pada batas antara minimum dan optimimDaya dukung kualitas yang dikelola antara 30%-70% memberikan kualitas yang cukup baik. Angka ini diperoleh berdasarkan konsep tata ruang arsitektur bangunan yang harus memperhitungkan “arsitektur alam” antara 1/3-2/3 dari seluruh ruang yang dirubah/ dikelola manusia harus dikelola untuk berkembang secara alami (Zoer’aini.1997b). Batas ini dianggap baik karena jika penggunaan sumberdaya alam melebihi 70% sampai 100% akan berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan dan keadaan akan menjadi semakin buruk. Dalam hal ini perhitungan didasarkan pada besarnya luasan penggunaan lahan (Soerjani, 1987: 10-12)
Dalam menerapkan konsep daya dukung lingkungan perlu dilakukan analisis mengenai daya dukung yang membandingkan kebutuhan antara tata guna lahan dengan lingkungan alam atau sistem lingkungan buatan. Hal ini bertujuan untuk mempelajari dampak dari pertumbuhan penduduk dan sistim pembangunan kota, sistim fasilitas umum, dan pengamatan lingkungan. Daya dukung lingkungan terkait dengan kapasitas ambang batas sebagai dasar untuk membatasi rekomendasi pertumbuhan. Prosedur analisis daya dukung lingkungan meliputi: melihat faktor pembatas/ ambang batas atau mengidentifikasikan kualitas lingkungan dan geografi (Kaiser et all: 1995). Sedangkan variabel pokok yang harus diketahui dalam analisis daya dukung lingkungan adalah potensi lahan dan jumlah penduduk.
Hubungan antara manusia dengan lingkungan fisik dapat mencerminkan daya dukung lingkungan, sejumlah ahli biologi mendefinisikan daya dukung lingkungan sebagai jumlah populasi dari mahluk yang dapat didukung oleh tempat hidup (habitat). Kormody (1969) dalam Hadi (200:11) menyebutkan bahwa populasi seharusnya selalu berada pada titik keseimbangan dimana lingkungan dapat mendukung. Batas diantara titik keseimbangan tersebut yang dinamakan daya dukung lingkungan. Menurut Soemarwoto (1985 dan 1990) dalam Hadi (2001: 12) menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk semakin tinggi pula tingkat permintaan terhadap lahan . Jika ketersediaan lahan tidak mencukupi maka respon yang muncul diantaranya adalah membuka hutan dan menanami daerah rawan erosi, dan hal yang demikian ini menunjukkan kondisi lapar lahan.
Vitousek (1986) dalam Hadi (200:13) menjelaskan konsep tentang daya dukung lingkungan yang dikenal dengan ACC (apropriated carrying capacity) didefinisikan sebagai lahan yang dibutuhkan untuk dapat menyediakan sumber daya alam dan mengabsorbsi limbah yang dibuang. ACC menawarkan pendekatan yang komprehensif untuk menguji kesinambungan aktivitas pembangunan. Alasan pembangunan berkelanjutan dapat diukur berdasarkan ketersediaan lahan (Hadi, 2001: 14) :
1. Lahan bersifat terbatas (finite). Keterbatasan lahan menunjukkan keterbatasan kemampuan lahan menopang aktivitas manusia untuk mencapai kemakmuran.
2. Lahan yang mendukung aktivitas ekonomi kita menggambarkan potensi produktivitas di masa yang akan datang.
Selanjutnya dijelaskan pula bahwa ada beberapa implikasi perencanaan pembangunan yang sesuai dengan konsep ini, yaitu:
1. Penerapan perencanaan tata ruang yang tepat, dalam arti bahwa pengembangan sumber daya harus memperhitungkan daya dukungnya.
2. Penempatan berbagai aktivitas yang mendayagunakan sumber daya alam harus memperhatikan kapasitasnya dalam mengabsorbsi perubahan akibat aktivitas tersebut.
3. Sumberdaya di suatu wilayah hendaknya dialokasikan ke beberapa zona tertentu.
4. Perlu standar kualitas lingkungan.
Dengan adanya keterbatasan lahan, maka diperlukan pemanfaatan yang proporsional untuk berbagai jenis penggunaannya agar dapat terbentuk keseimbangan dalam penggunaan sumberdaya yang ada di dalamnya.
Kesesuaian Lahan
Ukuran harkat lahan terdiri dari kemampuan dan kesesuaian lahan. Kemampuan lahan adalah mutu lahan yang dinilai secara menyeluruh untuk tiap penggunaan lahannya, nilai kemampuan lahan berbeda untuk jenis penggunaan yang berbeda (Notohadiprawiro, 1991) Kemampuan lahan dapat bersifat pembawaan yaitu kemampuan aktual yang merupakan pernyataan watak dan perilaku hakiki lahan, dan bersifat potensi buatan (acquired) yaitu kemampuan potensial atau kemampuan yang timbul dari tanggapan atas kemampuan tersebut.
Kesesuaian lahan adalah kecocokan suatu jenis lahan tertentu untuk suatu macam penggunaan tertentu. Jadi kesesuaian lahan adalah spesifikasi dari kemampuan lahan. Tingkat kesesuaian mengandung pengertian perbandingan antara tingkat pemanfaatan dengan daya dukung lahan, menjadi ukuran untuk kelayakan penggunaan lahan.
Pembahasan kesesuaian lahan cenderung memberikan gambaran tentang kemanfaatan lahan yang pada intinya akan dapat mempengaruhi kemampuan lahan. Aspek yang perlu diperhatikan dalam kesesuaian lahan adalah : 
Jenis tanah
Tanah secara umum diartikan sebagai lapisan dari muka/ kulit bumi sampai ke bawah dengan batas aktivitas biologis, yaitu kedalaman dimana masih dapat dicapai oleh kegiatan organisme. Tanah sebagai salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesesuaian penggunaannya, jenisnya berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Perbedaan jenis tanah ini lebih dipengaruhi oleh proses pembentukannya, yaitu dipengaruhi oleh faktor-faktor: iklim (terutama suhu dan curah hujan), organisme hidup (terutama vegetasi), sifat dari bahan induk (tekstur, struktur, susunan kimia dan mineral), topografi, dan rentang waktu selama bahan induk diubah menjadi tanah. Soepardi (1994) menjelaskan bahwa kelima faktor tersebut tidak dapat dipisahkan dan bekerja sendiri-sendiri, bahan induknya diolah oleh iklim dan organisme. Pengolahan ini berlangsung di permukaan bumi pada waktu tertentu. Dengan melihat perannya tersebut, maka bahan induk dan topografi sering dianggap sebagai faktor pasif sedangkan iklim dan organisme disebut faktor aktif.
Intensitas Curah hujan
Curah hujan dapat mempengaruhi kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan, karena hal ini erat kaitannya dengan kondisi tanah dan erosi yang akan berdampak terhadap aktivitas penggunaan lahan.
Kemiringan lahan
Kemiringan lahan adalah perbedaan ketinggian tertentu pada relief yang ada pada suatu bentuk lahan. Penentuan kemiringan lahan rata-rata pada tiap kelompok pemetaan dapat dilakukan dengan membuat hubungan antara titik-titik. Panjang satu garis menunjukkan kelerengan yang sama. Kemiringan lahan menunjukkan karakter daerah yang harus dipertimbangkan dalam arahan penggunaan lahan. Kemiringan lahan tiap daerah berbeda-beda tetapi secara umum dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok. Kemiringan lahan dipengaruhi oleh ketinggian lahan terhadap laut karena semakin dekat dengan laut semakin cenderung rata.
Daerah Rawan Bencana
Dalam satu kawasan terdapat tingkat kerentanan lahan terhadap erosi, air dan angin, terhadap penggenangan dan banjir. Banjir dan penggenangan mempengaruhi daya dukung lahan karena kedua hal tersebut merupakan dampak dari kondisi fisik yang ada. Semakin datar suatu daerah dan semakin dekat dengan laut maka semakin berpeluang terjadi banjir dan genangan, sehingga dapat mengganggu aktivitas penggunaan lahan.
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat diartikan sebagai suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama. Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah tangkapan air (DTA atau catchment area) yang merupakan suatu ekosistem dengan unsur utamanya terdiri atas sumber daya alam (tanah, air dan vegetasi) dan sumber daya manusia sebagai pemanfaat sumber daya alam (Asdak, 2002: 4).
Ekosistem DAS
Pengelolaan lingkungan hidup di perkotaan bertujuan untuk mewujudkan keseimbangan lingkungan, dan hal ini dapat terlaksana apabila ekosistem dalam keadaan baik. Ekosistem mengandung pengertian hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungan. Suatu ekosistem merupakan eksatuan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungan dimana terjadi hubungan antara manusia, vegetasi, hewan dan segala macam bentuk materi yang berupa tanah, air dan udara melakukan siklus dalam sistem dan energi yang menjadi sumber kekuatan baik biotik maupun abiotik (Zoer’aini, 1997a: 36)
Suatu ekosistem terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang saling berpengaruh. Ketidakseimbangan dalam satu sistem yang disebabkan kerusakan salah satu komponen pembentuknya dapat berdampak terhadap kerusakan ekosistem tersebut. Agar eksistensi ekosistem dapat terjaga maka diperlukan eksistensi dan keseimbangan komponen-komponen yang membentuknya. Salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam ekosistem adalah manusia yang melakukan berbagai aktivitas sosial, ekonomi dan fisik yang bersinggungan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan. Dampak-dampak negatif suatu aktivitas terhadap lingkungan pada umumnya merupakan hasil intervensi manusia terhadap salah satu komponen ekosistem. Misalnya, aktivitas penebangan hutan pada daerah hulu DAS akan menimbulkan berbagai dampak pada ekosistem DAS pada daerah tengah maupun hilir DAS, antara lain sedimentasi, tingkat kekeruhan air, erosi, pendangkalan sungai dan sebagainya yang akan menimbulkan dampak berantai terhadap aktivitas yang lain.
Bentuk ekosistem DAS secara garis besar dibagi menjadi daerah hulu, daerah tengah dan daerah hilir dengan ciri-ciri sebagai berikut (Asdak, 2002: 10) :
1. Daerah Hulu
Merupakan daerah dengan fungsi konservasi, memiliki kerapatan drainase lebih tinggi, memiliki kelerengan yang besar (15%), bukan merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase, jenis vegetasi pada umumnya adalah hutan
2. Daerah Hilir
Merupakan daerah pemanfaatan dengan kerapatan drainase lebih kecil merupakan daerah dengan kelerengan kecil sampai dengan sangat kecil (kurang dari 8%), beberapa tempat merupakan daerah banjir/ genangan, pengaturan air ditentukan oleh bangunan irigasi dan jenis vegetasi didominasi oleh jenis tanaman pertanian kecuali daerah estuaria lebih didominasi oleh tanaman gambut/ bakau.
3. Daerah Tengah
Daerah tengah DAS merupakan daerah transisi antara daerah hulu dan hilir, dapat berwujud bendungan/waduk yang berfungsi mengatur air ke daerah hilir.
Komponen-Komponen dalam Ekosistem DAS
Ekosistem DAS sebagaimana yang telah dijelaskan, terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi. Ekosistem tersebut terdiri dari empat komponen utama, yaitu desa, sawah/ ladang, sungai dan hutan.
Konsep Pengelolaan DAS
Konsep pengelolaan DAS menurut Hufschmidt dalam Asdak (2002: 541) dapat dilakukan melalui 3 dimensi pendekatan, yaitu :
1. Pengelolaan DAS sebagai proses yang melibatkan langkah-langkah perencanaan dan pelaksanaan yang erat berkaitan.
2. Pengelolaan DAS sebagai sistem perencanaan pengelolaan dan sebagai alat implementasi program pengelolaan DAS melalui kelembagaan yang relevan dan terkait.
3. Pengelolaan DAS sebagai serial aktivitas yang masing-masing berkaitan dan memerlukan perangkat pengelolaan yang spesifik.
Selama ini pengalaman yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa kegiatan pengelolaan DAS seringkali dibatasi oleh batasan-batasan administratif, dan oleh karenanya, batas-batas ekosistem alamiah kurang banyak dimanfaatkan. Pembangunan DAS yang berkelanjutan dapat diwujudkan melalui penyelarasan kegiatan pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Dalam hal ini diperlukan penyatuan kedua sisi pandang tersebut secara realistis melalui penyesuaian kegiatan pengelolaan DAS dan konservasi daerah hulu ke dalam kenyataan-kenyataan ekonomi dan sosial. Kebijakan-kebijakan yang melandasi tercapainya pembangunan yang berkelanjutan tersebut dapat dirumuskan mengikuti atau sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan DAS yang rasional sebagai berikut (Asdak, 2002: 544):
1. Mengenali hal-hal yang menjadi tuntutan mendasar untuk tercapainya usahausaha penyelamatan lingkungan dan sumberdaya alam.
2. Memasukkan atau mempertimbangkan dalam kebijakan yang akan dibuat nilai-nilai jasa lingkungan yang saat ini belum atau tidak diperhitungkan secara komersial.
3. Menyelaraskan atau rekonsiliasi atas konflik-konflik kepentingan yang bersumber dari penentuan batas-batas alamiah dan batas-batas administratif.
4. Menciptakan investasi (sektor swasta), peraturan-peraturan, insentif, dan perpajakan yang mengkaitkan adanya interaksi antara aktivitas tataguna lahan di daerah hulu dan kemungkinan dampak kegiatannya di daerah hilir.
Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah, baik wilayah negara maupun wilayah administratif. Akan tetapi, lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. Yang dimaksud dengan lingkungan hidup berdasarkan UU no. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Berdasarkan definisi maka dapat diketahui komponen yang ada di dalam lingkungan hidup antara lain adalah ruang, manusia dan aktivitas.
Sunu (2001: 10) menjelaskan bahwa ruang merupakan sesuatu dimana berbagai komponen lingkungan hidup menempati, dan melakukan proses sehingga antara ruang dan komponen lingkungan merupakan satu kesatuan. Lingkungan hidup merupaka ekologi terapan/ applied ecology dengan tujuan agar manusia dapat menerapkan prinsip dan konsep pokok ekologi dalam lingkungan hidup.
Lingkungan hidup sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem, yang mempunyai aspek sosial, budaya, ekonomi, dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan subsistem, yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. Pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. Upaya pembangunan di berbagai sektor yang semakin meningkat menyebabkan akan semakin meningkat pula dampaknya terhadap lingkungan hidup. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin. Dalam UU no.23 tahun 1997 selanjutnya dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup.
Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan menurut World Commission on Environmental and Development diartikan sebagai pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri (Hadi, 2001: 2). Dalam hal ini terdapat dua konsep uatama yang dikemukakan, yaitu kebutuhan dan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Dengan demikian diperlukan pengaturan agar lingkungan tetap mampu mendukung kegiatan pembangunan dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Emil Salim dalam Hadi (2001: 3) menjelaskan hal yang harus diperhatikan dalam konsep pembangunan berkelanjutan :
1. Pembangunan berkelanjutan menghendaki penerapan perencanaan tata ruang (spasial planning).
2. Perencanaan pembangunan menghendaki adanya standar lingkungan.
3. Penerapan Analisis mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
4. Rehabilitasi lingkungan khususnya di daerah kritis seperti sungai-sungai yang menjadi tempat pembuangan dan di lahan kritis.
5. Usaha untuk memasukkan pertimbangan lingkungan ke dalam perhitungan ekonomi sebagai dasar untuk kebijakan ekonoi lingkungan.
Categories: Manajemen Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: