Home > Kebijakan Lingkungan > ILMU MATEMATIKA DAPAT MENGEMBANGKAN WAWASAN RAMAH LINGKUNGAN

ILMU MATEMATIKA DAPAT MENGEMBANGKAN WAWASAN RAMAH LINGKUNGAN

Sekolah merupakan wahana strategis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, etika, dan nilai. Pemahaman tentang lingkungan, baik dinamika maupun segala aspek permasalahannya sebagai bagian dari kehidupan manusia perlu dikembangkan di sekolah. Pendidikan lingkungan yang memang telah diaplikasikan di sekolah mulai tahun 1987, keefektifannya masih belum dirasakan. Demikian pula berbagai strategi dan pendekatan belajar, seperti monolitik dan integrative, intra dan ekstra kurikuler, dan lain-lain masih belum memuaskan. Oleh karena itu, dalam menuju pembanguan berkelanjutan, sekolah merupakan pangkal tolak penyiapan generasi yang perlu terus dikembangkan program-program yang efektif seperti digalakkannya program Sekolah Berwawasan Lingkungan (SBL). Konsep Sekolah Berwawasan Lingkungan sebenarnya sejalan dengan konsep Contextual Teaching and Learning (CTL), di mana peserta didik dihadapkan pada system pembelajaran faktual di sekitarnya.

Dalam penerapannya, konsep SBL memang perlu diciptakan sekondusif mungkin agar tercipta sekolah yang berwawasan lingkungan. Penciptaan SBL memerlukan peran aktif seluruh penghuni sekolah, integrasi dalam materi pembelajaran, penciptaan lingkungan alam sekitar yang kondusif, pengelolaan sampah, kebersihan, slogan-slogan, keindahan, dan lain-lain. Pembelajaran pendidikan lingkungan dalam SBL tersebut menuntut kreativitas guru pada mata pelajaran apapun termasuk matematika untuk mampu mengintegratifkan konsep lingkungan hidup ini ke dalam materi yang diajarkannya dengan baik serta mampu menciptakan kegiatan-kegiatan yang dapat membuat suasana belajar menjadi lebih menarik. Guru harus kreatif menciptakan model-model pendidikan lingkungan hidup sesuai dengan karakteristik ilmu yang dipelajari dan kebutuhan siswa di sekolah.

Berkaitan dengan pembelajaran matematika, sepanjang pengetahuan dan berdasarkan pengalaman, pembelajaran Matematika di sekolah saat ini menunjukkan bahwa hasil belajarnya masih rendah, siswa sulit menerima materi Matematika yang diajarkan, siswa takut terhadap Matematika, siswa phobi terhadap Matematika, dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah sekolah belum sepenuhnya terintegrasi dengan konsep pelestarian lingkungan sehingga belum sepenuhnya mampu mengembangkan sikap ramah lingkungan pada siswa.

Pendidikan Lingkungan Hidup

Pendidikan lingkungan hidup adalah pendidikan yang menggunakan suatu pendekatan belajar “across the curriculum”, artinya belajar yang membantu sasaran didik untuk memahami lingkungan hidup dengan tujuan akhir agar mereka memiliki kepedulian untuk menjaga dan melestarikan lingkungan dan sikap bertanggung jawab dan memupuk keinginan serta memiliki keterampilan untuk melestarikan lingkungan agar dapat tercipta suatu sistem kehidupan bersama (Yusuf, 2000). Pendidikan lingkungan hidup menurut Swan & Stapp (1974) dijabarkan dalam ketiga aspek yaitu aspek: kognitif, afektif, dan psikomotor (keterampilan). Dalam pembelajaran pendidikan lingkungan hidup dikenal dengan dua macam pendekatan, yaitu pendekatan monolitik dan integratif. Pendekatan monolitik bertitik tolak dari pandangan bahwa setiap mata pelajaran adalah berdasarkan disiplin tersendiri sejajar dengan mata pelajaran lain.

Kemungkinan yang dapat ditempuh dengan cara membangun ilmu tersendiri yang bernama Pendidikan Lingkungan Hidup, atau plug in yaitu membahas masalah lingkungan tersebut sebagai bagian dari suatu ilmu pengetahuan tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan pendekatan integratif bertitik tolak dari pandangan bahwa setiap mata pelajaran harus diintegrasikan dengan mata pelajaran lain, yaitu dengan memasukkan aspek-aspek lingkungan ke dalam mata pelajaran yang sesuai.

Jadi, dengan implementasi yang komprehensif bagi warga sekolah, keefektifan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup di sekolah akan dapat dicapai. Agar pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup di sekolah dapat berkembang dan berjalan secara efektif, maka faktor-faktor pendukung baik langsung maupun tidak langsung perlu diperhatikan. Faktor-faktor yang dimaksud antara lain: pemahaman terhadap pembangunan berkelanjutan, pemahaman terhadap ekosistem, aplikasi pendidikan lingkungan hidup di sekolah, dan pengembangan pengetahuan guru.

Konsep Sekolah Berwawasan Lingkungan

Sekolah Berwawasan Lingkungan (SBL) adalah subsistem pendidikan yang khusus mengintegrasikan materi lingkungan hidup dan kependudukan dalam penerapan kurikulum di sekolah. SBL dilakukan melalui jalur sekolah yang menggunakan prinsip belajar sambil mengalami dengan bantuan guru dan semua komponen sekolah. Kegiatan SBL diimplementasikan dalam bentuk bervariasi, mulai dari kegiatan perbaikan fisik sekolah sampai kegiatan non fisik. Kegiatan yang berupa “action” yang berkaitan langsung dengan masalah lingkungan dan kegiatan sehari-hari siswa dan guru merupakan bentuk kegiatan yang mendukung SBL dan dengan mudah dijalankan atau diikuti oleh siswa dan guru. Kegiatankegiatan umum yang sangat perlu dilakukan adalah :

    * Pembenahan fasilitas fisik sarana-prasarana sekolah, sehingga lingkungan sekolah menjadi lebih bersih, indah dan nyaman untuk belajar
    * Kegiatan lomba berkebun, lomba kebersihan dan lomba lingkungan sekitar sekolah
    * Kegiatan lapangan atau karyawisata ke lokasi-lokasi dengan kondisi lingkungan ideal maupun lingkungan kumuh merupakan contoh konkret dalam memberikan pemahaman tentang masalah masalah lingkungan
    * Penulisan karangan atau artikel yang bertema cinta lingkungan
    * Pengadaan buku bacaan yang bernuansa pelestarian lingkungan.

Pendekatan Kooperatif dalam Pembelajaran Matematika

Pendekatan kooperatif dalam pembelajaran atau biasa dikenal dengan sebagai cooperative learning merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang didasarkan pada paham konstruktivisme dan merupakan strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil, saling membantu untuk memahami suatu pembelajaran, memeriksa, dan memperbaiki jawaban. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompoknya belum menguasai bahan pelajaran. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1997: 234).

Selain itu, cooperative learning mempunyai tiga karakterisrik yaitu :

    * Siswa bekerja dalam tim-tim belajar yang kecil (4-6 orang anggota);
    * Siswa didorong untuk saling membantu dalam mempelajari bahan yang bersifat akademik atau dalam melakukan tugas kelompok;
    * Siswa diberi imbalan atau hadiah atas dasar prestasi kelompok (Slavin, 1995).

Cooperative learning (pembelajaran kooperatif) dalam pembelajaran Matematika akan dapat membantu para siswa meningkatkan sikap positif terhadap Matematika. Para siswa secara indvidu membangun keprcayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah Matematika, sehingga akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap Matematika (math anxiety) yang banyak dialami para siswa. Pembelajaran kooperatif sangat bermanfaat bagi para siswa yang heterogen dengan menonjolkan interaksi dalam kelompok. Selain itu, model belajar ini dapat membuat siswa menerima siswa lain yang berkemampuan dan berlatar belakang berbeda.

Untuk mengoptimalkan manfaat pembelajaran kooperatif, keanggotaan sebaiknya dibuat oleh guru secara heterogen, baik dari kemampuannya maupun karakteristik lainnya. Adapun ukuran kelompok yang ideal untuk cooperative learning adalah tiga sampai lima orang (Suherman, 2003: 262). Menurut Slavin (1995 : 5-11) beberapa tipe dalam pembelajaran kooperatif diantaranya :

    * Student Teams-Achievement Divitions (STAD) yang merupakan tipe pembelajaran kooperatif sederhana dengan lima tahapan pembelajaran yaitu presentasi kelas, belajar kelompok, kuis, peningkatan individu, dan penghargaan kelompok
    * Jigsaw yang dalam penerapannya siswa dibagi dalam kelompok kecil yang heterogen dengan menggunakan pola kelompok “asal“ dan kelompok “ahli“.
    * Teams-Games-Tournaments (TGT) dimana siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok heterogen dan setelah guru menyajikan bahan pelajaran, tim mengerjakan lembar-lembar kerja, saling mengajukan pertanyaan, dan belajar bersama untuk persiapan menghadapi turnamen yang biasanya dilaksanakan seminggu sekali
    * Team Accelerated Intruction (TAI) yang didesain khusus untuk pembelajaran matematika dengan tahap-tahap yaitu: tes penempatan, belajar kelompok, perhitungan nilai kelompok dan pemberian penghargaan bagi kelompok
    * Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) yang merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif khusus diterapkan pada pembelajaran membaca dan menulis di sekolah dimana siswa dibagi dalam kelompok berdasarkan tingkat kecepatan membacanya.

Sikap Ramah Lingkungan

Sikap ramah lingkungan merupakan sikap positif setiap warga terhadap lingkungan hidup yang berupa tindakan dalam perlindungan lingkungan yang memadai dan penghargaan tentang fungsi ekologi lingkungan hidup yang memberikan layanan pada manusia tanpa didominasi oleh pertimbangan ekonomi, yang mendorong eksploitasi lebih. Dalam penelitian ini sikap ramah lingkungan lebih difokuskan pada kepedulian siswa terhadap lingkungan hidupnya sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Download di :

http://www.ziddu.com/download/17960451/atematikaDapatMengembangkanWawasanRamahLingkungan.docx.html

Categories: Kebijakan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: