Home > Manajemen Lingkungan > STRATEGI PROMOSI KESEHATAN

STRATEGI PROMOSI KESEHATAN

Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran dari-oleh-untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Menolong diri sendiri artinya bahwa masyarakat mampu berperilaku mencegah timbulnya masalah-masalah dan gangguan kesehatan, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta mampu pula berperilaku mengatasi apabila masalah gangguan kesehatan tersebut terlanjur terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Banyak masalah kesehatan yang ada di negeri kita Indonesia, termasuk timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) yang erat kaitannya dengan perilaku masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh KLB Diare dimana penyebab utamanya adalah rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat seperti kesadaran akan buang air besar yang belum benar (tidak di jamban), cuci tangan pakai sabun masih sangat terbatas, minum air yang tidak sehat, dan lain-lain.
Promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan saja, tetapi juga disertai upaya-upaya menfasilitasi perubahan perilaku. Dengan demikian promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan) baik di dalam masyarakat sendiri maupun dalam organisasi dan lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, politik dan sebagainya). Atau dengan kata lain promosi kesehatan tidak hanya mengaitkan diri pada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan saja, tetapi juga meningkatkan atau memperbaiki lingkungan (fisik dan non-fisik) dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat.
Umumnya ada empat faktor yang dapat mempengaruhi masyarakat agar merubah perilakunya, yaitu :
a. Fasilitasi, yaitu bila perilaku yang baru membuat hidup masyarakat yang melakukannya menjadi lebih mudah, misalnya adanya sumber air bersih yang lebih dekat;
b. Pengertian yaitu bila perilaku yang baru masuk akal bagi masyarakat dalam konteks pengetahuan lokal,
c. Persetujuan, yaitu bila tokoh panutan (seperti tokoh agama dan tokoh agama) setempat menyetujui dan mempraktekkan perilaku yang di anjurkan dan
d. Kesanggupan untuk mengadakan perubahan secara fisik misalnya kemampuan untuk membangun jamban dengan teknologi murah namun tepat guna sesuai dengan potensi yang di miliki.

Pendekatan program promosi menekankan aspek ”bersama masyarakat”, dalam artian :
a. Bersama dengan masyarakat fasilitator mempelajari aspek-aspek penting dalam kehidupan masyarakat untuk memahami apa yang mereka kerjakan, perlukan dan inginkan,
b. Bersama dengan masyarakat fasilitator menyediakan alternatif yang menarik untuk perilaku yang beresiko misalnya jamban keluarga sehingga buang air besar dapat di lakukan dengan aman dan nyaman serta
c. Bersama dengan masyarakat petugas merencanakan program promosi kesehatan dan memantau dampaknya secara terus-menerus, berkesinambungan.

Strategi Promosi Kesehatan
Pembangunan sarana air bersih, sarana sanitasi dan program promosi kesehatan dapat dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan apabila :
• Program tersebut direncanakan sendiri oleh masyarakat berdasarkan atas identifikasi dan analisis situasi yang dihadapi oleh masyarakat, dilaksanakan, dikelola dan dimonitor sendiri oleh masyarakat.
• Ada pembinaan teknis terhadap pelaksanaan program tersebut oleh tim teknis pada tingkat Kecamatan.
• Ada dukungan dan kemudahan pelaksanaan oleh tim lintas sektoral dan tim lintas program di tingkat Kabupaten dan Propinsi.
Strategi untuk meningkatkan program promosi kesehatan, perlu dilakukan dengan langkah kegiatan sebagai berikut :
1. Advokasi di Tingkat Propinsi dan Kabupaten
Pada tingkat Propinsi dan tingkat Kabupaten dalam pelaksanaan Proyek Kesehatan telah dibentuk Tim Teknis Propinsi dan Tim Teknis Kabupten. Anggota Tim Teknis Propinsi dan Tim Teknis Kabupaten, adalah para petugas fungsional atau structural yang menguasai teknis operasional pada bidang tugasnya dan tidak mempunyai kendala untuk melakukan tugas lapangan. Advokasi dilakukan agar lintas sektor, lintas program atau LSM mengetahui tentang Proyek Kesehatan termasuk Program Promosi Kesehatan dengan harapan mereka mau untuk melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Mendukung rencana kegiatan promosi kesehatan. Dukungan yang dimaksud bisa berupa dana, kebijakan politis, maupun dukungan kemitraan;
b. Sepakat untuk bersama-sama melaksanakan program promosi kesehatan; serta
c. Mengetahui peran dan fungsi masing-masing sektor/unsur terkait.
Advokasi di tingkat Propinsi dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Propinsi dan advokasi di tingkat Kabupaten dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten.
a. Peran Tim Teknis Propinsi
• Perencanaan dan penganggaran kegiatan (termasuk promosi kesehatan).
• Pelatihan teknis.
• Bimbingan teknis, monitoring dan evaluasi.
• Pemecahan masalah yang dihadapi oleh Kabupaten.
• Menyusun strategi pelaksanaan kegiatan (termasuk promosi higiene sanitasi).
b. Peran Tim Teknis Kabupaten
• Perencanaan dan penganggaran kegiatan APBD, dana pinjaman dan kontribusi masyarakat.
• Pembinaan teknis perencanaan pembelajaran partisipatif di sekolah, peningkatan peran guru, orang tua siswa dan komite sekolah, serta peningkatan mobilisasi sumber daya.
• Pembinaan teknis fungsi dan peran LKM, Badan Pengelola untuk keterpaduan dan kesinambungan program higiene sanitasi.
• Pembinaan teknis monitoring dan evaluasi.
• Menyusun strategi pelaksanaan kegiatan termasuk promosi higiene sanitasi.
c. Peran Tim Lintas Program Dinas Kesehatan Kabupaten
• Pembinaan teknis program promosi higiene sanitasi di sekolah dan di masyarakat.
• Mengintegrasikan program higiene sanitasi pada Program Pamsimas dengan program lain.
• Mengembangkan indikator perubahan perilaku.
• Pengembangan media komunikasi berdasar atas kebutuhan masyarakat
Advokasi bisa dilakukan dengan beberapa cara misalnya : melalui lokakarya, pertemuan-pertemuan atau dengan memanfaatkan pertemuan rutin yang sudah ada/sudah berjalan atau melakukan pertemuan resmi/tidak resmi pada saat tertentu/kegiatan tertentu di Puskesmas atau di ibukota propinsi/kabupaten.
2. Menjalin Kemitraan di Tingkat Kecamatan.
Melalui wadah organisasi tersebut Tim Fasilitator harus lebih aktif menjalin kemitraan dengan TKC untuk :
• mendukung program kesehatan.
• melakukan pembinaan teknis.
• mengintegrasikan program promosi kesehatan dengan program lain yang dilaksanakan oleh
Sektor dan Program lain, terutama program usaha kesehatan sekolah, dan program lain di Puskesmas.
3. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Masyarakat
Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mengelola program promosi kesehatan, mulai dari perencanaan, implementasi kegiatan, monitoring dan evaluasi harus dilaksanakan sendiri oleh masyarakat, dengan menggunakan metoda MPA-PHAST. Untuk meningkatkan keterpaduan dan kesinambungan program promosi kesehatan dengan pembangunan sarana air bersih dan sanitasi, di tingkat desa harus dibentuk lembaga pengelola, dan pembinaan teknis oleh lintas program dan lintas sector terkait.
Pesan perubahan perilaku yang terlalu banyak sering membuat bingung masyarakat, oleh karena itu perlu masyarakat memilih dua atau tiga perubahan perilaku terlebih dahulu. Perubahan perilaku beresiko diprioritaskan dalam program higiene sanitasi pada Proyek Kesehatan di sekolah dan di masyarakat :
• Pembuangan tinja yang aman.
• Cuci tangan pakai sabun
• Pengamanan air minum dan makanan.
• Pengelolaan sampah
• Pengelolaan limbah cair rumah tangga
Setelah masyarakat timbul kesadaran, kemauan / minat untuk merubah perilaku buang kotoran di tempat terbuka menjadi perilaku buang kotoran di tempat terpusat (jamban), masyarakat dapat mulai membangun sarana sanitasi (jamban keluarga) yang harus dibangun oleh masing-masing anggota rumah tangga dengan dana swadaya. Masyarakat harus menentukan kapan dapat mencapai agar semua rumah tangga mempunyai jamban.
Pembangunan sarana jamban sekolah, tempat cuci tangan dan sarana air bersih di sekolah, menggunakan dana hibah desa atau sumber dana lain. Fasilitator harus mampu memberikan informasi pilihan agar masyarakat dapat memilih jenis sarana sanitasi sesuai dengan kemampuan dan kondisi lingkungannya (melalui pendekatan partisipatori).

Promosi Kesehatan Rumah Tangga/Masyarakat
Program kesehatan di masyarakat menekankan pada kegiatan kampanye dan aktivitas lainnya dengan target-target sasaran tertentu di dalam masyarakat. Fasilitator masyarakat dan petugas kesehatan setempat seperti sanitarian/petugas kesehatan lingkungan, PKK, kader desa dan bidan desa secara bersama-sama dapat melakukan kegiatan promosi kesehatan. Target/sasaran kegiatan seperti ibu muda yang mempunyai anak bayi/balita, ibu hamil, remaja putri, kelompok perempuan dan kelompok laki-laki, karang taruna, kelompok miskin dan kelompok menengah ke atas. Yang perlu di perhatikan adalah kemampuan membaca dari masyarakat dan kesederhanaan pesan yang di sampaikan.
Beberapa jenis kegiatan yang dapat di lakukan dalam Promosi Kesehatan di Masyarakat, adalah :
• Penyuluhan kelompok terbatas
• Penyuluhan kelompok besar (masa)
• Penyuluhan perorangan (penyuluhan antar teman/peer group education)
• Pemutaran film/video
• Penyuluhan dengan metode demonstrasi
• Pemasangan poster
• Pembagian leaflet
• Kunjungan/wisata kerja ke daerah lain
• Kunjungan rumah
• Pagelaran kesenian
• Lomba kebersihan antar RT/RW/Desa
• Kegiatan pemeliharaan dan membersihkan tempat-tempat umum
• Kegiatan penghijauan di sekitar sumber air
• Pelatihan kader, unit kesehatan
Program promosi kesehatan di tatanan rumah tangga atau masyarakat di desa-desa perlu dikoordinasikan dengan program penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten setempat, maupun unit lain yang terkait dan berminat untuk melalukan kampanye tentang hidup bersih dan sehat, seperti missal PKK, Pramuka, dll.

Promosi Kesehatan Sekolah.
Siswa sekolah merupakan komunitas besar dalam masyarakat, dalam wadah organisasi sekolah yang telah mapan, tersebar luas di pedesaan maupun perkotaan, serta telah ada program usaha kesehatan sekolah. Diharapkan setelah siswa sekolah mendapat pembelajaran perubahan perilaku di sekolah secara partisipatif, dapat mempengaruhi orang tua, keluarga lain serta tetangga dari siswa sekolah tersebut.
Siswa sekolah dasar terutama kelas 3, 4 dan 5 Sekolah Dasar merupakan kelompok umur yang mudah menerima inovasi baru dan mempunyai keinginan kuat untuk menyampaikan pengetahuan dan informasi yang mereka terima kepada orang lain. Program promosi kesehatan di sekolah harus diintegrasikan ke dalam program usaha kesehatan sekolah, melalui koordinasi dengan Tim Pembina UKS di tingkat Kecamatan, Kabupaten, Propinsi dan Pusat. Program promosi kesehatan di tempat ibadah dilakukan untuk menggalakan kegiatan promosi kesehatan dan melibatkan tokoh agama atau pemimpin tempat ibadah (imam masjid, pendeta, pastor, pedande atau biksu). Diharapkan dengan melibatkan tokoh dan pemimpin agama, perubahan perilaku kesehatan dapat segera terwujud.
Seringkali terjadi jamban di sekolah hanya terdiri atas dua unit, yaitu satu untuk guru dan yang lain untuk murid. Sementara kondisi jamban murid sangat berbeda jauh dengan jamban guru. Di mana jamban murid sangat jauh dari kondisi bersih dan terpelihara atau tidak jarang dalam kondisi rusak. Akibatnya banyak murid yang kemudian buang air baik buang air kecil maupun buang air besar di halaman sekolah. Kebiasaan ini membuat sekolah menjadi bau dan sangat rentan untuk menjadi sarang penyakit. Selain itu, seringkali jamban di sekolah tidak dilengkapi dengan penerangan yang cukup. Murid yang masih duduk di kelas 1 atau 2 akan merasa takut untuk menggunakan jamban yang kondisinya gelap, berbau dan kotor. Kondisi seperti ini harus dihindari dengan cara membuat jamban dengan penerangan yang cukup baik dari lampu ataupun sinar matahari beserta ventilasi yang memadai.
Salah satu kegiatan Kesehatan Sekolah Program adalah membangun jamban sekolah dan sarana cuci tangan. Sekolah harus memberikan pengajaran baik kepada guru maupun murid bagaimana cara memelihara jamban sekolah yang akan di bangun dan sarana cuci tangan. Misalnya seorang guru di serahkan tanggung jawab untuk pemeliharaan jamban. Ia akan mengkoordinasi murid dengan cara membuat “roster” atau jadwal membersihkan jamban dan sarana cuci tangan yang dibagi secara merata antara murid laki-laki dan murid perempuan.
Selain program pembangunan fisik, program pendidikan kesehatan tentang hubungan antara air, jamban, perilaku dan kesehatan juga menjadi kegiatan yang penting dalam program kesehatan sekolah. Di antaranya adalah hubungan antara air-kondisi sanitasi dan penyakit; bagaimana sarana sanitasi dapat melindungi kesehatan kita; bagaimana penyakit dapat timbul dari kondisi sanitasi dan perilaku yang buruk; Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun; Pencegahan Penyakit Kecacingan; dan monitoring kualitas air. Materi-materi pembelajaran bagi siswa dilaksanakan secara partisipatif menggunakan metode PHAST. Guru-guru sebagai tenaga pengajar akan di beri pelatihan terlebih dahulu oleh Dinas Kesehatan setempat dan Tim Fasilitator Masyarakat, khususnya TFM bidang kesehatan.
Adapun lingkup kegiatan yang termasuk dalam kegiatan Promosi Kesehatan Sekolah adalah sebagai berikut :
a. Pembangunan sarana air bersih, sanitasi dan fasilitas cuci tangan termasuk pendidikan menjaga kebersihan jamban sekolah
b. Pendidikan pemakaian dan pemeliharaan jamban sekolah
c. Penggalakan cuci tangan pakai sabun (CTPS)
d. Pendidikan tentang hubungan air minum, jamban, praktek kesehatan individu, dan kesehatan masyarakat
e. Kampanye pemberantasan penyakit kecacingan
f. Pendidikan kebersihan saluran pembuangan/SPAL
g. Pelatihan guru dan murid tentang PHAST
h. Kampanye, “Sungai Bersih, Sungai Kita Semua”
i. Pengembangan tanggungjawab murid, guru dan pihak-pihak lain yang terlibat di sekolah, mencakup:
• Pengorganisasian murid untuk pembagian tugas harian, pembagian tugas guru pembina dan Komite Sekolah
• Meningkatkan peranan murid dalam mempengaruhi keluarganya Beberapa jenis kegiatan yang dapat di lakukan dalam Promosi Kesehatan Sekolah, adalah :
• Penyuluhan kelompok di kelas, penyuluhan perorangan (penyuluhan antar teman)
• Pemutaran film/video
• Penyuluhan dengan metode demonstrasi
• Pemasangan poster, leaflet
• Kunjungan/wisata pendidikan
• Lomba kebersihan kelas Lomba membuat poster Lomba menggambar lingkungan sehat
• Absensi jamban, Absensi CTPS
• Kampanye kebersihan perorangan/murid
• Lomba cepat tepat tentang kesehatan dan lingkungan sehat
• Kegiatan pemeliharaan dan membersihkan jamban sekolah
• Penyuluhan terhadap warung sekolah, pedagang sekitar sekolah
• Pelatihan guru UKS
• Pelatihan siswa/kader UKS
Bila dalam satu desa terdapat lebih dari satu sekolah dasar, LKM dan masyarakat dapat memilih dan menentukan apakah semua sekolah dasar atau hanya satu saja yang akan diintervensi dengan Program Kesehatan. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam menentukan jumlah sekolah dasar yang akan diintervensi dengan program kesehatan adalah :
• Besarnya biaya yang dibutuhkan. Biaya untuk program promosi kesehatan termasuk program promosi kesehatan di sekolah jumlahnya terbatas. Oleh sebab itu jangan sampai terjadi biaya yang dibutuhkan untuk program kesehatan di sekolah melebihi dari disediakan. Oleh sebab itu penting kiranya untuk menentukan prioritas sekolah dasar mana saja yang perlu di intervensi dengan program kesehatan sekolah.
• Jumlah murid yang bersekolah. Penting kiranya dalam menentukan sekolah dasar yang akan di intervensi dengan program kesehatan melihat jumlah murid. Sekolah yang memiliki jumlah murid terbesar dari desa setempat layak dipilih untuk di intervensi dengan program kesehatan. Tujuannya adalah membuat murid-murid sebagai “change agent” atau perubah dilingkungan sekolah (sesama teman), di keluarga dan di lingkungan masyarakat.
• Apabila di desa tersebut tidak terdapat sekolah dasar, sementara semua anak bersekolah di sekolah yang terletak di desa lain yang berdekatan, maka LKM dan masyarakat dapat menentukan apakah program kesehatan akan diberikan pada sekolah tersebut atau tidak. Yang perlu di ingat adalah tujuan dari Program Pendidikan Kesehatan di sekolah adalah agar muridmurid sekolah dapat bertindak sebagai agen perubahan bagi orangtua mereka, saudara-saudara, tetangga dan kawan-kawan mereka dapat terwujud.
Keberhasilan promosi kesehatan di masyarakat dan sekolah di tingkat desa banyak dipengaruhi oleh hubungan jaringan komunikasi antara Facilitator, PUSKESMAS (kepala Puskemas, Sanitarian, Staf lain, Bidan Desa), Cabang Dinas Pendidikan (termasuk Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah, orang tua siswa) serta Tokoh Masyarakat (Aparat Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta semua anggota masyarakat). Agar ada keterkaitan antara program promosi kesehatan di masyarakat, dan sekolah berjalan baik dan benar maka rencana kegiatan promosi kesehatan harus dibahas pada pleno masyarakat, pada waktu menyusun RKM (Rencana Kerja Masyarakat).

Prioritas Kegiatan Promosi Kesehatan
Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit berbasis air dan lingkungan, dilakukan dengan dua kegiatan pokok yaitu :
a). Perubahan perilaku buruk yang masih terjadi di masyarakat menjadi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tentang :
• Stop buang air besar sembarangan
• Cuci tangan pakai sabun.
• Mengelola air minum dan makanan yang aman.
• Mengelola sampah dengan benar.
• Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman
b). Pembangunan sarana :
• Pembangunan jamban keluarga.
• Pembangunan sarana air bersih.
Prioritas pesan dalam promosi hygiene sanitasi adalah sebagai berikut :
1. Stop buang air besar sembarangan
Kebiasaan buang air besar di tempat terbuka / sembarang tempat, harus dirubah menjadi kebiasaan buang kotoran di tempat yang benar dan aman sesuai dengan kaidah kesehatan lingkungan. Seandainya belum mempunyai jamban, dengan buang kotoran di tempat jauh dari sumber air, dan ditutup dengan tanah sudah dapat mencegah terjadinya penularan penyakit. Khusus pengembangan sarana sanitasi keluarga, di proyek Kesehatan mengadopsi Pendekatan STBM (Community Led Total Sanitation) yang sekarang dikenal dengan istilah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
STBM adalah suatu pendekatan partisipatif yang mengajak masyarakat untuk mengalisa kondisi sanitasi mereka melalui suatu proses pemicuan, sehingga masyarakat dapat berpikir dan mengambil tindakan untuk meninggalkan kebiasaan buang air besar mereka yang masih di tempat terbuka dan sembarang tempat. Pendekatan yang dilakukan dalam STBM menyerang/menimbulkan rasa ngeri dan malu kepada masyarakat tentang kondisi lingkungannya.
Melalui pendekatan ini kesadaran akan kondisi yang sangat tidak bersih dan tidak nyaman di timbulkan. Dari pendekatan ini juga ditimbulkan kesadaran bahwa sanitasi (kebisaan BAB di sembarang tempat) adalah masalah bersama karena dapat berimplikasi kepada semua masyarakat sehingga pemecahannya juga harus dilakukan dan dipecahkan secara bersama. Dengan demikian, masyarakat akan secara sukarela membangun jamban secara swadaya tanpa tergantung sedikitpun dari proyek/pihak lain.
Pada proses seleksi desa, tingkat kemajuan dalam mencapai free open defacation menjadi salah satu indikator penilaian. Salah satu persyaratannya adalah minimal sudah ada komitmen dari masyarakat untuk mau merubah kebiasaan buang air besarnya dari tempat terbuka menjadi di jamban/tempat tertutup. Penjelasan tentang STBM dan bagaimana STBM dalam proyek Kesehatan dapat di lihat pada Buku Panduan Lapangan STBM di Kesehatan.
Stop buang air besar sembarangan juga harus ditujukan pada anak-anak, baik balita maupun bayi. Hal ini disebabkan karena Penyakit diare sebagian besar menyerang pada kelompok anak-anak termasuk bayi. Dalam tinjanya mengandung bakteri dan virus penyebab penyakit diare. Sering masyarakat beranggapan bahwa tinja bayi dan anak-anak tidak berbahaya, perilaku ini juga harus dirubah. Oleh karena itu kebiasaan membuang tinja bayi dan balita di tempat terbuka harus dirubah menjadi kebiasaan membuang tinja di jamban.
2. Mencuci Tangan Pakai Sabun
Tangan dapat terkontaminasi dengan tinja sewaktu cebok atau pada waktu membersihkan anak setelah buang air besar. Tangan harus dicuci dengan sabun setelah kontak dengan tinja (setelah buang air besar / setelah membersihkan kotoran bayi atau balita), yaitu dengan menggunakan sabun, karena untuk melarutkan partikel lemak yang mengandung kuman penyakit. Mencuci tangan sebelum makan, sebelum menyuapi anak, sebelum menyiapkan makanan juga dapat mencegah penularan penyakit. Tetapi harus diingat pesan terlalu banyak tidak praktis.Yang perlu diingat dan perlu dilakukan sehingga menjadi kebiasaan ialah “Mencuci tangan dengan sabun setelah terjadi kontak dengan tinja”.
3. Pengamanan Air Minum dan makanan
Kebersihan dan penanganan air minum di tingkat rumah tangga juga merupakan satu hal yang penting dalam menurunkan angka penyakit yang berbasis air dan lingkungan. Masyakat perlu difasilitasi dalam menjamin kebersihan dan keamanan air yang mereka konsumsi untuk berbagai kebutuhan. Kegiatan-kegiatan mulai dari mengambil air dari titik-titik air bersih, penyimpanannya sampai pada proses pengolahannya, harus menjamin air yang di konsumsi bebas dari bakteri penyebab penyakit. Makanan yang dikonsumsi masyarakat juga harus mendapatkan perhatian, baik makanan yang disediakan di rumah tangga, di warung makan dan restoran, juga makanan yang disajikan dikantinkantin sekolah.
4. Pengelolaan sampah dengan benar
Sampah merupakan merupakan produk sampingan kegaiatn di rumah tangga. Kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa sampah merupakan benda atau barang yang tidak berguna dan harus dibuang. Perkembangan dewasa ini ternyata bergeser, dimana sampah dapat juga dimanfaatkan kembali, melalui pendekatan yang disebut 3R (reduse, reuse dan recycle). Sampah organik seperti daun, bekas makanan, dll dapat dimanfaatkan kembali untuk bahan pupuk. Sampah an-organik dapat dipilah-pilah, dan kemudian dimanfaatkan sesuai dengan jenis dan kebutuhan. Sampah bila tidak dikelola dengan benar akan dapat merupakan perindukan vektor penyakit, yaitu seranga dan binatang mengerat yang befungsi sebagai host penyakit menular
5. Pengelolaan limbah cair rumah tangga dengan aman
Dengan banyaknya air yang tersedia di masyarakat, akibat suksesnya program penyediaan air bersih dan air minum bagi masyarakat akan menyebabkan jumlah limbah cair yang harus dibuang juga meningkat. Limbah cair yang dibuang tidak dengan benar akan menyebabkan turunnya keindahan dan kebersihan lingkungan, dan juga sebagai tempat perindukan vektor penyakit menular.

PERAN BERBAGAI PIHAK DALAM PROMOSI KESEHATAN
Promosi kesehatan secara partisipatif masih merupakan pendekatan yang relatif baru, sehingga masih memerlukan bantuan dari Dinas Kabupaten, dan Dinas Kesehatan Propinsi, serta untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan kapasitas kelembagaan lokal. Dalam rangka meningkatkan kegiatan komponen kesehatan Program PAMSIMAS perlu diperhatikan siapa yang berperan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bagaimana cara memberikan bantuan teknis, apakah tersedia biaya operasional untuk mengadakan bimbingan teknis tersebut.
A. Peran Tingkat Pusat
Ada 2 unit utama di tingkat Pusat yang terkait dalam Promosi Kesehatan, yaitu
1. Pusat Promosi Kesehatan dan
2. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Pengelolaan promosi kesehatan khususnya terkait program Pamsimas di tingkat Pusat perlu mengembangkan tugas dan juga tanggung jawab antara lain :
a. Mengembangkan dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang terkait dengan kegiatan promosi kesehatan secara nasional
b. Mengkaji metode dan teknik-teknik promosi kesehatan yang effektif untuk pengembangan model promosi kesehatan di daerah
c. Mengkoordinasikan dan mengsinkronisasikan pengelolaan promosi kesehatan di tingkat pusat
d. Menggalang kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan lain yang terkait
e. Melaksanakan kampanye kesehatan terkait Pamsimas secara nasional
f. Bimbingan teknis, fasilitasi, monitoring dan evaluasi
B. Peran Tingkat Propinsi
Sebagai unit yang berada dibawah secara sub-ordinasi Pusat, maka peran tingkat Provinsi, khususnya kegiatan yang diselenggrakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi antara lain sebagai berikut :
a. Menjabarkan kebijakan promosi kesehatan nasional menjadi kebijakan promosi kesehatan lokal (provinsi) untuk mendukung penyelenggaraan promosi kesehatan dalam wilayah kerja Pamsimas
b. Meningkatkan kemampuan Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan promosi kesehatan, terutama dibidang penggerakan dan pemberdayaan masyarakat agar mampu ber-PHBS.
c. Membangun suasana yang kondusif dalam upaya melakukan pemberdayaan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat pada level provinsi
d. Menggalang dukungan dan meningkatkan kemitraan dari berbagai pihak serta mengintegrasikan penyelenggaraan promosi kesehatan dengan lintas program dan lintas sektor terkait dalam pencapaian PHBS dalam level Provinsi
C. Peran Tingkat Kabupaten
Promosi Kesehatan yang diselenggarakan di tingkat Kabupaten, khususnya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dapat mencakup hal-hal sebagai berikut:
e. Meningkatkan kemampuan Puskesmas, dan sarana kesehatan lainnya dalam penyelenggaraan promosi kesehatan, terutama dibidang penggerakan dan pemberdayaan masyarakat agar mampu ber-PHBS.
f. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan yang bersumberdaya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat
g. Membangun suasana yang kondusif dalam upaya melakukan pemberdayaan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.
h. Menggalang dukungan dan meningkatkan kemitraan dari berbagai pihak serta mengintegrasikan penyelenggaraan promosi kesehatan dengan lintas program dan lintas sektor terkait dalam pencapaian PHBS.

Peran Konsultan Kabupaten (Bidang Kesehatan)
Pada Tahap perencanaan, konsultan kabupaten menyusun strategi agar semua golongan masyarakat ikut serta dalam proses identifikasi masalah dan potensi. Selain itu dalam proses pembentukan LKM, memberikan bantuan teknis tentang cara pembentukan LKM yang demokratis dan transparan. Untuk penguatan LKM unit Kesehatan, menyiapkan materi pelatihan serta membantu pelaksanaannya. Sementara pada saat pemilihan opsi sebagai nara sumber dalam rembug desa pembahasan opsi kegiatan. Konsultan Kabupaten bidang kesehatan, juga memegang peranan penting dalam melakukan proses pemicuan dalam rangka pengembangan saranan sanitias secara partisipatif dengan metode STBM kepada masyarakat. Bersama dengan Tim Teknis Kabupaten dan Kecamatan, melakukan kegiatan pemicuan di semua lokasi desa sasaran proyek bersamaan dengan kegiatan identifikasi masalah, potensi dan analisis situasi. Termasuk melakukan kegiatan monitoring dan pemantauan tingkat kemajuan penambahan akses masyarakat terhadap sarana sanitasi.
Pada saat penyusunan rencana kegiatan kesehatan, memberikan bantuan teknis dalam penyusunan rencana kegiatan. Juga bertanggung jawab terhadap kualitas penyusunan rencana kegiatan bidang kesehatan dan sanitasi di masyarakat, sekolah dan tempat ibadah. Pada tahap evaluasi RKM, menjamin kualitas RKM bidang kesehatan dan sanitasi layak di sajikan dalam rangka persetujuan RKM, melapor ke propinsi tentang hasil pelaksanaan evaluasi RKM, mendorong adanya tolak ukur di proyek Kesehatan kabupaten yang mendukung kegiatan PHBS di desa serta adanya kegiatan monitoring perubahan perilaku di masyarakat dan sekolah.
Pada persiapan implementasi kegiatan, memberikan informasi kegiatan-kegiatan yang direncanakan di Tingkat Propinsi dan Kabupaten untuk mendukung pelaksanaan kegiatan di desa. Sementara pada tahap peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat untuk melaksanakan implementasi kegiatan bidang kesehatan dan sanitasi adalah bekerja sama dengan Tim Lintas Sektor dan Lintas Program Tingkat Kabupaten untuk mendukung pelaksanaan pelatihan yang direncanakan di tingkat kabupaten maupun yang di usulkan dalam RKM. Termasuk melakukan kegiatan monitoring untuk memastikan proporsi peserta. Pada kegiatan peningkatan akses penggunaan air bersih yang aman dan bebas pencemaran, konsultan kabupaten memberikan bantuan teknis tentang cara-cara pengawasan kualitas air dan drainase pada sarana air bersih juga tentang pembuatan pesan-pesan penyuluhan dan pengorganisasian masyarakat untuk kesinambungan kegiatan PHBS serta melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi. Untuk pelaksanaan kegiatan penyuluhan secara partisipatif, konsultan kabupaten melakukan koordinasi dengan Tim Teknis Lintas Sektor dan Linstas Program untuk mendukung pelaksanaan promosi kesehatan. Termasuk memberikan bantuan teknis tentang peningkatan pastisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan. Selain itu menyarankan pihak kabupaten agar mengeluaran dana kegiatan penyuluhan yang ada di kabupaten ke desa/sekolah melalui Puskesmas tepat waktu sesuai dengan kebutuhan palaksanaan di desa. Pada tahap pasca konstruksi melakukan koordinasi dengan lintas program dan lintas sektor terkait untuk pembinaan perencanaan kegiatan pasca konstruksi serta melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi.

Peran Fasilitator Masyarakat (Bidang Kesehatan)
Pada tahap perencanaan menfasilitasi masyarakat dalam identifikasi masalah, potensi dan analisis situasi khususnya yang berhubungan dengan masalah kesehatan. Pada saat pembentukan LKM, bersama TFM lainnya membentuk LKM yang demokratis dan melakukan penguatan kepada Unit kesehatan. Pada saat pemilihan opsi, menfasilitasi masyarakat dalam memilih prioritas kegiatan. Dalam penyusunan rencana kegiatan dan RKM, menfasilitasi LKM menyusun rencana kegiatan bidang kesehatan termasuk juga menfasilitasi dalam penyusunan rencana anggaran biaya kegiatan bidang kesehatan. Selain itu menfasilitasi LKM ketika bersama masyarakat membahas draft RKM bidang kesehatan dan sanitasi melalui rembug desa. Bersamaan dengan tahap ini, fasilitator masyarakat bersama-sama dengan konsultan kabupaten bidang kesehatan (serta tim lintas sektor dan program) melakukan kegiatan pemicuan dalam rangka pengembangan sarana sanitasi secara partisipatif dengan menggunakan metode STBM.
Pada saat evaluasi RKM, fasilitator masyarakat memastikan perencanaan bidang kesehatan dan sanitasi minimal mencakup empat kegiatan pokok perilaku sasaran dengan pembiayaan yang roposional, memastikan adanya perencanaan peningkatan akses terhadap sarana sanitasi melalui pengembangan sarana sanitasi secara patisipatif dengan menggunakan metode STBM serta memastikan adanya peencanaan kegiatan monitoring perubahan perilaku oleh masyarakat sendiri.
Sebelum pelaksanaan kegiatan, fasilitator menfasilitasi LKM untuk mengecek dan menyusun kembali jadwal kegiatan dalam RKM apabila di perlukan, menyusun organisasi pelaksana kegiatan bidang kesehatan dan sanitasi di sekolah maupun di masyarakat menggunakan tenaga potensial setempat, merencanakan penarikan dana hibah desa serta merencanakan mobilisasi kontibusi in kind bidang kesehatan dan sanitasi. Juga dalam rangka peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat untuk melaksanakan implementasi kegiatan bidang kesehatan dan sanitasi, fasilitator masyarakat bidang kesehatan menfasilitasi LKM unit kesehatan untuk melaksanakan pelatihan tenaga bidang kesehatan dan sanitasi yang telah di rencanakan dalam RKM, pelatihan untuk tenaga potensial setempat tentang penyuluhan secara partisipatif (tokoh masyarakat, tokoh agama, kader kesehatan, bidan desa, dll), juga bekerjasama dengan Puskesmas, cabang Dinas Pendidikan Kecamatan dan sekolah, Bidan Desa untuk meningkatkan kapasitas masyarakat setempat dalam rangka penngkatan bidang kesehatan dan sanitasi.
Selain itu pada tahap pelaksanan kegiatan mulai dari kegiatan peningkatan akses penggunaan air bersih yang aman dan bebas pencemaran, pelaksanaan penyuluhan secara partisipatif tentang PHBS di sekolah dan masyarakat, serta perencanaan peningkatan akses masyarakat terhadap sarana sanitasi, fasilitator masyarakat bidang kesehatan dan sanitasi menfasilitasi LKM unit kesehatan dan tenaga potensial setempat untuk memastikan semua kegiatan yang di rencanakan dalam RKM dapat di laksanakan dengan baik.
Pada tahap kegiatan pasca konstruksi, fasilitator masyarakat bidang kesehatan menfasilitasi badan pengelola merencanakan kegiatan dalam bidang kesehatan dan sanitasi yang terpadu dengan pembangunan sarana air bersih maupun pembangunan jamban di sekolah/tempat ibadah serta pengembangan jamban di masyarakat.

Peran Tingkat Kecamatan
Peran tingkat Kecamatan, khususnya Puskesmas dalam penyelenggaraan promosi kesehatan di desa – desa  sangat penting, sejak tahap persiapan, implementasi maupun pasca konstruksi. Pada tahap perencanaan, Pimpinan Puskesmas membantu dalam penyediaan data sekunder tentang masalah kesehatan, kualitas kesehatan lingkungan dan potensi fasilitas kesehatan di desa untuk melengkapi data komunitas. Selain itu Pimpinan Puskesmas dan Sanitarian memberikan bimbingan teknis dan monitoring dalam kegiatan setiap tahap perencanaan. Pimpinan Puskesmas dan sanitarian sebagai nara sumber dan fasilitator dalam rembug desa/kegiatan pleno membantu TFM untuk membahas identifikasi masalah dan analisis situasi, pemilihan opsi kegiatan kesehatan, serta pada waktu pembahasan draft RKM. Sanitarian mengambil sample air untuk dibawa ke Laboratorium guna pertimbangan pemilihan sumber air untuk di bangun sarana air bersih. Disamping Kepala Puskesmas dan sanitarian, maka peran Bidan, khususnya Bidan Desa lokasi desa Pamsimas juga sangat penting, karena sifat dan jenis pekerjaan bidan akan sangat terkait dengan pihak perempuan di desa. Masalah kehamilan, kelahiran dan menyusui bukan semata masalah teknis medis kesehatan, tapi terkait pula dengan sarana air bersih, minum dan sanitasi itu sendiri. Pada tahap implementasi kegiatan, Pimpinan Puskesmas, Sanitarian, Staf Dinas Pendidikan Kecamatan, melaksanakan bimbingan teknis dan monitoring pelaksanaan kegiatan. Selain itu, melaksanakan kegiatan promosi kesehatan dan sanitasi yang direncanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten untuk mendukung kegiatan di desa. Pada tahap Pasca Konstruksi, membantu TFM dalam menfasilitasi masyarakat untuk menyusun rencana kegiatan paska konsruksi. Juga secara rutin melakukan bimbingan teknis dan monitoring.

PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN
A. Persiapan Perencanaan Partisipatif Masyarakat
1. Pendekatan Kepada Masyarakat
TFM sebagai pendamping masyarakat dapat memulainya dengan melakukan pendekatan pada berbagai pihak. Pendekatan dapat dilakukan dengan cara mendatangi pihak-pihak terkait, seperti Kepala Puskesmas, Petugas Kesehatan Lingkungan/Sanitarian setempat, Kepala Sekolah, Penilik Sekolah/Staff Dinas Pendidikan Tingkat Kecamatan, dan pihak lainnya. Pendekatan perlu dilakukan dengan tujuan :
• Kesepakatan untuk memfasilitasi masyarakat agar mampu merencanakan program promosi higiene sanitasi di sekolah dan di masyarakat secara partisipatif.
• Menjamin kualitas perencanaan promosi higiene sanitasi serta ada keterkaitan antara program di sekolah dan di masyarakat. Termasuk mendapatkan gambaran program kegiatan promosi kesehatan yang direncanakan di Puskesmas sehingga perencanaan program kesehatan dalam RKM dapat terintegrasi dengan program-program di Puskesmas.
• Diperoleh data dan informasi dalam rangka untuk meningkatkan kualitas fasilitasi kepada masyarakat seperti data penyakit di desa, kondisi sarana air minum dan kualitas lingkungan, fasilitas kesehatan, jumlah tenaga kesehatan, jumlah kader kesehatan, program penyuluhan serta media komunikasi yang telah dilaksanakan, dan lain-lain.
2. Peningkatan Kualitas Fasilitasi Masyarakat
Orientasi awal perlu di lakukan sebelum TFM menfasilitasi masyarakat melakukan berbagai kegiatan pada tahap perencanaan. Pertemuan dengan para aparat desa dan tokoh desa (tokoh masyarakat, tokoh agama, kepala dusun, dll) adalah agenda pertama yang harus dilakukan. Selain itu bergabung dengan berbagai kegiatan kumpulan seperti pengajian, ibadah gereja, dan kegiatan kumpulan lainnya adalah hal yang sangat bermanfaat untuk membuat hubungan kedekatan dengan masyarakat. Tujuan dari pendekatan awal ini adalah : meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan perencanaan program promosi higiene sanitasi.
B. Perencanaan Secara Partisipatif di Masyarakat
Perencanaan kegiatan promosi kesehatan dilaksanakan oleh masyarakat sendiri sesuai kebutuhan dan sensitif gender dan kemiskinan, ada keterpaduan dengan pembangunan sarana air bersih dan sanitasi, sehingga dapat dicapai :
• Peningkatan akses penggunaan sarana air bersih dan sanitasi terutama kelompok masyarakat miskin.
• Peningkatan efektivitas penggunaan sarana.
• Peningkatan PHBS (hygiene use) dengan perilaku hygiene yang praktis oleh perorangan, rumah tangga dan kelompok masyarakat. Perencanaan dilakukan oleh masyarakat dan di fasilitasi oleh fasilitator, meliputi kegiatan promosi kesehatan di masyarakat dan di sekolah, menggunakan panduan perencanaan partisipatif masyarakat, sehingga dapat disusun rencana kerja masyarakat (RKM).
Langkah kegiatan perencanaan promosi kesehatan adalah seperti diuraikan di bawah ini :
1. Identifikasi Masalah, Potensi dan Analisis Situasi
a. Identifikasi Perilaku Beresiko Terhadap Kesehatan
• Masyarakat mengidentifikasi faktor-faktor apakah yang ada di masyarakat, yang menyebabkan terjadinya penyebaran penyakit (adakah faktor perilaku dan atau faktor sarana air bersih dan sarana sanitasi yang menyebabkan penyebaran penyakit).
• Masyarakat menganalisa perilaku yang paling beresiko terhadap kesehatan diantara banyak faktor perilaku yang menyebabkan penyebaran penyakit tanpa mengarahkan masyarakat, melalui bantuan pertanyaan-pertanyaan oleh fasilitator, masyarakat dapat menemukan tentang prioritas perilaku beresiko.
• Masyarakat mengidentifikasi kelompok sasaran perilaku beresiko (siapakah berperilaku beresiko, kapan perilaku buruk tersebut dilakukan, dan dimana perilaku buruk tersebut dilakukan).
• Masyarakat dapat menganalisis potensi yang dimiliki seperti tenaga/kader kesehatan, media komunikasi yang ada, perilaku baik terhadap kesehatan yang sudah membudaya di masyarakat, dan lain-lain.
• Masyarakat menganalisa mengapa mereka belum melakukan perilaku kesehatan yang di inginkan? Apakah masyarakat tidak melakukan karena tidak tahu dan tidak mengerti atau masyarakat sudah mengerti dan paham tetapi tetapi tidak mau melakukannya.
• Pada tahap ini TFM juga melakukan proses pemicuan dengan metode STBM, sampai terbentuknya “informal leader”. Proses kegiatan monitoring dan kegiatan lain di tindaklanjuti oleh organisasi sanitasi yang terbentuk tersebut.
b. Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah
Setelah masyarakat mengidentifikasi masalah perilaku beresiko terhadap kesehatan yang ada di masyarakat dan menganalisis potensi masyarakat, selanjutnya masyarakat menyusun perumusan masalah dan cara pemecahan masalah tersebut, dengan memanfaatkan potensi yang ada di masyarakat .
2. Penguatan LKM, Pemilihan Opsi Kegiatan dan Penyusunan RRK Promosi Kesehatan
Setelah masyarakat merumuskan masalah dan cara pemecahannya, agar secara operasional mudah dilaksanakan oleh masyarakat (individu, rumah tangga, kelompok masyarakat) maka perlu tindak lanjut : Penguatan kapasitas Tim Kerja Masyarakat dan Penyusunan rancangan rinci kegiatan dan rencana biaya, yang praktis dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat.
a. Penguatan LKM
Tim Fasilitator Masyarakat dibantu oleh bidan desa, sanitarian, staf Cabang Dinas Pendidikan, Kepala Desa, memberikan penguatan melalui on the job training kepada LKM (terutama Seksi Kesehatan) agar mampu menyusun opsi kegiatan promosi kesehatan, rancangan rinci kegiatan dan rencana biaya :
• Promosi Kesehatan di Masyarakat
• Promosi kesehatan di Sekolah
b. Opsi Kegiatan Promosi Kesehatan
Minimal empat perilaku seperti telah diuraikan sebelumnya.
• Perilaku buang air besar di tempat yang benar (jamban).
• Perilaku cuci tangan pakai sabun.
• Perilaku pengamanan air minum dan makanan.
• Perilaku kebersihan pengelolaan sampah
• Perillaku pengelolaan limbah cair rumah tangga
Telah diuraikan diatas bahwa langkah berikut setelah identifikasi masalah dan pemahaman penyebaran penyakit dilakukan analisis. Salah satu cara analisis yang sering digunakan dalam pemilihan opsi kegiatan PHBS adalah dengan berdiskusi, menggunakan matriks “EFEKTIF – TIDAK EFEKTIF dan MUDAH – SULIT”. Bila opsi kegiatan PHBS telah dipilih, maka mungkin perlu pula menetapkan pilihan/opsi teknis jenis sarana yang dibutuhkan. Dasar pemilihan opsi teknis ini adalah dengan pertimbangan kelebihan dan kekurangannya. Opsi yang dipilih hendaknya sudah mempertimbangkan berbagai aspek yang hidup di masyarakat seperti : kepercayaan, tradisi, tata nilai dan sebagainya, agar tidak mengalami masalah di kemudian hari.
c. Penyusunan Rancangan Rinci Kegiatan
Setelah opsi kegiatan dan opsi teknis sarana ditentukan, maka dilanjutkan dengan membuat suatu rencana tindakan yang akan dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Masyarakat (RKM). Untuk itu perlu dilakukan diskusi kelompok masyarakat (Kelompok Diskusi Terfokus). Kegiatan ini dapat langsung dilanjutkan setelah pemilihan opsi dilakukan atau pada kesempatan lain yang terpisah, karena pembuatan rencana kerja tersebut mungkin membutuhkan beberapa kali diskusi. Kegiatan ini hendaknya dilakukan dalam kelompok yang melibatkan pula anggota LKM, sanitarian Puskesmas, perwakilan sekolah/guru, disamping fasilitator. Dimaklumi bahwa untuk mengubah perilaku tidaklah mudah. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi. Diperlukan “motivasi” tertentu untuk mau berubah. Bahkan kemampuan juga turut mempengaruhi. Untuk itu mungkin diperlukan penyebaran informasi yang cukup.
Untuk memperoleh informasi kesehatan yang lebih banyak dan relevan diharapkan CFT dapat membantu LKM untuk meningkatkan akses ke Puskesmas. Perlu pula dipikirkan/didiskusikan dengan masyarakat mengenai kemungkinan diadakan pelatihan khusus bidang penyuluhan kesehatan dan bidang teknis PHBS.
Semua temuan, hasil analisis dan keputusan-keputusan tentang opsi perubahan PHBS tersebut diatas selanjutnya disajikan pada Pertemuan Pleno Masyarakat untuk persetujuan yang perlu ditindaklanjuti sebagai bahan masukan RKM. Tindak lanjut yang dimaksud antara lain mengenai kesepakatan akan menentukan tujuan, kelompok sasaran, macam/kegiatan pelaksana, keperluan akan alat/bahan/material dan biaya serta waktu pelaksanaan.
Alat/bahan/media yang dibutuhkan dimasukan dalam rencana kegiatan berikut biaya yang dibutuhkan. Dalam membuat perencanaan biaya, LKM Unit Kesehatan didampingi oleh TFM Kesehatan mencari perbandingan harga untuk semua bahan dan alat yang dibutuhkan, minimal 3 toko. Harga yang digunakan sebagai harga satuan dalam RKM adalah harga yang terendah.
Perlu diingat bahwa dalam menetapkan kelompok sasaran pada prinsipnya terutama adalah kolompok yang beresiko tinggi terhadap penularan penyakit. Oleh karena itu sewaktu menggali informasi dengan menggunakan tool Contamination route hendaknya dapat diperoleh pula informasi tentang golongan umur berapa yang banyak ditemukan menderita penyakit tertentu misalnya diare. Maka sasaran program dapat diidentifikasi lebih tajam yaitu yang dikatakan “beresiko tinggi” misalnya bayi, dan sebagainya. Juga, kelompok masyarakat yang beresiko tinggi dapat diketahui dari hasil Transect Walk, misalnya ditemui kelompok masyarakat yang mandi, cucicuci, buang air besar dan lain-lain di sungai. Atau kelompok masyarakat yang tidak cuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebagainya.
Dalam mendiskusikan pelaksana dari kegiatan-kegiatan hendaknya melibatkan semua segmen sosial masyarakat (laki-laki, perempuan, kaya dan miskin, orang tua, remaja/anak-anak). Dengan adanya permasalahan kesehatan yang jelas, kelompok sasaran yang jelas pula kiranya dapat disusun rencana PHBS yang lebih terfokus. Bahkan sampai kepada materi penyuluhan apa, media komunikasi apa yang efektif dapat dibahas bersama-sama dari data yang telah diperoleh.
Rencana Kerja Perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dituangkan dalam tabel sebagai kelanjutan dari pemilihan Opsi PHBS. Dengan alur pikir pembuatan perencanaan seperti tersebut di atas, masyarakat akan lebih mudah memahami dan diharapkan lebih banyak terlibat dan mendukung sehingga terjadi suatu pembangunan yang berkesinambungan.
d. Penyusunan RKM
Masyarakat dibantu oleh TFM menyusun draft RKM tentang program promosi kesehatan dengan memperhatikan :
• Ada keterkaitan antara program promosi kesehatan di sekolah dan di masyarakat.
• Rencana promosi kesehatan dipresentasikan dalam pleno masyarakat untuk mendapat perbaikan / penyempurnaan serta kesepakatan.
• Mendapat masukan dari TKC, Puskesmas dan Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan, untuk mendapat dukungan dari program dan sektor terkait.
e. Penyusunan Rencana Monitoring dan Evaluasi
Masyarakat dibantu oleh TFM, secara partisipatif melalui diskusi kelompok terfokus menyusun rencana monitoring dan evaluasi kegiatan promosi higiene sanitasi baik di sekolah maupun di masyarakat, yang mudah dilaksanakan sendiri oleh siswa sekolah maupun masyarakat

Pelaksanaan Promosi Kesehatan
1. Persiapan Pelaksanaan
• LKM dibantu / difasilitasi oleh TFM menyusun jadual ulang apabila dalam melaksanakan kegiatan dalam RKM tidak sesuai lagi dengan kondisi terkini.
• LKM dibantu / difasilitasi oleh TFM menyusun organisasi pelaksanaan promosi kesehatan, berdasar atas rencana yang telah disusun dalam RKM (di sekolah maupun di masyarakat).
• Mendapatkan media komunikasi yang diproduksi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten / Dinas Kesehatan Propinsi (apabila ada).
2. Fasilitasi oleh TFM
• TFM terutama FM bidang kesehatan harus melaksanakan pelatihan kepada LKM (seksi kesehatan) melalui pelatihan sambil bekerja (on the job training), agar mampu melaksanakan kegiatan promosi higiene sanitasi.
• TFM terutama FM bidang kesehatan membantu LKM dalam melaksanakan kegiatan promosi higiene sanitasi.
• TFM terutama FM bidang kesehatan dan FM bidang pemberdayaan masyarakat terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hasil pemicuan STBM.
3. Implementasi Kegiatan
• Melaksanakan kegiatan pelatihan yang berkaitan dengan promosi higiene sanitasi terlebih dahulu (apabila ada rencana pelatihan dalam RKM).
• Mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan promosi higiene sanitasi seperti pelatihan Guru, atau pelatihan yang direncanakan oleh DPMU, menggunakan dana non hibah desa.
• Melaksanakan kegiatan program promosi higiene sanitasi di masyarakat, di tempat ibadah maupun di sekolah sesuai rencana yang tercantum dalam RKM.
• Melaksanakan pembangunan sarana air bersih, jamban sekolah dan tempat cuci tangan, di sekolah sesuai rencana dalam RKM.
4. Bantuan Teknis TKKc
• Tim Pembina UKS Kecamatan yang anggotanya juga merupakan anggota TKC, memberikan bantuan teknis dalam pelaksanaan promosi higiene sanitasi secara partisipatif di sekolah.
• Pemimpin Puskesmas, Sanitarian dan Staf lain yang merupakan anggota TKC, memberikan bantuan teknis pelaksanaan kegiatan promosi higiene sanitasi di sekolah maupun di masyarakat.

MONITORING DAN EVALUASI
Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara terus menerus dan kontinyu untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan (target) program promosi hygiene sanitasi dan perubahan perilaku.
1. Mengetahui Kemajuan Perubahan secara Fisik dengan menggunakan peta sosial :
• Apakah ada perubahan tempat-tempat yang semua digunakan untuk buang air besar (seperti di sungai, hutan, kebun, dan lain-lain) sekarang masih digunakan untuk buang air besar.
• Apakah ada tempat-tempat untuk membuang kotoran bayi-balita, sekarang masih terjadi.
• Apakah ada penambahan jumlah sarana jamban keluarga, jamban sekolah, tempat cuci tangan di sekolah.
• Apakah di jamban ada perubahan tentang penyediaan air dan sabun untuk cuci tangan.
2. Memeriksa Kemajuan Pelaksanaan Kegiatan dengan menggunakan tabel perencanaan yang disusun berdasar data dalam RKM, untuk mengetahui apakah jenis dan volume kegiatan yang direncanakan, pada saat ini sudah dilaksanakan.
3. Evaluasi Perubahan Perilaku Secara Partisipatif (terutama dapat dilakukan di sekolah)
Misal melalui sistim berbaris siswa sekolah ditanyakan :
• Siapa yang telah cuci tangan dengan air sesudah BAB.
• Siapa yang tidak cuci tangan dengan air dan sabun sesudah BAB.
• Siapa yang tidak cuci tangan sesudah BAB.
4. Monitoring Kesinambungan
Untuk melaksanakan monitoring kesinambungan khususnya bidang kesehatan, dilakukan dalam empat tahap. Yaitu :
• Tahap 1 dilakukan untuk merekam data situasi baseline berdasarkan bagaimana kondisi yang terjadi saat ini seperti perilaku buruk apa saja yang masih di lakukan oleh masyarakat, bagaimana kondisi dan jumlah dari sarana air bersih di masyarakat, sekolah dan tempat ibadah; sarana sanitasi di masyarakat, di sekolah dan tempat ibadah; dan tempat cuci tangan di sekolah.
• Tahap 2 dilakukan untuk memonitor kuailtas dari proses perencanaan masyarakat dan RKM sebelum disetujui untuk didanai khususnya bidang kesehatan. Apakah perencanaan kegiatan Promosi kesehatan sudah mencantumkan semua perilaku kunci/perilaku sasaran yang ingin di ubah, Apakah ada rencana promosi perbaikan perilaku hidup bersih tersebut disekolah? Apakah ada rencana promosi perbaikan perilaku hidup bersih tersebut dimasyarakat ? Apakah telah direncanakan indikator dan mekanisme monitoring untuk perbaikan perilaku tsb di lingkungan murid-murid sekolah ? Apakah telah direncanakan indikator dan mekanisme monitoring untuk perbaikan perilaku tsb dalam masyarakat ?.
• Tahap 3 kesesuaian antara RKM dengan kenyataan dari pelaksanaan kegiatan. Apakah perencanaan PHBS dalam RKM telah mulai dilaksanakan ?Siapa yg bertanggungjawab pelaksanaan, disekolah ? di masyarakat ?Apakah penanggung jawab pelaksanaan sudah terima pelatihan ? Apakah dana disediakan sesuai dengan RKM untuk menerima kegiatan PHBS disekolah ? Dimasyarakat ?
• Tahap 4, yaitu dilakukan bagi seluruh pelaksana proyek dan masyarakat pengguna untuk mengetahui bagaimana dampak atau hasil dari kegiatan yang dilakukan LKM dan mesyarakat melalui RKM.

TERIMA KASIH
Categories: Manajemen Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: