Home > Kesehatan Lingkungan > PRIORITAS UTAMA BIDANG KESEHATAN

PRIORITAS UTAMA BIDANG KESEHATAN

Sehat adalah suatu keadaan yang terbebas dari penyakit, gangguan fungsi organ tubuh (gangguan faali), atau gangguan kejiwaan. Sehat sebagai suatu kondisi merupakan resultan  dari rangkaian proses yang ditentukan  dan dipengaruhi oleh faktor alamiah dari dalam tubuh itu sendiri, serta faktor eksogen dari luar tubuh. Faktor luar meliputi nilai gizi makanan dan minuman yang dikonsumsi individu, pola penyakit yang terdapat di masyarakat atau suatu wilayah, mutu dan ketersediaan serta keterjangkauan obat, ketersediaan dan validitas fungsi peralatan kesehatan (termasuk instrumen kedokteran), serta perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungan (tempat tinggal, tempat kerja, lingkungan sosial, dan lingkungan geografi). lptek yang termasuk dalam ruang lingkup bidang kesehatan adalah ilmu-ilmu gizi, kedokteran, farmasi, dan kesehatan masyarakat (public health) serta cabang-cabang ilmu di dalamnya. Adapun iptek yang terkait dengan bidang kesehatan antara lain bioteknologi, ilmu rekayasa biomedika (biomedical engineering), ergonomi, ekologi, serta ilmu multiguna yakni informatika/teknologi informasi untuk pengolahan data dan tampilan  (display)  pada instrumentasi kedokteran, maupun dalam hal penyampaian informasi medis jarak jauh (telemedicine).
Permasalahan bidang kesehatan di Indonesia merupakan hubungan sebab akibat ataupun ramifikasi persoalan antara upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia dan tingkat sosial-ekonomi masyarakat, lemahnya struktur industri kesehatan, penyalahgunaan narkoba, penyimpangan perilaku, pergeseran paradigma, serta masih lemahnya kualitas pelayanan kesehatan yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, permasalahan bidang kesehatan berkaitan erat dengan upaya pendayagunaan potensi serta kemampuan riil yang ada untuk mengatasi problem yang dihadapi pada tingkat lokal, nasional, bahkan global. Riset sebagai salah satu upaya untuk memanfaatkan iptek dalam rangka memberikan kontribusi bagi pemecahan problem terkait (purposive research) maupun dalam rangka meningkatkan kapasitas iptek itu sendiri (basic and applied research) perlu diarahkan secara sistematis, terkoordinasi, dan efisien, karena adanya keterbatasan sumber daya maupun makin besarnya tekanan-tekanan yang dihadapi.
Di negara-negara maju, perkembangan iptek yang terkait dengan bidang kesehatan sudah demikian pesatnya berkat penguakan fenomena genetika melalui keberhasilan  human genome project, biologi seluler dan molekuler yang menjelaskan proses penuaan (aging) dan gangguan metabolisme, kemajuan teknologi kedokteran itu sendiri seperti teknik bedah mikro (microsurgery), transplantasi organ, teknik diagnostika dan terapi yang makin spesifik dan akurat, intensifnya penelitian dan pengembangan obat dari molekul baru (new chemical entities) yang didukung teknik pemayaran (screening) senyawa aktif berkhasiat obat secara masif dan sangat efisien (high throughput screening system), pemahaman hubungan antara struktur kimia senyawa aktif berkhasiat obat dengan reseptor dalam tubuh (structure activity relationship at  molecular level), penemuan material baru pengganti fungsi organ tubuh, atau sebagai matriks bahan obat dengan cara pelepasan baru (new technology for drug delivery system), dan penemuan-penemuan baru lainnya.
Di Indonesia, masalah kesehatan masih didominasi oleh persoalan mendasar seperti kurang gizi, tingginya kematian ibu melahirkan dan anak balita serta penyakit infeksi, kesadaran yang masih kurang tentang pola hidup sehat, stress kejiwaan akibat tekanan ekonomi, ketergantungan yang tinggi (> 90%) akan bahan baku obat (sekitar 350–400 juta US$/tahun) maupun peralatan kesehatan (+500 juta US$ pada tahun 96/97) asal impor yang berdampak pada mahalnya harga obat dan biaya kesehatan, buruknya kondisi lingkungan tempat tinggal,  kurangnya mutu pelayanan kesehatan masyarakat di daerah periferi akibat keterbatasan dana atau fasilitas kerja, perilaku seksual yang menyimpang, penyalahgunaan narkoba, dan masih besarnya laju pertumbuhan penduduk.
Selain dihadapkan pada sejumlah permasalahan mendasar, terdapat pula potensi yang belum didayagunakan secara optimal seperti ketersediaan berbagai sumberkarbohidrat, protein, lemak dan mineral alamiah yang bergizi tinggi, cara pengobatan alternatif dan obat tradisional sebagai warisan budaya bangsa, keanekaragaman hayati tropik dan sumber daya alam non-hayati lainnya sebagai sumber obat-obatan. Di samping itu, perkembangan industri farmasi yang ada (meskipun masih berupa industri hilir pembuat obat jadi), industri peralatan kesehatan/instrumentasi kedokteran (berupa industri perakitan), industri  jamu, maupun kemampuan riset perguruan tinggi dan lembaga litbang, serta tersedianya sarana pelayanan kesehatan pada berbagai tingkatan, merupakan kemampuan riil yang perlu didayagunakan secara terpadu dan sinergi. Adanya kebijakan Departemen Kesehatan yang cenderung lebih akan menerapkan “paradigma sehat” (upaya preventif dan promotif) daripada “paradigma sakit” (upayakuratif dan rehabilitatif) dalam program jangka menengah dan panjang memerlukan dukungan iptek untuk deteksi dini dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pola hidup sehat.

Terima Kasih
Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: