Home > Kesehatan Lingkungan > Faktor Lingkungan dan Malaria

Faktor Lingkungan dan Malaria

Peranan Lingkungan pada Perkembangan Penyakit malaria

Penyakit malaria merupakan penyakit menular disebabkan oleh Plasmodium (Klas Sporozoa) yang menyerang sel darah merah. Di Indonesia dikenal 4 (empat) macam spesies parasit malaria yaitu P. vivax sebagai penyebab malaria tertiana, P. falciparum sebagai penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan malaria otak dengan kematian, P. malariae sebagai penyebab malaria quartana, P. ovale sebagai penyebab malaria ovale yang sudah sangat jarang ditemukan (Depkes RI, 1999; Depkes RI, 2000).

Penduduk yang terancam malaria pada umumnya adalah penduduk bertempat tinggal di daerah endemis malaria baik daerah yang kategori daerah endemis malaria tinggi dan daerah endemis malaria sedang diperkirakan ada sekitar 15 juta (Depkes RI, 2001). Angka kejadian malaria tahunan atau Annual Malaria Incidence (AMI) dikategorikan sebagai berikut : (a) High Incidence Area (HIA) dengan AMI lebih dari 50 kasus malaria per 1000 penduduk per -tahun ; (b) Medium Incidence Area (MIA) dengan AMI antara 10 – 50 kasus malaria per 1000 penduduk per -tahun; dan (c) Low Incidence Area (LIA) dengan AMI kurang dari 10 kasus malaria per 1000 penduduk per-tahun.

Proses terjadinya penularan malaria di suatu daerah meliputi 3 (tiga) faktor utama yaitu : (a) Adanya penderita baik dengan adanya gejala klinis ataupun tanpa gejala klinis; (b) Adanya nyamuk atau vektor; (c) Adanya manusia yang sehat (Depkes RI, 1999a). Siklus penularannya adalah sebagai berikut : orang yang sakit malaria digigit nyamuk Anopheles dan parasit yang ada di dalam darah akan ikut terisap didalam tubuh nyamuk dan akan mengalami siklus seksual (siklus sporogoni) yang menghasilkan sporozoit. Nyamuk yang didalam kelenjar ludahnya sudah terdapat sporozoit mengigit orang yang rentan, maka didalam darah orang tersebut akan terdapat parasit dan berkembang didalam tubuh manusia yang dikenal dengan siklus aseksual (Depkes RI, 1999).

Faktor kesehatan lingkungan fisik, kimia, biologis, dan sosial budaya sangat berpengaruh terhadap penyebaran penyakit malaria di Indonesia (Harijanto, 2000). Kemampuan bertahannya penyak it malaria disuatu daerah ditentukan oleh berbagai faktor yang meliputi adanya parasit malaria, nyamuk Anopheles, manusia yang rentan terhadap infeksi malaria, lingkungan dan iklim (Prabowo, 2004). Kesehatan lingkungan mempelajari dan menangani hubungan manusia dengan lingkungan dalam keseimbangan ekosistem dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan ma syarakat yang optimal melalui pencegahan terhadap penyakit dan gangguan kesehatan dengan mengendalikan faktor lingkungan yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Interaksi lingkungan dengan pembangunan saat ini maupun yang akan datang saling berpengaruh (Fathi et al., 2005).

Apabila ditinjau dari segi manusia interaksi dengan alam ini dimaksudkan untuk mendapat keuntungan tetapi bila sumber daya alam tidak mendukung kesehatan manusia maka bisa terjadi keadaan sebaliknya, antara lain adalah terjadinya penyakit malaria (Soemirat, 2000; Keman, 2004). Peran petugas kesehatan sangat menentukan dalam memutus mata rantai siklus hidup nyamuk Anopheles sp. Salah satu bentuk intervensi petugas kesehatan yaitu memberikan penyuluhan kesehatan tentang pemberantasan sarang nyamuk penyebab malaria. Penyuluhan kesehatan masyarakat bertujuan agar masyarakat menyadari mengenai masalah penanggulangan dan pemberantasan malaria, sehingga mengubah pola perilaku untuk hidup sehat dan bersih.

Lingkungan fisik yang diprakirakan berpengaruh terhadap kejadian malaria adalah suhu, kelembaban dan konstruksi rumah penduduk. Faktor – faktor tersebut menunjukkan bahwa suhu, kelembaban dan konstruksi rumah secara bermakna berpengaruh terhadap kejadian malaria (Chi-square, semua p<0.05). Hasil penemuan Harijanto (2000) bahwa suhu dan kelembaban mempengaruhi perkembangbiakan parasit nyamuk. Suhu optimum untuk perkembangan parasit dalam tubuh nyamuk berkisar antara 20o C – 30o C. Sedangkan kelembaban 60% merupakan batas yang paling rendah untuk memungkinkan perkembangbiakan nyamuk. Pada kelembaban yang lebih tinggi nyamuk menjadi lebih aktif dan lebih sering menggigit sehingga meningkatkan penularan penyakit malaria. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori syarat -syarat rumah sehat menurut Mukono (1999) yang menyatakan konstruksi rumah dengan dinding yang tidak tertutup rapat memungkinkan terjadinya penularan penyakit malaria dalam rumah. Menurut Prabowo (2004) Pemasangan kasa nyamuk pada jendela dan ventilasi rumah merupakan salah satu upaya pencegahan dalam menghindari gigitan nyamuk malaria.

Lingkungan kimia yang berhubungan dengan kejadian malaria adalah pH dan salinitas air. Pengukuran pH air sawah, rawa, sungai dan parit menunjukkan bahwa terdapat kisaran yang sempit pada pH air antara 5,60 – 6,50. Menurut Takken dan Knols (1990) lingkungan kimia diketahui sangat besar pengaruhnya pada populasi vektor malaria. Hal ini disebabkan oleh spesies nyamuk yang dapat hidup pada pH yang berbeda misalnya A. letifer bisa bertahan hidup di lingkungan air tawar (pH rendah). Selanjutnya Prabowo (2004) menyatakan bahwa salinitas air sangat berpengaruh terhadap ada tidaknya malaria disuatu daerah. Adanya danau, genangan air, persawahan, kolam ataupun parit disuatu daerah yang merupakan tempat perindukan nyamuk, sehingga meningkatkan kemungkinan timbulnya penularan penyakit malaria.

Lingkungan biologi meliputi ada tidaknya vegetasi di sekitar rumah penduduk dan ada tidaknya musuh alami yaitu ikan pemakan jentik nyamuk. Vegetasi di sekitar rumah penduduk berhubungan secara bermakna terhadap kejadian malaria ( Chi-square, p<0,01). Adanya vegetasi disekitar rumah merupakan tempat yang paling baik sebagai tempat beristirahat bagi nyamuk pada siang hari. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Harijanto (2000) menyatakan jarak terbang nyamuk Anopheles sp adalah 2 – 3 km. Apabila disekitar rumah terdapat banyak vegetasi yang jaraknya dengan rumah masih dalam jangkauan jarak terbang nyamuk maka kemungkinan besar terjadi penularan penyakit malaria. Ikan pemakan jentik nyamuk Gambusia diketemukan di perairan sawah, Ikan Lebistr us recticulates dan Tilapia mozambica terdapat di air rawa, ikan Panchax terdapat di air sungai, dan ikan Trichogaster pectoralis terdapat di air parit.

Perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kejadian malaria terdiri dari empat variabel, yaitu pengetahuan, sikap, tindakan dan penyuluhan. Rata – rata memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang malaria, akan tetapi pengetahuan penduduk tentang penyakit malaria tidak berhubungan dengan kejadian malaria (Chi-square, p>0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa baik yang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan rendah mempunyai kesempatan yang sama dalam kejadian malaria.

Karena jika seseorang tidak mengetahui sesuatu hal dengan jelas maka sulit baginya untuk menentukan sikap positif dan negatif, dan apabila seseorang telah mengetahui sesuatu hal namun tidak dibarengi dengan kesadaran untuk berbuat maka pengetahuannya tidak akan berlangsung lama dan tidak berguna bagi kehidupan. Sikap seseorang dipengaruhi oleh pengalaman sendiri atau orang lain yang berada disekitarnya. Menurut Notoatmodjo (1993) yang menyatakan suatu sikap belum otomatis terwujud dalam tindakan atau overt behavior. Sikap ternyata tidak berhubungan dengan kejadian malaria (Chi-square, p>0,05). Bila dihubungkan dengan teori bahwa suatu sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, maka mungkin saja responden menjawab pert anyaan dengan hal-hal yang baik saja namun sikap dari jawaban tersebut tidak diwujudkan dalam tindakan yang nyata.

Tindakan responden berpengaruh secara nyata terhadap kejadian malaria (uji Chi-square, p<0,05). Semakin baik tindakan dalam upaya pencegahan dan pemberantasan terhadap penyakit malaria maka akan semakin berkurang risiko untuk terjadinya penularan penyakit malaria, dan sebaliknya. Tindakan nyata dari responden berupa penggunaan kelambu pada saat tidur malam hari dan pemakaian obat nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk, pemasangan kassa nyamuk pada ventilasi rumah serta melakukan kegiatan pembersihan sarang nyamuk (PSN) untuk mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk disekitar lingkungan tempat tinggal. Hal ini sesuai dengan penelitian Prabowo (2004) yang menyatakan bahwa untuk pencegahan penyakit malaria dilakukan dengan upaya menghindari gigitan nyamuk dengan memakai baju lengan panjang dan calana panjang pada saat keluar rumah terutama pada malam hari, mengurangi tempat perindukan nyamuk dengan kegiatan PSN disekitar lingkungan tempat tinggal, membunuh jentik dan nyamuk dewasa. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman penyuluhan kesehatan tentang apa yang harus dilakukan sebelum memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Perlu dipahami bahwa penyuluhan kesehatan tidak hanya semata-mata sebagai forum komunikasi untuk memberitahukan tentang masalah apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Sebaiknya masyarakat dibekali oleh pengetahuan dan ketrampilan dalam upaya pencegahan dan pemberantasan vektor dan juga membuat beberapa alternatif pilihan yang terbaik agar mudah diwujudkan dalam tindakan nyata baik secara individu maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan perubahan perilaku. Pengetahuan memang merupakan faktor yang penting namun tidak mendasari pada perubahan perilaku kesehatan, walaupun masyarakat tahu tentang malaria belum tentu mereka mau melaksanakannya dalam bentuk upaya pencegahan dan pemberantasan.

Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: