Home > Pencemaran Lingkungan > BATASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN LAUT

BATASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN LAUT

Pada dasarnya laut secara alamiah mempunyai kemampuan untuk menetralisir zat pencemar yang masuk ke dalamnya, akan tetapi bila zat yang masuk tersebut melampaui batas kemampuan laut untuk menetralisir dan telah melampaui ambang batas, maka kondisi ini mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan laut. Undang-undang nomor 4 tahun 1982 pada pasal 1 ayat 7 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup memberikan pengertian yang lebih konkrit dan luas mengenai pencemaran lingkungan yaitu :
“Pencemaran lingkungan adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain kedalam lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya.”
Menurut Munadjat Danusaputro yang dimaksud dengan pencemaran (Pollution) itu adalah suatu keadaan, dalam mana suatu zat dan/atau energi diintroduksikan ke dalam suatu lingkungan oleh proses alam sendiri dalam konsentrasi sedemikian rupa, hingga menyebabkan terjadinya perubahan dalam keadaan termaksud yang mengakibatkan lingkungan itu tidak berfungsi seperti semula dalam arti kesehatan, kesejahteraan (comfort) dan keselamatan hayati. Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup memberikan pengertian pencemaran secara umum sebagai berikut :
“Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup,zat atau komponen lainnya kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya”
Pengertian dari pencemaran lingkungan, pada prinsipnya sama dengan pengertian dari pencemaran laut. Karena laut adalah juga merupakan bagian integral lingkungan hidup. Oleh sebab itu apabila disebut pencemaran laut maka hal tersebut berarti pencemaran lingkungan, dalam hal ini pencemaran lingkungan laut.
Adapun yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan laut, terdapat beberapa batasan yang menarik dikemukakan. Disebut menarik karena terdapat perbedaan terhadap pengertian pencemaran laut itu sendiri. Menurut sidang para menteri OECD (Organization for Economic Coorporation and Development), 13-14 November 1874 pencemaran laut yaitu :“Pollution is introduction by man directly or indirectly of substansces or energy in to the environtment, resulting in deleterious effects of such a nature as to endangerous human health, harm living resources and ecosystem and impair or interfere with aminities and other legitimate of the environment.”
Berdasarkan pengertian ini, pencemaran laut terjadi apabila dimasukkannya oleh manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, sesuatu benda, zat atau energi ke dalam lingkungan laut, sehingga menimbulkan akibat sedemikian rupa kepada alam dan membahayakan kesehatan serta kehidupan manusia dan ekosistem serta merugikan lingkungan yang baik dan fungsi laut sebagaimana mestinya.
Sementara menurut IMCO (Inter Govermental Maritime Consultative Organization), memberikan batasan pencemaran laut sebagai berikut : “Marine pollution has been defined as the “introduction by man, directly or indirectly of substances or energy into the maritime environment (including estuaries) hazard to human health. Hindrance to marine activities, including fishing, impairment quality of sea water and reduction of aminities.”
Sedangkan Mochtar Kusumaatmadja berpendapat, bahwa pencemaran laut adalah perubahan pada lingkungan laut yang terjadi akibat dimasukkannya oleh manusia secara langsung maupun tidak bahan atau energi ke dalam laut (termasuk muara sungai) yang menghasilkan akibat buruk terhadap kekayaan hayati kesehatan manusia, sehingga mengganggu kegiatan di laut termasuk perikanan dan lain-lain, penggunaan laut yang wajar serta pemburukan kualitas air laut dan kualitas tempat pemukiman dan rekreasi. Apabila diperhatikan pendapat diatas, maka akan terlihat adanya kesatuan pandangan mengenai penyebab umum pencemaran laut. Penyebab timbulnya keadaan tersebut adalah karena perbuatan manusia. Sedangkan segala aktifitas alam seperti letusan gunung, gempa, erosi dan sebagainya tidak disebut sebagai faktor yang dapat mencemarkan laut.
Pengertian pencemaran laut yang cukup luas dikemukakan oleh Group of Export on Scientific Aspect of Marine (GESAM) dalam rangka persiapan konferensi PBB mengenai lingkungan hidup manusia, yang mengemukakan sebagai berikut :
“The introduction by man, directly or indirectly, of substences or energy in to the marine environment (including estuaries) resulting in such deleterious or harm to living resources, hazard to human health, hindrance to marine activities, including fishing, impairment of quality or use of water, and reduction of aminities.” (dimasukkannya oleh manusia, secara langsung ataupun tidak langsung bahan-bahan atau energi kedalam lingkungan laut (termasuk kuala) yang mengakibatkan dampak kerugian sedemikian rupa terhadap kekayaan hayati, bahaya terhadap kesehatan manusia, gangguan terhadap kegiatan manusia, gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk perikanan, pemburukan kualitas atau penggunaan air laut dan pengurangan kenyamanan).
Pengertian yang diberikan GESAM merupakan pengertian laut yang diakibatkan oleh aktifitas manusia (introduction by man) yang menyebabkan akibat yang tidak diharapkan pada lingkungan laut berupa bahay terhadap sumber daya hayati, kesehatan manusia, menghalangi aktifitas di laut, menurunnya kualitas air laut dan mengurangi kegiatan rekreasi laut.Salah satu defenisi pencemaran laut yang cukup jelas dan maju terdapat pada konvensi hukum laut PBB tahun 1982, pada pasal 1 ayat 4 disebutkan :
“Pollution of the marine environment means the introduction by man, directly or indirectly, of substances or energy in to the marine environment, including estuaries, wich results or is likely to result in such deleterious effect as to human health, hindrance to marine activities, including fishing and other legitimate use of the sea, impairment of quality use of sea water and reduction of aminities” (pencemaran lingkungan laut berarti dimasukkannya oleh manusia secara langsung atau tidak langsung bahan atau energi kedalam lingkungan laut, termasuk kuala, yang mengakibatkan atau mungkin membawa akibat buruk sedemikian rupa seperti kerusakan pada kekayaan hayati laut, bahaya bagi kesehatan manusia, gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk penangkapan ikan dan penggunaan laut yang sah lainna, menurunnya kualitas kegunaan air laut dan pengurangan kenyamanan)
Atas dasar pengertian di atas, maka ada tiga butir pokok mengenai batasan pengertian pencemaran laut. Pertama, pencemaran laut dapat terjadi karena perbuatan manusia baik sengaja maupun tidak sengaja, langsung maupun tidak langsung. Kedua, pencemaran laut dapat juga terjadi akibat aktivitas atau proses alam itu sendiri. Ketiga, baru dapat disebut pencemaran laut, apabila terjadi penurunan kualitas lingkungan laut sehingga mengganggu fungsi laut sebagai sumber kehidupan manusia dan lingkungannya.
Perkembangan lain dalam pengertian pencemaran adalah digunakannya istilah transnasional. Istilah ini pertama sekali digunakan oleh Myres Mac. Dougal dan lebih lanjut dipopulerkan oleh Philip C.Jessup. Di Indonesia istilah ini pertama sekali diperkenalkan oleh Sunaryati Hartono dalam disertasi Beliau yang berjudul “Beberapa Masalah Transnasional Dalam Penanaman Modal Asing di Indonesia” tahun 1972.Penggunaan istilah transnasional kedalam pencemaran lingkungan selaras dengan perkembangan yang menunjukkan adanya perubahan masal dari masalah nasional menuju kearah permasalahan internasional. Dengan demikian pada pencemaran transnasional, penanggulangannya tidak hanya didasarkan secara apriori melalui penanganan nasional semata, melainkan harus mempertimbangkan aspek-aspek internasional dari pencemaran tersebut. Oleh karena itu, adanya kerjasama antara negara (terutama negara tetangga) mutlak diperlukan.
Sehubungan dengan pencemaran laut, maka Pencemaran Laut Transnasional dapat diartikan dimasukkannya oleh manusia secara langsung ataupun tidak langsung bahan atau energi ke dalam lingkungan laut, termasuk kuala, secara sedemikian rupa sehingga mengakibatkan atau mungkin membawa akibat buruk berupa kerusakan pada kekayaan hayati laut, bahaya bagi kesehatan manusia, gangguan terhadap penggunaan laut yang sah lainnya, menurunnya kualitas kegunaan air laut dan pengurangan rasa kenyamanan yang akibatnya tidak saja dirasakan di negara tempat terjadinya pencemaran tetapi juga dirasakan di wilayah yang berada di luar yurisdiksi negara tempat terjadinya pencemaran.
Dari beberapa zat pencemar yang didentifikasi dan diklasifikasikan sebagai zat pencemar, minyak bumi merupakan zat pencemar yang paling dominan dalam pencemaran laut. Bertambah besarnya ukuran kapal, bobot, kecepatan dan jumlah yang beroperasi di lautan, ditambah lagi dengan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak lepas pantai, tidak saja meningkatkan jumlah dan sumber pencemaran lingkungan laut, tetapi juga mengancam kelestarian lingkungan laut.Selama ini tumpahan minyak di laut terus menerus meningkat dalam jumlah dan frekuensinya, sehingga mengakibatkan kerusakan terhadap sejumlah besar wilayah pesisir dan laut. Beberapa kejadian yang telah menimbulkan tumpahan minyak di laut dan memerlukan biaya pembersihan yang cukup besar antara lain adalah kecelakaan kapal Torrey Canyon di sekitar English Channel, ledakan sumur minyak di Santa Barbara, California (AS), tenggelamnya kapal Metula di Selat Magellan, tumpahan minyak di Teluk Chesapeake, Virginia (AS), tumpahan minyak yang berasal dari Argo Merchant, di sekitar Nantucket, Massachusetts (AS), tenggelamnya kapal Amoco Cadiz di sekitar pantai Brittany, Perancis, peristiwa Exxon Valdez di Alaska (AS). Tumpahan minyak yang berasal dari kapal juga banyak terjadi di perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Sebagian besar tumpahan minyak ini berasal dari tanker.Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi kelautan yang dicapai dewasa ini, mengakibatkan pemanfaatan laut tidak hanya terbatas pada usaha-usaha di bidang perikanan dan pelayaran saja, tetapi juga sebagai sumber kekayaan alam khususnya minyak dan gas bumi yang dapat dikuasai dengan teknologi instalasi dan bangunan lepas pantai.
Teknologi instansi sangat terasa manfaatnya bagi industri minyak lepas pantai yang dapat beroperasi pada bagian-bagian laut yang makin dalam. Kekhawatiran semakin berkurangnya kekayaan alam telah menyebabkan peningkatan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi secara ekstensif dan hingga mencapai bagian laut dalam yang hanya dapat dilakukan dengan teknologi canggih. Karena teknologi instalasi bangunan lepas pantai semakin maju, maka semakin meningkat pula kegiatan ekonomi dan penggunaan laut lainnya, seperti pembangunan dan penggunaan instalasi lepas pantai bagi keperluan eksplorasi dan eksploitasi. Usaha eksplorasi dan eksploitasi sumber daya minyak dan gas melalui industri lepas pantai disadari ataupun tidak telah memberikan pengaruh terhadap tata lingkungan laut yang ada disekitarnya. Bocornya instalasi yang mengakibatkan minyak merembes ke luar lingkungan laut, tumpahnya minyak karena proses pengoperasian industri, serta kecelakaan-kecelakaan yang terjadi terhadap industri lepas pantai ini, telah membawa pengaruh pula bagi perkembangan hukum baik dalam skala global maupun nasional.
Terima Kasih
Categories: Pencemaran Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: