Home > Manajemen Kesehatan > MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT

Pendekatan program perawatan balita sakit di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, yang dipakai selama ini adalah program intervensi secara terpisah untuk masing-masing penyakit. Program intervensi dilaksanakan secara vertikal, antara lain pada program pemberantasan penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), program pemberantasan penyakit diare, program pemberantasan penyakit malaria, dan penanggulangan kurang gizi. Penanganan yang terpisah seperti ini akan menimbulkan masalah kehilangan peluang dan putus pengobatan pada pasien yang menderita penyakit lain selain penyakit yang dikeluhkan dengan gejala yang sama atau hampir sama. Untuk mengatasi kelemahan program atau metode intervensi tersebut, pada tahun 1994 WHO dan UNICEF mengembangkan suatu paket yang memadukan pelayanan terhadap balita sakit dengan cara memadukan intervensi yang terpisah tersebut menjadi satu paket tunggal yang disebut Integrated Management of Childhood Illness (IMCI). IMCI yang oleh WHO dikembangkan di negara-negara Afrika dan India telah berhasil memberikan keterampilan terhadap tenaga kesehatan yang bertugas di pelayanan kesehatan dasar. Keterampilan tersebut antara lain meliputi bagaimana cara melakukan klasifikasi penyakit, menilai status gizi, melakukan pengobatan secara benar, melakukan proses rujukan dengan cepat dan benar dan juga dapat menjadikan pengurangan biaya pada pelayanan kesehatan.
Pada tahun 1997 IMCI mulai dikembangkan di Indonesia dengan nama Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yaitu berupa suatu program yang bersifat menyeluruh dalam menangani balita sakit yang dating ke pelayanan kesehatan dasar. Di Indonesia, MTBS masih menjadi sesuatu yang baru bagi tenaga-tenaga kesehatan terutama yang berada di pelayanan kesehatan dasar. Oleh karena itu akan terus dikembangkan sehingga dapat menjadi standar dalam menangani balita sakit di pelayanan dasar dalam rangka menurunkan angka kematian bayi dan balita. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) menangani balita sakit menggunakan suatu algoritme, program ini dapat mengklasifikasi penyakit-penyakit yang diderita secara tepat, mendeteksi semua penyakit yang diderita oleh balita sakit, melakukan rujukan secara cepat apabila diperlukan, melakukan penilaian status gizi dan memberikan imunisasi kepada balita yang membutuhkan. Selain itu, bagi ibu balita juga diberikan konseling mengenai tata cara memberikan obat kepada balitanya di rumah, pemberian nasihat mengenai makanan yang seharusnya diberikan kepada balita tersebut dan memberi tahu kapan harus kembali ataupun segera kembali untuk mendapat pelayanan tindak lanjut, sehingga MTBS merupakan paket komprehensif yang meliputi aspek preventif, promotif, kuratif maupun rehabilitatif.
Seperti biasa program di puskesmas adalah program yang dibuat oleh Departeman Kesehatan pusat melalui tahap-tahap yang rasional yang membuktikan program itu layak diterapkan. Penerapan MTBS misalnya di Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan sejak tahun 1997 dengan daerah uji coba di Kabupaten Purworejo dan Klaten. Dari hasil uji coba ini kemudian MTBS dikembangkan di Pekalongan, Jepara, Banjarnegara, dan Kebumen melalui proyek ICDC, di Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Grobogan tahun 2000, serta di Kendal, Kebumen, Blora, Cilacap, Rembang, Jepara, Pemalang, dan Brebes tahun 2001. Penerapan MTBS didahului dengan membangun komitmen di tingkat kabupaten dan memberikan pelatihan kepada petugas. Petugas yang dilatih adalah dokter spesialis anak di rumah sakit, pemegang program di kabupaten, dokter puskesmas, perawat, bidan puskesmas.
Mekanisme pelayanan MTBS di kabupaten adalah dokter spesialis anak sebagai tempat rujukan, petugas kabupaten sebagai supervisor, petugas puskesmas dan jajarannya sebagai tempat pelayanan. Dengan demikian akan terjadi mekanisme pelayanan terpadu yang terintegrasi dan diharapkan akan dapat memberikan daya ungkit terhadap penurunan angka kematian bayi dan balita.
Yang menjadi alasan mengapa artikel ini ditulis adalah bagaimana kelangsungan hidup program ini di puskesmas? Apakah program yang bagus dan yang dianggap dapat memecahkan masalah kesehatan anak dan misopportunity ini dapat betul-betul memenuhi sasaran dan apakah kegiatan-kegiatan yang mendukung pelaksanaan MTBS itu telah menjadi bagian rutin dari manajemen puskesmas dan dinas kesehatan.
Terima Kasih
Categories: Manajemen Kesehatan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: