Home > Kesehatan Lingkungan > MEMELIHARA LINGKUNGAN INDONESIA

MEMELIHARA LINGKUNGAN INDONESIA

Setelah Indonesia menjadi tuan rumah konferensi tingkat dunia tentang pemanasan global di Bali pada bulan Desember 2007, banyak lembaga-lembaga pemerintah dan swasta serta media massa secara berkesinambungan melakukan kegiatan kegiatan tentang lingkungan. Hal ini sangat menggembirakan sekali, paling tidak menunjukkan sebuah kepedulian. Namun dalam setiap kegiatan yang dilakukan kita cenderung secara bersama melihat reaksi reaksi bumi yang mengerikan untuk menyadarkan kita , seperti terjadinya tsunami, gempa bumi, sampai melelehnya gunung es di kutub utara.  Saya pernah tersentak ketika mendengar seorang anak yang duduk di Sekolah Dasar mengatakan seperti ini “… apa yang mengerikan , lebih mengerikan apa yang saya baca saat daratan benua asia ini masih bersatu kemudian tenggelam dan sekarang terpecah pecah menjadi kepulauan …… “. Kita cenderung menularkan pendidikan melalui hukum sebab akibat, bukannya dengan sikap arif untuk menjaga dan menyayangi segala ciptaan Tuhan yang gratis ini, dan menjadi barang komoditi oleh manusia. Tanah duuluu gratis sekarang harus dibeli, air duuluu gratis sekarang harus dibeli, udara dulu gratis sekarang …… ? (semoga selamanya gratis heheheheheheeheheheheheeh)

Seringkali kita melupakan sejarah, padahal sebagai orang yang berpendidikan kita semua tahu bahwa bangsa besar adalah bangsa yang paham akan sejarahnya. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya mengajak para peserta seminar untuk kembali mengingat tentang masa kecil kita. Apakah masing masing kita mempunyai kenangan indah tentang masa kecil? Mungkin kenangan itu tentang indahnya halaman tempat bermain di desa, mungkin tentang indahnya sebuah kamar, atau indahnya alun alun kota atau mungkin sekedar trotoir yang nyaman untuk bermain “dul-dul-an” ( baca:petak umpet). Sehingga kalaupun kita menanamkan pentingnya menjaga bumi ini bukan karena suatu ketakutan, tetapi lebih kepada memberikan kesempatan untuk berbagi dan memberi kesempatan menikmati keindahan hidup di bumi yang juga pernah kita nikmati juga. Oleh sebab itu pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman tentang “Peta Hijau, Belajar dan Menjaga Kota Secara Berkelanjutan”.

Peta Hijau / Green Map adalah sebuah kegiatan yang dapat dilakukan oleh siapa saja dari anak-anak sampai manula ( bila tertarik lihat http://www.petahijau.org untuk Indonesia dan http://www.greenmap.org untuk internasional). Kegiatan secara berkelompok ini berupaya untuk mengenal potensi potensi kehidupan kota, baik budaya, potensi alam, teknologi lingkungan dan keberagaman gaya hidup warga yang menghuninya untuk dipetakan sehingga pengalaman yang kita alami atau temukan dapat juga ditemui dan dialami oleh orang lain. Ikon Ikon yang dipakai di dalam peta mempunyai standard yang sama di seluruh kota yang mempunyai penggiat Peta Hijau.

Secara garis besar pembagian Ikon dibagi dalam 3 tema utama yaitu tentang Sustainable living , Nature, dan Culture & Society. (Contoh Ikon dilampirkan di akhir makalah). Di dalam tema sustainbale living, kita akan belajar tentang macam macam kegiatan business, teknologi dan gaya hidup yang ramah lingkungan. Seperti misalnya macam pertokoan yang menjual barang barang organik tanpa peptisida, atau restoran yang menjual makanan sehat tradisional, transpotasi yang ramah lingkungan, pusat pusat daur ulang maupun yang menimbulkan banyak polusi udara dan kebisingan, dll. Untuk nature, kita akan belajar mengenal macam macam flora dan fauna yang secara bebas masih hidup di kota , juga tempat tempat yang sering digunakan untuk kegiatan outdoor yang ramah terhadap anak-anak maupun manula. Sedangkan untuk culture and society, mengajak kit auntuk peka terhadap karakter karakter lokal yang muncul dalam kegaitan budaya yang masih hidup, tempat tempat spiritual yang tenang, pun juga tempat tempat yang sering digunakan untuk menyuarakan pendapat atau demo, juga kampung kampung lokal yang masih hidup, tempat pengolahan sampah atau limbah kota, dan masih banyak lagi. Kegiatan membuat peta hijau ini menjadi menarik karena sifat penjelajahan yang memberikan kesmeptan kepada kita untuk belajar banyak tetnang kota kita sendiri.

Peta Hijau mengajak kita untuk menelusuri dan memahami potensi sebuah kota dan mampu digunakan sebagai barometer apakah sebuah kota masih dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Peta Hijau merupakan cermin keberagaman budaya masyarakatnya, keaneka-ragaman hayatinya dan kehidupan yang ramah lingkungan. Pendapat  yang serupa bahwa kita harus melihat sebuah kota dengan sebuah pemahaman bahwa kota akan mempunyai sebuah arti bila kita mampu mengangkat kebutuhan masyarakatnya dan mengenali lingkungan alam yang dihuninya, diungkapkan oleh Mario Botta,

“ The city as the supreme entity of the aggregation of life and hope, can become an instrument for measuring the needs of its citizen and the values of this habitat, to arrive at a new understanding of the rapport that exist with our surroundings. ……..The city as a specific space capable of shouldering the burden of collective aspirations.”

Sebagai warga kota , peran dan konstribusi apa yang dapat kita sumbangkan untuk menyikapi masalah pemanasan global? Memang ada dua pilihan, pilihan pertama adalah diam karena di sekitar kita masih aman-aman saja, dan kita masih mampu bernafas. Pilihan kedua adalah peduli karena kita sadar bahwa hidup itu harus sehat. Dan untuk menjadi sehat kita harus giat ikut meproduksi oksigen, caranya dengan banyak menanam pohon, dan mengurangi pemakaian kendaraan dengan sepeda atau berjalan kaki.

Terima Kasih
Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: