Home > Kesehatan Lingkungan > ETIKA LINGKUNGAN

ETIKA LINGKUNGAN

Kita yang lahir sekitar tujuh puluh hingga dua puluh tahun lalu adalah generasi beruntung. Kita pernah merasakan segarnya udara setiap membuka jendela di pagi hari. Udara itu kita hirup dengan helaan panjang, tanpa ragu, menjangkau dasar paru-paru. Nyanyian merdu berbagai jenis burung bagaikan simfoni penggetar kalbu, berdenyut seirama bioritme tubuh. Bila hendak mencari buah rambutan China, misalnya, cukup berjalan kaki sekitar setengah jam, sampailah kita ke hutan lebat.
Tetapi, anak-anak yang lahir sepuluh tahun belakangan menemukan dunia yang sama sekali berbeda dengan yang kita temukan dulu. Bagi mereka, kicauan burung lebih mudah ditemukan di kebun binatang, atau di sangkar-sangkar yang tergantung di sebagian rumah tetatangga. Memang bisa saja mereka mendengar langusng di hutan alam, tapi sungguh jauh. Apalagi udara segar, anak-anak kini, di mana saja, lebih akrab dengan udara berbau minyak pelumas.
Lalu, bumi seperti apa yang dijumpai generasi yang lahir duapuluh tahun ke depan? Kemungkinan jawabannya yaitu bumi yang panas. Kenaikan suhu bumi (global warming) telah menjadi perhatian dunia sejak satu dekade belakangan. Penipisan lapisan ozon akibat pemakaian gas-gas beracun dan kebakaran hutan secara masif dituding sebagai penyebab global warming. Salah satu akibatnya ialah mencairnya es di kutub yang berakibat naiknya permukaan laut, yang pada gilirannya menyebabkan abrasi kawasan pantai. El-Nino, Badai Katrina dan Badai Rita yang menggulung Amerika baru-baru ini diduga sebagai akibat lain global warming. Yang paling mudah dideteksi ialah kita mulai merasakan udara semakin panas.
Tanggal 2 – 14 Desember digelar Konferensi ke-13 PBB mengenai Perubahan Iklim (Conference of Parties of the United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) di Bali. Tentu, salah satu agenda utama adalah isu pemanasan global (global warming). Isu ini sudah lama hangat, dan semakin dihangatkan dalam konferensi para pemimpin negara-negara APEC di Sydney 8-9 September 2007 lalu. Dan masih dihangatkan dalam Sidang Umum PBB ke-62 di New York yang dibuka 23 September 2007. Diharapkan, saat sidang UNFCCC di Bali nanti akan dirumuskan komitmen politik sebagai momentum diterapkannya perjanjian-perjanjian global, terutama prokol Kyoto, yang mewajibkan negara-negara penandatangan menjaga tingkat emisi gas rumah kacanya di level yang diizinkan.
Kenaikan suhu bumi dibicarakan pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janerio, 1992. Saat itu terjadi aksi saling tuding di antara negara-negara peserta. Negara-negara berkembang mengeluhkan emisi karbon dioksida pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor di negara-negara maju. Sebaliknya, negara-negara maju menuduh negara berkembang tidak menjaga kelestarian hutannya sebagai paru-paru dunia. Tudingan negara maju sebenarnya sangat beralasan.
Menurut Grant Rosoman, juru kampanye hutan Greenpeace, secara keseluruhan hanya delapan hutan alam di dunia terjaga dengan baik. Hutan yang mengalami kerusakan paling cepat saat ini berada di kawasan Asia dan Pasifik. Tingkat kepunahan spesies tumbuhan dan hewan saat ini kira-kira seribu kali lebih cepat dibandingkan zaman sebelum bumi dihuni manusia. Laju kehancuran diperkirakan akan mencapai sepuluh ribu kali lebih cepat tahun 2050. Hutan surgawi (paradise forest) Asia-Pasifik membentang dari Asia Tenggara melintasi kepulauan Indonesia hingga Papua Niugini (PNG) dan kepulauan Solomon kini justru mengalami kerusakan tercepat di dunia, sekitar tujuh puluh dua persen terjadi di Indonesia (Kompas, 29 Maret 2006).
Jika kita persempit sudut pandang ke Propinsi Riau, menurut data Jikalahari, tahun 1994 Riau memiliki luas kawasan hutan sekitar 6 juta hektar. Tetapi tahun 2005 tersisa hanya sekitar 3 juta hektar, dan 1,7 juta hektar telah berada di bawah kekuasaan industri untuk dieksploitasi. Sampai di sini, kisah ini mulai melukiskan sebuah tragedi, padahal kita belum bicara mengenai tingkat polusi air, tanah dan udara yang tidak kurang mengerikannya. Kembali ke pertanyaan awal, bumi seperti apa yang akan kita tinggalkan untuk anak-cucu kelak? Jawabannya tergantung dari apa yang kita lakukan kini untuk menyelamatkan bumi.
Upaya penyelamatan lingkungan telah banyak dilakukan terutama oleh kalangan LSM. Sudah terlalu banyak tinta tertuang sejak seperempat abad ini, mengatakan alam di sini terancam, di tempat lain musnah, dan betapa kehidupan adalah segalanya. Walaupun telah bertungkus-lumus, namun langkah mereka nampak terseok-seok dibandingkan tingkat kerusakan yang terus meluas secara sporadis.
Di Perancis, gerakan-gerakan didorong kesadaran lingkungan dimulai tahun 60-an. Di Indonesia dan dunia ketiga lainnya hal ini baru saja terjadi. Kesadaran itu mendorong dilakukannya suatu tindakan mempersoalkan kembali evolusi mental masyarakat dalam menghadapi lingkungan hidup alamiah. Masalah ini dianggap penting sehingga pemerintah merasa perlu membentuk suatu kementerian khusus mengurus aspek ini. Penanaman pepohonan, proyek kebersihan, penghargaan lingkungan, lomba kebersihan perkotaan, semuanya memperlihatkan kepedulian membentuk warga yang peduli lingkungan hidupnya.
Sikap peduli lingkungan sudah dibuktikan oleh generasi sebelum kita. Ribuan tahun manusia bermukim di bumi ini, tetapi campur tangannya amat terbatas, hanya menimbulkan akibat tak berarti. Dulu, alam dan manusia hidup secara harmonis, tapi kini homo industrialus ini telah mengambil posisi berhadapan langsung secara diametral dengan alam, menjadi musuh tak tertaklukkan. Kepentingan ekonomi mendorong pengusaha perkayuan menebang hutan secara membabi-buta, juga meringankan tangan pemerintah mengeluarkan izin-izin bagi eksploitasi hutan-hutan alam. Dan, setiap upaya hukum bagi para perusak lingkungan ini selalu saja berputar-putar di tempat yang sama. Padahal bumi sudah sakit.
Sebagaimana manusia membutuhkan dokter karena suatu penyakit, bumi juga membutuhkan “dokter” untuk alasan yang sama. Idealnya, dokter yang baik ialah dokter yang membantu pasien mencegah penyakit. Tapi kini lupakan itu. Dokter yang diperlukan lingkungan kita adalah spesialis penyakit kronis stadium tertinggi. Selama ini sering kali tindakan perlindungan lingkungan dilakukan atas dasar kepentingan. Misalnya, jika pencemaran sungai tidak mempengaruhi kehidupan maupun situasi ekonomi penduduk sekitar, biasanya tidak ada alasan kuat mengerahkan orang membersihakan sungai itu. Sebaliknya, bila pencemaran itu merugikan secara estetik maupun ekonomi, misalnya, yang berkepentingan akan mengerahkan diri secara spontan.
Dalam banyak kasus, pengerahan diri didorong kepentingan pribadi. Ada juga yang berinisiatif, tetapi jumlahnya tidak banyak. Sikap mementingkan diri sebenarnya normal dilakukan suatu generasi yang tidak pernah dipupuk kepekaannya terhadap lingkungan hidup di sepanjang masa mudanya, “karena empat puluh tahun lalu kita tidak mengenal kata polusi,” kata Philippe Vaquette dalam bukunya Le Guide De L’Educateur Nature.
Singkatnya, sangat sulit berharap dari generasi kini untuk menyelamatkan bumi, karena mereka dibesarkan dalam konteks berbeda. Satu-satunya tumpuan harapan ialah anak-anak yang kini bermain di taman kanak-kanak, atau bayi-bayi yang belajar merangkak, bahkan janin-janin di dalam perut ibunya. Dengan terpaksa (dan tega), ke pundak-pundak kecil dan masih lemah inilah akan kita timpakan beban berat itu. Mereka mesti dibujuk untuk tidak berharap mewarisi bumi yang hijau dari generasi kita. Mudah-mudahan bila tiba saatnya, mereka kuat. Tetapi mereka harus memutus mata rantai dari masa lalu, kemudian mulai membangun masa depannya sendiri. Walaupun terlambat, waktu memulainya adalah kini, semakin ditunda, kita akan melakukan lebih banyak intervensi dibandingkan dengan tindakan perlindungan terhadap alam.
Diyakini bahwa masa depan “pengobatan” lingkungan hidup ialah pendidikan. Pendidikan ekologi yang ditanamkan ke sistem berfikir generasi mendatang akan membentuk kesadaran moral memberi suatu dimensi dan peranan penting sebagai “dokter bumi”. Pendidikan lingkungan bukanlah persoalan sederhana sehingga cukup puas bila melatih anak-anak membuang sampah pada tempatnya. Pendidikan lingkungan ialah penetrasi mental tentang paradigma baru secara holistik berbuah kesadaran lingkungan. Kesadaran ini hadir dalam pola pikir dan wujud dalam setiap gerak inderawi. “Anak-anak mesti mulai diajak ke semak-semak, sebab alam tak mendatangi kita. Karena kita bukan pusat dunia, kitalah yang semestinya berjalan menujunya,” demikian ungkap Philippe Vaquette.
Akhirnya, tanpa bermaksud memperberat kurikulum pendidikan, muatan Ekologi sudah saatnya bergaung di sekolah-sekolah kita. Termaktub harapan, sikap cinta lingkungan nanti menjadi rentak hidup setiap penghuni bumi, dan generasi kita tetap diingat, bukan karena kerakusannya pada alam, tetapi karena telah menabur benih mempersiapkan manusia masa depan yang bijak.
Di bumi Indonesia terdapat banyak spesies yang terancam punah, bahkan ada yang sudah punah. Jika perusakan lingkungan tidak segera dihentikan, maka mungkin ada satu spesies lagi yang punah, yaitu spesies manusia.
Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: