Home > Kesehatan Indonesia > SEKTOR BERORIENTASI KEUNTUNGAN DARI KEBIJAKAN KESEHATAN

SEKTOR BERORIENTASI KEUNTUNGAN DARI KEBIJAKAN KESEHATAN

Tekanan pada negara di tahun 1980‐an dan 1990‐an memberikan kesempatan bagi sektor swasta yang berorientasi keuntungan dalam bidang kesehatan. Saat sektor swasta aktif dalam pemberian pelayanan kesehatan, biasanya kebijakan dan peraturan kesehatan kurang dipikirkan. Ini sangat mengejutkan karena sulit mengidentifikasi kebijakan‐kebijakan kesehatan di mana sektor swasta tidak mempunyai kepentingan dan peran. Tapi apa sesungguhnya sektor berorientasi keuntungan itu dan bagaimana kelompok ini terlibat dalam kebijakan kesehatan? Tulisan berikut memberikan gambaran singkat atas tipe‐tipe pelaku dalam bidang kesehatan dan membahas tiga cara utama dimana sektor swasta terlibat dalam kebijakan politik.
Apa itu sektor swasta?
Sektor swasta berorientasi keuntungan (atau perdagangan) mempunyai ciri orientasi pasarnya. Sektor ini mencakup organisasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan bagi para pemiliknya. Keuntungan atau laba investasi, adalah ciri utama sektor perdagangan. Banyak perusahaan mengejar tujuan‐tujuan tambahan lainnya, misal: sosial, lingkungan atau minat pekerja. Namun hal ini merupakan tambahan dan pendukung dari tujuan utama yang mementingkan keuntungan. Tanpa keuntungan dan laba bagi pemegang saham akan membuat perusahaan-perusahaan mati.
Organisasi‐organisasi berorientasi keuntungan sangat berbeda. Sektor ini berisi perusahaan‐perusahaan yang mungkin besar atau kecil, domestik atau multinasional. Dalam sektor kesehatan ada dokter praktek pribadi dan kelompok praktek, farmasi, produsen obat generik dan perusahaan farmasi besar, penyedia alat‐alat kesehatan, dan rumah sakit swasta dan panti asuhan. Dalam peran sektor perdagangan di kebijakan politik, ada gunanya untuk memperluas cakupan analisis dan memasukan organisasi‐organisasi yang terdaftar kedalam kelompok tidak berorientasi keuntungan. Mereka mungkin mempunyai status organisasi amal tapi dibangun untuk mendukung kepentingan perusahaan atau industri perdagangan. Kelompok yang termasuk asosiasi bisnis atau kelompok perdagangan. Sebagai contoh: baik PhRMA (American Pharmaceutical Manufacturer Association) dan BIO, Biotechnologi Industri Organization, ikut serta dalam proses kebijakan kesehatan.
Banyak organisasi ilmiah yang didanai industri, kelompok penekanan (seperti kelompok pasien) dan bahkan firma hubungan masyarakat yang bekerja bagi industri adalah pelaku dalam arena kebijakan politik. Sebagai  contoh: perusahaan tembakau Phillip Morris mendirikan Institute of Regulatory Policy sebagai alat untuk melobi pemerintah federal AS dan menunda penerbitan hasil laporan Environmental Protection Agency tentang lingkungan rokok (Muggli et al. 2004).
International Life Sciences Institute (ILSI) didirikan tahun 1978. Pimpinan pertama institut ini melihatnya sebagai mini WHO. Institut ini menggambarkan dirinya sebagai ‘Global Partnership for a Safer, Healthier world’ yang menggunakan kerja sama strategis untuk mencapai solusi ilmiah bagi masalah‐masalah penting dalam kesehatan masyarakat, khususnya dalam masalah seperti diet, tembakau dan alkohol. Pada saat berusaha mencitrakan diri sebagai organisasi ilmiah, pimpinan pertamanya bekerja pula sebagai wakil direktur Coca Cola Company dan pendanaannya didominasi oleh industri makanan. Sulit sekali untuk menyembunyikan bantuan sektor perdagangan dalam penelitian‐penelitian dan publikasi‐publikasi serta kelompok ini sebagai institusi yang ilmiah dan independen (James 2002).
Industri juga mengatur dan mendukung kelompok pasien untuk mempengaruhi keputusan pemerintah atas kebijakan kesehatan. Sebagai contoh: ‘Action for Access’ ditetapkan oleh Biogen di tahun 1999 untuk memaksa National Health Service Inggris menyediakan interferon beta untuk pasien multiple sclerosis (Boseley 1999). Dalam beberapa debat tentang kebijakan politik, firma hubungan masyarakat berperan penting. Firma‐firma itu digunakan untuk memaparkan pandangan-pandangan industri, melalui media atau cara lain, sebagai pihak ketiga yang tidak memihak. Pada tahun 2002, lima firma hubungan masyarakat terbaik dalam pelayanan kesehatan di AS menghasilkan lebih dari 300 juta dolar AS untuk merencanakan pra‐peluncuran ulasan berita tentang obat‐obat baru, perkembangan penulisan resep, penerbitan jurnal‐jurnal medis dan dukungan pada kelompok pasien dengan tujuan mempengaruhi kebijakan dan praktek pelayanan kesehatan (Burton dan Rowell 2003).
Kelompok kecil yang didukung oleh industri bisa juga berpengaruh dalam proses kebijakan politik. ARISE, Associates for Research into the Science of Enjoyment, mempromosikan kenikmatan rokok, alcohol, kafein dan coklat. Dengan dukungan dari perusahaan‐perusahaan besar seperti British American Tobacco, Coca Cola, Philip Morris, RJR, Rothmans, Miller Beer dan Kraft, mereka menerbitkan artikel yang mempromosikan dan mendukung kebebasan konsumen sehubungan dengan makanan‐makanan tersebut dan menekan regulasi di masyarakat. Satu publikasi berjudul Bureucracy against Life: The Politicisation of Personal Choice menyerang European Community karena membatasi pilihan pribadi dalam konteks dugaan bahaya alcohol, tembakau, kafein dan meningkatnya makanan yang dianggap paternalis.
Terima Kasih
Categories: Kesehatan Indonesia
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: