Home > Kebijakan Kesehatan > PERBEDAAN SISTEM – SISTEM POLITIK

PERBEDAAN SISTEM – SISTEM POLITIK

Secara umum, warga masyarakat dapat berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam proses kebijakan. Partisipasi langsung menggambarkan usaha untuk mempengaruhi kebijakan secara tatap muka atau bentuk kontak pribadi lainnya dengan penyusun kebijakan.
Sebagai contoh, lembaga konstitusi dapat bertemu dengan perwakilan parlemen mereka untuk membahas pilihan‐pilihan untuk mengurangi panjangnya antrian pada rumah sakit setempat. Partisipasi tidak langsung mengacu pada tindakan‐tindakan yang dilakukan perorangan untuk mempengaruhi pilihan wakil‐wakil pemerintah. Hal ini sering kali dilakukan dengan bergabung pada partai politik, kampanye untuk partai tertentu atau orang tertentu dan memberikan hak suara dalam pemilu.
Sejauh mana orang‐orang dapat berpartisipasi dalam sistem politik merupakan salah satu fungsi budaya dan sifat sistem politik. Ada upaya untuk membedakan sistem politik berdasarkan partisipasi dan output yang dihasilkan. Berdasarkan pada pengkajian atas kota pemerintahan Yunani, Aristoteles mengembangkan enam pembedaan sistem politik didasarkan pada siapa yang berkuasa dan siapa yang diuntungkan. Kategori yang dibuat Aristotle ini tetap digunakan sehingga sekarang. Dalam pandangannya, demokrasi, oligarki dan tirani merupakan bentuk turunan dari pemerintahan ketika para pemimpinnya memenuhi kepentingannya sendiri.
Upaya yang lebih baru dalam pengelompokkan sistem politik menambah suatu dimensi baru: seberapa terbukanya sistem tersebut pada pertimbangan alternatif (seberapa liberal atau autoritarian)? Atas dasar kriteria tersebut, lima kelompok sistem politik berhasil dibedakan :
• Rezim demokrasi liberal. Kategori ini ditandai dengan pemerintahan yang berkuasa dengan institusi politik yang relatif stabil dengan kesempatan untuk berpartisipasi luas melalui sejumlah mekanisme dan kelompok: pemilihan umum, partai politik, kelompok kepentingan, dan ‘media bebas’. Kategori ini mencakup negara‐negara di Amerika Utara, Eropa Barat dan negara‐negara di India dan Israel. Negara‐negara ini cenderung tidak terlalu inegalitarian (kecuali Amerika) ataupun tidak terlalu egalitarian. Kebijakan kesehatan berbeda‐beda dari yang berorientasi pada pasar di Amerika hingga yang bertanggung jawab atas kesejahteraan negara di Eropa Barat.
• Egalitarian‐autoritarian. Ketegori ini memiliki elit pemimpin yang tertutup, birokrasi autoritarian dan partisipasi yang diatur oleh negara (i.e. rezim partisipasi dan kurangnya kesempatan demokrasi dalam pengendalian sosial). Hubungan yang dekat sering timbul antara satu partai politik dan negara serta birokrasi. Pada tahun 1970‐an, Uni Soviet, China, Vietnam, Angola, Mozambique dan Cuba masuk didalam kategori ini. Negara‐negara ini memang egalitarian – meskipun lingkup dan sifat kesetaraan sering dipertanyakan. Negara-negara ini telah mengembangkan sistem jaminan sosial yang baik dan layanan kesehatan dibiayai dan disediakan hampir semuanya oleh pemerintah (praktek swasta dilarang dalam beberapa hal) dan diperlakukan sebagai hak asasi yang fundamental. Hanya sedikit negara-negara yang egalitarian‐autoritarian saat ini. 
• Traditional‐inegalitarian. Sistem ini memerintah dengan tradisi monarki yang hanya menyediakan partisipasi yang terbatas. Saudi Arabia merupakan salah satu contoh dari sistem yang semakin langka ini. Kebijakan kesehatan sangat tergantung pada sektor swasta dimana para elit menggunakan fasilitas dari negara‐negara maju pada saat kebutuhannya meningkat.
• Populis. Sistem ini berdasar pada satu partai politik yang dominan, nasionalisme yang tinggi dan kepemimpinan cenderung menjadi personal. Partisipasi sangat diatur melalui gerakan massa yang dikendalikan oleh pemerintah atau partai politik. Para elit mungkin memiliki pengaruh dalam pemerintah karena ada hubungan dengan pemimpin atau menjadi anggota partai politik – sepanjang para elit ini mendukung gerakan nasionalis dan populis. Banyak negara yang baru merdeka di Afrika dan Amerika Selatan memulai pemerintahan dengan sistem politik populis. Meski layanan kesehatan kolonial hanya tersedia untuk para elit yang memerintah, populis berusaha untuk menyediakan kesehatan bagi semua warga sebagai hak dasar.
• Authoritarian‐inegalitarian. Sistem politik ini seringkali muncul untuk menghadapi rezim populis dan liberal‐demokrasi. Sistem ini sering dikaitkan dengan pemerintahan militer dan menggunakan kekerasaan. Pada pertengahan 1980‐an, lebih dari separuh pemerintahan di Sub‐Sahara Afrika merupakan pemerintahan militer – dan banyak yang ditandai dengan penguasa autokratik. Kebijakan kesehatan mencerminkan kepentingan dari kaum elit yang terbatas : layanan dibiayai oleh negara untuk militer, sedangkan yang lain sangat tergantung
pada sektor swasta.
Sejalan dengan pergolakan politik pada akhir 1980, penggolongan sistem politik diatas seperti sudah kuno tanpa adanya perubahan. Francis Fukuyama, seorang ilmuwan politik Amerika, menerbitkan makalah pada tahun 1989 dengan judul yang provokatif “The End of History?” (Akhir dari Sejarah?). Ia berpendapat bahwa jatuhnya komunisme dan gelombang demokrasi pada akhir th 1980‐an menandai pengakuan demokrasi liberal sebagai yang terbaik dan merupakan “bentuk akhir dari pemerintahan manusia”. Meskipun benar bahwa sejumlah bentuk dari demokrasi merupakan bentuk yang paling umum dari sistem politik, pengkajian yang dilakukan Fukuyama berpusat pada Barat, didasarkan pada nilai‐nilai individualisme, hak‐hak dan pilihan; disamping itu pengkajiannya ini tidak dapat menjelaskan kehadiran bentuk‐bentuk baru sistem politik yang cenderung semakin kompleks dan bervariasi. Heywood (2002) menunjukkan suatu penggolongan yang mencerminkan dunia politik saat ini :
• Poliarki Barat. Serupa dengan demokrasi liberal. Nama yang dipakai berubah karena dua alasan, salah satunya adalah pengakuan bahwa banyak negara tidak dapat melaksanakan idealisme demokrasi
• Demokrasi Baru. Gelombang demokrasi mulai pada tahun 1974 dengan tumbangnya pemerintahan autoritarian di Yunani, Portugal dan Spanyol. Banyak bekas negara Republik Soviet termasuk kelompok ini pada tahun 1989‐91. Negara‐negara ini melaksanakan pemilihan umum multi partai dan reformasi radikal yang berorientasi pasar. Dari sudut pandang politik, perbedaan antara sistem politik ini dan poliarki barat terletak pada konsolidasi demokrasi yang tidak utuh, dan hadirnya kembali bentuk‐bentuk autoritarianisme tertentu yang membatasi partisipasi rakyat. Reformasi sektor sosial telah merusak jaringan pengaman sosial, tenaga medis yang berlebihan dan pergeseran kepada pembiayaan swasta
• Rezim Asia Timur. Meskipun sebagian besar negara‐negara dipantai barat Samudera Pasifik menganut sistem poliarki, perbedaan dari paham Barat adalah pada dasar perbedaan budaya yang telah dibentuk oleh idealisme Confucian dan nilai‐nilai yang berlawanan dengan individualisme liberal. Budaya ini menyebabkan, Rezim Asia Timur diwarnai oleh pemerintahan yang kuat, partai‐partai pemerintah yang berkuasa, menghormati kepemimpinan, penekanan pada masyarakat kohesi sosial. Pajak rendah dan pengeluaran sektor umum yang rendah berakibat pada terbatasnya fasilitas kesehatan.
• Rezim Islam. Rezim ini ditemukan di negara‐negara Afrika Utara, Timur Tengah dan sebagian Asia. Tujuan dari sistem Islam adalah untuk mengembangkan suatu teokrasi dimana lembaga dan proses politik mencerminkan prinsip‐prinsip dan kepercayaan agama yang tinggi. Rezim Islam fundamental berkaitan dengan Iran, Afghanistan dibawah Taliban, dikendalikan sekutu dan Saudi Arabia. Malaysia merupakan contoh dari negara Islam pluralis. Negara‐negara ini membentuk kelompok‐kelompok yang heterogen, dan akibatnya sulit untuk menentukan sifat mereka. Dalam hal kebijakan kesehatan, agama memberi pengaruh pada layanan kesehatan seksual dan reproduksi. Jelas bahwa terdapat perbedaan yang signifikan diantara sistem politik kelompokkelompok diatas. Satu hal yang penting adalah sejauh mana sistem‐sistem tersebut mendorong atau
membatasi partisipasi. Pada akhirnya nanti hal ini akan berimbas pada bagaimana kebijakan kesehatan disusun dan kepentingan kebijakan kesehatan mana yang terpenuhi.
Terima Kasih
Categories: Kebijakan Kesehatan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: