Home > Model Kebijakan > MODEL RASIONAL DALAM KEBIJAKAN

MODEL RASIONAL DALAM KEBIJAKAN

Sering sekali diasumsikan bahwa kebijakan‐kebijakan dan keputusan‐keputusan dibuat atau diambil melalui cara yang rasional. Model rasional dalam pengambilan keputusan terkait dengan pemikiran Simon (1957) tentang bagaimana seharusnya sebuah organisasi mengambil keputusan. Simon berpendapat bahwa pilihan rasional melibatkan pemilihan diantara pilihan‐pilihan berlaku yang paling memungkinkan dalam pencapaian tujuan atau objektif yang ditentukan. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, para pengambil keputusan harus melalui beberapa langkah dalam rangkaian yang logis. Pertama‐tama, para pengambil keputusan perlu mengidentifikasi sebuah masalah yang perlu dipecahkan dan memisahkannya dari yang lain. Sebagai contoh : di Sub‐Sahara Afrika, angka rata‐rata infeksi sifilis pada ibu‐ibu hamil di beberapa daerah adalah 10%. Untuk
memisahkan masalah tersebut dari yang lain, pengambil keputusan mungkin harus memutuskan apakah ini betul‐betul kenaikan atau hasil dari perbaikan kapasitas penemuan dan apakah perhatian mereka lebih ke infeksi pada anak‐anak atau dengan beban penderita sifilis masyarakat yang lebih umum.
Kedua, tujuan‐tujuan, nilai‐nilai dan objektif‐objektif para pembuat keputusan perlu diklarifikasi dan dirangking. Sebagai contoh: apakah para pembuat kebijakan lebih memilih untuk mengurangi peristiwa sifilis turunan atau bawaan dengan memeriksa semua ibu‐ibu hamil (sebuah strategi yang mungkin wajar) atau hanya memeriksa ibu‐ibu hamil yang beresiko tinggi (sebuah strategi yang mungkin jadi lebih cost effective)?
Ketiga, para pengambil keputusan membuat daftar semua strategi alternatif untuk mencapai tujuan mereka. Tergantung negaranya, strategi seperti itu mungkin termasuk :
• Memperluas ruang lingkup perawatan sebelum melahirkan, meningkatkan angka perempuan-perempuan yang mencari perawatan pada awal kehamilan mereka, dan melatih para penyedia pelayanan kesehatan untuk memberikan pemeriksaan sifilis yang efektif dan manajemen sifilis.
• Memberi bantuan perawatan perkiraan awal sifilis untuk semua ibu‐ibu hamil.
• Menargetkan perawatan perkiraan sifilis untuk kelompok beresiko tinggi.
• Mengontrol penyakit kelamin menular di masyarakat melalui, sebagai contoh : promosi penggunaan kondom.
Keempat akan melibatkan para pengambil keputusan yang rasional melakukan analisa yang komprehensif atas semua akibat dari tiap‐tiap alternatif. Dalam hal sifilis turunan/bawaan, para pengambil keputusan perlu menghitung pengurangan insiden penyakit dan biayanya di setiap alternatif (beberapa telah kita daftar diatas). Usaha menghitung seberapa luas intervensi itu dapat mencapai tujuan dan biaya‐biayanya bisa menjadi hal yang cukup rumit. Pada akhirnya, para pembuat kebijakan akan memilih strategi yang memaksimalkan nilai‐nilai dan tendensi‐tendensi mereka sejauh pencapaian tujuan tetap diperhatikan. Dengan membahas proses yang logis dan menyeluruh ini, sebuah keputusan rasional diambil dalam artian bahwa arah yang dipilih adalah yang paling efektif dalam mencapai tujuan kebijakan.
Sangat tidak mungkin para pengambil keputusan yang terlibat dalam membuat sebuah kebijakan, melakukan proses dan langkah‐langkah yang telah dijabarkan diatas untuk sampai pada keputusan kebijakan mereka. Kegagalan dalam mematuhi proses rasional seperti itu dapat dijelaskan melalui kesulitan‐kesulitan yang ditemukan para analis pengambilan keputusan dalam pendekatan ini. Pendekatan nasional terlalu “mengharuskan” menetapkan dasar bagaimana kebijakan disusun daripada menjelaskan bagaimana kebijakan itu sebenarnya disusun di dunia nyata.
Salah satu tantangan model rasional ini terletak pada definisi permasalahan. Sifat yang tepat dari permasalahan ini tidak selalu jelas. Sebagai contoh: dalam hal penyakit sifilis bawaan/turunan, apakah program mencoba menurunkan angka keseluruhan penderita sifilis di masyarakat (yang sudah tentu termasuk ibu‐ibu hamil) atau mengenai mencoba untuk meningkatkan pemeriksaan dan fasilitas perawatan untuk ibu‐ibu hamil?
Model rasional juga mendapat kritikan terkait dengan menetapkan nilai‐nilai dan tujuantujuan. Nilai‐nilai dan tujuan‐tujuan yang mana yang harus diambil? Tidak ada organisasi yang homogen. Bagian‐bagian yang berbeda di sebuah organisasi mungkin mengejar tujuan yang berbeda, atau malah berlawanan, berdasarkan nilai‐nilai yang berlainan pula. Sebagai contoh : analisa Zafrullah Chowdhury (1995) dalam menyusun Kebijakan Obat Esensial di Bangladesh menarik perhatian orang‐orang kepada respons bermasalah dari World bank tentang kebijakan tersebut. Unit Industri dan Energi World bank di Dhaka menyampaikan keberatan‐keberatannya atas kebijakan tersebut, sedangkan Unit Kesehatan dan Masyarakat memberikan dukungan penuhnya pada pemerintah.
Kesimpulan ketiga terletak pada asumsi bahwa semua strategi yang memungkinkan bisa dipertimbangkan. Banyak alternatif kebijakan yang berlawanan mungkin sudah tidak dipakai karena investasi‐investasi, janji‐janji dan kenyataan‐kenyataan politik yang lebih dulu ada. Sebagai contoh : sebuah kebijakan sifilis turunan menargetkan untuk meningkatkan pelayanan sebelum melahirkan di desa‐desa dengan merelokasi tenaga dokter untuk melayani di fasilitas kesehatan setempat sepertinya akan menemui perlawanan sengit dari asosiasi tenaga medis profesional.
Yang keempat, lebih jelas, kekurangan pendekatan rasional berhubungan dengan ketidakpraktisannya. Di dunia nyata, masalah mengumpulkan informasi tentang semua alternative akan menemui batasan anggaran dan waktu. Mengalokasikan waktu dan dana yang cukup untuk mengumpulkan data yang berhubungan dengan pilihan yang memungkinkan untuk membuat setiap keputusan tidak dapat dibenarkan atau justru diberi sanksi di sebagian besar organisasi. Pihak lain mempunyai kritik berbeda terhadap model yang memahami dunia dengan cara rasional. Kritik ini menantang ide bahwa dunia manusia itu sederhana dan sudah ditentukan. Mereka berpendapat bahwa kebijakan adalah artefak yang dibangun melalui proses sosial. Dalam pandangan
ini, para pengambil keputusan memiliki pengertian subjektif terhadap masalah‐masalah beserta solusi‐solusinya‐sebagai akibatnya. Mereka menciptakan makna permasalahannya dan memperbaikinya dengan cara yang berhubungan dengan nilai‐nilai mereka. Seperti yang dikatakan Edelman (1988), para pembuat kebijakan mungkin ‘membangun’ masalah untuk membenarkan solusi‐solusi sehingga dalam pelaksanaannya kesuksesan dan bahkan kegagalan sebuah kebijakan mungkin bisa menjadi alat politik. Jika gagal untuk memperbaiki kenyataan dengan pernyataan bahwa dapat dikatakan ‘operasinya sukses tapi pasiennya meninggal.’ Simon menjawab beberapa masalah‐masalah ini dengan membantah bahwa model rasional menyediakan pendekatan idealis, menjelaskan cara bagaimana kebijakan seharusnya dibuat bukan bagaimana kebijakan sebenarnya diterapkan. Kemudian dia mengajukan ‘rasionalitas terbatas’ sebagai model pelaksanaan pembuatan kebijakan di dunia nyata. Mengakui kompleksitas dari pilihan rasional dan biaya serta ketidaklengkapan informasi yang dihadapi para pengambil keputusan, Simon menyatakan bahwa mereka menyederhanakan pengambilan keputusan menjadi 2 cara. Pertama, mereka menemukan cara‐cara untuk mengatasi masalah yang terus menerus terjadi sehingga tidak harus mempelajari setiap masalah secara menyeluruh. Hasilnya, banyak strategi yang tidak perlu penelitian yang cermat. Kedua, para pengambil keputusan tidak bertujuan untuk mencapai solusi maksimal dari permasalahannya tapi mencari solusi‐solusi atau memilih strategistrategi yang memenuhi standar kepuasan dalam hal yang disebut ‘memuaskan’ (March dan Simon 1958). Sebagai akibat, Simon menyatakan bahwa para pengambil keputusan dengan sengaja menjadi rasional, tapi dunia nyata membatasi kemampuan mereka untuk membuat pilihan rasional yang sempurna. Dalam masalah kebijakan penyakit sifilis turunan, para pengambil keputusan mencoba menaati model perilaku yang rasionalitas terbatas serasional mungkin dalam batasan waktu, informasi dan kemampuan untuk mengenali akibat‐akibat dari setiap solusi yang mungkin berlaku.
Terima Kasih
Categories: Model Kebijakan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: