Home > Model Kebijakan > MODEL INCREMENTAL DALAM KEBIJAKAN

MODEL INCREMENTAL DALAM KEBIJAKAN

Charles Lindblom (1959) mengusulkan sebuah penjelasan alternatif untuk pengambilan keputusan yang dia beri judul ‘muddling through’. Menurut Lindblom, para pengambil keputusan ‘muddling’ dalam artian bahwa mereka mengambil langkah tambahan dari situasi awal dengan membandingkan hanya beberapa alternatif yang mungkin bisa digunakan yang tidak beda jauh dengan status quo. Lindblom menyatakan bahwa para pengambil keputusan akan menguji situasi politik dalam menentukan jadi atau tidaknya mengejar tindakan yang sudah ditentukan arahnya. Ujian untuk sebuah kebijakan bukan bisa tidaknya memaksimalkan atau bahkan memuaskan nilainilai dari para pengambil keputusan (seperti juga dengan kasus model rasional) tapi apakah kebijakan itu menjaga perjanjian oleh berbagai kepentingan yang akan terpengaruh. Jika oposisi terlalu kuat, sebuah pilihan yang dekat dengan status quo akan di uji. Usaha berikutnya atas perubahan kebijakan akan mencari kembali untuk membandingkan pilihan‐pilihan yang mungkin menantang status quo tapi hanya secara marjinal. Untuk Lindblom, proses pengambilan keputusan ditandai dengan penyesuaian bersama oleh pihak ‐ pihak yang berkepentingan.
Lindblom mengatakan bahwa ‘muddling through’menyediakan saran yang lebih baik dalam keputusan membuat kebijakan sehingga kesalah kebijakan yang merusak bisa dihindari dengan menggunakan langkah incremental yang efeknya bisa ditaksir lebih dulu untuk mengambil langkah selanjutnya. Terlebih lagi, Lindblom menyatakan bahwa langkah tersebut memberikan pendekatan yang lebih demokratis dan praktis untuk menemukan “politik yang lebih masuk akal” daripada yang hirarkis, pendekatan berpusat yang dipromosikan oleh para rasionalis.
Kembali pada contoh kasus kebijakan penyakit sifilis turunan, pengambilan keputusan incremental akan menjauhkan gagasan kebijakan keras yang mencoba menghapus keadaan. Sebaliknya, para pengambil keputusan mungkin pertama‐tama melanjutkan dengan memberi dukungan pemeriksaan sifilis sebelum melahirkan pada pemeriksaan HIV/AIDS rutin yang diberikan sebelum melahirkan. Jika intervensi ini diterima secara luas oleh aktivis HIV/AIDS, tenaga kesehatan dan wanita‐wanita yang mendatangi klinik‐klinik sebelum melahirkan; para pengambil keputusan kemudian mungkin mengambil langkah tambahan lain dengan melanjutkan kebijakan yang mengalokasikan beberapa sumber daya tambahan untuk meningkatkan angka ibu‐ibu hamil yang mendatangi klinik‐klinik sebelum melahirkan. Jika aktivis HIV/AIDS mencegah usaha untuk membajak pelayanan ‘mereka’, atau tenaga‐tenaga kesehatan tidak akan menerima tambahan beban kerja, para pengambil keputusan akan memeriksa kembali kemungkinan untuk mengambil langkah tambahan lain, seperti memperpanjang program khusus pemeriksaan sifilis.
Walaupun model incremental menyajikan penjelasan yang lebih realistis dibandingkan model rasional dalam pengambilan keputusan, model ini juga menjadi bahan kritikan tajam. Salah satu kritik atas model ini berkenaan dengan ketidakmampuannya menjelaskan fundamental dan seradikal apa keputusan diambil. Jika pengambilan keputusan hanya meliputi langkah‐langkah pemeriksaan kecil dari kebijakan yang ada, bagaimana bisa menjelaskan kebijakan yang meliputi reformasi fundamental keseluruhan sistem layanan kesehatan? Sebagai keterbatasan pada kapasitas deskriptifnya, pendekatan incremental menyangkut tentang posisi preskriptif dan normatifnya dalam pembuatan kebijakan. Akibatnya, inkrementalisme menganjurkan pendekatan konservatif dalam pengambilan keputusan. Para pembuat kebijakan dicegah untuk melanjutkan strategi yang menghasilkan pemaksimalan tujuan jika dihadapkan ke berbagai keinginan yang menolak.
Perubahan yang strategis kemungkinan besar ditentang walaupun sangat dibutuhkan. Pendekatan inkremental cenderung tidak meningkatkan inovasi atau tidak memajukan secara signifikan dan mungkin menjadi tidak adil karena memilih yang lebih berkuasa. Inkrementalisme, dalam teori dan prakteknya, gagal untuk mengatasi ketidakmerataan distribusi kekuasaan diantara kelompokkelompok yang berkepentingan atau untuk menghambat kemungkinan‐kemungkinan yang mengaburkan hal‐hal tertentu dari pertimbangan kebijakan.
Lindblom menolak kritik ini dan mengatakan bahwa rangkaian langkah‐langkah kecil bisa menjadi perubahan yang fundamental (Lindblom and Woodhouse 1993). Sebagai contoh: dukungan pada kebijakan tertentu sejalan dengan waktu bisa berkurang pada oposisi politik terhadap tujuan jangka panjang. Yang lain lebih skeptis lagi, berkata bahwa pada prakteknya pendekatan ini tidak berhubungan dengan apa yang akan mengarahkan langkah‐langkah tambahan. Proses menjadi mungkin sebuah lingkaran setan – mengarah pada dimana itu bermula, atau berakhir – mengarah ke berbagai arah pada waktu bersamaan tapi tidak sampai kemanapun (Etzioni 1967). Sebagai akibatnya, sebuah jalan tengah telah diajukan yang bisa mengarahkan langkah‐langkah inkremental. 
Terima Kasih
Categories: Model Kebijakan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: