Home > Sanitasi Lingkungan > PROGRAM AIR BERSIH DAN SANITASI PEDESAAN

PROGRAM AIR BERSIH DAN SANITASI PEDESAAN

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai daerah yang angka curah hujannya rendah, oleh karena itu wilayah ini dikenal pula sebagai daerah yang sulit air. Selain kondisi daerah yang sedemikian itu, pengetahuan penduduk tentang higinitas yang masih kurang, serta sebagian penduduk yang masih tinggal di tempat yang belum memenuhi standar lingkungan yang sehat, menyebabkan penduduk Nusa Tenggara Timur berada dalam kondisi rentan terhadap penyakit yang ditularkan melalui air. Memperhatikan keadaan di atas, Pemerintah RI dan Pemerintah Jerman pada tahun 1998 sepakat untuk bekerja sama dalam pembangunan di bidang air minum dan sanitasi di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Menindaklanjuti kerja sama di atas, pada tahun 2001 dilakukan pertemuan antarsektor terkait di tingkat pusat dan daerah dengan German Bank for Reconstruction (KfW) Jerman. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa German Ministery for Economic Cooperation (BMZ), KfW dan Deutsche Gesselschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) mengkoordinasikan program bantuan teknis dan bantuan keuangan. Kabupaten yang menerima bantuan program adalah Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Pada tanggal 12 Desember 2001 diterbitkan Grant Agreement “Rural Water Supply and Sanitation”. KfW Jerman memberikan hibah untuk Propinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 15,6 juta DM untuk biaya investasi (pembangunan konstruksi, pengadaan barang dan jasa) serta untuk biaya konsultan. Sedangkan untuk dana pendampingnya, masing-masing kabupaten akan menyediakan dana investasi di dalam Daftar Isian Proyek Daerah (DIPDA) sebesar 10 persen dari nilai hibah yang diberikan oleh KfW Jerman dan dana non investasi yang besarnya sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing kabupaten. Selanjutnya kegiatan ini diberi nama khusus yaitu ProAir, untuk membedakannya dengan proyek air minum dan sanitasi perdesaan lainnya.
Tujuan
a. Tujuan Umum
Memberikan konstribusi untuk menurunkan risiko kesehatan bagi masyarakat perdesaan akibat penyakit yang ditularkan melalui air yang digunakan melalui peningkatan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan sanitasi di masyarakat perdesaan di Propinsi Nusa Tenggara Timur.
b. Tujuan Khusus
Masyarakat perdesaan mampu mengelola sendiri prasarana dan sarana air bersih dan sanitasinya secara berkesinambungan dan diharapkan pemerintah setempat dapat mengadopsi pendekatan ini.
Pelaksanaan Program
perencanaan, tahap rancang bangun dan pembuatanBerbeda dengan cara pendekatan yang dilakukan pada masa lalu yang mendasarkan pada standar normatif dari pemerintah (Supply Driven), maka pada pelaksanaan program ProAir menggunakan pendekatan berdasarkan kebutuhan masyarakat (Demand Driven). Ada beberapa tahap yang harus dilalui dalam pelaksanaan program ProAir, yaitu tahap sosialisasi dan diseminasi, tahap permohonan dan penilaian, tahap kontrak, tahap konstruksi dan tahap pascakonstruksi. Pelaksanaan ProAir dilakukan secara bertahap dimulai dengan pelaksanaan kegiatan di Kabupaten Sumba Timur. Pelaksanaan di Kabupaten Sumba Timur telah sampai pada tahap III. Tahap I, sosialisasi dan diseminasi, telah dilaksanakan melalui kampanye yang dilakukan oleh Tim Koordinasi ProAir Kabupaten (TKK) yang menghasilkan banyak permohonan yang diajukan oleh masyarakat. Selanjutnya dalam tahap II, semua permohonan tersebut diterima oleh ProAir dan dinilai kelayakannya oleh Tim Pelaksana dan Unit Pelaksana Proyek (Project Implementation Unit-PIU). Tahap III berupa perencanaan pelaksanaan yang akan melibatkan kelompok masyarakat dalam rencana pelaksanaan yang sesungguhnya melalui proses partisipatif di bidang higinitas dan sanitasi dengan menggunakan metoda MPA-PHAST yang akan difasilitasi oleh tenaga motivator.
Kendala
Ada beberapa kendala yang ditemui selama pelaksanaan program, baik yang bersifat fisik maupun non fisik yaitu :
A Kendala Fisik
– Kondisi geografis, dan lokasi permukiman yang terpencar menyulitkan dalam menentukan pilihan teknologi yang paling sesuai dengan kondisi masyarakat
B Kendala Non Fisik
– Kurangnya pemahaman dari pelaksana di daerah terhadap pendekatan demand driven berakibat pada relatif lambatnya tanggapan masyarakat terhadap program ini.
– Mekanisme penyaluran dana (Fund Chanelling) masih belum dipahami secara baik, sehingga masih ditemui banyak kendala baik dalam proses pengajuan dana maupun pencairannya.
Rencana ke depan
Agar kendala–kendala tersebut dapat dilewati dengan baik, maka ke depan direncanakan :
a. Melakukan pembinaan secara rutin, termasuk melakukan sosialisasi kembali program ProAir dengan cara advokasi kepada pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten
b. Mencari pilihan teknologi baru di bidang air minum dan sanitasi yang sesuai untuk diterapkan di NTT.
Categories: Sanitasi Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: