Home > Manajemen Kesehatan > MASALAH KESEHATAN DAN PEMBANGUNAN NASIONAL

MASALAH KESEHATAN DAN PEMBANGUNAN NASIONAL

Derajat kesehatan masyarakat berhubungan erat dengan kondisi pembangunan nasional khususnya pembangunan sosial ekonomi. Kondisi krisis moneter pada saat ini dikhawatirkan memberi pengaruh terhadap kualitas kesehatan penduduk, bahkan ada penurunan. Namun diharapkan ada perhatian khusus tentang lingkungan hidup dan penduduk yang rentan seperti ibu, bayi, anak , usia produktif dan lansia.
Kondisi kesehatan di Indonesia masih memprihatinkan, ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu yaitu 390 dari 100.000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi tiga sampai enam kali angka kematian ibu di negara-negara ASEAN. Sementara angka kematian bayi 41 dari 1000 kelahiran hidup, ini lebih tinggi dari Singapura 4 dari 1000 kelahiran hidup dan Malaysia 12 dari 1000 kelahiran hidup. Di samping itu Indonesia juga memiliki penderita tuberculosis nomor tiga di dunia, begitu juga kusta. Belum lagi maslah ketersediaan air bersih atau sanitasi lingkungan.
Menurut Sutamihardja (staf ahli Menneg Lingkungan Hidup bidang lingkungan global) dalam dokumen Agenda 21 Global (hasil Konfrensi Rio) disebutkan antara lingkungan, pertumbuhan ekonomi (pembangunan nasional) dan kesehatan, selain memiliki keterkaitan yang erat juga memerlukan upaya intersektoral serta harus berorientasi pada upaya promotif dan prefentif.
Secara empirik, pembangunan nasional (sosial-ekonomi) yang sedang berjalan juga maemiliki kontribusi dalam bidang kesehatan masyarakat. Indikatornya tampak jelas dengan menurunnya angka kematian dan penyakit menular, yang diikuti pula meningkatnya angka harapan hidup. Tetapi di lain fihak, berbagai masalah kesehatan masyarakat baru muncul bertalian dengan urbanisasi, pencemaran, pemukiman penduduk yang berdesakan, gangguan penyakit jantung dan kekurangan gizi selain yang disebutkan di atas.
Perkembangan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia mengikuti pola universal, yakni dengan perbaikan sosio ekonomi serta terjadi pertukaran derajat kesehatan masyarakat. Kondisi kesehatan di Indonesia juga memiliki kecenderungan berdimensi lokal. Percepatan pembangunan sosio ekonomi antar pulau dapat menyebabkan variabilitas derajat kesehatan serta problematika antar pulau dan wilayah. Kesehatan berkaitan erat dengan sosio budaya masyarakat setempat, dan pada hakikatnya dengan berjalannya pembangunan ekonomi di daerah-daerah, maka Indonesia akan menjadi kota pulau yaitu timbulnya perkotaan baru.
Salah satu yang dihadapi penduduk perkotaan yang berkaitan dengan bidang kesehatan yaitu kesehatan lingkungan pemukiman, khususnya pemukiman kukuh atau pemukiman yang jauh dari tempat kerja. Mereka menghadpi potensi bahaya kesehatan seperti kurangnya sarana air bersih, timbulnya penyakit menular, pencemaran, kekurangan gizi dan masalah lain yang berkaitan dengan kesehatan.
Dampak yang sangat tidak menguntungkan dari permasalahan kesehatan tersebut memberi kontribusi terhambatnya pembangunan dikarenakan terjadinya penurunan kualitas hidup manusi yang pada akhirnya sumber daya yang diharapkan untuk melaksanakan pembangunan tidak dapat bersaing dengan negara lain dan kualitasnya pun rendah. Penduduk usia produktif tidak dapat melakukan pekerjaannya yang optimal dikarenakan kesehatan dan taraf hidup yang masih rendah. Keadaan tersebut diperparah lagi dengan penurunan proses kegiatan ekonomi masyarakat.
Permasalahan status gizi buruk yang diakibatkan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemajuan sumber daya manusia. Status gizi yang buruk terutama pada penduduk yang rentan seperti bayi, anak, ibu dan remaja dapat menyebakan kemunduran kualitas manusianya. Dampak yang terjadi sangat nyata akan terlihat pada masa yang akan datang. Generasi yang diharapkan meneruskan pembangunan nasional akan sulit sekali mendapatkan generasi yang dapat berkarya dan menciptakan teknologi baru untuk kemajuan bangsa. Masalah gizi buruk tersebut juga merupakan masalah kesehatan yang dapat menimbulkan permasalahan lain, seperti rendahnya daya tahan tubuh sehingga mudah sekali untuk terserang penyakit. Pada akhirnya generasi yang akan datang tidak tangguh untuk menghadapi segala persaingan yang global.
Program Pemerintah dalam Mengatasi Masalah Kesehatan demi tercapainya Pembangunan Nasional
Kondisi negara yang mengalami keterpurukan ekonomi memberi dampak bagi kelangsungan kesehatan masyarakat yang menurunkan produktivitas kerja sehingga pada akhirnya menyebabkan terhambatnya pembangunan nasional. Hal ini juga ditambah lagi dengan rendahnya anggaran yang diterima pada bidang kesehatan sebesar 2,6% dari APBN yang seharusnya minimal 6 %, membuat tingkat kesehatan semakin terpuruk. Ini ditandai dengan meningkatnya penderita gizi buruk dikalangan golongan rentan.
Keterbatasan anggaran tersebut menyebabkan keterbatasan pelaksanaan rogram kesehatan bagi seluruh masyarakat. Program yang paling mendesak dan dianggap tepat sasaran adalah pelaksanaan program JPSBK. Program ini bertujuan mengatasi dampak krisis ekonomi terhadap kesehatan dan gizi. Sasarannya keluarga miskin yaitu keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I, dengan alasan ekonomi serta keluarga miskin yang ditetapkan Tim desa.
Kegiatan JPSBK dibagi menjadi dua kelompok. Pelayanan kesehatan langsung berupa pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dan jaringannya, perbaikan gizi, pelayanan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2M) dan kesehatan lingkungan, pelayanan kebidanan oleh bidan di desa serta pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit kabupaten/kodya. Selain itu ada kegiatan penunjang yang antara lain Pemantapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi(SKPG), revitalisasi posyandu, aminan Pemeliharaan Kesehatan Masyrakat (JPKM), pelatihan tenaga kesehatan dan pemantauan program.
Tahun anggaran 1999/2000, seluruh kegiatan program JPSBK dibiayai dari pinjaman Bank Pembangunan Asia (ADB) melalui Project Loan Health Nutrition Sector Development Program sebesar 819,5 Milyard. Pelayanan bagi masyarakatmiskin terus dilanjutkan, karenanya perlu disediakan dana APBN, walau program JPSBK telah berakhir. Sejauh ini keluarga miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan puskesmas sebanyak 6,4 juta, sedangkan ibu hamil yang mendapat pelayanan kebidanan 296.979 orang, ibu nifas yang mendapatkan pelayanan kesehatan 371.407 orang, ibu hamil/nifas kekurangan energi kronis yang mendapatkan pemberian makanan tambahan berjumlah 382.632 orang, bayi usia 6-11 bulan yang mendapat PMT 400.044 anak serta anak usia 12-23 bulan yang mendapat PMT 1.008.812 anak (Kompas).
Program JPSBK sangat berguna bagi kelanjutan pembangunan nasional, karena program ini memiliki sasaran untuk semua rakyat agar dapat hidup lebih sehat. Berdasarkan penelitian lima perguruan tinggi, program JPSBK telah mencapai hasil sebagaimana diharapkan, meski masih perlu perbaikan. Ketepatan sasaran JPSBK cukup tinggi yaitu 91-97% (Medika).
Masalah gizi merupakan masalah yang kompleks yang juga berdampak terhadap pelaksanaan pembangunan nasional. Secara mikro, kekurangan gizi dapat disebabkan oleh tidak tersedianya atau berkurangnya persediaan pangan di tingkat rumah tangga, kurangnya pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam pemeliharaan gizi, keadaan kesehatan terutama penyakit infeksi yang mempengaruhi penggunaan zat gizi oleh tubuh. Secara makro masalah gizi dipengaruhi faktor penurunan daya beli, kegagalan panen, kesulitan distribusi, akses pelayanan kesehatan dan faktor sosial budaya.
Penanganan kekurangan gizi memerlukan pendekatan secara menyeluruh dalam bentuk program yang melibatkan berbagai sektor terkait. Perhatian perlu dititik beratkan pada setiap jalur pangan, mulai dari produksi, distribusi, konsumsi sampai masalah pelayanan gizi dan kesehatan. Depkes telah melakukan revitalisasi SKPG dan mencanangkan Gerakan Penanggulangan Masalah Pangan dan Gizi, untuk memobilisasi seluruh potensi yang ada di masyarakat dan sektor terkait, untuk memenuhi kecukupan pangan di tingkat keluarga, melacak setiap kasus gizi buruk serta mencegah dan menanggulangi masalah gizi kurang.
Penanggulangan masalah gizi kurang juga dilakukan di tempat pengungsian akibat bencana dan kerusuhan massa terutama pada kelompok rentan, dalam bentu Blendeed food, susu, beras serta lauk pauk. Kesemuanya itu dalam rangka pemulihan dan pemeliharaan kesehatan agar dapat kembali hidup normal dan dapat melaksanakan aktivitasnya untuk membangun bangsa.
Salah satu yang juga termasuk bagian program JPSBK yaitu pemberian kartu sehat kepada kelompok masyarakat miskin yang pada kenyataannya tidak semua mendapatkannya yang diakibatkan keterbatasan dana maupun kesalahan pemilihan keluarga miskin. Tetapi program ini sangat berguna bagi masyarakat yang
membutuhkan dan tidak mampu dalam membayar pelayanan kesehatan yang diterimanya.
Kartu sehat yang diberikan kepada keluarga miskin dipergunakan sesuai dengan keadaan/kondisi mereka, sehingga kesehatan masyarakat golongan tersebut dapat dipertahankan dan dipelihara. Pemakaian kartu sehat dapat terus dilanjutkan, tetapi pemakiannya diharapkan tidak menimbulkan ketergantungan.
Program yang tidak kalah pentingnya dalam mengatasi masalah kesehatan yaitu yang berkaitan dengan lingkungan. Kesehatan lingkungan sangat penting, karena lingkungan yang sehat maka keadaan masyarakatnya pun akan sehat. Karena lingkungan merupakan akar dari masalah kesehatan, maka pelayanan kesehatan primer harus menyangkut kesehatan lingkungan, seperti kualitas makanan, kualitas air dan udara serta bebas dari ancaman penyakit menular. Posyandu sangat tepat untuk memberikan pelayanan kesehatan di desa maupun di kota. Mengingat dimensi variabilitas antar wilayah sangat tinggi, maka muatan kesehatan lingkungan melalui posyandu dalam rangka pemenuhan kesehatan dasar perlu dilakukan pembedaan substansi muatan kesehatan lingkungan yang berbasis pada problematika lokal(spesial). Ini dilakukan khususnya bagi kelompok rentan (bayi, anak, remaja, ibu hamil) sehingga tepat sasaran.
Dasar pendekatan spesial dengan cara membangun informasi kesehatan lingkungan. Selain itu regionalisasi sumber informasi kesehatan masyarakat yang berbasis kewilayahan dengan acuan ekosistem dan topografi serta tata ruang. Sistem informasi sebagai basis pembangunan kesehatan masyarakat harus diintegrasikan dengan sistem kesehatan lingkungan berbasil spasial. Oleh sebab itu dalam penyelesaian masalah perlu adanya usaha-usaha yang terintegrasi dengan perekonomian.
Masyarakat agar mampu memberikan sumbangan bagi peningkatan perekonomian nasional, maka diperlukan program pelayanan kesehatan primer khususnya bagi kelompok yang rentan seperti balita, remaja ataupun perempuan produktif, terutama pada lingkungan kumuh dan lingkungan kerja informal. Hal lain yang perlu dilakukan program pengendalian pencemaran berbasis kesehatan untuk menurunkan pencemaran lingkungan hingga mencapai baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan, serta pengembangan metode analisis dampak kesehatan lingkungan yang merupakan bagian integral dari kegiatan Analisi Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Demikian pula sistem pemantauan atau sistem informasi kesehatan lingkungan akibat kegiatan proyek yang memiliki dampak penting khususnya terhadap masyarakat.
Pelaksanaan strategi dan implementasinya perlu disadari bahwa pembangunan kesehatan memiliki keterkaiatan erat dengan pertumbuhan sosial ekonomi (Pembangunan Nasional) dan kondisi lingkungan sehingga diperlukan lintas sektordan keterlibatan kelompok dalam masyarakat baik dari lembaga pemerintah maupun pelaku pembangunan lainnya.
Program-program kesehatan yang telah diuraiakan di atas menunjukkan sangat perlu dilaksanakan dan merupakan program yang diharapkan tepat sasaran. Pelaksanaannya tidak terlepas dari partisipasi masyarakat dan juga bantuan teknis dari pemerintah. Keberhasilan program dapat mengurangi bahkan mengatasi masalah kesehatan yang ada, sehingga masyarakat menjadi lebih baik dan mandiri, yang selanjutnya menjadikan sumber daya manusi yang berkualitas untuk membangun negeri ini.
Categories: Manajemen Kesehatan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: