Home > Kesehatan Lingkungan > PERILAKU PEMAKAI SUMUR GALI

PERILAKU PEMAKAI SUMUR GALI

Ada beberapa macam teori perilaku, antara lain menurut Notoatmojo (1993), perilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subyek tersebut yang dapat diamati secara langsung maupun secara tidak langsung. Respon ini berbentuk pasif dan aktif, respon pasif yaitu terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berfikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan/persepsi. Sedangkan respon aktif yaitu apabila perilaku itu jelas tampak dalam tindakan yang nyata dan dapat diobservasi secara langsung.

Kurt Lewin merumuskan suatu model hubungan perilaku yang mengatakan bahwa perilaku (B) adalah fungsi karakteristik individu (P) dan lingkungan (E), yaitu B = ƒ(P,E). Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memberikan kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kadang – kadang kekuatannya lebih besar daripada karakteristik individu. Hal inilah yang menjadikan prediksi perilaku lebih kompleks (Azwar, 1995).

Untuk tidak sekedar memahami, tapi juga agar dapat memprediksi perilaku, Fishbein & Ajzen (dalam Azwar, 1995) mengemukakan teori tindakan beralasan, mengatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan, dan dampaknya terbatas hanya pada tiga hal. Pertama, perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tapi oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu. Kedua, perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tapi juga oleh norma-norma subjektif yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita perbuat. Ketiga, sikap terhadap suatu perilaku bersama – sama norma-norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berperilaku tertentu. Secara sederhana teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin agar ia melakukannya.

Faktor yang mempengaruhi perilaku

Perilaku, secara luas tentu tidak hanya dapat ditinjau dalam kaitannya dengan sikap manusia. Pembahasan perilaku dari sudut pandang yang berbeda memberikan penekanan yang berbeda-beda pula. Namun satu hal selalu dapat disimpulkan, yaitu bahwa perilaku manusia tidaklah sederhana untuk difahami dan diprediksikan. Begitu banyak faktor-faktor internal dan eksternal dari dimensi masa lalu, saat ini dan masa datang yang ikut mempengaruhi perilaku manusia.

Azwar (1995), mengatakan selain berbagai faktor penting seperti hakikat stimulus itu sendiri, latar belakang pengalaman individu, motivasi, status kepribadian dan sebagainya, sikap individu ikut memegang peranan dalam menentukan bagaimana perilaku seseorang di lingkungannya. Lingkungan secara timbal balik akan mempengaruhi sikap dan perilaku. Interaksi antara situasi lingkungan dengan sikap, dengan berbagai faktor di dalam maupun di luar diri individu akan membentuk suatu proses kompleks yang akhirnya menentukan bentuk perilaku seseorang.

Perilaku dan lingkungan air

Perilaku dalam hubungannya dengan kesehatan menurut Notoatmojo (1993), adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia, antara lain mencakup perilaku sehubungan dengan air bersih, termasuk di dalamnya komponen, manfaat dan penggunaan air bersih untuk kepentingan kesehatan.

Menurut Slamet (1994 & 2000), perilaku dalam hubungannya dengan lingkungan air, termasuk kepercayaan dan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan air. Bagaimana mereka memperlakukan air, akan menentukan kualitas air tersebut. Wiyono & Agustjik (1992), menyebutkan bahwa air yang sudah memenuhi persyaratan kesehatan kadang-kadang masih juga mendapat pencemaran baik pada waktu pengambilan, pengangkutan sampai pada saat penyimpanan air yang sudah dimasak. Masing-masing tahap di atas mempunyai risiko rekontaminasi. Rekontaminasi ini amat tergantung pada tingkah laku/kebiasaan masyarakat (orang) dalam penanganan air.

Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: