Home > Kebijakan Lingkungan > PENGARUH PERILAKU YANG MENIMBULKAN KERACUNAN LINGKUNGAN

PENGARUH PERILAKU YANG MENIMBULKAN KERACUNAN LINGKUNGAN

Menurut Anoraga (2001) bekerja adalah sesuatu yang manusiawi. Malah sesungguhnya, bekerja memanusiakan manusia, sehingga seorang manusia yang tidak bekerja, sebenarnya menjadi tidak lengkap kemanusiannya. Manusia bekerja tidak saja untuk mendapatkan penghasilan yang minimal layak untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya, tetapi juga untuk memenuhi tuntutan kemanusiaannya, bahkan untuk memuliakan pribadinya sebagai manusia. Tetapi itu tidaklah berarti, bahwa seorang manusia yang kodratnya memang memerlukan bekerja, lantas boleh diperlakukan sekehendaknya sendiri oleh pihak-pihak yang bisa menyediakan lapangan kerja. Pihak pemberi kerja pun berkewajiban menghormati harkat dan martabat para pekerjanya sebagai manusia, ini berarti memberinya imbalan atau upah yang sesuai dengan kemampuan profesionalnya, dan memperlakukannya secara manusiawi.

Selain upah tenaga kerja juga harus menanggung dampak dari pekerjaan yang ia lakukan terutama dampak negatif dari pekerjaan tersebut berupa gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja dan kecacatan bahkan kematian. Setiap bekerja kita selalu berada di tempat kerja yang sering disebut sebagai lingkungan kerja. Menurut Sahab (1997) lingkungan kerja terdiri dari lingkungan kerja fisik, kimia, biologi, psikologis dan fisiologi.

Menurut Hendarto (1991) adanya tingkat keracunan ringan dan sedang yang cukup tinggi berhubungan dengan frekuensi penyemprotan tiap-tiap bulannya yang tinggi. Penyemprotan pestisida pada tanaman mungkin tidak dilakukan setiap hari secara terus menerus melainkan pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat terjadi serangan hama. Lain halnya dengan tenaga kerja toko penjual pestisida yang dapat terpapar melalui kontak dengan pestisida pada setiap harinya selama jam kerja.

Kecelakaan dan penyakit akibat kerja menurut Heinrich (1980) dapat terjadi karena kondisi lingkungan yang tidak aman (unsafe condition) dan karena perilaku yang tidak aman (unsafe act). Kedua kondisi tersebut secara sendiri-sendiri maupun bersamaan akan dapat menimbulkan kerugian berupa kecelakaan ataupun penyakit akibat kerja.

Perilaku yang tidak aman merupakan faktor penyebab utama timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Hampir lebih dari 80% kecelakaan dan penyakit akibat kerja terjadi karena adanya perilaku yang tidak aman (Heinrich, 1980). Menurut Notoatmojo (1993) perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungan yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku seseorang dapat diketahui dengan cara menggali pengetahuan orang tersebut, serta apa sikap yang ia tampakan dan tindakan apa yang selalu dilakukan.

Purwanto (1999) mengatakan bahwa perilaku manusia berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia, sedang dorongan merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berperilaku dalam segala aktivitas, banyak hal yang mengharuskan berperilaku. Perilaku mempunyai arti yang kongkrit dari pada jiwa, karena lebih kongkrit, perilaku lebih mudah dipelajari daripada jiwa dan melalui perilaku dapat dikenal 3 jiwa seseorang. Karakteristik perilaku ada yang terbuka dan ada yang tertutup. Perilaku yang terbuka adalah perilaku yang dapat diketahui oleh orang lain tanpa menggunakan alat bantu. Perilaku tertutup adalah perilaku yang hanya dapat dimengerti dengan menggunakan alat atau metode tertentu misalnya berfikir, sedih, berkhayal, bermimpi dan takut.

Kondisi lingkungan yang tidak aman pada toko penjual pestisida dapat dihindari dengan melakukan pengendalian lingkungan. Prinsip pengendalian lingkungan kerja yang mengelola pestisida menurut WHO (1992) antara lain : sistem ventilasi yang baik, housekeeping dan maintenance. Sistem ventilasi yang baik pada suatu tempat kerja akan menjamin kesegaran dan kebersihan udara tempat kerja sehingga memberikan kenyamanan dalam bekerja dan memberikan rasa aman dan sehat bagi tenaga kerja yang berada di dalamnya karena ia mampu menghilangkan atau mengurangi kontaminasi yang ada dalam udara dan menggantikanya dengan udara yang bersih (ILO, 1991).

Menurut Nedved (1991) pengaruh keracunan terhadap tubuh tenaga kerja dipengaruhi juga oleh faktor tenaga kerja itu sendiri, yaitu : 1) umur; 2) jenis kelamin; 3) derajad kesehatan tubuh; 4) daya tahan; 5) nutrisi;

6) tingkat kelemahan tubuh; 7) faktor genetik; h) kondisi sinergi bahan kimia; 7) status endocrine. Faktor-faktor yang di jelaskan oleh Nedved tadi dapat menjadi faktor yang memperberat atau mempercepat timbulnya keracunan atau malah sebagai barier sehingga kasus keracunan tidak sampai terjadi.

Categories: Kebijakan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: