Home > Parasitologi Lingkungan > HUBUNGAN LINGKUNGAN TERHADAP KUALITAS BAKTERIOLOGIS

HUBUNGAN LINGKUNGAN TERHADAP KUALITAS BAKTERIOLOGIS

Kita tahu bahwa air merupakan hal yang paling penting bagi kehidupan, mengingat setiap hari air dibutuhkan untuk diminum, memasak, mandi, mencuci, memelihara kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Tentunya dengan menggunakan air yang bersih penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air (water borne disease) dapat dihindari. Seperti dikatakan oleh Darmono (2001), air bersih sangat diperlukan untuk kesehatan sehingga dapat menunjang aktivitas untuk berkreasi dan menghasilkan hal yang positif.

Tetapi sebaliknya, bila komponen utama tersebut tercemar maka akan menimbulkan perubahan kualitas kehidupan. Kesehatan tubuh menurun, begitu pula daya tahan tubuh terhadap infeksi penyakit. Semuanya itu akan berpengaruh terhadap penurunan produktivitas bahkan dapat menyebabkan kematian. Menurut WHO (2006), dalam dekade terakhir, rata-rata 50.000 orang meninggal per hari karena penyakit yang berkaitan dengan air bersih (Kusumayudha & Sutedjo, 2008). Hal ini menjadi bukti betapa besar ketergantungan hidup manusia terhadap ketersediaan air bersih.

Penyakit yang erat kaitannya dengan masalah air adalah diare. Kasus penyakit ini sering dijumpai di masyarakat dengan tingkat kesehatan lingkungan yang rendah terutama sanitasi air. Penyakit diare disebabkan oleh bakteri (Vibrio cholera, E. coli, Salmonella typhi, Salmonella paratyphi, Shigella dysentriae); virus (Rotavirus, Adenovirus) dan protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia). Penyakit ini dapat menyebar apabila mikroba penyebabnya masuk ke dalam air yang digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (Slamet, 1994 & Fardiaz, 1992).

Di Indonesia, program pembangunan sarana air bersih dan sanitasi perdesaan sudah dilaksanakan sejak tahun 1969. Keberhasilan yang dicapai dapat dilihat melalui terjadinya peningkatan dalam cakupan pelayanan, kemampuan institusi pengelola sarana, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan kemampuan masyarakat pada umumnya. Meski demikian, karena adanya keterbatasan dana dan kemampuan pengelolaan baik di tingkat petugas pelaksana maupun di tingkat masyarakat, menyebabkan cakupan pelayanan masih jauh dari yang diharapkan. Masih terlihat pula rendahnya tingkat perubahan perilaku masyarakat mengenai pola hidup bersih dan sehat serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang baik, prevalensi dari beberapa penyakit menular yang berkaitan erat dengan masalah lingkungan masih tinggi, serta masih rendahnya kemampuan memelihara sarana yang sudah dibangun untuk menjamin keberlanjutan pelayanan yang dilakukan oleh masyarakat pengguna sesuai dengan kebutuhannya tanpa bantuan dari luar.

Lingkup dari program itu sendiri terdiri dari komponen program yang meliputi sebagai berikut :

1) peningkatan kemampuan masyarakat dan institusi lokal;

2) peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta pelayanan kesehatan;

3) pembangunan sarana air bersih dan sanitasi mencakup pembangunan sumur gali, sumur pompa, sarana air bersih sistem perpipaan, perlindungan mata air, penampungan air hujan, jamban keluarga dan jamban sekolah serta sarana lain sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat;

4) manajemen kegiatan antara lain mencakup kegiatan peningkatan kemampuan pengelolaan, monitoring dan evaluasi.

Sasaran program ini diutamakan bagi yang berpenghasilan rendah dengan kriteria sebagai berikut :

1) desa dengan indeks kemiskinan tinggi;

2) insiden penyakit yang ditularkan melalui air (water borne disease) tinggi dan

3) akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar rendah.

Pendekatan yang dikembangkan dalam program ini adalah pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan Methodology for Participatory Assessment/Participatory of Hygiene and Sanitation Transformation (MPA/PHAST). MPA adalah suatu metode yang mengacu pada “Sustainability Planning and Monitoring in Community Water Supply and Sanitation”, sedangkan PHAST adalah pendekatan yang digunakan untuk perencanaan kesehatan yang berkaitan dengan perbaikan PHBS, sehingga masyarakat dapat memahami permasalahan dan potensi yang dimiliki. Berdasarkan komponen tersebut masyarakat memutuskan sendiri program yang akan dikembangkan, menyusun rencana kegiatan, melaksanakan, mengoperasikan dan memelihara sarana yang telah dibangun. (Depkes RI, 2000 & 2007).

Pembangunan sarana air bersih telah dilakukan baik secara individual maupun berupa bantuan proyek dari pemerintah. Walaupun demikian masih diperlukan upaya penyehatan air, karena air yang digunakan harus memenuhi syarat kesehatan. Upaya pengawasan kualitas air dilakukan oleh petugas di lingkungan Dinas Kesehatan melalui kegiatan inspeksi sanitasi yang dilaksanakan sebagai langkah awal untuk mendeteksi tinggi rendahnya risiko pencemaran terhadap sarana air bersih. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi tentang situasi, kondisi dan potensi masalah yang ada pada sarana air barsih. Data inspeksi sanitasi ini dapat diperkuat dan dicek kebenarannya melalui analisis mikrobiologis, yaitu dengan melihat kandungan bakteri koliform per 100 ml sampel air sebagai indikatornya. Secara teoritis makin rendah risiko pencemaran makin baik kualitas airnya (Depkes RI,1995). Berdasarkan hasil inspeksi sanitasi inilah dapat ditentukan langkah tindak lanjut terhadap sarana air bersih sesuai dengan tinggi rendahnya risiko pencemaran.

Inspeksi sanitasi sumur gali dilakukan melalui observasi terhadap sarana air bersih dengan menganalisis faktor risiko pencemaran menggunakan formulir inspeksi sanitasi yang diterbitkan oleh Direktorat Penyehatan Air, Ditjen PPM & PLP Depkes RI, tahun 1995. Faktor-faktor yang diobservasi mencakup sebagai berikut :

1) sarana, yaitu mengamati kondisi fisik sumur gali terutama cincin sumur, lantai sumur, dinding sumur dan saluran pembuangan air limbah;

2) jarak antara sumber pencemar dengan sumur gali, dalam hal ini jamban/septic tank, kotoran hewan/kandang ternak, tempat pembuangan sampah, dan genangan air atau tempat pembuangan limbah cair; dan

3) perilaku pemakai dalam memanfaatkan sarana seperti mengamati cara meletakkan timba dan tali timba serta mengamati sanitasi di sekitar sumur.

Untuk kualitas bakteriologis  air itu sendiri meliputi hal – hal sebagai berikut :

1. Standar kualitas

Air tidak bertambah ataupun berkurang, dengan meningkatnya pemanfaatan air, maka kualitasnyalah yang dapat berubah. Untuk dapat menilai kualitas air, pada dasarnya dapat dilakukan dengan memeriksa keberadaan masing-masing elemen fisik, kimia, biologis, dan radioaktif di dalam air sesuai dengan standar kualitas air yang dikehendaki ataupun yang berlaku (Slamet, 1994).

Air bersih selain memenuhi persyaratan bakteriologis, juga harus memenuhi persyaratan fisik dan kimia. Persyaratan fisik air bersih antara lain: air harus bersih dan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Untuk persyaratan kimia air tidak boleh mengandung racun, zat – zat mineral atau zat-zat kimia tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah ditentukan (Sutrisno & Suciastuti, 2006). Untuk menilai kualitas air bersih secara bakteriologis, dapat dilihat dari jumlah bakteri koliform yang terkandung dalam 100 ml sampel air.

Menurut Permenkes RI Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air, dinyatakan bahwa untuk menilai kualitas air bersih dari segi mikrobiologis parameter yang dipakai adalah bakteri koliform. Batas standar kualitas dari masing-masing air berbeda-beda. Untuk standar kualitas air bersih yang berasal dari perpipaan total koliform/Most Probable Number (MPN) maksimum yang diperbolehkan 10 dalam 100 ml sampel air, sedangkan untuk air bersih bukan perpipaan termasuk sumur gali, total koliform (MPN) maksimum yang diperbolehkan 50 dalam 100 ml sampel air (Depkes RI, 1995 & 2003).

2. Bakteri indikator kualitas air

Air merupakan medium pembawa patogenik yang berbahaya bagi kesehatan. Mikroorganisme yang terdapat di dalam air berasal dari berbagai sumber seperti udara, tanah, sampah, lumpur, tanaman hidup atau mati, hewan hidup atau mati (bangkai), kotoran manusia atau hewan, dan bahan organik lainnya. Patogenik yang sering ditemukan di dalam air terutama bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan seperti Vibrio cholera penyebab penyakit kolera, Shigella dysenteriae penyebab disenteri basiler, Salmonella typhi penyebab demam typhoid, Salmonella paratyphi penyebab demam paratyphoid, virus polio, Hepatitis dan Entamoeba histolytica penyebab disenteri amuba (Fardiaz, 1992).

Menurut Slamet (1994), air yang tercemar oleh kotoran manusia ataupun hewan tidak dapat digunakan untuk keperluan minum, mencuci makanan, atau memasak karena dianggap mengandung mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan, terutama patogen penyebab infeksi saluran pencernaan. Fardiaz (1992), menyebutkan bahwa dalam pemanfaatan air untuk keperluan sehari-hari harus bebas dari patogen, akan tetapi analisis rutin yang dilakukan terhadap semua jenis patogen dianggap tidak praktis karena beberapa alasan, di antaranya adalah sebagai berikut :

1) bermacam-macam uji diperlukan untuk mengetahui ada atau tidaknya semua jenis mikroorganisme patogen;

2) uji-uji yang diperlukan untuk mengidentifikasi patogen pada umumnya terlalu kompleks dan memerlukan waktu yang relatif lama;

3) jumlah patogen yang terdapat di dalam contoh seringkali terlalu kecil sehingga diperlukan contoh dalam jumlah besar untuk dapat mendeteksinya;

4) beberapa uji patogen sensitivitasnya terlalu rendah sehingga patogen yang jumlahnya terlalu kecil seringkali tidak dapat terdeteksi;

5) beberapa uji patogen seperti uji virus, ganggang atau parasit memerlukan keahlian tertentu dan peralatan yang sangat mahal; dan

6) kemungkinan bahaya yang dapat timbul dalam mengisolasi dan menguji mikroorganisme patogen.

3. Pemeriksaan kualitas bakteriologis air

Pengujian kualitas bakteriologis air bersih dengan analisis bakteri koliform, di antaranya menggunakan metode tabung ganda dan saringan membran (Membrane Filter Technique).

4. Pengambilan sampel lingkungan

Dalam merencanakan pengambilan sampel lingkungan harus dipertimbangkan bagaimana sampel diambil sehingga sampel dapat mewakili kondisi pada saat pengambilan. Hadi (2005), dan Chandra (2007), menyebutkan bahwa untuk mendapatkan sampel yang representatif sebagaimana kondisi sesungguhnya tidak hanya dibutuhkan peralatan pengambilan sampel yang memenuhi syarat dan personel yang kompeten, tetapi juga prosedur dan teknik pengambilan sampel yang benar. Menyangkut hal tersebut berikut ini dijelaskan beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan sampel.

5. Penentuan titik dan teknis pengambilan sampel air sumur

Pengambilan sampel air sumur gali dilakukan pada kedalaman 20cm di bawah permukaan air dan atau 20cm di atas dasar sumur. Sampel diambil dengan hati-hati agar jangan sampai endapan dasar sumur/sedimen terambil. Sampel dianalisis untuk parameter uji mikrobiologi, untuk itu hindari sekecil mungkin terjadinya kontaminasi pada saat pengambilan dan penanganan sampel sampai ke laboratorium.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: