Home > Kesehatan Lingkungan > TINDAKAN KONTROL LINGKUNGAN OLEH PENDERITA RINITIS ALERGI

TINDAKAN KONTROL LINGKUNGAN OLEH PENDERITA RINITIS ALERGI

Istilah alergi pertama kali dikenalkan oleh Clemens Von Pirquet pada tahun 1906 yang berasal dari kata allos yang berarti lain dan ergos yang berarti kerja, sehingga secara keseluruhan alergi diartikan sebagai adanya reaksi yang menyimpang dalam badan. Adanya penyimpangan reaktivitas yang diperoleh dari hasil penyembuhan suatu penyakit tertentu atau perubahan reaktivitas yang diperoleh akibat pemasukan substansi asing. Perubahan tersebut dapat ditunjukkan dengan didapatkannya antigen-antibodi. Keadaan ini dikenal dengan istilah hipersensitivitas (Paparella dan Shumrick, 1973 cit Darma, 1997). Sedangkan rinitis adalah peradangan pada mukosa hidung dan bisa diklasifikasikan sebagai rinitis alergi (musiman atau tahunan), rinitis infeksi, rinitis hormonal, rinitis idiopatik, NARES (Non Allergic Rhinitis with Eosinophilia Syndrome), rinitis akibat induksi makanan/obat, rhinitis karena pekerjaan, rinitis karena kelainan mukosa. Walaupun patofisiologi dari macam-macam rinitis tersebut belum dikatahui, namun perlu diagnosis yang akurat karena tidak semua jenis rinitis akan berespon terhadap penatalaksanaan yang sama. Rinitis alergi adalah suatu penyakit yang diperantarai oleh Ig-E yaitu berupa reaksi hipersensitivitas tipe I/tipe cepat dengan mukosa hidung sebagai organ sasaran. Yang dimaksud dengan reaksi jenis fase cepat ini adalah reaksi jaringan yang terjadi segera sebagai manifestasi berkontaknya antigen (alergen) dengan antibody. Antigen yang dapat menimbulkan reaksi tipe I ini disebut alergen.

Patofisiologi

Hidung merupakan tempat yang lebih banyak terjadi keluhan dan gejala alergi dibanding tempat yang lain. Hal ini menunjukkan aksi filtrasi yang efektif terhadap alergen dari udara luar yang terhisap. Partikel-partikel yang terperangkap dalam hidung dapat menginduksi pengeluaran molekul-molekul mediator dengan sangat cepat dan gejala-gejala dapat diprovokasi dalam waktu beberapa menit. Patofisiologi rinitis alergi merupakan proses yang kompleks yang melibatkan berbagai jenis sel, mediator inflamasi, sitokin dan molekul adesi. Proses ini merupakan proses imunologik yang secara klinis dinyatakan sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I atau tipe cepat. Reaksi ini segera dihantarkan oleh immunoglobulin-E (Ig-E) yang dinamakan reagin (skin sensitizing antibodies). Reagin dapat ditemukan dalam jaringan-jaringan dan terikat pada sel mast. Dalam darah terikat pada sel mast dan bebas dalam serum. Patofisiologi terjadinya rinitis alergi dapat dibedakan atas immediate rhinitis symptom dan chronic ongoing rhinitis. Pada immediate rinitis symptom reaksi terjadi dalam waktu beberapa menit setelah terjadi paparan ulang dengan alergen yang sama, diperantarai oleh Ig-E yang terikat pada sel mastosit dan basofil. Kemudian terjadi proses degranulasi, dan keluarlah sebagai mediator, antara lain : histamine, leukotrin (LTB4, LTC 4), Prostaglandin (PGD2), bradikinin dan platelet activating factor (PAF), sehingga timbul gejala pilek yang encer, hidung tersumbat, bersin-bersin disertai rasa gatal di hidung, mata, langit-langit maupun telinga akibat efek vasodilatasi, edema, hipersekresi kelenjar. Aferen saraf trigeminus pada mukosa hidung terstimulasi terutama oleh histamine, menimbulkan reaksi refluks dan terjadilah pengeluaran neuropeptide dan menimbulkan reaksi bersin-bersin, pilek dan hidung tersumbat.

Pada chronic ongoing rinitis terjadi akumulasi sel-sel inflamasi, antara lain : limfosit T, eosinofil, basofil, dan neutrofil. Gejala-gejala yang timbul pada fase ini adalah hidung tersumbat pembauan yang menurun, dan hipereaktivitas mukosa hidung terutama terhadap rangsangan yang nonspesifik.

Tanda dan Gejala Klinis Rinitis Alergi

Rinitis alergi biasanya mulai timbul pada masa kanak-kanak dan ditandai dengan adanya gejala obstruksi hidung, sering bersin, rinore, gatal hidung. Bahan mediator seperti histamine dan senyawa vasoaktif lainnya manimbulkan pelebaran pembuluh darah (vasodilator) yang menyebabkan penyumbatan saluran pernapasan hidung dan peningkatan sekresi kelenjar yang mangakibatkan hidung mengeluarkan cairan yang berlebihan (pilek dan rinore), transudasi cairan menyebabkan oedem interstisial. Oedem dan rhinore ini bertanggungjawab terhadap timbulnya bersin dan rasa gatal di hidung. Rasa gatal dapat menjalar pada mata, palatum dan telinga. Rasa gatal pada langit-langit menunjukkan adanya transport alergen pada system mukosiliari ke nasofaring. Rasa gatal pada telinga akibat inervasi dari mukosa pharyngeal dan telinga (glossopharyngeal nerve). Rasa gatal pada mata disertai mata merah dan berair. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya allergic shiners atau warna kehitaman pada daerah infraorbita disertai dengan pembengkakan disebabkan oleh stasis venosa kronik akibat kongesti sinus. Dennie-Morgan lines adalah lipatan horisontal tunggal atau double dibawah mata yang diperkirakan akibat edema kronik. Adanya “allergic salute” atau salam alergi yaitu lipatan hidung transversal akibat gosokan/dorongan ke atas telapak tangan pada hidung yang berulang dan terus menerus hidung untuk mengurangi rasa gatal sehingga akan menimbulkan penebalan dan adanya sukar supuratif pada hidung dan tampak sebagai Nasal crease/Lineanasalis. Pernapasan lewat mulut yang kronik berpotensi menyebabkan hipoplasia fasial. Adenoid Facies/Sad looking face timbul karena pernafasan melalui mulut, mulut menganga dan allergic shiners. Mukosa hidung tampak pucat ke arah kebiru- biruan, edema konka inferior, sekresi mukosa jernih. Pada beberapa kasus rhinitis alergi mukosa hidung tampak kemerah-merahan. Polip hidung mungkin terdapat pada rongga hidung anterior dan biasanya dapat diidentifikasi dengan warnanya yang abu-abu, gambaran anggur terkupas dan kurang peka terhadap sentuhan. Ciri rinitis alergi yang paling penting adalah bahwa tes kulit dan RAST (Radio Allergosorbent Test) hampir selalu positif. Eosinofil seringkali dijumpai dalam sekret. Pemeriksaan radiologik sinus paranasal memperlihatkan gambaran edema ringan sampai sedang dan biasanya tidak disertai adanya cairan.
 

Epidemiologi

Prevalensi rinitis alergi berbeda-beda di masing-masing negara. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan keadaan geografis yang menyebabkan perbedaan jenis dan potensi dari alergen. Meskipun rinitis alergi itu sendiri tidak mengancam kehidupan (kecuali jika disertai asma yang berat atau anafilaksis), namun angka kesakitannya dapat signifikan. Rhinitis alergi sering disertai dengan penyakit lain seperti asma, dan mungkin dapat berhubungan dengan kekambuhan pada asma tersebut. Hal ini mendukung konsep “satu saluran nafas satu penyakit” (One ariway, one disease). Sekitar 25% pasien dengan rinitis alergi memiliki asma dan 75% pasien asma menderita rinitis alergi. Adanya rinitis alergi pada penderita asma secara subtansial akan meningkatkan biaya dalam penatalaksanaan penyakit asma sampai sekitar 50% (Yawn, 1999). Selain itu rinitis alergi juga dapat berhubungan dengan kejadian otitis media, disfungsi tuba eustachii, sinusitis, nasal polip, konjungtivitis dan atopik dermatitis. Rinitis alergi juga dapat mengakibatkan fatigue, malaise, mengantuk, gangguan tidur, kesulitan belajar, mengganggu pekerjaan dan menurunkan prestasi sekolah, kehilangan hari kerja dan hari sekolah, dan kecelakaan lalu lintas. Banyaknya komplikasi dari penyakit ini akan meningkatkan angka kesakitan atau bahkan kematian. Sedangkan biaya untuk rinitis alergi secara keseluruhan baik langsung maupun tidak langsung diperkirakan mencapai 5,3 milyar dolar Amerika per tahun.

Rinitis alergi dapat terjadi pada semua ras dan prevalensinya berbeda pada tiap populasi dan budaya, karena perbedaan faktor genetik maupun geografi. Pada anak-anak, penyakit ini lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan, tetapi pada orang dewasa prevalensinya kurang lebih sama antara laki-laki dan perempuan. Tingkat serangan rinitis alergi banyak terjadi pada anak-anak, remaja dan usia dewasa muda dengan usia rata-rata 8 – 11 tahun, tetapi penyakit ini dapat terjadi pada semua umur. Pada 80% kasus, rinitis alergi berkembang pada usia 20 tahun. Prevalensi rinitis alergi dilaporkan meningkat pada anak-anak mencapai 40% dan menurun seiring dengan bertambahnya usia.
 

Faktor Pencetus Rinitis alergi

a. Alergen

Alergen adalah zat atau substrat protein asing yang bisa menimbulkan atau memperberat gejala alergi. Alergen pada rhinitis alergi dapat berupa tungau debu rumah, serpih kulit manusia, produk hewan piaraan, jamur, kecoa, serbuk bunga/tepung sari.

b. Iritan

Iritan merupakan zat yang dapat mengiritasi saluran pernapasan misalnya : asap rokok, asap kendaraan, parfum, kosmetik, obat nyamuk dan bahan kimia lainnya.
 

Klasifikasi

Para ahli mengklasifikasikan rinitis alergi berdasarkan alergen penyabab dan waktu terjadinya, sebagai berikut :

a. Rinitis alergi tipe musiman (seasonal) yang terjadi hanya selama musim – musim tertentu dan pada waktu yang sama setiap tahunnya dan biasa disebut hay fever. Penyebab yang paling umum pada rhinitis alergi dengan tipe tahunan adalah tepung sari dan rumput liar sehingga gejala alergi ini umumnya terjadi ketika tanaman sedang berbunga. Beberapa jenis jamur juga muncul pada musim-musim tertentu sehingga menimbulkan gejala alergi yang sama.

b. Rinitis alergi tipe tahunan (perennial) yang terjadi sepanjang tahun. Gejalanya dapat lebih berat pada musim dingin dimana orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Penyebab yang paling umum pada rinitis alergi tipe tahunan adalah tungau debu rumah, produk hewan dan jamur.

Klasifikasi rinitis alergi menurut WHO terdiri atas intermiten dan persisten. Gejala rinitis alergi intermiten berlangsung kurang dari empat hari per minggu atau kurang dari empat minggu dalam setahun. Sedangkan rinitis alergi persisten gejalanya berlangsung empat hari atau lebih dalam seminggu atau empat minggu atau lebih dalam setahun. Menurut ARIA (Allergic Rhinitis and It’s Impact on Asthma) rhinitis alergi juga diklasifikasikan berdasarkan berat ringanya penyakit. Ringan jika tidak mempengaruhi pola tidur, aktivitas sehari-hari, pekerjaan atau sekolah dan tidak ada gejala yang mengganggu. Sedang-berat jika mempengaruhi tidur, aktivitas sehari-hari, pekerjaan atau sekolah dan gejalanya sangat mengganggu.
 

Diagnosis

Diagnosis rinitis alergi tidak hanya ditegakkan dengan anamnesis riwayat adanya alergi, tetapi perlu pemeriksaan-pemeriksaan khusus, yaitu pemeriksaan dengan cara in vivo dan in vitro. Dengan cara pemeriksaan pemeriksaan in vivo dan in vitro diagnosis alergi dapat ditegakkan lebih akurat, walaupun dalam hal ini tidak semua bentuk tes dapat dilakukan karena biaya pemeriksaanya mahal.

Diagnosis In Vivo

a. Anamnesis adanya riwayat alergi (The Allergic Quiz).

The Allergic Quiz merupakan daftar pertanyaan yang harus diisi dan diserahkan oleh penderita pada waktu dilakukan tes kulit. Anamnesa ini antara lain meliputi riwayat alergi sebelumnya, riwayat atopi pada keluarga dan riwayat alergen penyebab.

b. Pemeriksaan fisik

Gambaran klasik atau lokalis pada hidung adalah konkha membesar, udem dan pucat, secret jernih dan encer. Pada wajah dapat ditemukan Allergic Salute, Allergic Shinners, Sad looking face, Dennie Morgan Lines dan kemungkinan disertai dengan maloklusi dari gigi. Pada leher terdapat cervical lympadenopati, berhubung ada faktor primer alergi dapat diikuti oleh infeksi sekunder. Pada telinga, dapat ditemukan adanya dizziness, tinnitus, otalgia, otitis media serosa, gangguan pendengaran, infeksi telinga tengah, gatal-gatal pada kanalis akustikus externus. Shambough dalam penelitiannya pada anak-anak menemukan bahawa 75% dari otitis media serosa disebabkan karena alergi.

c. Tes Kulit

Tes kulit pertama kali dilakukan oleh Backley pada tahun 1860 untuk mendiagnosis penyakit alergi musiman. Tes kulit ini kemudian menjadi standar untuk diagnosis penyakit alergi. Tes kulit epidermal yang terdiri dari Tes kulit gores (scratch) dan tes kulit tusuk (prick). Tes kulit gores (scratch test) dilakukan dengan menggunakan alat penggores namun sekarang tes kulit gores tidak dipergunakan lagi karena sering menimbulkan false positif. Sedangkan Tes kulit tusuk (Prick Test) sangat popular, cepat, simple, tidak menyakitkan, relativ aman karena jarang menimbulkan reaksi anafilaktik dan tanda-tanda reaksi sistemik. Ada beberapa obat yang mempengaruhi tes kulit antara lain antihistamin dan kortikosteroid sehingga obat ini harus dihentikan sebelum tes dimulai. Berhubung metabolisme antihistamin berbeda-beda satu dengan yang lain beberapa pendapat menyarankan untuk puasa bebas obat antihistamin dua hari sebelum tes kulit dilakukan, sedangkan untuk astemizol satu bulan, ada juga kotrikosteroid dihentikan selam 6 minggu.

d. Tes Provokasi Hidung

Tes ini dilakukan dengan memberikan alergen langsung ke mukosa hidung, kemudian respon dari organ target tersebut diobservasi. Respon positif yang terjadi yaitu, bersin, sekret hidung dan pembengkakan mukosa hidung. Tingkat respon dihitung dengan gradasi sebagai berikut :

Grade I : ada 2 gejala di atas

Grade II : ada semua gejala dan jumlah bersin <5

Grade III : ada semua gejala dan jumlah bersin >6

Diagnosis In Vitro

a. Cara Morfologi

Caranya dengan malakukan nasal blowing, eosinophilia lokal merupakan salah satu masifestasi dari rinitis alergi dan nasal scraping dilakukan kerokan dari mukosa hidung, dengan pewarnaan Hansel akan terlihat banyak basophil dan neutrophil.

b. Pemeriksaan IgE

IgE total diperiksa dengan metoda Radioimmunosorbent, misalnya Paper Radioimmusorbent (Prist). Pada anak-anak IgE meningkat 96% ditemukan signifikan alergi.

c. Pemeriksaan IgE RAST (Radioallergosorbent Test)

Metode ini digunakan untuk mengukur IgE spesifik dalam serum. Tes ini memerlukan inkubasi antibody pasien dengan antigen dalam konsentrasi tertentu yang terikat pada kertas radioaktif. Saat ini pemeriksaan IgE RAST sering digunakan untuk menunjang diagnosis rinitis alergi. IgE RAST mempunyai spesifitas yang tinggi. Pemeriksaan ini ini dapat juga dimanfaatkan untuk memonitor imunoterapi.
 

Diagnosis Banding

a. Rinitis Infeksi

b. Rinitis Idiopatik. Rinitis ini juga disebut rhinitis vasomotor.

c. NARES (Non Allergic Rhinitis with Eosinophilia Syndrome)

d. Rinitis Hormonal

e. Rinitis akibat Induksi Makanan/Obat

f. Rinitis karena Pekerjaan

g. Rinitis karena kelainan Mukosa
 

Penatalaksanaan

Ada 3 prinsip utama dalam pengobatan rinitis alergi, yaitu :

a. Menghindari alergen (allergen avoidance) melalui tindakan kontrol lingkungan.

Tindakan pertama untuk terapi rinitis alergi adalah menghindari alergen. Tindakan ini dapat merupakan jalan yang efektif terutama untuk rinitis alergi tipe tahunan yang disebabkan indoor alergen seperti debu rumah, tungau debu rumah, jamur, produk dari binatang piaraan. Sedangkan pada rinitis tipe tahunan yang disebabkan oleh alergen outdoor atau alergen diluar rumah seperti tepung sari merupakan alergen yang sulit untuk dihindari karena bercampur dengan udara di atmosfir. Namun pemaparan yang berlebihan dapat dikurangi dengan menghindari kontak dengan rumput liar, menutup jendela kamar di sore hari dan awal pagi hari, memotong rumput di halaman (dilakukan oleh anggota keluarga) dapat mengurangi penyerbukan. Perencanaan aktivitas perlu dilakukan untuk mengurangi kontak dengan allergen di luar rumah. Jumlah tepung sari biasanya mulai meningkat pada 1- 2 jam setelah matahari bersinar, puncaknya pada siang hari dan paling tinggi pada hari-hari yang kering dan banyak angin.

b. Farmakoterapi

Pengobatan secara farmakologis digunakan untuk menekan dan gejala tanda- tanda klinis yang muncul. Antihistamin kelas H1 merupakan obat terpilih yang digunakan untuk rinitis alergik. Obat ini mengganggu kerja histamine dengan menghambat tempat reseptor histamine H1. Antihistamin sampai saat ini ada dua golongan yaitu yang klasik dan baru. Antihistamin klasik atau antihistamin H1 generasi pertama (etanolamin, etilendiamin, fenopiperazin) mempunyai efek antihistamin, antikholinergik (mengurangi sekresi) dan efek sedative. Efek sedative ini akan merugikan pasien karena menyebabkan rasa kantuk dan menurunkan kesiagaan. Antihistamin yang baru atau antihistamin H1 generasi kedua (astemizol, loratadine, cetirizine, terfenadine, oxatomide) menurut Felderman dan Rozen (1987) tidak mempunyai efek sedative. Antihistamin generasi kedua ini bersifat lifofobik sehingga sulit menembus sawar otak dan efeknya pada SSP sangat minimal. Antihistamin lokal (azelastine dan levocoblastine) merupakan perkembangan baru terapi rinitis alergi guna menghilangkan gejala dan untuk profilaksis. Efek samping pemberian topical ini adalah iritasi hidung dan rasa pahit, sedang efek sistemik tidak didapatkan. Kortikosteroid digunakan sebagai antiinflamasi dan dapat menurunkan hiperreaktivitas dari mukosa hidung, dapat diberikan secara topical dangan nasal spray. Dekongestan digunakan untuk mengurangi kongesti nasal.

c. Imunoterapi

Imunoterapi yang juga disebut hiposensitisasi atau desensitisasi dapat diberikan pada pasien rinitis alergi yang berat. Indikasi imunoterapi adalah apabila pemberian obat-obatan tidak efektif mengontrol penyakit, menginduksi berbagai efek samping atau alergen tidak dapat dihindari dengan kontrol lingkungan. Imunoterapi merupakan tindakan untuk mengubah perjalanan alamiah penyakit. Perubahan penurunan reaktivitas dan sensitivitas basofil terhadap alergen dan penurunan reaksi fase lambat. Terapi ini dimulai dengan menyuntikkan ekstrak alergen dengan dosis yang sangat kecil kemudian dinaikkan sedikit demi sedikit sampai mencapai dosis maksimal yang dapat ditoleransi oleh penderita.
 

Peran Perawat pada Penatalaksanaan Rinitis Alergi

Peran perawat yang paling utama pada penatalaksanaan rinitis alergi adalah edukasi. Tujuan dari edukasi pasien adalah agar pasien dapat mengelola penyakitnya dengan baik dan mampu memperthankan aktivitas sehari-hari. Pendidikan tersebut dapat mencakup hal-hal berikut : pengetahuan tentang faktor pemicu dan mekanismenya agar dapat dihindari dan dikontrol serta bagaimana cara menghindari ataupun mengontrolnya, memahami alasan dan pilihan pengobatan, mengetahui cara penggunaan obat dan efek samping dari pengobatan dan pengetahuan tentang cara mengelola masalah kesehatan di rumah dan di tempat kerja. Istirahat tambahan selama fase akut atau kekambuhan dapat membantu mengembalikan keadaan pasien seperti sediakala. Tambahan pemasukan cairan dan diet yang seimbang membantu mendukung daya tahan tubuh dan kecepatan penyembuhan. Olahraga secara teratur perlu dianjurkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Terapi tambahan dapat dilakukan melalui nasal washes yaitu mencuci hidung dengan air garam hangat yang berguna untuk membersihkan lendir, membersihkan alergen dari permukaan mukosa hidung dan mengurangi pembengakakan (Vallez, 2005).
 

Kontrol Lingkungan pada Penyakit Rhinitis Alergi

Banyak substansi yang beterbangan di udara sekitar yang dapat memacu timbulnya reaksi alergi. Begitu juga dengan polutan di lingkungan juga dapat memicu ataupun memperburuk gejala alergi melalui mekanisme non-imun. Sebagai contoh, bersin dan rasa gatal pada hidung dan mata yang dapat disebabkan oleh reaksi alergi terhadap tepung sari dan serpih kulit binatang, juga dapat disebabkan oleh iritan seperti asap rokok, asap kendaraan dan parfum. Bahan-bahan iritan ini juga dapat memperburuk reaksi alergi pada mata atau saluran pernapasan yang sudah ada sebelumnya.

Tujuan dari kontrol lingkungan adalah untuk menghindari dan mengurangi kontak dengan alergen atau iritan yang dapat menyebabkan atau memperburuk gejala alergi pada pasien. Menurunkan paparan alergen dapat mengurangi obstruksi nasal pada pasien rinitis. Kontrol lingkungan yang tepat pertama adalah dengan mengidentifikasi faktor pencetus. Seringkali pasien atau orangtua pasien tidak menyadari adanya alergen dan iritan. Tindakan pertama untuk mengidentifikasi factor pencetus di lingkungan adalah dengan mengetahui tempat dimana gejala mulai terjadi (rumah, sekolah, tempat kerja, tempat liburan, rumah teman) dan kapan terjadinya (jam, minggu, bulan atau tahun). Kunjungan ke rumah pasien, sekolah atau tempat kerja dapat mengungkapkan faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi keadaan pasien seperti keadaan sekitar tempat tinggal, dekat dengan pabrik atau daerah industri, adanya binatang piaraan, ruangan yang pengap, ruang tidur yang berantakan, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dapat menjadi informasi tambahan yang akan membantu tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang kontrol lingkungan. Tindakan kontrol lingkungan haruslah rasional, berdasarkan pengetahuan pada sensitivitas, keadaan fisik, psikologis dan finansial dari pasien dan keluarganya. Tindakan kontrol lingkungan yang dianjurkan meliputi :

a. Tungau debu rumah

Faktor utama yang paling penting dalam program kontrol lingkungan adalah menghindari alergen tungau debu rumah. Dengan menghindari ataupun mengeliminasi tungau debu rumah akan mengurangi gejala asma, eczema dan rhinitis alergi (Custovic et al, 1998). Program untuk mengontrol tungau debu rumah dapat dengan mudah diterima dan dilaksanakan oleh pasien (Walshaw dan Evans, 1986). Tungau debu rumah (Dermatophagoides pteronyssinus) merupakan famili Acaridae mirip dengan laba-laba. Panjangnya sekitar 0,3 mm, memakan serpih kulit manusia dan ditemukan pada tempat-tempat yang berdebu dan tempat dengan tingkat kelembaban yang tinggi. Tumbuh dengan subur pada temperature 21°C (70°F) dan kelembaban relative 70 %. Tempat-tempat dalam rumah yang paling banyak terdapat tungau debu rumah antara lain : karpet, bantal, kasur, seprei, binatang piaraan, pakaian dan pelapis mebel. Ruang tidur, terutama tempat tidur merupakan area utama untuk melaksanakan tindakan kontrol terhadap tungau debu rumah. Tanpa tindakan kontrol lingkungan, seseorang akan terpapar oleh alergen tungau debu rumah dalam jumlah banyak pada saat tidur. Tindakan kontrol terhadap tungau debu rumah dapat dilakukan sebagai berikut :

1) Melapisi kasur dan bantal dengan vinyl atau pelapis yang semipermeable.

Bila mungkin gunakan kasur dari busa. Kasur dan bantal yang tidak dilapisi dengan bahan semipermeable harus sering dicuci atau diganti. Kamar tidur berisi barang-barang seperlunya saja, tidak ada gantungan pakaian, rak buku, rak sepatu atau meletakkan pakaian dan buku didalam laci atau lemari.

2) Boneka ataupun mainan-mainan yang tidak dapat dicuci harus dipindahkan atau diganti dengan mainan lain yang dapat dicuci.

3) Mencuci semua perlengkapan tidur (seprai, sarung bantal, selimut ) setiap satu atau dua minggu dengan air panas dengan suhu 54,4°C (130°F) untuk membunuh tungau debu rumah dan mengeliminasi produknya. Melapisi kasur dan bantal dan mencuci semua perlengkapan tidur dapat mengurangi paparan alergen dari tungau debu rumah 100-1000 kali dalam sebulan.

4) Menggunakan alat pengering udara (dehumidifier) atau alat pendingin ruangan (air conditioner) untuk menciptakan tingkat kelembaban dalam rumah dibawah 50 persen.

5) Memindahkan karpet/permadani terutama pada ruang tidur atau gunakan karpet anti-tungau debu rumah.

6) Gunakan HEPA (High Efficiency Particulate Air) untuk mengeliminasi alergen di udara.

7) Gunakan masker penutup hidung dan mulut saat membersihkan ruangan atau saat melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari.

8) Gunakan mebel/furniture dari bahan kayu, vynil atau kulit.

9) Menggunakan tirai/gorden yang dapat dicuci.

10) Menghindari atau mengurangi pajangan di dinding yang berpotensi mengumpulkan debu.

b. Hewan peliharaan

Hewan peliharaan seperti kucing, anjing, binatang pengerat dan unggas dapat menimbulkan permasalahan khusus bagi penderita alergi. Semua binatang berdarah panas menghasilkan alergen yang potensial pada serpih kulit, air seni, tinja, air liur. Orang yang sensitive terhadap serpih kulit binatang memiliki resiko tinggi untuk berkembang menjadi alergi dan akan menyebabkan kekambuhan pada penderita alergi jika terpapar oleh alergen ini (Dykewicz, et al. 1998). Pemaparan terhadap alergen binatang khususnya kucing dapat menimbulkan sensitisasi, tetapi menghindari binatang piaraan sejak awal masa kanak-kanak saat ini tidak dianjurkan karena ada penelitian menunjukkan bahwa menghindari pemaparan terhadap binatang piaraan pada awal masa kanak-kanak merupakan resiko berkembangnya penyakit alergi. Tindakan kontrol lingkungan yang dapat dilakukan untuk menghindari atau mengurangi pemaparan terhadap alergen dari binatang piaraan adalah :

1) Meniadakan binatang piaraan, jika tidak memungkinkan maka binatang piaraan harus memiliki rumah sendiri atau menjaga agar binatang piaraan tetap berada di luar rumah.

2) Jangan pernah membiarkan binatang piaraan masuk ke kamar penderita alergi.

3) Memandikan binatang piaraan setiap minggu dapat mengurangi alergen serpih kulitnya dan air liur yang mengering.

c. Jamur

Jamur terdapat dimana mana baik di tanah, tumbuh pada berbagai macam tanaman maupun pada tumbuhan yang membusuk. Tumbuh dengan subur pada area rumah yang lembab seperti di ruangan bawah tanah atau di ruang-ruang yang kecil, di bawah lapisan karpet yang lembab, di kamar mandi khususnya pada shower stalls, di jendela-jendela pada udara lembab, di dalam ruang tempat penyimpanan, di dalam alat pelembab udara dan alat penguap. Gejala alergi yang disebabkan oleh jamur dapat terjadi sepanjang tahun maupun musiman, tetapi sebagian besar adalah musiman. Spora jamur yang beterbangan di udara merupakan alergen yang utama. Gejala alergi dapat lebih berhubungan dengan sensitivitas terhadap jamur dibandingkan dengan sensitivitas terhadap tepung sari yang sama-sama terdapat pada halaman rumput. Jamur terkenal sebagai alergen yang menyebabkan rinitis alergi pada anak yang menderita asma.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari atau mengeliminasi jamur adalah sebagai berikut :

1) Membersihkan daerah-daerah yang lembab di dalam rumah seperti : kamar mandi terutama bak mandi, shower dan dapur serta di tempat-tempat jamur tumbuh pada waktu – waktu tertentu dengan menggunakan larutan pembersih yang mengandung chlor (chlorine bleach solution) atau penghambat pertumbuhan jamur. Pembersihan ini harus dilakukan sedikitnya tiap bulan sekali. Mengurangi tingkat kelembaban adalah jalan yang paling efektif untuk mengeliminasi jamur. Peningkatan ventilasi, penggunaan alat pengering udara atau meningkatkan kontak dengan matahari dapat membantu mengurangi pertumbuhan jamur.

2) Tidak menempatkan tanaman hidup di dalam rumah.

Iritan adalah zat-zat yang dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga dapat mencetuskan ataupun memperberat gejala rinitis alergi seperti asap rokok dan bahan kimia lainnya seperti parfum, obat nyamuk, gas buang kendaraan bermotor. Asap rokok merupakan iritan yang paling umum ditemukan dan dapat memperburuk permasalahan pada saluran pernapasan atas maupun bawah (Lim, 1973). Pemaparan terhadap asap rokok baik aktif maupun pasif berhubungan dengan penurunan fungsi paru, peningkatan biaya pengobatan dan ketidakhadiran di tempat kerja. Bahan-bahan kimia seperti parfum, obat nyamuk serta gas kendaraan juga dapat memperburuk penyakit alergi saluran pernapasan baik sebagai alergen maupun iritan. Oleh karena itu sangat penting untuk menghindari dan meminimalisasi kontak langsung maupun tidak langsung terhadap bahan-bahan tersebut.

Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: