Home > Kesehatan Lingkungan > PERSEPSI TERHADAP KESEHATAN LINGKUNGAN DAN MOTIVASI PRODUKSI BERSIH DENGAN PERILAKU MENGELOLA SAMPAH

PERSEPSI TERHADAP KESEHATAN LINGKUNGAN DAN MOTIVASI PRODUKSI BERSIH DENGAN PERILAKU MENGELOLA SAMPAH

Perilaku merupakan refleksi dari berbagai kejiwaan seperti keinginan, minat, pengetahuan, emosi, berfikir, sikap, motivasi dan sebagainya. Bila ditelusuri lebih lanjut maka gejala kejiwaan yang tercermin di dalam tindakan atau perilaku manusia tersebut antara lain adalah pengalaman, keyakinan, sarana-sarana fisik, budaya masyarakat. Bila dihubungan dengan perilaku mengelola sampah dapat diuraikan sebagai berikut: perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan yang dilakukan dengan mengelola sampah sebagai wujud dari kebersihan lingkungan.

Menurut Sudibyo (2006), perilaku adalah segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan oleh seseorang. Antara pelaku dan aksi terdapat hubungan yang implisit, sehingga perilaku dapat diubah melalui proses belajar. Sikap mempunyai pengaruh penting terhadap perilaku. Sikap tidak dapat diamati secara langsung tetapi sikap hanya dapat diraba melalui perilaku. Perilaku merupakan salah satu aspek dari perkembangan anak yang memancarkan kondisi psikisnya dalam kehidupan sehari-hari. Triyadi (2006) menyatakan bahwa perilaku yang baik adalah perilaku yang tidak merugikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain, misalnya sopan, ramah, jujur, rendah hati, bertanggung jawab dan sebagainya. Secara psikologis, diakui adanya individual differences, artinya setiap individu berbeda, baik dalam fisik, psikis maupun perilakunya. Oleh karena itu, tidak ada manusia yang sama persis, walaupun mereka saudara kembar. Pasti ada perbedaannya walaupun sedikit.

Perilaku adalah suatu kemampuan yang bukan bersifat bawaan, melakukan diperoleh lewat latihan. Dengan demikian tingkah laku yang baik dapat dilatihkan kepada setiap anak, dan tentu saja latihan akan mendapatkan hasil yang lebih baik, dalam hal ini perilaku mengelola sampah. Menurut Kurniawan (2002), perilaku dipengaruhi oleh berbagai faktor individual, seperti kecakapan, kepribadian, persepsi dan pengalaman. Karakteristik perilaku adalah perilaku adalah akibat, perilaku diarahkan oleh tujuan, perilaku dapat diamati dan diukur, perilaku dapat dimotivasi. Menurut Soewarta (2008) perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan artinya perilaku umumnya di motivasi oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu.

Putra (2008) menyebutkan bahwa bentuk dari operasional perilaku dapat dikelompokkan dalam tiga jenis yaitu : 1) Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yakni dengan mengetahui situasi atau rangsangan dari luar, 2) Perilaku dalam bentuk sikap, yakni tanggapan batin terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri subjek, dan 3) Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit, berupa perbuatan atau aksi terhadap situasi atau rangsangan dari luar. Pratiwi (2010) mengemukakan bahwa kemungkinan seseorang akan berbuat sesuatu tergantung pada hasil perpaduan dari keinginan bahwa kegiatan yang dilakukan akan bisa mencapai tujuan yang diinginkan , pentingnya tujuan tersebut menurut yang bersangkutan dan sarana maupun usaha yang diperlukan.

Menurut Ratih (2006) perilaku manusia dapat diukur melalui tiga ranah, yaitu: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (praktek). Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman. Pengetahuan merupakan domain yang penting, sehingga seseorang yang melakukan tindakan perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif terdiri atas enam tingkatan yaitu : a) Tahu (know) sebagai tingkatan yang paling rendah, b) Memahami (comprehension) adalah kemampuan untuk menjelaskan secara benar, c) Aplikasi (application) adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya, d) Analisis (analysis) adalah kemampuan untuk menjabarkan materi/objek ke dalam komponen-komponen, e) Sintesis (synthesis) adalah kemampuan untuk meletakkan atau menghubungakan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru ataupun menyusun suatu formula, dan f) Evaluasi (evaluation) adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi. Sikap (attitude) merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.

Menurut Handayani (2010), sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Sikap masih bersifat tertutup, tidak dapat dilihat langsung dan belum terwujud, Menurut Mulyono (2005), sikap terdiri terdiri dari beberapa tingkatan, Yaitu :

a) Menerima (receiving), artinya bahwa orang atau subjek mau memperhatikan stimulus atau objek yang diberikan, b) Merespon (responding) artinya bahwa orang akan memberi jawaban bila ditanya atau mengerjakan/menyelesaikan tugas yang diberikan, c) Menghargai (valuing) artinya bahwa orang mau mengajak orang lain untuk mendiskusikan atau mengerjakan sesuatu hal, dan d) Bertanggung jawab (responsible) sebagai tingkatan sikap yang paling tinggi dimana orang bertanggung jawab atas suatu hal yang sudah dipilihnya dengan segala risiko.

Menurut Handayani (2010) sikap atau attitude adalah pernyataan evaluatif positif atau negatif tentang objek, orang ataupun peristiwa. Sikap terdiri atas tiga komponen yaitu: a) Komponen kognitif yang berisi persepsi, pendapat/ide kepercayaan terhadap seseorang/objek, b) Komponen afektif yaitu emosi atau perasaan, dan c) Kecenderungan untuk bertindak. Proses pembentukan sikap menurut Eviandaru (2003) berlangsung secara bertahap, kemampuan untuk bersikap diperoleh melalui proses belajar. Perubahan sikap bisa berupa penambahan, pengalihan atau modifikasi dari satu atau lebih dari ketiga komponen sikap dengan kemungkinan satu atau dua komponen sikap berubah tetapi komponen yang lain tetap. Praktek atau tindakan suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Terbentuknya suatu perilaku baru dimulai dari domain kognitif, yaitu si subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi, sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap. Akhirnya, objek yang telah diketahui dan didasari sepenuhnya akan menimbulkan respon berupa tindakan (praktek).

Menurut Pratiwi (2010), perilaku manusia cenderung bersifat holistik (menyeluruh) dari tiga aspek, yaitu: fisiologi, psikologi dan sosial yang saling mempengaruhi dan sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu, faktor penentu/ determinan perilaku sulit dibatasi, karena perilaku merupakan resultante dari berbagai jenis faktor, baik internal maupun eksternal. Bila masalah perilaku ini dianalisis lebih lanjut, maka terdapat faktor lain yang secara tidak langsung turut berpengaruh. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah pengetahuan/ pengalaman, keyakinan, fasilitas, dan sosial budaya.

Notoatmodjo (2003) telah memberikan batasan tentang pengertian perilaku sebagai suatu aktivitas pada manusia, baik yang dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung seperti berfikir, persepsi dan emosi. Perilaku adalah hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon). Menurut Budi (2001), perilaku manusia (human behavior) sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Karakter individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar dari pada karakteristik individu Green (2000) mengemukakan pendapat Gerace bahwa komponen perilaku dapat dilihat dalam dua aspek perkembangan penyakit. Pertama, perilaku mempengaruhi faktor penyakit tertentu, faktor risiko adalah ciri kelompok individu yang menunjuk mereka sebagai at high risk terhadap penyakit tertentu Kedua, perilaku itu sendiri dapat berupa faktor risiko, sebagai contoh petugas pengangkut sampah yang bekerja tanpa memakai alat pelindung diri seperti sarung tangan, alat pengumpul sampah dan lain-lain dianggap sebagai faktor risiko untuk terpapar penyakit yang disebabkan oleh sampah

Menurut Oktarina (2009), perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain perilaku merupakan respon reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Perilaku aktif dapat dilihat (overt), sedangkan perilaku pasif tindakan tidak nampak (convert), seperti misalnya pengetahuan, persepsi dan motivasi Mila (2006) mendefinisikan perilaku sebagai suatu respon individu terhadap stimulus baik yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya.

Perilaku ini dibagi dalam tiga jenis yaitu : 1) Perilaku ideal (ideal behavior), perilaku ini merupakan tindakan yang bisa diamati yang menurut para ahli perlu dilakukan oleh individu atau masyarakat untuk mengurangi atau membantu memecahkan masalah, 2) Perilaku yang sekarang, perilaku ini dapat diidentifikasi dengan observasi dan wawancara di lapangan. Perilaku ini merupakan yang dilaksanakan pada saat ini dan, 3) Perilaku ini diharapkan bisa dilaksanakan oleh sasaran oleh karena itu disebut juga target behavior Menurut Panjaitan (2010), perilaku memiliki tiga domain atau bidang. Ketiga bidang domain tersebut adalah: 1) cognitive domain (bidang pengetahuan), 2) affective domain (bidang sikap), dan 3) psychomotoric domain (bidang praktek/tindakan). Masing-masing mempunyai tingkat kemampuan (level of competency).

Domain pengetahuan adalah perilaku terjadi karena pertumbuhan perkembangan bakat, belajar/pengalaman. Pengetahuan atau kognitif ini merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Domain sikap adalah perilaku, dibentuk oleh tiga komponen pokok yaitu berpikir, keyakinan dan emosi. Domain praktek atau tindakan adalah wujud dari sikap menjadi perbuatan nyata yang memerlukan faktor pendukung. Handayani (2010) mengatakan bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan), Perilaku aktif dapat dilihat (overt), sedangkan perilaku pasif tidak dapat dilihat (covert),seperti misalnya pengetahuan, persepsi dan motivasi.

Menurut Soewarta (2008), proses pembentukan dan perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, Faktor internal tersebut meliputi kecerdasan, persepsi, motivasi , minat, emosi dan sebagainya untuk mengolah pengaruh-pengaruh dari luar. Faktor eksternal meliputi objek, orang, kelompok dan hasil-hasil kebudayaan yang dijadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilakunya. Kedua faktor tersebut akan dapat terpadu menjadi perilaku yang selaras dengan lingkungannya apabila perilaku yang terbentuk dapat diterima oleh lingkungannya, dan dapat diterima oleh individu yang bersangkutan.

Faktor yang dapat mempengaruhi perilaku menurut Mulyono (2005), tindakan maupun sikap manusia adalah gabungan dari berbagai faktor yang ada dalam kehidupan seseorang. Faktor tersebut adalah pendidikan, penghasilan, keadaaan sosial budaya, norma atau nilai-nilai serta pengalaman sejak kecil. Menurut Sasongko (2005), manusia sebagai individu membutuhkan unsur yang diperlukan agar bisa melakukan sesuatu adalah yaitu : 1) Pengertian atau pengetahuan (knowledge) tentang yang akan dilakukan (cognitive), 2) Sikap (affective), yaitu keyakinan atau kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari yang akan dilakukan (attitude yang positif); 3) Sarana yang diperlukan untuk melakukannya, dan 4) Dorongan atau motivasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakan. Pada kenyataannya, hubungan antara unsur-unsur perilaku tersebut tidak sepenuhnya seperti yang telah dijelaskan, yaitu pengetahuan dan sikap yang positif tidak selalu diikuti oleh tindakan,

Namun demikian, jika menghendaki suatu perilaku melembaga atau lestari jelas diperlukan pengetahuan dan sikap yang positif tentang yang akan dikerjakan. Pratiwi (2010) menyebutkan bahwa perilaku manusia secara individu, kelompok masyarakat dan komunitas, dapat dipengaruhi oleh faktor persiapan, faktor pemungkin dan faktor pendorong. Strategi pendidikan dan organisasinya yang memungkinkan untuk dipekerjakan dalam program promosi kesehatan untuk menghasilkan perubahan perilaku dan lingkungan yang mendukung memiliki tiga faktor sebagai: 1) Faktor persiapan (predisposing factors), meliputi pengetahuan individu, sikap, sosiodemografi, tradisi, kepercayaan, norma sosial, persepsi serta unsur-unsur lain yang terdapat didalam diri individu dan masyarakat yang memfasilitasi atau menunda motivasi atas perubahan, 2) Faktor pemungkin atau pendukung (enabling fakctors) adalah keterampilan, sumber daya atau rintangan yang bisa membantu perubaha- perubahan perilaku yang dikehendaki seperti juga perubahan lingkungan, dan 3) Faktor pendorong (reinforcing factors), yaitu penghargaan yang diterima dan umpan-balik lainnya berikut adopsi perilaku, mungkin mendukung atau melemahkan keseimbangan perilaku.

Terbentuknya perilaku baru, terutama pada orang dewasa menurut Pratiwi (2010) dimulai pada domain kognitif dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek di luarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap subjek terhadap objek yang diketahui tersebut. Akhirnya, rangsangan yakni objek yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi, yaitu berupa tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus atau objek tersebut. Namun demikian, d idalam kenyataannya, stimulus yang diterima oleh subjek dapat menimbulkan tindakan. Artinya, seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa mengetahui terlebih dahulu makna stimulus yang diterimanya. Dengan kata lain, tindakan (practice) seseorang harus didasari oleh pengetahuan atau sikap.

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Agnes (2002) mengemukakan bahwa komponen kognitif merupakan representasi yang dipercaya oleh individu. Menurutnya, komponen kognitif berisi persepsi dan kepercayaan yang dimiliki individu mengenai sesuatu kepercayaan datang dari yang telah dilihat, kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan telah terbentuk, akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai yang dapat diharapkan dari objek tertentu. Namun kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak terlalu akurat.

Kadang-kadang kepercayaan tersebut terbentuk justru dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan (opini), terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang kontroversial. Perubahan perilaku, menurut Sudibyo (2006), yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, akan bersifat lenggeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama. Sebagai contoh, misalnya para siswa SMA yang selalu diingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya, selalu mencuci tangan sebelum makan, disarankan untuk memakai pelindung diri saat bekerja di laboratorium atau bengkel, tanpa adanya pengetahuan akan makna dan tujuan dari kebiasaan hidup sehat, siswa tersebut hanya beberapa saat saja mematuhi saran atau peraturan tersebut. Sikap (attitude) merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek.

Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap seseorang. Menurut Handayani (2010), sikap merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek. Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksudkan merupakan kecenderungan potensi untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon. Ratih (2006) mengatakan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok, yaitu: 1) kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek, 2) kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu subjek, dan 3) kecenderungan untuk bertindak (trend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Suatu contoh, misalnya siswa yang sudah mendapatkan atau mendengar tentang risiko sampah, akan berpikir dan berusaha supaya tidak terserang penyakit akibat pengaruh sampah. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja/aktif, sehingga para siswa berniat untuk melakukan pencegahan. Dengan demikian, para siswa mempunyai sikap tertentu terhadap objek yang berupa pengaruh sampah. Praktek atau tindakan (practice), merupakan komponen kognitif dalam struktur sikap yang menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Komponen perilaku berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-caratertentu. Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan kognitif. Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berfikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Perilaku aktif dapat dilihat (overt), sedangkan perilaku pasif tidak dapat dilihat (covert), seperti misalnya pengetahuan, persepsi dan motivasi.

Mengelola Sampah

Menurut Husodo (2006), mengelola sampah adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meniadakan atau paling tidak memperkecil dampak sampah terhadap lingkungan, sehingga pencemaran lingkungan dapat dihindarkan. Pengelolaan sampah di perkotaan (urban solid waste management) di Indonesia terdiri dari dua sistem. Pertama sistem pengelolaan sampah secara formal yang di dalamnya meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) perwadahan sampah, yaitu cara menampung sementara sampah di tempat sampah secara individu di masing-masing rumah, (2) pemindahan sampah, yaitu tahap pemindahan sampah hasil pewadahan ke dalam tempat pengumpulan sampah di depan rumah ke alat pengangkut untuk dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS) sampah, (3) pengangkutan sampah, yaitu tahap membawa sampah dari lokasi pemindahan atau langsung dari sumber sampah menuju tempat pembuangan sampah sementara (TPS) sampah, dan (4) pengolahan sampah, yaitu suatu upaya untuk mengurangi volume atau mengubah bentuk menjadi yang bermanfaat, antara lain dengan cara pembakaran, pengomposan (dengan tong komposter), pemadatan, penghancuran, pengeringan dan pendaurulangan. Kedua, sistem pengelolaan sampah informal, terbentuk oleh adanya kebutuhan untuk survive dari sebagian kecil masyarakat kota di tengah transisi ekonomi desa ke ekonomi kota. Masyarakat secara tidak sadar ikut berperan serta dalam memelihara kebersihan kota, yaitu para pemulung sampah dan pengusaha industri daur ulang. Sistem ini memandang sampah sebagai sumber daya ekonomi dengan kegiatan-kegiatan antara lain, pemungutan, pemilihan dan penjualan sampah anorganik dan organik yang masih memiliki nilai untuk daur ulang (Anastasia, 2006). Oleh karena itu, pengelolaan sampah harus dilakukan dengan baik. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pada umumnya masyarakat masih seenaknya membuang sampah bukan pada tempatnya, masih banyak sampah berserakan dan dibuang di sembarang tempat di sekitar rumah terutama pada daerah ketinggian atau perbukitan yang tidak dapat dijangkau oleh petugas kebersihan. Bahkan kadang-kadang masyarakat membuang sampah di saluran air atau got atau kebun.

Menurut Rahardyan (2006), pengelolaan sampah menjadi polemik berkelanjutan di masyarakat dalam masalah manajemen pengelolaan sampah yang dikelola oleh Dinas Kebersihan dan juga masalah tempat pembuangan sementara/akhir yang sudah tidak memadai untuk menampung sampah, terutama frekuensi pengangkutan sering terlambat karena kurangnya armada pengangkut sampah, sehingga menumpuk di tempat penampungan sementara di beberapa titik. Belum lagi daerah yang penduduknya padat dan jalan-jalan sempit belum dapat dijangkau oleh armada pengangkut sampah. Keadaan ini menyebabkan penduduk membuang sampah di sembarang tempat, seperti di sungai, tanah-tanah kosong, kebun, terutama sampah padat seperti kaleng-kaleng bekas, air mineral gelas plastik, dan sebagainya, yang dapat menampung air, sehingga berpotensi sebagai tempat berkembang biak nyamuk.

Di samping itu, dalam pengelolaan sampah rumah tangga masyarakat belum melakukan pemisahan jenis sampah (sampah organik dan anorganik), terutama sampah anorganik yang berpotensi sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Upaya pengelolaan sampah rumah tangga yang diterapkan oleh keluarga untuk mengendalikan tempat berkembangnya nyamuk Aedes aegypti menurut Agustian (2006) antara lain: sampah padat seperti kaleng, botol, ember, atau benda tak terpakai lainnya dibuang dan dikubur dalam tanah, peralatan rumah tangga (ember, mangkok dan alat penyimpanan tanaman) harus disimpan dalam kondisi terbalik. Pengisian pasir, tanah pada rongga pagar di sekeliling rumah, botol, kaca, kaleng dan wadah lainnya (batok kelapa, pelepah kakao) harus dilakukan dengan benar dan ban-ban bekas yang tidak digunakan harus dikumpulkan dan diletakkan dalam keadaan kering serta terlindung dari air hujan atau didaur ulang atau dibuang. Pengelolaan sampah rumah tangga selama ini masih banyak yang bersifat tradisional. Seperti penggunaan bak sampah untuk sampah rumah tangga. Bak sampah ini biasanya dapat digunakan untuk membuang kotoran seperti daun, plastik atau kertas. Pembakaran kotoran dari sampah untuk bak yang dibuat dari kayu diambil lebih dahulu, kemudian dibakar di tempat lain. Sampah kompleks perumahan biasanya diambil dengan gerobak sampah/truk sampah dan dibuang ke tempat lain. Dapat juga dibuat dengan bahan yang lebih baik, bisa dari kayu bekas/batu bata atau bisa juga dari porselin. Bak dari kayu lebih sederhana tetapi kotoran tidak dapat dibakar, karena bak akan terbakar. Bak yang dari batu bata, kotorannya bisa dibakar. Agar kayu di bagian bawah tidak terkena rayap dapat dibuatkan kaki. Begitu pula pada bak batu bata, agar mudah memindahkan bak.

Menurut Santi (2005), pengelolaan sampah mempunyai pengaruh terhadap masyarakat dan lingkungan, yaitu: 1) pengaruh negatif, yaitu sampah bisa memberikan tempat tinggal bagi vektor penyakit, seperti serangga, tikus, cacing dan jamur. Oleh karena itu, menurut Suharjo (2002) pengelolaan sampah perlu dilakukan dengan benar, banyak vektor yang dapat menimbulkan penyakit antara lain: Insect borne disease. Lalat antara lain : (diare, kolera, tipus) nyamuk: (DHF/dengue hemorchange fever); Rodent borne disease pest, murine types.: vektor jamur, penyakit kulit dan kandidiasis, vektor cacing gelang dan cacing kremi, 2) aspek lingkungan, estetika lingkungan, penurunan kualitas udara dan pembuangan sampah ke badan air akan menyebabkan pencemaran air, dan 3) aspek sosial masyarakat: pengelolaan sampah yang kurang baik dapat mencerminkan status keadaan sosial masyarakat, keadaan lingkungan yang kurang saniter dan estetis akan menurunkan hasrat turis untuk berkunjung.

Menurut Handoyo (2003), sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga, sampah tersebut berupa: 1) Sampah basah, yaitu sampah yang terdiri dari bahan-bahan organik, mudah membusuk, sebagian berupa sisa makanan, potongan hewan, hewan dan sayuran, 2) sampah kering, yaitu sampah yang terdiri dari logam seperti besi tua kaleng bekas dan sampah kering yang non logam, misalnya kertas, kayu, kaca, keramik, batu-batuan dan sisa kain, 3) Sampah lembut, misalnya sampah debu yang berasal dari penyapuan lantai rumah, gedung, perajin kayu, dan abu yang berasal dari sisa peralatan dapur, dan 4) Sampah besar atau sampah yang terdiri dari gabungan sampah rumah tangga yang besar-besar seperti meja , kursi, kukas, TV, radio dan peralatan dapur.

Husodo (2006) menjelaskan bahwa jenis sampah dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu: 1) Sampah organik mudah busuk (garbage). Sampah organik mudah busuk adalah limbah padat semi basah berupa bahan organik yang pada umumnya berasal dari pertanian atau makanan misalnya, kulit buah-buahan. Sampah jenis ini memiliki sifat mudah terurai karena mata rantai yang relatif pendek, 2) Sampah organik tak busuk (rubbish), limbah padat organik yang cukup kering yang sulit terurai oleh mikroorganisme sehingga sulit membusuk. Resistensi disebabkan oleh sifat sampah yang memiliki mata rantai yang panjang dan kompleks. Contoh sampah ini adalah selulosa dan kertas plastik, 3) Sampah abu (ashes),yaitu limbah padat yang berupa abu-abuan, seperti hasil pembakaran, sampah ini mudah terbawa angin karena ringan, tetapi tidak mudah busuk, 4) Sampah bangkai binatang (death animal), yaitu limbah padat berupa binatang yang sudah mati, seperti tikus, ikan anjing, dan binatang ternak yang telah menjadi bangkai. Limbah ini relatif sedikit, akan tetapi jika terjadi bencana alam, misalnya gunung meletus, atau kekeringan yang mematikan binatang-binatang di sekitarnya, maka sampah ini menimbulkan masalah, karena mudah membusuk dan baunya sangat menusuk, 5) Sampah sapuan (street sweeping), yaitu limbah padat hasil sapuan dan jalanan yang berisi berbagai jenis sampah yang tersebar di jalanan, seperti dedaunan, plastik dan kertas, dan 6) Sampah industri (industrial waste), yaitu semua limbah padat buangan industri. Limbah ini sangat tergantung dari jenis industrinya. Semakin banyak industri yang berdiri, akan semakin banyak dan beragam limbahnya. Sutjahyo (2006) menyatakan bahwa sampah dapat menimbulkan bahaya atau gangguan terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Adapun berbagai dampak yang ditimbulkan oleh sampah menurut Ismanto (2006) antara lain: a) Sampah dapat menyebabkan pencemaran udara, misalnya bau busuk, asap dan sebagainya. Kondisi tersebut mengakibatkan lingkungan sekitar permukaan menjadi tidak nyaman, sehingga secara tidak langsung akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Masyarakat akan mudah terserang penyakit, seperti sakit perut dan muntaber, b) Pencemaran air, Sampah juga dapat menimbulkan pencemaran air, permukaan air dan tanah karena pembusukan sampah oleh air hujan. Di samping itu, sampah dapat menyumbat saluran air dan got sehingga menimbulkan banjir. Kondisi tersebut mengakibatkan banyak sumber air untuk keperluan sehari-hari dalam suatu lingkungan pemukiman terkontaminasi dan mengakibatkan penurunan tingkat kesehatan penduduk, c) Menurunnya tingkat kesehatan penduduk, Dampak sampah terhadap penurunan tingkat kesehatan penduduk adalah tersebarnya jenis penyakit seperti penyakit kulit, perut, dan penyakit-penyakit lainnya. Dengan kata lain, semakin banyak tumpukan sampah di suatu tempat, akan semakin tinggi pula risiko masyarakat terkena gangguan penyakit-penyakit tertentu. d) Kecelakaan. Sampah, juga dapat menyebabkan kecelakaan misalnya terkena pecahan kaca, paku dan lain-lain. Selain itu dapat juga menyebabkan kebakaran, gangguan asap yang dapat mengganggu dan membahayakan arus lalu lintas dan, e) Penurunan keindahan. Sampah selain dapat menyebabkan pencemaran, penurunan kesehatan penduduk, dan kecelakaan, juga dapat mengganggu keindahan. Sampah yang tercecer dan tidak dibuang pada akan mengganggu keindahan tempat sekitarnya. Menurut Mimien (2003), masalah sampah telah membawa akibat berantai bagi pencemaran lingkungan di Malang dan juga bagi kota-kota lain di Indonesia berupa : (1), bau busuk yang mengganggu warga kota yang berada di dekat pembuangan sampah , (2) mempercepat atau menjadi sumber penularan penyakit atau hama-hama penyakit, (3) tersumbatnya got-got dan aliran sungai yang pada musim hujan memperbesar bahaya banjir, dan (4) merusak keindahan kota. Hardi (2006) mengatakan bahwa sampah menyebabkan berbagai gangguan seperti: (1) tercemar dan tersumbatnya atau mendangkalnya saluran kota yang ada sehingga, akibatnya daya tampung saluran tersebut terbatas. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran sebagaian masyarakat kota itu sendiri akibat lingkungan dari sampah yang mereka hasilkan sendiri, dengan membuang sampah seenaknya, (2) bertumpuknya sampah di suatu tempat akan mengganggu keindahan lingkungan, kesehatan lingkungan serta menimbulkan bau yang tidak sedap, (3) merendahkan martabat masyarakat kota tersebut tentang kesehatan lingkungannya, dan (4) bagi masyarakat kota itu sendiri, akan mudah terjangkit penyakit berkenaan dengan lalat-lalat yang beterbangan dari sampah ke makanan yang akan masuk lambung masyarakat sekitarnya. Hal-hal tersebut yang menjadikan masalah ini penting untuk dikaji dan diteliti terlebih bagi penyehatan lingkungan dengan pendekatan ekologi, sehingga diharapkan penyelesaian masalah akan dapat lebih berhasil, efektif dan efisien.

Dampak sampah tersebut di atas juga dapat menimbulkan epidemi, yaitu penyebaran suatu penyakit secara cepat, sehingga dalam waktu yang bersamaan atau secara bergiliran banyak orang menderita penyakit yang sama. Bertolak dari permasalahan tersebut di atas, perlu langkah positif sedini mungkin untuk mencegah terjadinya epidemi, terutama yang ditimbulkan oleh sampah yang tidak dapat dikelola secara baik.

Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: