Home > Parasitologi Lingkungan > PERILAKU MASYARAKAT, LINGKUNGAN PEMUKIMAN DAN AKSES KE PELAYANAN KESEHATAN

PERILAKU MASYARAKAT, LINGKUNGAN PEMUKIMAN DAN AKSES KE PELAYANAN KESEHATAN

Malaria berasal dari kata Mal Aria (Spoiled air) dari bahasa Italia yang berarti udara kotor, yang dahulu dikira sebagai penyebabnya. Orang Prancis menyebutnya paludisme yang sudah mengira adanya hubungan dengan bahasa palus (marsh). Malaria adalah penyakit infeksi oleh parasit genus plasmodium spesies. Ada 4 spesies yang menyerang manusia, yaitu : Plasmodium Falsifarum penyebab malaria Tertiana Maligna (tropika), Plasmodium Vivax penyebab malaria Tertiana Benigna Plasmodium Malariae penyebab malaria Tertiana Benigna. Di dalam siklusnya parasit ini mempunyai dua macam multiplikasi yaitu melalui cara pembiakan (aseksual) di dalam hospes vertebrata (skizogoni) dan pembiakan seksual tunggal di dalam tubuh nyamuk (sporogoni) (Noerhajati, 1998).

Malaria adalah penyakit yang penyebarannya di dunia sangat luas yaitu antara lain garis bujur 60 ° di utara dan 40 ° di selatan yang meliputi lebih dari 100 negara yang beriklim tropis dan sub tropis sampai daerah yang beriklim dingin, dengan ketinggian 400-2000 meter di atas permukaan laut (Depkes RI, 1995). Tahun 1989 s/d 1997 menghasilkan Parasit Rate (PR) sekitar 4-5%, sedangkan Annual Malaria Incidence (AMI) di Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1997 tercatat 17,21% dan pada tahun berikutnya selalu mengalami peningkatan hingga tahun 2000 menunjukkan angka 24,52% (Putra G.dan Rahman S., 2003). Malaria juga penyebab kematian tertinggi untuk penyakit menular di samping penyakit tuberculosis yaitu sekitar satu juta manusia setiap tahunnya.

Malaria merupakan masalah kesehatan di lebih dari 90 negara dan endemis di sekitar 100 negara termasuk Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 memperkirakan angka kematian spesifik akibat malaria di Indonesia adalah 11 per 100.000 untuk laki-laki dan 8 per 100.000 untuk wanita. Beberapa wilayah Indonesia merupakan daerah endemis malaria termasuk pulau Jawa yang merupakan daerah terpadat di Indonesia (Sapardiyah, 2003). Depkes (2008) menyatakan penduduk yang tinggal di daerah endemis malaria hampir separuh wilayah Indonesia yaitu 49,7% populasi atau 107.785.000 dari 217.328.000 penduduk Indonesia hidup di daerah yang berisiko menjadi tempat penyebaran penyakit malaria. Malaria dikatakan endemis apabila angka kesakitannya kurang lebih konstan selama beberapa tahun berturut-turut. Penduduk Indonesia hidup di daerah yang berisiko menjadi tempat penyebaran malaria, 300 ribu hingga 400 ribu kasus positif malaria setiap tahunnya. Tahun 2007 jumlah populasi berisiko terjangkit malaria diperkirakan sebanyak 116 juta orang, AMI (Annual Malaria Incidence = 15,3 per 1000 penduduk).

Menurut Bruce Chwatt (1995) dalam Tjokrosanto (1999) menyatakan malariometri adalah pengukuran secara kuantitatif keadaan malaria di suatu tempat. Secara epidemiologi endemisitas malaria dibagi menjadi beberapa tingkatan. Salah satu cara untuk mengukur tingkat endemisitas di suatu daerah adalah dengan pemeriksaan pembesaran limpa (Spleen Examination). Pada masyarakat yang tinggal di daerah tersebut untuk menghitung spleen rate. Caranya dengan melihat spleen rate dan kadang – kadang parasitemia pada golongan umur 2-9 tahun karena pembesaran limpa akan maksimum pada saat itu yaitu respon imun sedang berkembang. Salah satu cara pengukuran limpa adalah dengan metode Hackett. Metode meraba limpa ini akan membagi splenomegali menjadi 5 kelas:

Kelas 0 tak teraba walau dengan inspirasi normal.

Kelas 1 teraba di tepi costa dengan inspirasi dalam.

Kelas 2 teraba di bawah costa sampai pertengahan puting susu dan umbilicus.

Kelas 3 teraba sampai garis horizontal umbilicus.

Kelas 4 teraba antara umbilicus dan symphisis pubis.

Kelas 5 teraba di luar dan di bawah daerah kelas 4.

Berdasarkan hasil spleen rate pada kelompok 2-9 tahun yang diperoleh dari suatu survei malariometrik suatu daerah dapat diklasifikasikan 4 tingkat endemisitas :

a. Hipoendemik < 10%

b. Mesoendemik 11-50%

c. Hiperendemik >50% (SR dewasa tinggi > 25%)

d. Holoendemik >75% (SR dewasa rendah)

Endemisitas telah diartikan dengan pengertian prevalensi parasitemia dan terabanya limpa pada anak-anak yang berusia < 9 th, kendati angka-angka ini dapat bervariasi menurut musim dan keberadaan penyakit endemik lainnya yang menyebabkan splenomegali. Suatu daerah dianggap hipoendemik jika < 10% anak yang menderita parasitemia dengan lien yang teraba mesoendemik jika angka-angka tersebut berkisar dari 11-50%, hiperendemik jika berkisar dari 51-75%, dan holoendemik jika > 30% (Isselbacher, et al., 1995). Di daerah yang holoendemik, SR pada orang dewasa rendah oleh karena timbul imunitas akibat transmisi yang tinggi sepanjang tahun (Depkes, 1983).

Faktor Penyebab

a. Jenis Parasit

Penyebab penyakit malaria adalah protozoa genus plasmodia, famili plasmodiidae dan order coccidiidae. Vektor nyamuk anopheles dengan transmisi tak terjadi pada > 16° C optimal 20° C sampai dengan 30° C (Harijanto, 2000).

b. Faktor-faktor yang berpengaruh pada manusia terhadap penyakit malaria

1) Ras dan suku bangsa

Di Afrika dimana prevalensi dari Haemoglobin Sickle Sel (Hb.S) cukup tinggi penduduknya ternyata lebih tahan terhadap akibat dari infeksi Plasmodium Falsifarum Haemoglobin Sickle Sel terdapat pada penderita kelainan darah yang merupakan penyakit turunan/herediter yang disebut sickle cell anemia yaitu suatu kelainan dimana sel darah merah penderita berubah bentuknya mirip arit apabila terjadi penurunan tekanan oksigen.

2). Kurangnya suatu enzim tertentu

Kurangnya enzim G6PD (Glukosa 6 Fosfat Dehidrogenase) ternyata juga memberikan perlindungan terhadap infeksi Plasmodium Falsifarum yang berat. Keuntungan dari kurangnya enzim ini ternyata merugikan dari segi penderita dengan obat-obatan golongan sulfanamida dan primaquin dimana terjadi hemolisa darah. Penyakit ini merupakan penyakit keturunan dengan manifestasi utama pada pria.

3). Kekebalan/Imunitas

Kekebalan pada penyakit malaria dapat didefinisikan sebagai adanya kemampuan tubuh manusia untuk menghancurkan plasmodium yang masuk atau membatasi perkembangbiakannya/jumlahnya.

Ada 2 macam kekebalan :

a. Kekebalan alamiah.

b. Kekebalan yang didapat.

4). Nyamuk Anopheles

Hanya nyamuk Anopheles betina yang menghisap darah. Darah ini diperlukan untuk pertumbuhan telurnya.

a. Umur nyamuk. Semakin panjang umur nyamuk semakin besar kemungkinannya untuk menjadi vektor malaria.

b. Kerentanan nyamuk terhadap infeksi gametosit.

c. Frekuensi menggigit manusia.

d. Siklus gonotropik yaitu yang diperlukan untuk matangnya telur.

5). Lingkungan fisik

a. Suhu udara

Suhu udara sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus sporogoni atau masa inkubasi ekstrinsik dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang masa inkubasi intrinsik. Pengaruh suhu ini berbeda pula bagi tiap spesies malaria. Pada suhu 26,7° C masa inkubasi ekstrinsik untuk tiap spesies adalah (1) Plasmodium Falsifarum 10-12 hari (2) Plasmodium Vivax 8-11 hari (3) Plasmodium Malaria 14 hari dan Plasmodium Ovale 15 hari (Depkes RI, 1995).

b. Kelembaban udara

Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk, kelembaban mempengaruhi kecepatan berkembang biak, kebiasaan menggigit dari nyamuk.

c. Hujan

Terdapat hubungan langsung antara hujan dan perkembangan larva nyamuk menjadi bentuk dewasa. Hujan yang diselingi oleh panas akan memperbesar kemungkinan berkembangbiaknya anopheles.

d. Angin

Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam yang merupakan saat terbanyak nyamuk ke dalam dan ke luar rumah adalah salah satu faktor yang ikut menentukan jumlah kontak antara nyamuk dan manusia.

e. Sinar matahari

Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda. Anopheles Sundaicus lebih suka tempat yang teduh sebaliknya Anopheles Hyrcanus lebih menyukai tempat yang terbuka. Anopheles Barbirostris dapat hidup baik di tempat yang teduh maupun di tempat yang terang.

f. Arus air

Anopheles Barbirostris menyukai tempat perindukan yang airnya statis atau mengalir sedikit. Anopheles Minimus menyukai tempat perindukan yang aliran airnya cukup deras dan Anopheles Letifer di tempat yang airnya tergenang.

6). Lingkungan kimiawi

Dari lingkungan ini yang baru diketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perindukan. Sebagai contoh Anopheles Sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya berkisar antara 12-18% dan tidak padat berkembangbiak pada kadar garam 40% ke atas, meskipun di beberapa tempat di Sumatera Utara Anopheles Sundaicus ditemukan pada dalam air tawar. Anopheles Letifer dapat hidup di tempat yang asam/pH rendah.

7). Lingkungan biologik (flora dan fauna)

Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena dapat menghalangi sinar matahari yang masuk atau melindungi dari serangan makhluk hidup lain. Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah, gambusia, nila, mujair akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah.

8. Lingkungan Sosial Budaya

Faktor ini kadang-kadang besar sekali pengaruhnya dibandingkan dengan faktor lingkungan yang lain, kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut malam, dimana vektornya lebih bersifat eksofilik dan eksofagik akan memperbesar jumlah gigitan nyamuk. Penggunaan kelambu, kawat kasa pada rumah dan pengguna zat penolak nyamuk (reppellent) yang intensitasnya berbeda sesuai dengan perbedaan sosial. Pada penelitian Ompu Sunggu, et al., (2002) menyatakan telah dilakukan survei penularan malaria di kawasan perbukitan Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur pada bulan Juli-Agustus 2002. Survei meliputi pemeriksaan darah tepi, wawancara mendalam dengan penderita malaria falciparum, observasi perilaku masyarakat pada malam hari, observasi pemukiman dan lingkungan fisik, penangkapan nyamuk dewasa dan larva, serta observasi pelayanan pengobatan dan wawancara mendalam dengan petugas malaria. Hasil menunjukkan bahwa resiko penularan tertinggi menurut umur adalah pada kelompok umur 12-23 bulan dan terendah pada umur ≥15 tahun. Sedangkan menurut jenis kelamin, resikonya adalah sama antara laki-laki dan perempuan. Spesies parasit malaria yang dominan adalah Plasmodium falciparum dan spesies lainnya adalah plasmodium vivax. Penularan malaria terjadi secara lokal di sekitar pemukiman, dan resiko penularan diperbesar oleh ketiadaan tindakan proteksi terhadap gigitan nyamuk, baik karena tidak memakai kelambu sewaktu tidur, maupun karena konstruksi rumah yang mudah dimasuki vektor. Vektor malaria yang ditemukan adalah Anopheles Barbirostris, dimana kepadatan gigitan pada manusia lebih tinggi di dalam rumah daripada di tempat perindukan/mata air atau di luar rumah dan istirahat sementara di dinding rumah dan sekitar ternak. Tempat perindukan Anopheles adalah genangan, mata air, kobakan di hilir mata air, bekas sawah dan sungai dangkal berarus lambat. Pelayanan pengobatan terhadap penderita malaria belum memadai, sebab kuantitas maupun kualitas alat dan bahan pemeriksaan masih kurang dan persediaan obat anti malaria tertentu masih terbatas. Disarankan, metoda pengendalian yang tepat di kawasan tersebut adalah dengan kelambunisasi dan peningkatan proteksi individu, yang dikombinasikan dengan peningkatan cakupan penemuan penderita dan pengobatan, namun harus didahului dengan penyuluhan. Juga diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas alat dan bahan laboratorium , termasuk obat-obatan anti malaria. Untuk mengetahui jenis vektor lainnya dan bionomik vektor yang lebih lengkap, masih diperlukan survei lebih lanjut. Daerah tempat perindukan nyamuk yang relatif dekat < 500 meter dari pemukiman penduduk maka anopheles barbirostris mampu mencapai pemukiman penduduk.

Pada penelitian Hadi (2001) menyatakan bahwa nyamuk vektor malaria yang tumbuh dewasa di genangan air akan singgah dan bersitirahat di tempat-tempat yang rimbun seperti hutan, perkebunan, pepohonan salak atau kopi, semak-semak dan sebagainya. Oleh karena itu orang yang di sekitar rumahnya terdapat tempat peristirahatan nyamuk mungkin mempunyai risiko digigit nyamuk malaria lebih tinggi dibandingkan orang yang di sekitar rumahnya tidak terdapat tempat peristirahatan nyamuk. Orang yang di sekitar terdapat tempat peristirahatan nyamuk mempunyai resiko untuk menderita malaria 4,8 kali lebih tinggi dibandingkan orang yang di sekitar rumahnya tidak terdapat tempat peristirahatan nyamuk dengan mengendalikan faktor sosial ekonomi.

Ternak besar seperti sapi dan kerbau merupakan hewan yang keberadaannya dapat mengundang nyamuk malaria sehingga orang yang di sekitar rumahnya terdapat kandang ternak mempunyai resiko digigit nyamuk malaria lebih tinggi dibandingkan orang yang di sekitar rumahnya tidak terdapat kandang ternak. Orang yang di sekitar rumahnya terdapat kandang ternak mempunyai risiko untuk menderita malaria 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan orang yang ada di sekitar rumahnya tidak terdapat kandang ternak setelah faktor sosial ekonomi dikendalikan.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk menurunkan kejadian malaria. Salah satu upaya yaitu program kelambunisasi atau sosialisasi pemanfaatan kelambu tempat tidur. Pemasangan kelambu pada tempat tidur dan menggunakannya pada saat tidur dapat mengurangi kontak individu dengan nyamuk malaria (Hadi, 2001). Salah satu cara lain untuk mengurangi resiko tergigit nyamuk malaria adalah menggunakan obat nyamuk terutama menjelang tidur sore hari. Orang yang biasa menggunakan obat nyamuk mempunyai resiko menderita malaria 2,5 kali lebih rendah dibandingkan orang yang tidak biasa menggunakan obat nyamuk dengan mengendalikan faktor sosial ekonomi. Membiasakan menutup pintu dan jendela pada waktu sore hari (18.00-20.00) dapat mengurangi jumlah nyamuk malaria yang masuk ke dalam rumah sehingga dapat menurunkan resiko tergigit nyamuk malaria. Individu yang selalu menutup pintu dan jendela pada sore hari mempunyai resiko 2,9 kali lebih rendah untuk menderita malaria dibandingkan individu yang tidak biasa menutup pintu dan jendela pada sore hari dengan mengendalikan faktor sosial ekonomi. Faktor perilaku manusia yang lain seperti kebiasaan keluar malam, kebiasaan menggunakan jaket malam hari, dan sebagainya tidak terbukti sebagai faktor resiko kejadian malaria (Hadi, 2001).

Hasil penelitian Marai A., (2006) menyatakan bahwa jarak kandang ternak <10 meter dengan terjadinya penularan malaria falcifarum 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan jarak kandang ternak > 10 meter. Hasil penelitian Satrio (1998) disitasi oleh Marai A., (2006) mengatakan bahwa kebiasaan keluar malam dan bekerja pada waktu malam hari akan memiliki risiko terkena malaria 2 kali lebih besar daripada tidak biasa keluar malam hari. Hasil penelitian Marai A., (2006) mengatakan bahwa peletakan kandang yang dekat dengan pemukiman dengan kondisi kandang yang kosong akan mengakibatkan terdapatnya tempat perindukan buatan nyamuk Anopheles dari kubangan dan tempat minum ternak. Baroji (1993) disitasi Marai A., (2006) juga mengatakan bahwa jumlah Anopheles menggigit orang di dalam rumah yang ada kandang ternaknya lebih tinggi daripada rumah yang tidak ada kandang ternaknya.

Hasil penelitian Waluyo (1993) dalam Budarja (2001) mengatakan bahwa letak kandang ternak ≤10 meter dari rumah akan beresiko menderita malaria. Ngadio (1999) dalam Marai A., (2006) menyatakan bahwa keberadaan kandang ternak sapi akan memiliki daya tarik bagi nyamuk untuk mencari sumber darah, sehingga dapat dikembangkan menjadi cattle barrier, tetapi jika peletakan kandang dekat dengan rumah dapat mempengaruhi jumlah gigitan pada manusia. Penduduk yang bertempat tinggal di dalam rumah tanpa langit-langit, peluang terjadinya penularan malaria 4,7 kali dibandingkan rumah yang mempunyai langit-langit.

Pada penelitian Nahak (2000) penetapan faktor sederhana program pemberantasan malaria di Kabupaten Dati II Timor Tengah Selatan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tempat perindukan dan tempat istirahat nyamuk Anopheles hubungannya dengan penerangan (lampu) pada lingkungan pemukiman hasilnya menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tempat perindukan yang penerangannya cukup dengan lingkungan pemukiman, hal ini disebabkan nyamuk Anopheles lebih senang tinggal, tempat peristirahatan suasana yang gelap daripada yang terang ini akan mempengaruhi angka kejadian malaria.

Hasil penelitian Saefudin (2001) disitasi Thaharudin (2003) menyatakan bahwa perilaku manusia memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap tingkat penyakit dengan vektor. Kontak dapat terjadi jauh maupun dekat dengan lingkungan domestik. Kontak di lingkungan penduduk sering menimbulkan jumlah penderita lebih cepat meluas diantara kelompok umur dan jenis kelamin pada suatu wilayah tertentu, misalnya kontak antara anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain. Kontak yang terjadi jauh dari pemukiman penduduk berkaitan dengan aktivitas ekonomi.Tempat peristirahatan nyamuk ditemukan sebagai faktor resiko terpenting kejadian malaria. Penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang di sekitar rumahnya terdapat tempat peristirahatan nyamuk mempunyai resiko menderita malaria kurang lebih 5 kali lebih tinggi dibandingkan individu yang di sekitar rumahnya tidak terdapat tempat peristirahatan nyamuk.

Tempat peristirahatan nyamuk di Kebumen berupa semak-semak, tanaman ganyong, ketela, dan sebagian berupa hutan di sekitar pemukiman penduduk. Tempat peristirahatan nyamuk di Kecamatan Kandang Serang Kabupaten Pekalongan lebih didominasi oleh hutan dan semak-semak. Peran hutan sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan tingginya kejadian malaria juga ditemukan di Colombia dan di India. Pada penelitian ini ditemukan bahwa peran tempat peristirahatan nyamuk terhadap kejadian malaria lebih besar dibandingkan tempat perindukan nyamuk. Hal ini mungkin terjadi karena besar dan kecilnya populasi nyamuk malaria di sekitar pemukiman penduduk sangat tergantung banyak dan sedikitnya tempat peristirahatan nyamuk. Berapapun besarnya tingkat pertumbuhan nyamuk di tempat perindukan tanpa ada tempat peristirahatan nyamuk yang memadai, maka jumlah nyamuk malaria yang singgah di sekitar pemukiman penduduk akan menjadi sedikit dengan demikian angka gigitan nyamuk menjadi lebih kecil (Hadi, 2001).

Penduduk yang tidak menggunakan kelambu akan terkena malaria lebih tinggi 33,7 kali dibandingkan yang memakai kelambu. Penduduk desa yang tinggal di daerah rawa-rawa mempunyai risiko terkena hampir 14 kali lebih tinggi dibandingkan penduduk yang di sekitar rumahnya tidak terdapat rawa-rawa (Pardamean, 2006). Pada penelitian Sulistyo (2004) di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna tentang penggunaan kelambu dengan kejadian malaria dimana responden yang selama tidur tidak menggunakan kelambu mempunyai risiko terkena malaria 2,91 kali dibandingkan dengan yang memakai kelambu. Faktor lain yang mempengaruhi kejadian malaria adalah kebiasaan di luar rumah pada malam hari dan bekerja di hutan.

Pada hasil penelitian Budarja (2001) menunjukkan bahwa keberadaan pohon pisang dengan jumlah ≥10 batang pada radius ≤500 meter dari tempat tinggal subjek dapat memberikan pengaruh terhadap kejadian malaria sebesar 1,68 kali bagi pekerja agraris dan protektif 10,67 kali bagi pekerja non agraris. Keberadaan pohon lontar ≥ 10 batang pada jarak ≤500 meter dari tempat tinggal subjek dapat memberikan pengaruh sebesar 1,25 kali dan 1,47 kali pada kedua jenis okupasi agraris dan non agraris. Keberadaan tanaman padi dengan area tanam ≥20 meter dalam satu lokasi pada jarak < 500 meter dari tempat tinggal subjek dapat memberikan sumbangan pengaruh terhadap kejadian malaria sebesar 2,16 kali bagi pekerja agraris dan protektif (0,59 kali) bagi pekerja non agraris.

Menurut hasil Mukono (1999) menyatakan bahwa konstruksi dinding rumah yang tidak tertutup rapat memungkinkan penyakit malaria di dalam rumah. Hasil penelitian Harijanto (2000) menyatakan jarak terbang Anopheles Subpictus adalah 2-3 kilometer. Apabila di sekitar rumah banyak vegetasi yang jarak rumahnya dengan berkembang biak vektor masih dalam jangkauan jarak terbang nyamuk maka kemungkinan besar terjadi penularan malaria. Sedangkan hasil penelitian Dyah et al., (2008) menyatakan bahwa kondisi lingkungan, pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap penularan dan pencegahan malaria serta peran aktif tenaga kesehatan dapat menjadi faktor risiko dalam penularan malaria di Kecamatan Pagedongan Kabupaten Banjarnegara.

Pada hasil penelitian Rozendal & Hakim (2003) cit Tana, S., (2008) menyatakan bahwa untuk area pesisir dekat laguna dan kolam air, area berisiko bagi perkembangan penyakit malaria adalah di tepi sungai, laguna, kolam-kolam di sekitar hutan bakau, air tergenang dan empang. Di daerah-daerah seperti ini kondisi yang memudahkan penularan malaria tergantung pada faktor-faktor seperti pasang surut air laut, penyebaran curah hujan dan hunian manusia. Penularan dapat terjadi dalam jarak beberapa ratus meter dari perindukan nyamuk, sehingga yang berisiko tinggi adalah masyarakat yang tinggal menetap di rumah-rumah tersebut. Laki-laki dewasa yang keluar rumah untuk memancing ikan dan mengumpulkan gula aren akan berisiko kontak dengan vektor nyamuk. Sebaliknya, di area perbukitan atau perkebunan dan sepanjang musiman, puncak kasus malaria terdapat di daerah-daerah sepanjang sungai, atau dimana terdapat mata air terbuka. Pada musim kemarau, penularan sering terjadi di luar pemukiman dekat sumber-sumber air dan tempat pemandian (mandi, cuci, kakus) yang masih kerap digunakan oleh masyarakat pedesaan. Masyarakat yang masih tinggal di area tersebut mempunyai risiko terjangkit malaria. Desa-desa endemis malaria umumnya mengambil air untuk minum di mata air dari perbukitan dan dari sumur yang digali yang mulai mengering. Di musim kemarau, tempat air tersebut menjadi tempat perindukan dan tempat istirahat vektor dan masyarakat yang datang ke area tersebut menjadi berisiko untuk tergigit nyamuk malaria.

Pada hasil penelitian Putra G. dan Rahman S., (2003) mengatakan bahwa orang kegiatan di luar rumah pada malam hari > 2 jam memiliki resiko 2,57 kali lipat dibanding orang yang kegiatan di luar rumah pada malam hari < 2 jam. Jarak rumah ≤ 100 meter dari tempat perindukan nyamuk memiliki risiko menderita malaria 2,57 kali lipat dibanding orang yang jarak rumah dari tempat perindukan nyamuk > 100 meter. Pada hasil penelitian Pardamean R., (2006) mengatakan bahwa penduduk yang mandi di luar rumah mempunyai resiko terkena malaria 16,6 kali lebih tinggi dibandingkan yang mandi di dalam rumah. Penduduk yang pada waktu tidurnya tidak memakai kelambu akan terkena malaria lebih tinggi 33,7 kali dibandingkan yang memakai kelambu. Penduduk desa yang tinggal di daerah rawa-rawa mempunyai risiko terkena hampir 14 kali lebih tinggi dibandingkan penduduk yang di sekitar rumahnya tidak terdapat rawa-rawa. Pada penelitian Sulistyo (2004) di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna tentang penggunaan kelambu dengan kejadian malaria dimana responden yang selama tidur tidak menggunakan kelambu mempunyai resiko terkena malaria 2,91 kali dibandingkan dengan yang memakai kelambu. Faktor lain yang mempengaruhi kejadian malaria adalah kebiasaan di luar rumah pada malam hari dan bekerja di hutan.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: