Home > Pencemaran Lingkungan > PERUBAHAN LINGKUNGAN AKIBAT GEMPA TERHADAP KECENDERUNGAN MASALAH EMOSI ANAK

PERUBAHAN LINGKUNGAN AKIBAT GEMPA TERHADAP KECENDERUNGAN MASALAH EMOSI ANAK

Kejadian traumatik dan stress merupakan hal yang sering dijumpai saat ini pada setiap individu tidak terkecuali pada anak dengan bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor dll. Mereka secara langsung maupun tidak langsung mengalami peristiwa bencana alam, semua ini dapat menimbulkan reaksi dan juga gangguan stress. Bencana dapat menyebabkan kematian, mengarah pada reaksi kehilangan atau kesedihan, sakit fisik, kecacatan serta gangguan emosional.

Emosi merupakan ”setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam)” Sarwono (cit. Yusuf 2008). Emosi merupakan suatu keadaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai penyesuaian dari dalam terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu. Crow dan Crow (cit.Sobur 2003)

Pentingnya peranan emosi dalam perkembangan diri seseorang akan terlihat melalui akibat yang muncul sebagai akibat dari kurangnya anak memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pengalaman emosional yang menyenangkan. Penyimpangan emosi berpengaruh terhadap anak, khususnya pada tahun-tahun pertama perkembangan dalam bentuk keterlambatan perkembangan anak. Berbagai perkembangan potensi sudah dapat diketahui melalui perkembangan emosi sejak usia tiga tahun pertama.

Masa balita merupakan masa emas (golden age) bagi anak. Dimasa ini anak mengalami tumbuh kembang yang luar biasa, baik fisik, emosi, kognitif maupun psikososial. Perkembangan psikososial anak berkaitan dengan interaksi anak dengan lingkungannya. Hambatan perkembangan psikososial akan membuat anak mengalami kecemasan, sulit berinteraksi dengan orang lain atau orang yang baru dikenal, bisa juga jadi pemalu atau sebaliknya. Harlock (1993) .

Muray (2006) mencermati perubahan neurobiologis bahwa kerentanan anak untuk mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) 1,5 kali lebih besar dari orang dewasa karena memang anak- anak sedang dalam tahap pertumbuhan, khususnya penyempurnaan sistem saraf pusat. Menurut Somantri (2007) lingkungan dan kesehatan anak menunjukkan pengaruhnya terhadap perkembangan emosi, khususnya terhadap frekuensi, intensitas dan lamanya emosi tersebut bekerja. Pola emosi pada anak-anak menunjukan kecenderungan untuk tetap bertahan kecuali jika anak yang bersangkutan mengalami perubahan radikal dalam segi kesehatan, lingkungan, atau hubungan personal sosialnya.

Dalam peristiwa bencana alam anak-anak akan kehilangan semua harta benda yang mereka miliki serta lingkungannya (tempat tinggal, tempat bermain, sekolah, teman dan tempat lainnya). Gejala distress emosional secara signifikan berkaitan dengan kerusakan lingkungan. McDermott (1999). Menurut Sugar (1995), bencana dapat menyebabkan kematian, mengarah pada reaksi kehilangan atau kesedihan pada korban, luka, sakit fisik, kecacatan serta gangguan emosional. Dampak bencana terhadap anak dapat menjadi besar dan kekal. Reaksi spesifik terhadap bencana alam diantaranya mengingat atau mengalami kembali bencana, fobia, permainan bencana, tugas di ulang ulang.

Karanci & Rustemli (cit. Bodvarsdottir, et al. 2004) menyatakan bencana alam telah dipandang sebagai penyebab stres terbesar, yang menimbulkan reaksi adaptif ataupun patologis di dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan lingkungan yang berubah, sehingga masyarakat harus beradaptasi dengan cepat pada keadaan yang baru, seperti kehilangan teman–teman, keluarga dan semua milik mereka.

Goleman (2006) mengemukakan gejala Post-Traumatic Stress Disorder PTSD) adalah rasa cemas,rasa takut, kelewat waspada, mudah, dan terbangkitkan emosinya, siap bertempur atau kabur serta sistem sandi tak terhapuskan atas ingatan-ingatan emosional yang inten. Sugar (1995), mencatat bahwa 40% sampai 68% anak mempunyai efek jangka panjang beberapa tahun setelah beragam bencana. Hal ini terlihat ketika evaluasi psikiatris seseorang dibuat menurut bencana tersebut, hampir semua anak-anak memperlihatkan suatu reaksi terganggu mendadak (gangguan stres akut atau reaksi kegelisahan).

Menurut pantauan tim Psychosocial Suport Program (PSP) Palang Merah Indonesia (PMI) (2007) sedikitnya 50 anak yang mengalami trauma akibat bencana gempa bumi 2006 di Kabupaten Klaten. Anak takut masuk ruangan, kaget setiap mendengar suara keras dan gampang menangis serta menjadi tidak aktif karena tidak bermain. Dampak trauma yang dialami anak–anak bisa lebih besar dari pada orang tua karena telah kehilangan keluarga, teman dan dunia bermain mereka.

Contohnya Gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya yang terjadi merupakan suatu peristiwa traumatis bagi korban yang mengalaminya, khususnya anak-anak. Pengalaman bencana secara langsung telah menempatkan anak-anak dalam situasi ketidak berdayaan dan ketakutan yang mendalam. Dalam situasi tersebut anak-anak juga rentan mengalami (PTSD) dan gangguan kecemasan. Gempa tektonik dengan kekuatan 5,9 skala richter yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta mengakibatkan cidera fisik dan psikis. 84,71% mengalami gangguan psikologi dengan tingkat trauma sedang.

Bodvarsdottir & Elkit (2004) meneliti tentang reaksi psikologi pada para korban yang selamat dalam gempa bumi di Islandia, dengan menggunakan metode kohort prospektif. Tujuan dari penulisan aritkel ini adalah untuk menyelidiki hubungan dari dua kejadian gempa bumi di Islandia dalam dua subjek penduduk di area yang terekspos dan grup kontrol diluar area ekspos. Hasilnya adalah 24% dari area yang diekspos mengalami Posttraumatik Stress Disorder (PTSD), dan tidak satupun dari grup kontrol yang mengalaminya. Kecemasan yang berkaitan dengan gempa bumi, ketidakmampuan untuk mengungkapkan perasaan dan pemikiran dan koping /penanganan emosional diprediksi 81% varian dari kedua grup. Riwayat hidup sebelumnya, rendahnya harga diri dan keberuntungan, bersama dengan perasaan kecewa, memprediksi 56% perbedaan gejala dari ke dua grup. Ketika tingkatan trauma dan koping emosional ditambahkan kedalam model, 30% perbedaan lainnya dapat dijelaskan.

Hatta et al. (2006) melakukan penelitian dampak gempa dan Tsunami Terhadap Kondisi Psikologi Guru Sekolah Dasar di Aceh Besar. Kajian ini menijau kondisi psikologis dalam empat aspek yaitu : aspek emosi, motivasi, kinerja dan intelektual. Metode yang digunakan kohor, hasil analisa mengindikasikan bahwa aspek emosi, kelompok yang terkena secara langsung mengalami tingkat emosi yang lebih tinggi, sedangkan pada aspek motivasi memiliki motivasi yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang tidak terkena langsung. Pada aspek kinerja kelompok yang terkena relatif lebih baik sedangkan pada aspek intelektual tidak ada perbedaan antara kedua kelompok tersebut. Secara umum bencana tidak mempengaruhi kemampuan intelektual guru. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan pada tempat dan populasi penelitian.

McDermott, et al, (1999) meneliti tentang distress emosional, depresi dan variabel-variabel yang berkaitan dengan pasca bencana: temuan pada tahap perkembangan anak dan remaja, dengan metode kohort. Tujuan dari penelitiannya adalah menyelidiki depresi pasca bencana dan psikopatologi distress emosional pada rentang perkembangan anak dan remaja secara luas. Hasil penelitian: prediktor independen signifikan dari gejala depresi yang muncul meningkatkan gejala distress emosional, peningkatan gejala kecemasan, pengalaman evakuasi, dan tingkatan sekolah. Prediktor independen signifikan dari stress emosional memperlihatkan gejala-gejala depresi, persepsi penanganan untuk diri sendiri dan untuk orang tua, pengalaman untuk evakuasi dan tingkat sekolah. Gender bukanlah prediktor yang signifikan baik pada model depresi atau distress emosional. Hubungan non linier antara depresi, distress emosional dan tingkatan sekolah ditemukan.

Wolmer, et al. (2005) meneliti tentang intervensi bermediasi guru setelah bencana, sebuah tindak lanjut tiga tahun terkontrol terhadap anak-anak. Metode yang digunakan case control, tujuannya untuk menentukan efektifitas jangka panjang dari intervensi original. Dengan hasil penelitian: kerawanan paska traumatis, kesedihan dan gejala dissosiatif dari dua kelompok dibandingkan. Guru tidak mengetahui penentuan kelompok yang menilai anak-anak yang berpartisipasi lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol secara fungsi adaptasi.

Perkembangan menunjukkan suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Perkembangan adalah: bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Pola perkembangan terjadi terus menerus, pola ini merupakan dasar bagi semua kehidupan manusia, petunjuk urutan dan langkah dalam perkembangan anak ini sudah ditetapkan tetapi setiap orang mempunyai keunikan secara individual (Soetjiningsih 1995).

Hidayat (2006) mengatakan dalam periode tertentu terdapat masa percepatan atau masa perlambatan serta laju tumbuh kembang yang berlainan diantara masing- masing organ. Tumbuh kembang adalah proses yang berkelanjutan sejak dari konsepsi sampai maturasi/dewasa yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. Faktor psikososial yang mempengaruhi tumbuh kembang anak antara lain: stimulasi, motivasi belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar kelompok sebaya, stres, sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas interaksi anak dan orang tua. Perkembangan anak meliputi seluruh perubahan, baik perubahan fisik, perkembangan kognitif, emosi, maupun perkembangan psikososial yang terjadi pada usia anak.

Aspek – aspek perkembangan yang dipantau yaitu :

a. Motorik kasar atau gerak kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot -otot besar.

b. Motorik halus atau gerak halus adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian–bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot–otot kecil tetapi memerlukan koordinasi yang cermat .

c. Bahasa atau kemampuan bicara adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.

d. Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

3. Tahapan perkembangan anak pemisalan umur 3 – 5 tahun :

Perkembangan anak usia 3-5 tahun antara lain: berjalan lurus, berdiri dengan satu kaki selama 11 detik, menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap, menangkap bola kecil dengan kedua tangan, menggambar segi empat, mengerti arti lawan kata, mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih, menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya, mengenal angka, bisa menghitung angka 5–10, mengenal warna warni, mengungkapkan simpati, mengikuti aturan permainan, dan berpakaian sendiri tanpa bantuan. Pada masa ini pertumbuhan berlangsung dengan stabil, terjadi perkembangan dengan aktifitas jasmani yang bertambah dan meningkatnya ketrampilan dan proses berfikir. Anak usia prasekolah memiliki kemampuan perkembangan yang lebih baik dari usia sebelumnya. Memasuki masa prasekolah anak mulai menunjukkan keinginannya, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Pada masa ini, selain lingkungan didalam rumah maka lingkungan diluar rumah mulai diperkenalkan, anak mulai senang bermain di luar rumah, bahkan banyak keluarga yang menghabiskan sebagian waktu anak bermain di luar rumah. Dengan cara membawa anak ke taman-taman bermain, taman kota atau ke tempat-tempat yang menyediakan fasilitas permainan untuk anak. Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, untuk itu panca indra dan sistem reseptor penerima rangsangan serta proses memori harus sudah siap sehingga anak mampu belajar dengan baik. Perlu diingat bahwa proses belajar pada masa ini adalah dengan cara bermain.

4. Stimulasi perkembangan anak prasekolah

Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh ibu dan ayah yang merupakan orang terdekat dengan anak, pengganti ibu/pengasuh anak, anggota keluarga yang lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masing–masing dan dalam kehidupan sehari–hari. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap. Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan yaitu: stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang, selalu tunjukkan sikap dan perilaku yang baik karena anak akan meniru tingkah laku orang orang yang terdekat dengannya, berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak, lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi, bervariasi menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak terhadap ke 4 aspek kemampuan dasar anak, gunakan alat bantu/permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar anak, berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan, anak selalu diberi pujian, bila perlu diberi hadiah atas keberhasilannya.

Goleman (2006), mendefinisikan emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Kesulitan dalam memenuhi tuntutan sosial disamping berpengaruh terhadap penerimaan kelompok, juga berpengaruh terhadap penerimaan diri sendiri.

1. Pengelompokan emosi dalam golongan besar yaitu:

a. Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis.

b. Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepihan, ditolak, putus asa, dan sebagai patologis depresi berat.

c. Rasa takut: cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, sedih tidak tenang, ngeri, kecut, sebagai patologis fobia dan panik.

d. Kenikmatan: bahagia, gembira, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang sekali, dan batas ujungnya mania.

e. Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran.

f. Terkejut: terkesima, takjub, terpana.

g. Jengkel: hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.

h. Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

Ekman (cit Goleman 2006), menyatakan bahwa ekspresi wajah emosi ada 4 yaitu: 1) takut, 2) marah, 3) sedih, 4) senang. Untuk anak usia prasekolah kemampuan mengekspresikan diri bisa dimulai dengan mengajari anak mengungkapkan emosinya.

2. Karakteristik emosi anak:

a. Pada masa anak-anak, respon emosional menunjukkan intensitas yang sama terhadap semua kejadian, belum terdeferensiasi dalam hal intensitas.

b. Pada masa anak-anak, respon emosional menunjukkan frekuensi yang tinggi, karena anak belum mampu menyesuaikan diri terhadap situasi yang menimbulkan emosi.

c. Pada masa anak-anak, respon emosional bersifat sementara, sangat mudah beralih dari satu respon ke respon lain yang sangat berbeda.

d. Emosi berubah dalam kekuatannya. Emosi tertentu menunjukan perubahan kekuatan dengan bertambahnya usia anak, ada yang bertambah lemah dan ada juga yang bertambah kuat. Perubahan ini dipengaruhi oleh perkembangan intelektual dan dipengaruhi juga oleh perubahan minat dan nilai.

e. Emosi dapat diketahui melalui gejala tingkah laku. Anak-anak tidak menunjukkan emosi secara langsung, melainkan secara tidak langsung melalui tingkah laku tertentu.

f. Peranan emosi dalam kehidupan anak: Emosi menambah kesenangan terhadap pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang tidak menyenangkan. Kesenangan terhadap pengalaman tersebut dirasakan dalam bentuk after effect (efek yang dirasakan anak sesudah pengalaman itu terjadi).

Ketegangan emosi menyebabkan terganggunya ketrampilan motorik misalnya kegiatan berbicara orang bisa gagap, emosi mempengaruhi iklim psikologis lingkungan sekelilingnya, emosi yang tidak menyenangkan mendorong anak untuk mengubah tingkah laku sosial, sedangkan emosi yang menyenangkan mendorong anak untuk mempertahankan tingkah laku sosialnya.

Menurut Somantri (2007) takut yang spesifik mencapai puncaknya pada usia 2-6 tahun anak-anak merasa takut pada banyak hal. Faktor lain yang mempengaruhi respon emosional anak adalah pengalaman atau proses belajar yang dapat dibedakan menjadi: 1) proses belajar mencoba- coba (trial and error); 2) proses belajar melalui imitasi, dan 3) proses belajar melalui pengkondisian (konditioning). Ketrampilan emosi anak usia prasekolah: salah satu tolok ukur kepribadian yang baik adalah kematangan emosi. Semakin matang emosi seseorang, akan stabil pula kepribadiannya. Pengendalian emosi merupakan kuncinya. Ketidakmampuan mengendalikan emosi, terutama emosi negatif seperti marah, bisa menghambat interaksi anak dengan lingkungannya.

Sementara, anak yang tak bisa mengungkapkan emosi juga sama buruknya. Anak tipe ini sejak masih kecil biasanya selalu menjadi pengekor alias ikut-ikutan apa saja yang dilakukan orang lain dan teman- temannya. Apakah dia sendiri suka atau tidak pada pilihan itu, agaknya tak menjadi persoalan penting. Untuk anak usia prasekolah, kemampuan mengekspresikan diri bisa dimulai dengan mengajari anak mengungkapkan emosinya. Tempertantrum mulai menyurut di usia 4 tahun dan sebagai gantinya, mereka menunjukkan pola kemarahan yang lebih matang seperti cemberut atau bersikap menentang.

Dampak Pasca Bencana

Karanci et al. (1995) Kejadian traumatik dan stres merupakan hal yang sering dijumpai saat ini pada setiap individu tidak terkecuali pada anak dengan bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor dll. Mereka secara langsung dan tidak langsung terlibat dalam peristiwa traumatik. Dalam peristiwa bencana alam mereka juga kehilangan semua harta benda yang mereka miliki, serta lingkungannya (sekolah, tempat bermain dan tempat lain). Semua ini dapat menimbulkan reaksi dan juga gangguan stres pasca trauma pada anak. Makna yang dirasakan oleh seorang atas kejadian/pengalaman traumatik yang dialaminya akan menentukan dampak yang mungkin terjadi pada dirinya.

Dengan demikian tidak semua anak akan bereaksi sama terhadap suatu kejadian traumatik yang serupa, hal ini tergantung pada beberapa hal yaitu: temperamen anak, usia anak, lingkungan rumah/keluarga. Anak yang berusia di bawah lima tahun masih tergantung kepada orang yang mengasuh mereka dalam mendapatkan perlindungan dan keamanan. Mereka seringkali menjadi tidak berdaya dan pasif saat berhadapan dengan situasi yang membahayakan keselamatan jiwa mereka. Perilaku yang harus diamati adalah: 1) Ketakutan terhadap kehadiran orang asing, suara keras atau jika ditinggal sendirian. 2) Cemas perpisahan, mereka tampak tidak mau lepas dari orang tuanya atau pengasuhnya. Mereka akan terus mengikuti atau memegangi tangan orang tua/pengasuhnya, rewel, takut tidur sendirian, merajuk atau mengamuk bila ditinggal sendirian. 3). Berbagai jenis problem tidur, seperti terus terjaga sepanjang malam, mimpi buruk dan mengigau karena mereka tidak mampu mengerti akan peristiwa yang menakutkan dari bencana alam yang di alaminya. 4). Kecemasan yang menonjol jika berhadapan dengan situasi atau tempat yang berkaitan dengan peristiwa bencana yang dialami. 5). Mengalami kemunduran dalam berbagai tahap perkembangan yang sudah dikuasai seorang anak, misalnya menjadi pendiam atau bahkan tidak mau berbicara sama sekali, mengompol atau tidak dapat menahan buang air besar, serta kembali menghisap jempol.

Reaksi mental emosional anak atau masalah perilaku yang ditunjukkan anak segera setelah melewati masa – masa sulit/pengalaman menakutkan dan menyakitkan akibat suatu peristiwa traumatik adalah wajar. Segera setelah mengalami peristiwa traumatik anak seringkali merasa takut, tidak nyaman, tidak aman dan sedih serta marah. Perasaan-perasaan ini akan bertambah buruk bila anak tidak mengerti akan perubahan yang dialaminya bila lingkungan sekitarnya tidak membantu anak untuk mengatasi kondisi mereka. Reaksi stres pasca trauma dapat dianggap menjadi gangguan, jika dampak dari kejadian traumatik tersebut mulai menggaggu rutinitas kehidupan anak sehari-hari seperti sekolah, bermain dan yang berhubungan dengan orang sekitarnya.

Usia anak pada waktu mengalami trauma juga memegang peranan penting dan patut diperhatikan secara khusus. Hal itu akan mempengaruhi: 1) cara anak untuk memahami dan mengerti akan arti dan makna dari suatu kejadian traumatik yang dialaminya. 2) cara anak bereaksi terhadap kejadian traumatik yang dialaminya. 3) cara anak untuk mengerti akan pertolongan yang diberikan kepadanya (Dyregrov, et al.2006).

Sugar (1995) reaksi–reaksi tertentu terhadap bencana :

Menimbulkan dan mengalami lagi bencana dalam menanggapi terhadap beragam stimulasi, fobia tentang pengalaman ini dengan respon mengejutkan (gerakan menyebar), memerankan kembali beberapa aspek bencana, permainannya beresiko dan bersifat aneh (permainan bencana) misalnya permainan memendam dalam pasir atau permainan tornado, tugas di ulang – ulang, permainan pasca traumatik. Foa (cit Dyregrov, et al. 2006) akibat trauma dapat diatasi dalam waktu mingguan, tetapi juga dapat menimbulkan dampak yang akan dirasakan seumur hidup, bahkan mempengaruhi perkembangan yang bersangkutan. Perkembangan kemampuan anak disetiap tahapan usia berbeda dalam cara berpikir, kematangan emosional maupun kemampuan berhubungan sosial. Hal tersebut akan mempengaruhi cara anak bereaksi terhadap pengalaman yang tidak menyenangkan, menyakitkan dan menyedihkan yang terjadi akibat peristiwa traumatik (gempa) tersebut.

Menurut Diagnostic and Statistic Manual of Mental disorder /DSM IV 1994 (cit. Sugar 1995) mereka yang mengalami traumatic (gempa dan tsunami) akan ditemukan sekurang-kurangnya tiga dari gejala disosiatif akut sebagai berikut: 1) mati rasa secara psikis, tidak ada lagi keinginan, kehilangan respon emosional dan kehilangan keinginan untuk hidup. 2) tidak peduli terhadap apa yang terjadi disekelilingnya dan yang ada hanya kebingungan. 3) merasa seolah-olah semuanya telah berubah termasuk dirinya, bahkan menjadi asing terhadap dirinya. 4) lupa atau tidak mampu mengingat hal-hal penting menyangkut peristiwa tersebut.

Menurut Pusat Nasional Posttraumatic Stress Disorder 2000 (cit. Bodvarsdottir et al. 2004) pengalaman traumatik yang menakutkan itu selalu datang berulang dan terus menerus (reexperience), dalam khayalan, pikiran, mimpi-mimpi, ilusi, flash back yaitu seolah-olah peristiwa itu benar-benar terjadi kembali dan yang bersangkutan akan bereaksi sama dengan ketika peristiwa tersebut terjadi (mendengar suara air, getaran, atau teriakan korban bereaksi lari tunggang langgang tidak tentu arah).

Categories: Pencemaran Lingkungan
  1. September 11, 2012 at 2:45 am

    Alhamdulillah…

  2. amoy
    March 25, 2014 at 8:39 pm

    om daftar pustaka lengkapnya ada ngga…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: