Home > Parasitologi Lingkungan > MANIPULASI LINGKUNGAN UNTUK MENURUNKAN KEPADATAN JENTIK NYAMUK ANOPHELES SP.

MANIPULASI LINGKUNGAN UNTUK MENURUNKAN KEPADATAN JENTIK NYAMUK ANOPHELES SP.

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria (plasmodium) bentuk seksual dalam tubuh nyamuk Anopheles betina yang ditularkan kemanusia melalui gigitan (WHO, 2002). Di Indonesia dilaporkan 424 kabupaten/kota endemis malaria dari 579 kabupaten/kota yang ada dan diperkirakan 42,42% penduduk Indonesia berisiko tertular malaria. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, karena mempengaruhi angka kesakitan bayi, balita dan ibu melahirkan serta menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). (Harijanto, 2009).

Dewasa ini upaya pemberantasan malaria dilakukan melalui pengendalian vektor nyamuk Anopheles sp. dan pengobatan kepada penderita diduga malaria atau terbukti positif secara laboratorium. Pemberantasan malaria di Indonesia sudah dimulai sejak zaman Hindia belanda tahun 1919, dengan kegiatan anti jentik dan penyehatan lingkungan (Laihad & Gunawan, 2000).

Pada tahun 1959 WHO mengeluarkan kebijakan upaya pemberantasan malaria ditingkatkan menjadi pembasmian malaria memggunakan insektisida Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT), tetapi sejak tahun 1992 tidak boleh digunakan lagi, karena sudah terjadi resistensi terhadap nyamuk Anopheles sp. dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu upaya lain yang dilakukan agar lebih aman dan baik adalah pengendalian vektor malaria secara hayati dan pengelolaan lingkungan (environmental management) (Kardinan, 1999).

Diantara program penanggulangan malaria, penulis tertarik tentang pengendalian vektor malaria dengan pengendalian hayati yaitu penebaran ikan nila di laguna sebagai predator (pemangsa) jentik dan manipulasi ingkungan, karena program ini lebih murah biayanya, mudah dikerjakan dan ramah lingkungan jika dibandingkan dengan program pengendalian malaria lainnya.

Ikan nila selain memakan jentik nyamuk, juga memakan gulma air, sehingga dapat membersihkan kolam ikan dari tanaman air yang dipakai sebagai tempat bertelur nyamuk. Lebih dari itu, ikan nila mempunyai nilai ekonomi tinggi, sehingga diharapkan penduduk mau membudidayakan untuk mendapatkan tambahan pendapatan dan tambahan gizi mereka (Sudomo, et al., 1998).

Manipulasi lingkungan adalah suatu bentuk kegiatan untuk menghasilkan keadaan sementara yang tidak menguntungkan bagi nyamuk, untuk berkembang biak di habitatnya, seperti mengangkat lumut dari laguna, pengubahan kadar garam dan sistem pengairan secara berkala dibidang pertanian (Depkes, 2002; Sigit & Hadi, 2006). Dalam penelitian yang dilakukan di Sihepeng, Siabu, Tapanuli Selatan telah dibuktikan bahwa ikan nila mampu menurunkan populasi jentik nyamuk di kolam percobaan. Ikan nila dipilih dan dipakai sebagai pengendali nyamuk karena beberapa hal yang menguntungkan yaitu, karena ikan nila sangat rakus memakan jentik dari ikan Poecilia sp. maupun Gambusia sp. Ikan nila mudah dikembangbiakkan, bersifat omnivora, cepat besar, rasanya enak dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi (Sudomo, et al., 1998). Pengalaman di Cina dan India menunjukkan, bahwa pemeliharaan ikan pemakan jentik nyamuk, yang dapat dikonsumsi dan dijual, sangat menguntungkan untuk mengurangi populasi jentik dan sekaligus menambah penghasilan. Dengan pengurangan sumber (source reduction) nyamuk, maka dampak yang diharapkan adalah pengurangan penularan malaria (WHO, 1995).

Vektor adalah arthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan (Kirnowardoyo, 1991). Vektor malaria termasuk vektor biologis, karena tubuh serangga digunakan oleh parasit (Plasmodium) untuk berkembang biak atau memperbanyak diri, kemudian ditularkan kepada inang yang lain (Boewono dan Boesri, 1999). Menurut Bruce-Chwatt (1985) hanya jenis nyamuk Anopheles tertentu diketahui sebagai vektor biologis mampu menularkan Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae atau Plasmodium ovale antar manusia.

Di Indonesia sampai saat ini dilaporkan ada 80 spesies nyamuk Anopheles. Dari jumlah tersebut yang benar-benar sebagai vektor malaria berdasarkan distribusi geografis, pemastian peranan sebagai vektor dan bionomi stadium dewasa dan pradewasa terdapat 24 spesies yaitu; An. aconitus, An. balabacensis, An. barbirostris, An. kochi, An. leucosphyrus, An. maculatus, An. aitkenii, An. subpictus, An. sundaicus, An. tessallatus, An. farauti, An. koliensis, An. punctulatus, An. bancrofti, An. vagus, An. nigerrimus, An. sinensis, An. letifer, An. flavirostris, An. umbrosus, An. beazai, An. roperi, An. minimus, An. annularis (Takken & Knols, 1990).

Klasifikasi Nyamuk Anopheles

Menurut Borror & Delong’s (1954); Reid (1968) klasifikasi nyamuk Anopheles berdasarkan sistem taksonomi yaitu :

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Insecta

Sub Class : Pterygota

Ordo : Diptera

Sub Ordo : Nematocera

Familia : Culicidae

Sub famili : Anophelinae

Genus : Anopheles

Perilaku (Bionomi) Nyamuk Anopheles sp.

Bionomi nyamuk Anopheles adalah hubungan kehidupan nyamuk Anopheles sp. dengan lingkungannya baik lingkungan abiotik maupun biotik. Ruang lingkup bionomi nyamuk Anopheles sp. antara lain :

a. Siklus hidup dan dinamika aktifitas kehidupan nyamuk Anopheles sp.

1). Siklus Hidup Nyamuk Anopheles sp.

Semua nyamuk mengalami metamorfose sempurna (Holometabola) mulai dari telur, menjadi jentik, berkembang menjadi pupa dan kemudian menjadi nyamuk (Sigit & Hadi, 2006). Jentik dan pupa hidup di air sedangkan setelah dewasa hidup di darat. Kelangsungan hidup nyamuk akan terputus apabila tidak ada air (Depkes, 1999).

a). Telur diletakkan langsung di permukaan air satu persatu, ukuran telur ± 0,5 mm, jumlah telur 100-300 butir, rata-rata 150 butir. Frekuensi bertelur 2-3 hari sekali dan menetas menjadi jentik beberapa saat setelah kena air atau 2-3 hari setelah berada di air (Depkes, 1999). Jumlah telur tergantung pada spesies, kualitas dan banyak darah di hisap, biasanya bertelur pada malam hari (Warrel & Gilles, 2002).  Telur yang baru keluar berwarna putih dan akan menjadi warna hitam pada kondisi normal (Bates, 1970). Telur nyamuk Anopheles sp. dapat mengapung karena dikedua sisinya terdapat semacam pelampung (Russel et al. 1963).

b). Jentik (Larva) nyamuk Anopheles sp. bersifat akuatik, hidup di air dan pertumbuhan mengalami empat tahap instar yaitu: Instar I + 1 hari, Instar II 1-2 hari, Instar III ± 2 hari dan Instar IV 2-3 hari dan tiap instar didahului oleh proses pengelupasan kulit (ecdysis). Kecepatan pertumbuhan meningkat dengan naiknya suhu dan tersedianya makanan yang cukup (B2P2VRP, 2006; Depkes, 2007). Masing–masing instar memiliki ukuran tubuh yang berbeda. Umur rata-rata pertumbuhan mulai jentik sampai menjadi kepompong berkisar antara 8–14 hari (Rao, 1981).

c). Kepompong (Pupa) merupakan stadium perkembangan istirahat, berada di air, tidak makanan, pada stadium ini terjadi proses pembentukan alat-alat tubuh nyamuk, seperti: alat kelamin, sayap dan kaki, kebanyakan spesies cenderung terjadi pupasi pada waktu-waktu tertentu seperti : pagi, siang, senja atau malam hari, pada umumnya nyamuk jantan menetas lebih dahulu dari pada nyamuk betina (Depkes, 1999; B2P2VRP, 2006). Pupa agak pasif, lebih banyak diam tetapi mempunyai kemampuan berenang sangat cepat (Bates, 1970). Dalam kondisi normal, metamorphosis dari pupa menjadi imago Anopheles berkisar antara 24-48 jam (Rao, 1981; Depkes, 2007).

d). Nyamuk baru muncul dari pupa kurang lebih 15 menit setelah bersentuhan dengan udara, tubuhnya akan mengeras dan terbang untuk mencari tempat istirahat. Jumlah nyamuk jantan dan nyamuk betina menetas pada umumnya hampir sama banyak (1:1), nyamuk melakukan perkawinan biasanya terjadi pada waktu senja. Nyamuk betina akan kawinan satu kali dalam hidupnya (biasanya 24-48 jam), sebelum betina pergi untuk menghisap darah (Reid, 1968; Warrel & Gilles, 2002; Depkes, 2007). Di alam nyamuk jantan umur 25 hari relatif pendek (±1 minggu) sedangkan nyamuk betina umumnya lebih panjang, rata-rata 1-2 bulan. Nyamuk jantan menghisap cairan tumbuh-tumbuhan (nectar) dan jarak terbangnya tidak jauh dari tempat habitat. Nyamuk betina perlu menghisap darah untuk pertumbuhan telurnya dan dapat terbang jauh mencapai 0,5-2 km (Depkes, 2007).  Jarak terbang nyamuk Anopheles, sebagian besar ditentukan oleh lingkungan dan angin kencang dapat membawa nyamuk Anopheles sp. sampai 30 km atau lebih (Warrel & Gilles, 2002).

2). Perilaku nyamuk Anopheles sp.

Perilaku nyamuk akan berubah secara alami apabila ada rangsangan atau pengaruh dari luar, seperti terjadinya perubahan lingkungan baik oleh alam maupun aktivitas manusia. Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi seperti: musim, kelembaban udara, angin, suhu udara dan cahaya matahari. Lingkungan kimia (kadar garam, pH) dan lingkungan biologik (tumbuhan bakau, ganggang, vegetasi disekitar habitat dan musuh alami) (Warrel & Gilles, 2002). Kemampuan hidup dari suatu spesies nyamuk dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tersedia sumber darah, tempat berkembang biak dan tempat istirahat (Kirnowardoyo, 1991).

a). Perilaku berkembang biak

Nyamuk Anopheles sp. betina mempunyai kemampuan untuk memilih tempat berkembang biak yang sesuai. Ada jenis nyamuk yang senang kena sinar matahari (An. sundaicus) dan ada pula yang membutuhkan tempat yang teduh (An. umbrosus). Ada yang berkembang biak di air payau, air tawar dan ada pula yang di air asin (laut) (Depkes, 1999; Sigit & Hadi, 2006).

b). Perilaku mencari darah

Waktu mencari darah (menggigit) nyamuk Anopheles sp. pada umumnya malam hari mulai senja hingga pagi. Kebiasaan tempat menggigit nyamuk adalah eksofagik (diluar rumah) dan ada endofagik (didalam rumah). Kebiasaan menggigit dikaitkan pemilihan hospes, ada yang bersifat antropofilik (menghisap darah manusia), ada yang bersifat zoofilik (menghisap darah hewan) dan ada pula yang menyukai keduanya yang disebut indiscriminate bitter. (Depkes, 1999; Warrel & Gilles, 2002)

c). Perilaku istirahat

Nyamuk Anopheles sp. mempunyai dua cara istirahat yaitu istirahat sebenarnya selama waktu menunggu proses perkembangan telur dan istirahat sementara pada waktu sebelum dan sesudah mencari darah. Nyamuk mempunyai perilaku istirahat berbeda-beda, An. aconitus banyak beristirahat ditempat dekat tanah sedangkan

An. sundaicus beristirahat ditempat-tempat yang lebih tinggi (Depkes, 1999; Warrel & Gilles, 2002).

Pada waktu malam hari nyamuk masuk kedalam rumah untuk menghisap darah lalu keluar dan ada pula sebelum atau sesudah menghisap darah hinggap di dinding untuk beristirahat terlebih dahulu (Depkes, 1999; Warrel & Gilles, 2002). Nyamuk yang senang beristirahat di dalam rumah (endofilik) dan di luar rumah (eksofilik). Nyamuk yang ada di dalam rumah beristirahat seperti di gantungan baju, kelambu dan tembok, yang di luar rumah beristirahat pada lubang-lubang tanah, rerumputan, semak-semak dan lain-lain (Warrel & Gilles, 2002; Gandahusada & Ilahude, 2003; Sigit & Hadi, 2006).

3). Perilaku Jentik Anopheles sp.

Jentik nyamuk Anopheles sp. bersifat akuatik yakni hidup di air, umumnya berada dipermukaan air dengan posisi mendatar, sejajar dengan permukaan air dan spirakelnya selalu kontak dengan udara luar, sesekali mengadakan gerakan masuk ke dalam air untuk menghindari musuh alami (predator) atau adanya rangsangan gerakan di permukaan air (Bates, 1970; Warrel & Gilles, 2002 ).

Menurut Depkes (2007) pemilihan berbagai macam tempat genangan air yang disenangi nyamuk dilakukan secara genetik oleh seleksi alam. Satu tipe genangan air yang di sukai oleh satu jenis nyamuk, belum tentu disukai jenis nyamuk yang lain. Jentik nyamuk berkumpul pada bagian-bagian dimana dapat diperoleh makanan, terlindung dari arus air dan predator. Jentik meninggalkan permukaan air untuk mencari makanan atau sebagai reaksi untuk melarikan diri.

Berbagai jenis tanaman air merupakan indikator bagi jenis- jenis jentik nyamuk tertentu. Ada atau tidaknya tanaman air pada genangan air dapat memberikan petunujuk ada atau tidaknya jenis nyamuk tertentu. Contoh klasik ialah bila pada laguna banyak ditemukan lumut perut ayam (Hetermorpha sp.) dan lumut sutera (Enteromorpha sp.) kemungkinan laguna tersebut ada jentik An. sundaicus.

Penyebaran jentik tidak merata, tempat-tempat perindukan yang kecil jentik akan selalu berkumpul dipinggir atau sekitar benda-benda yang terapung di air atau tanaman air. Flora dan fauna yang mikroskopis sebagai bahan makanan jentik lebih banyak terdapat sekitar tanaman. Pada genangan air yang besar jentik instar I dan II berkumpul pada tempat dimana telur-telur diletakkan, sedang instar III dan IV bergerak beberapa meter dari tempat penetasan dan berkumpul dibagian-bagian yang disenangi misalnya bagian yang teduh atau terang. Waktu pertumbuhan dan perkembangan yang diperlukan setiap instar tidak saja dipengruhi oleh musim dan jumlah makanan yang tersedia, tetapi sangat tergantung dari masing-masing jenis nyamuk Anopheles sp. Pada kondisi normal, waktu yang diperlukan untuk perubahan dari instar I-IV berkisar antara 8-10 hari (Rao, 1981).

b. Lingkungan hidup nyamuk Anopheles sp.

Perubahan lingkungan merupakan fenomena kompleks terutama berkaitan dengan hal-hal yang disebabkan oleh intervensi manusia seperti degradasi lahan yang dipengaruhi oleh variabilitas iklim, lebih lagi di daerah kering dan semikering sangat rentan terhadap perubahan iklim (Sukowati, 2004). Dalam perkembang biakan nyamuk Anopheles sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain :

a). Lingkungan fisik

1). Pengaruh suhu udara

Nyamuk adalah binatang berdarah dingin oleh karena itu proses-proses metabolisme dan siklus hidupannya tergantung pada suhu lingkungan. Nyamuk tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri terhadap perubahan-perubahan di luar tubuhnya. Suhu rata-rata optimum untuk perkembangan nyamuk adalah 25-27oC. Nyamuk dapat bertahan hidup dalam suhu rendah, tetapi proses metabolismenya menurun atau bahkan terhenti bila suhu turun sampai di bawah suhu kritis dan pada suhu yang sangat tinggi akan mengalami perubahan proses fisiologinya. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10ºC atau lebih dari 40oC. Toleransi terhadap suhu tergantung pada spesies, tetapi pada umumnya tidak akan tahan lama bila suhu lingkungan naik 5-6ºC di atas batas dimana spesies secara normal dapat beradaptasi. Kecepatan perkembangan nyamuk tergantung dari kecepatan proses metabolisme yang sebagian diatur oleh suhu. Oleh karena itu kejadian–kejadian biologis tertentu seperti lamanya masa pradewasa, kecepatan pencernaan darah yang dihisap, pematangan dari indung telur, frekuensi mencari makanan atau menggigit dan lamanya pertumbuhan parasit di dalam tubuh nyamuk dipengaruhi oleh suhu (Depkes, 2002; Sukowati, 2004).

2). Curah hujan

Hujan dapat menambah tempat perkembangbiakan nyamuk (breeding place) atau dapat pula menghilangkan tempat perkembangbiakan. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tempat perkembangbiakan yang berupa genangan-genangan meluap dan akan menghanyutkan jentik. Bila musim kemarau untuk daerah laguna-laguna yang berisi air payau akan semakin terkonsentrasi untuk tempat berkembang biak nyamuk (Depkes, 1999; Sukowati, 2004).

b). Lingkungan kimia

1). Kadar garam

Nyamuk ada yang suka berkembang biak di air tawar seperti nyamuk An. aconitus, An. balabacensis, An. maculatus dan ada juga yang suka berkembang biak di air payau seperti An. sundaicus dan An. subpictus (Depkes, 1999). Kadar garam yang optimal untuk perkembangbiakan nyamuk An. sundaicus adalah antara 5-12‰. Kadar garam yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan jentik mati. Namun ada penelitian menyatakan dalam kondisi tertentu dapat hidup di air tawar (Sustriayu et al., 1986).

2). Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) mempunyai peranan penting dalam pengaturan respirasi dan fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman maka pH cendrung menurun, hal ini diduga berhubungan dengan kandungan CO2. Boyd, (1990) membuat klasifikasi pH air yaitu; pH 6,5-9 tingkat yang dibutuhkan oleh hewan air untuk bereproduksi, pH 4-6,5 perkembangan hewan air lambat, pH 4-5 hewan air tidak bereproduksi, pH 4 merupakan titik kematian asam dan pH 11 merupakan titik kematian basa. Russel et al. (1963) menyatakan bahwa pH merupakan faktor yang berpengaruh terhadap penyebaran populasi jentik nyamuk.

c). Lingkungan biologik

Lingkungan biologik dapat mempengaruhi populasi baik jentik maupun nyamuk. Lingkungan biologik yang dimaksud seperti biota air baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan di dalam tempat-tempat perindukan, makanan dan perlindungan jentik. Tempat perkembangbiakan nyamuk (breeding place) bermacam-macam tergantung pada spesiesnya, ada yang digunung dan ada di daerah pantai (Depkes, 1999; Warrel & Gilles, 2002).

Nyamuk An. sundaicus senang dengan tempat perkembangbiakan yang berganggang atau lumut, sedangkan An. aconitus senang pada sawah yang tanaman padinya mulai tumbuh, menua dan rimbun. Keberadaan hewan atau predator juga berpengaruh terhadap perkembangan dan kepadatan jentik misalnya adanya ikan pemakan jentik (Depkes, 2002).

Adanya tumbuh-tumbuhan sangat mempengaruhi kehidupan nyamuk antara lain sebagai tempat meletakkan telur, tempat berlindung, tempat mencari makan dan berlindung bagi jentik dan tempat hinggap istirahat nyamuk betina selama menunggu siklus gonotropik. Selain itu adanya suatu jenis tumbuhan atau sebagian jenis tumbuhan pada suatu tempat dapat dipakai sebagai indikator memperkirakan adanya jenis- jenis nyamuk tertentu. Tumbuhan air yang dapat diasosiasikan dengan keberadaan jentik An. sundaicus adalah lumut sutera dari golongan Enteromorpha sp. Bates (1970).

1). Tempat meletakkan telur

Di dalam memilih tempat untuk berkembang biak, nyamuk akan meletakkan telurnya di tempat-tempat tertentu. Ada nyamuk yang suka di tempat-tempat terbuka dan kena sinar matahari langsung, seperti An. sundaicus serta ada pula nyamuk yang suka di tempat-tempat yang teduh, terlindung dari sinar matahari, seperti An. barbirostris. Dengan demikian tumbuhan juga mempengaruhi nyamuk dalam pemilihan tempat untuk meletakkan telurnya (Reid, 1968; Warrel & Gilles, 2002; Depkes, 2007).

2). Tempat berlindung dan mencari makan bagi jentik

Penyebaran jentik nyamuk terutama jentik Anopheles sp. biasanya di sekitar tumbuh-tumbuhan yang ada di air. Di tempat tersebut jentik terlindung dari pengaruh gerakan permukaan air dan musuh-musuhnya. Tumbuhan dan binatang-binatang kecil sebagai makanan jentik biasanya banyak terdapat di sekitar tumbuhan air (Clements, 1963; Depkes, 2007).

Kepadatan jentik dipengaruhi oleh banyaknya mikroplanton dan detritus hasil penguraian sampah organik pada laguna sebagai sumber makanan. Keberadaan ganggang dan tumbuhan air yang membusuk membantu perkembangan jentik nyamuk (Rao, 1981).

Pengendalian Vektor Malaria

Pengendalian vektor adalah tindakan untuk mengurangi atau melenyapkan gangguan yang ditimbulkan oleh Arthropoda penular penyakit termasuk reservoir (Depkes, 2006). Menurut Macdonald (1957) pengedalian vektor adalah menjaga agar angka reproduksi dari vektor tetap dibawah satu, sehingga generasi-generasi berikutnya berkurang jumlah populasi dan secara bertahap penyakit yang ditularkan (Malaria) menghilang. Adapun prinsip dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan adalah :

1). Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/membahayakan.

2.) Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologis terhadap tata lingkungan hidup. Pengendalain vektor merupakan salah satu kegiatan utama dalam program pemberantasan penyakit malaria agar dapat memutuskan rantai penularannya.

Banyak pilihan untuk tindakan pengendalian vektor malaria yaitu : dengan bahan kimia (pengendalian kimiawi), bahan hayati (pengendalian hayati), dan pengelolaan lingkungan atau dengan pengendalian terpadu. Pengendalian terpadu yaitu kombinasi beberapa cara pengendalian vektor dengan melakukan seleksi terlebih dahulu secara simultan atau berurutan sesuai kebutuhan dan pertimbangan lingkungan masyarakat setempat (Mardihusodo, 1997).

Beberapa cara pengendalian vektor malaria adalah :

a. Manipulasi lingkungan .

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar kita, baik berupa benda hidup, benda mati, benda nyata ataupun abstrak termasuk manusia lainnya, serta suasana yang terbentuk karena terjadinya interaksi diantara elmen-elmen di alam tersebut. Sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat, terdapat masalah lingkungan, angka penyakit, angka kematian dan kesehatan semuanya ditentukan oleh interaksi manusia dan lingkungannya (Soemirat, 2007).

Manipulasi lingkungan adalah suatu bentuk kegiatan untuk menghasilkan keadaan sementara yang tidak menguntungkan bagi nyamuk, untuk berkembang biak di habitatnya, seperti mengangkat lumut dari laguna, pengubahan kadar garam dan sistem pengairan secara berkala dibidang pertanian (Depkes, 2002; Sigit & Hadi, 2006).

Menurut Depkes, (2006) bahwa tempat perkembangbiakan vektor malaria dibagi menjadi 2 tipe yaitu :

1. Tipe permanen seperti: Rawa-rawa, laguna, sawah non teknis dengan aliran air gunung, Mata air, Kolam.

2. Tipe temporer seperti: Muara sungai tertutup pasir di pantai, genangan air payau di pantai, kobakan air di dasar sungai waktu musim kemarau, genangan air hujan, sawah tadah hujan. Laguna adalah sekumpulan air payau yang terpisah dari laut oleh penghalang berupa pasir, karang dan semacamnya, ciri khas laguna pesisir memiliki bukaan sempit ke laut sehingga kualitas airnya agak berbeda dengan air laut (Nybakken, 1988). Menurut Dikes Lombok Utara (2009) laguna adalah sekumpulan air payau, air tawar dekat pantai yang terpisah dari laut oleh penghalang berupa pasir.

b. Secara kimiawi

Upaya pengendalian vektor dilakukan secara kimiawi misalnya penyemprotan rumah serta bangunan–bangunan lainnya dengan menggunakan fenitrothion, Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) dan lain-lain, namun pengendalian ini membutuhkan biaya berlipat ganda, dan harus di sadari bahwa dengan penyemprotan adalah suatu kebijaksanaan jangka pendek sedangkan jangka panjang adalah pengelolaan lingkungan.

c. Secara hayati

Pengendalian jentik nyamuk Anopheles sp. secara hayati dilakukan dengan mengunakan beberapa agent biologis seperti predator pemakan jentik (clarviyorous fish) yaitu gambusia, guppy, ikan nila dan ikan kepala timah, patogen misalnya dengan virus yang bersifat cytoplasmic polyhedrosis, dengan bakteri seperti Bacillus thuringiensis subsp. dengan protozoa seperti Nosema vavraia dan dengan fungi seperti Coelomomyces (WHO, 1995; Sigit & Hadi, 2006).

1). Predator

Predator adalah musuh alami yang berperan sebagai pemangsa jentik dalam suatu populasi nyamuk. Fauna yang bersifat sebagai predator jentik nyamuk menurut Bates (1970) adalah filum Rotifera, filum Annelida, filum Colenterata: Hydra, filum Mollusca: Limnea. Predator dari kelompok hewan vertebrata adalah Pisces, Amphibia, Reptilia dan Aves. Sedangkan predator dari filum Arthopoda meliputi 3 kelas yaitu kelas Crustasea contohnya Entomostraca dan udang, kelas Arachnida yaitu laba – laba, kelas insekta terdiri atas Ephemeroptera (lalat sehari), Odonata (capung), Hemiptera (kepik-kepik), Coleoptera (kumbang-kumbang) dan Diptera (sebangsa lalat). Tetapi predator yang paling penting adalah ikan pemakan jentik.

Menurut Depkes (2006) penebaran ikan pemakan jentik nyamuk yaitu suatu upaya memanfaatkan ikan sebagai musuh alami (predator) jentik nyamuk yang ditebarkan pada tempat perkembangbiakan potensial nyamuk dengan tujuan pengendalian populasi jentik nyamuk, sehingga dapat mengurangi penularan. Keuntungan penggunaan ikan pemakan jentik antara lain; Sekali dikembangkan pada tempat yang cocok, populasinya akan berkembang sendiri secara terus-menerus, sehingga mengurangi populasi jentik nyamuk, biaya relatif murah, tidak mencemari lingkungan dan dapat dipelihara di rawa-rawa yang dalam dan banyak tanaman air.

2). Predator dengan ikan nila (Oreochromis niloticus)

Ikan nila sangat dikenal oleh masyarakat penggemar ikan air tawar, baik di negara berkembang maupun negara maju. Menurut sejarahnya ikan nila pertama kali didatangkan dari Taiwan ke Balai Perikanan Air tawar Bogor Indonesia pada tahun 1969. Setahun kemudian disebarkan kebeberapa daerah. Pemberian nama nila berdasarkan ketetapan Direktur Jendral Perikanan tahun 1972. Nama tersebut di ambil dari nama spesiesnya yakni nilotica kemudian diubah menjadi nila (Amri dan Khairuman, 2008).

Sedangkan kata nilotica berasal dari kata nile atau nil, yaitu nama sungai besar di Afrika yang bermuara di pantai utara Mesir. Memang negeri asal ikan nila yang asli sebenarnya adalah benua Afrika, terutama bagian barat, bagian tengah dan sungai Nil, dari sanalah ia tersebar luas ke beberapa negara di dunia (Mujiman, 1986).

a. Klasifikasi ikan nila

Sistematika ikan nila dapat dijelaskan sebagai berikut :

Filum : Chordata

Subfilum : Vertebrata

Kelas : Pisces

Subkelas : Acanthopterigii

Suku : Cichlidae

Marga : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus

Awalnya, ikan nila dimasukkan kedalam jenis tilapia atau ikan dari golongan tilapia yang tidak mengerami telur dan larva di dalam mulut induknya. Dalam perkembangannya, para pakar perikanan menggolongkan ikan nila kedalam jenis Sarotherodon niloticus yaitu kelompok ikan yang mengerami telur dan larvanya di dalam mulut induknya, sehingga nama ilmiah yang tepat untuk ikan nila adalah Oreochromis niloticus (Amri dan Khairuman, 2008).

b. Morfologi

Berdasarkan morfologi, Oreochromis niloticus berbeda dengan kelompok tilapia. Secara umum bentuk tubuh ikan nila panjang dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Matanya besar, menonjol dan bagian tepinya berwarna putih. Jumlah sisik pada gurat sisi sejumlah 34 buah. Memiliki lima buah sirip, yakni sirip punggung(dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (venteral fin), sirip anus (anal fin) dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggungnya memanjang dari bagian atas tutup ingsang hingga bagian atas sirip ekor. Ada sepasang sirip dada dan sirip perut berukuran kecil. Sirip anus hanya satu buah dan berbentuk panjang sedangkan sirip ekor berbentuk bulat dan hanya berjumlah satu buah. Ikan nila jantan memiliki ukuran sisik yang lebih besar daripada ikan nila betina.

Alat kelamin ikan nila jantan berupa tonjolan agak runcing yang berfungsi sebagai muara urin dan saluran sperma yang terletak didepan anus. Sedangkan nila betina mempunyai genital terpisah dengan lubang saluran urin yang terletak didepan anus. Bentuk hidung dan rahang belakang ikan nila jantan melebar dan berwarna biru muda pada ikan betina berbentuk agak lancip dan berwarna kuning terang. Sirip punggung dan sirip ekor ikan nila jantan berupa garis putus- putus sedangkan pada ikan nila betina garisnya berlanjut atau tidak terputus dan melingkar (Amri dan Khairuman, 2008).

c. Syarat hidup

Ikan nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya sehingga bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga di dataran tinggi yang berair tawar. Habitat hidup ikan nila cukup beragam dari sungai, danau, waduk, rawa,sawah, kolam hingga tambak. Ikan nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14-38oC dan dapat memijah secara alami pada suhu 22-27oC. Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan suhu optimum pada ikan nila 25-30oC. Ikan nila akan mati pada suhu 6oC atau 42oC. Selain suhu faktor lain yang bisa mempengaruhi kehidupan ikan nila adalah salinitas di suatu perairan. Ikan nila bisa tumbuh dan berkembang biak pada kisaran salinitas 0- 29‰. Jika kadar garamnya 29-35‰ ikan nila bisa tumbuh tapi tidak bisa berproduksi. Ikan nila yang masih kecil atau benih biasanya lebih cepat menyesuaikan diri dengan kenaikan salinitas dibandingkan dengan ikan nila yang berukuran besar (Amri dan Khairuman, 2008).

d. Perilaku hidup

1). Berkembang biak.

Secara alami ikan nila bisa memijah sepanjang tahun di daerah tropis. Frekuensi pemijahan yang terbanyak terjadi pada musim hujan. Ikan nila bisa memijah 6-7 kali dalam setahun. Ikan nila akan mencapai dewasa pada umur 4-5 bulan dengan bobot sekitar 250 gram. Masa pemijahan produktif adalah ketika induk berumur 1,5-2 tahun dengan bobot di atas 500 gram/ekor. Seekor ikan nila betina dengan berat sekitar 800 gram menghasilkan larva sebanyak 1200-1500 ekor pada setiap pemijahan.

Dalam waktu 50-60 detik mampu menghasilkan 20-40 butir telur yang telah dibuahi. Pemijahan itu bisa terjadi beberapa kali dengan pasangan yang sama atau berbeda hingga membutuhkan waktu 20-60 menit (Amri dan Khairuman, 2008).

2). Kebiasaan makan

Nila tergolong ikan pemangsa segala atau omnivora sehingga bisa mengkonsumsi makanan berupa hewan atau

tumbuhan. Ketika masih benih makanan yang disukai ikan nila adalah zooplankton (plankton hewani) seperti Rotifera sp., Moina sp., atau Daphina sp. Selain itu juga memangsa alga atau lumut yang menempel pada benda-benda di habitat hidupnya. Ikan nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam budidaya (Amri dan Khairuman, 2008).

3). Laju pertumbuhan

Laju pertumbuhan ikan nila yang dibudidayakan tergantung dari pengaruh fisika dan kimia perairan dan interaksinya. Sebagai contoh, curah hujan yang tinggi akan mengganggu pertumbuhan tanaman air dan secara tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhan ikan nila yang dipelihara di kolam. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui laju pertumbuhan ikan nila lebih cepat jika dipelihara di kolam yang dangkal dibandingkan dengan di kolam yang airnya dalam. Penyebabnya adalah di perairan yang dangkal pertumbuhan tanaman air sangat cepat sehingga ikan nila menjadikannya makanan. Laju pertumbuhan ikan nila di kolam yang dipupuk dengan pupuk organik, seperti kotoran ternak, lebih cepat dibandingkan dengan kolam yang dipupuk dengan pupuk anorganik (Amri dan Khairuman, 2008).

e. Jenis ikan nila

Dari berbagai jenis ikan nila yang ada, tiga jenis di antaranya merupakan ikan nila yang produktif dan banyak dibudidayakan oleh masyarakat, terutama negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketiga jenis nila tersebut adalah nila lokal (biasa), nila gif dan nila merah (Nila nifi) (Amri dan Khairuman, 2008).

f. Kegiatan penebaran ikan nila

Penebaran ikan pemakan jentik nyamuk yaitu suatu upaya pemanfaatan ikan sebagai musuh alami jentik nyamuk yang ditebarkan ditempat perkembangbiakan potensial nyamuk dengan tujuan pengendalian populasi jentik nyamuk, sehingga dapat mengurangi penularan (Depkes, 2006). Menurut Depkes (2006) ada beberapa kegiatan sebelum penebaran ikan yaitu :

1). Survei pendahuluan

Melakukan inventarisasi habitat vektor malaria yang potensial, kemudian pemetaan habitat, pengukuran luas, salinitas, pH, suhu dan identifikasi jenis predator, setelah itu baru dilakukan pencidukan jentik untuk mengetahui kepadatan jentik sebelum penebaran ikan. Selanjutnya lepaskan ikan nila yang jumlahnya sesuai dengan luas laguna (25 ekor per 10 m2).

2). Waktu penebaran

Pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau atau selama musim kemarau, pada saat luas tempat perindukan minimum.

3). Lokasi penebaran

Lokasi adalah Desa-desa endemis malaria dimana terdapat habitat vektor malaria yang potensial dan air permanen yaitu : mata air, anak sungai, rawa-rawa, dan daerah pantai dengan air payau atau air tawar.

4). Cara penebaran

Ikan ditebarkan atau dilepas di laguna secara pelan-pelan pada permukaan air di pagi atau sore hari, yaitu saat matahari tidak bersinar terik, sehingga benih tidak banyak mati karena pengaruh suhu tinggi (Mujiman, 1986). Menurunkan kepadatan jentik dengan menggunakan ikan nila telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya seperti :

a. Sudomo et al. (1998)

Percobaan dilakukan di Desa Sihepeng, Siabu, Tapanuli Selatan. Kolam percobaan dibuat sebanyak 12 petak masing masing dengan 6 x 7 m, kemudian diberi nomor seri. Kondisi setiap kolam dibuat sama, kedalam kolam tersebut dilakukan 4 perlakuan yaitu: Kolam tanpa ikan sebagai kontrol, kolam dengan ikan nila saja, kolam dengan campuran ikan nila dan ikan mas dan kolam dengan ikan mas saja. Masing-masing perlakuan dilakukan dalam 3 kolam sebagai ulangan. Setelah kolam siap kemudian diisi air dengan ketinggian air 30-50 cm dari dasar kolam dan komunitas kolam mulai dipantau. Semua tanaman air, jentik nyamuk dan hewan lain yang muncul dicatat. Kepadatan jentik nyamuk dipantau dengan pencidukan sekali seminggu. Setelah 4 minggu semua petak kolam telah ditumbuhi tanaman air dan ditemukan banyak jentik nyamuk dengan kepadatan tertentu. Pada saat itu ikan ditebarkan dan dipantau pertumbuhannya. Jumlah ikan yang ditebar kedalam masing-masing kolam adalah 126 ekor atau 3 ekor per m2. Ukuran ikan nila merah yang diteberkan antara 6-8 cm dan berat antara 10,5-12,5 g (berumur 1 bulan), sedangkan ikan mas dengan berat antara 12,5-16,0 g. Bersamaan dengan pemantauan pertumbuhan ikan, juga terus dipantau kepadatan populasi jentik nyamuk dan tanaman air di dalam masing- masing kolam. Percobaan ini berlansung selama 11 minggu.

b. Howard et al. (2007)

Percobaan dilakukan di Kabupaten Kisii Tengah di Kenya Barat pada ketinggian 1.880 m di atas permukaan laut dengan kepadatan penduduk > 1.000 orang per km2. Kolam percobaannya sebanyak 3 petak dengan kedalaman masing-masing 30 cm, yaitu kolam A luasnya 104m2 sebagai kontrol tanpa dilepaskan ikan nila, kolam C luasnya 128 m2 dan kolam D luasnya 72 m2 masing-masing dilepaskan ikan nila. Penilaian terhadap kolam tanpa diberikan ikan dilakukan mulai tanggal 1 Oktober 2003 sampai tanggal 13 Januari 2004 dengan mengambil sebanyak 5 ciduk jentik (total volume 2,5 liter) sekali seminggu secara acak dari masing- masing kolam, setidak-tidaknya 1 cidukan dari setiap sisi, kemudian jentik Anophelines dan Culicines diidentifikasi menggunakan buku kunci. Pada tanggal 14 Januari 2004 jam 01.59 ikan nila (Oreochromis niloticus) ditebarkan pada kolam C dan D masing-masing 2 ekor per m2 luas permukaan kolam.

Ketiga kolam dibersihkan dari vegetasi setiap minggu selama 9 bulan. Selama penelitian ikan tidak dipanen begitu juga kolam tidak ditambah isinya. Analisis data dilakukan 15 minggu sebelum dan 15 minggu setelah penebaran ikan nila pada kolam C dan D.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: