Home > Kesehatan Lingkungan > LINGKUNGAN HIDUP DAN PELESTARIANNYA

LINGKUNGAN HIDUP DAN PELESTARIANNYA

Kita semua tentu sudah tahu bahwa selain manusia, bumi kita juga ditempati oleh berbagai jenis tumbuhan (flora), binatang (fauna), dan jasad renik serta benda-benda mati, seperti udara yang terdiri dari bermacam-macam gas, air dalam bentuk uap, cair dan padat, serta tanah dan batu. Ruang yang menjadi tempat mahluk hidup dan tak hidup tersebut dinamakan lingkungan hidup. Lingkungan hidup dapat diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Makhluk hidup dan benda tidak hidup saling berinteraksi satu sama lain yang membentuk sistem yang disebut ekosistem. Manusia merupakan salah satu anggota ekosistem yang mempunyai peranan yang dominan. Peranan itu berkaitan dengan hubungan antara manusia dan alam. Hubungan manusia dengan makhluk hidup lain dan benda mati adalah timbal balik. Apapun kegiatan manusia, sedikit atau banyak akan mengubah lingkungan.

Salah satu perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia adalah terjadinya kerusakan lingkungan. Pada akhirnya, kerusakan lingkungan akan berakibat buruk terhadap manusia. Untuk itu, manusia dalam aktivitasnya harus tetap menjaga kelestarian lingkungan. Permasalahan lingkungan hidup mulai mendapat perhatian yang serius dari dunia internasional sejak tahun 1970-an, yaitu setelah diadakan konferensi PBB tentang lingkungan hidup di Stockholm, Swedia tahun 1972. Konferensi tersebut dikenal pula sebagai Konferensi Stockholm dan tanggal pembukaan kegiatan konferensi, yaitu tanggal 5 Juni disepakati sebagai Hari Lingkungan Hidup se-Dunia. Salah satu resolusi yang dihasilkan dalam konferensi Stockholm adalah didirikannya badan khusus dalam PBB yang bertugas mengurus permasalahan Lingkungan Hidup. Badan PBB tersebut adalah United National Environmental Programme (UNEP) yang markasnya berada di Nairobi, Kenya.

Oleh karena Kehidupan yang berlangsung di muka bumi merupakan bentuk interaksi timbal balik antara unsur-unsur biotik (unsur hayati atau makhluk hidup) dan unsur-unsur abiotik (unsur fisik dan benda mati) dan unsur social budaya. Ketiga unsur tersebut harus dapat mendukung satu sama lain, sehingga dapat diperoleh kondisi lingkungan hidup yang serasi dan seimbang. Hal penting yang harus kalian ingat adalah bahwa lingkungan hidup yang ada sekarang bukanlah warisan dari nenek moyang yang dapat kita gunakan sembarangan. Akan tetapi, merupakan titipan dari generasi yang akan datang, sehingga dalam memanfaatkannya harus diperhatikan kelangsungan dan kelestariannya agar dapat digunakan oleh generasi yang akan datang. Berikut ini akan diuraikan ketiga unsur lingkungan hidup.

A. Unsur-Unsur Lingkungan

Menurut Undang-Undang No 4 Tahun 1982, lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang memengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Berdasarkan pengertian tersebut, lingkungan hidup tersusun dari berbagai unsur yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu unsur biotik, abiotik, dan sosial budaya.

1. Unsur Biotik

Unsur biotik adalah unsur-unsur makhluk hidup atau benda yang dapat menunjukkan ciri-ciri kehidupan, seperti bernapas, memerlukan makanan, tumbuh, dan berkembang biak. Unsur biotik terdiri atas manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan jasad renik sebagai tumbuhan dapat langsung diambil dan dimanfaatkan, misalnya berbagai jenis sayuran dan buah-buahan dapat langsung dipetik dan dimakan. Namun, sebagian lagi harus melakukan proses pengolahan terlebih dahulu, misalnya hasil pengolahan susu melalui proses tertentu agar agar diperoleh keju.

Berdasarkan pada interaksi dan kemampuannya dalam mengikat energi, unsur biotik dalam lingkungan dapat dibedalan menjadi tiga kelompok, yaitu produsen, konsumen, dan pengurai.

a. Produsen, yaitu organisme atau makhluk hidup yang dapat mensintesis zat makanan sendiri dengan bantuan energy matahari. Produsen dapat mengubah energy matahari melalui proses sintesis menjadi energy kimia. Energy tersebut kemudian digunakan untuk menyusun oksigen dan karbondioksida menjadi karbohidrat sebagai sumber makanan. Produsen pada umumnya adalah tumbuhan hijau yang dapat membentuk bahan makanan (zat organik) melalui fotosintesis.

b. Konsumen, yaitu organisme yang tidak mampu membuat makanan sendiri atau kelompok organism yang tidak mampu mensintesis makanan sendiri sehingga untuk memenuhi kebutuhan makanan mengambil dari organisme lain, baik dari hewan maupun tumbuhan. Yang termasuk konsumenadalah hewan, manusia, dan organisme heterotrof.

c. Pengurai atau perombak (dekomposer),yaitu organisme yang mampu menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Organisme suatu ekosistem, baik tumbuhan ataupun hewan suatu saat akan mati. Mikro organisme atau pengurai menguraikan senyawa organik menjadi senyawa anorganik. Pengurai tersebut

menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepas bahan- bahan yang sederhana yang dapat dipakai oleh produsen. Pengurai terdiri atas bakteri dan jamur.

2. Unsur Abiotik (Fisik)

Unsur abiotik adalah unsur-unsur alam berupa benda mati yang dapat mendukung kehidupan makhluk hidup. Termasuk unsur abiotik adalah tanah, air, cuaca, angin, sinar matahari, dan berbagai bentuk bentang lahan. Fungsi unsur abiotik (fisik) dalam lingkungan hidup adalah sebagai media berlangsungnya kehidupan. Contoh, tanah diperlukan tumbuh- tumbuhan untuk tempat hidupnya. Air diperlukan oleh tumbuhan untuk mengalirkan zat-zat makanan. Uadara diperlukan tumbuhan untuk bernafas. Dan sinar matahari merupakan sumber energi yang utama yang diperlukan untukmengolah makanan.

Tumbuh-tumbuhan merupakan sumber makanan dan gizi bagi makhluk hidup lainnya. Apabila aktivitas tumbuhan terganggu akibat unsur biotik yang tidak menunjang maka aktivitas seluruh kehidupan di permukaan bumi akan terhambat. Jadi, makhluk hidup sangat tergantung pada keberadaan unsur abiotik (fisik).

3. Unsur Sosial Budaya

Pada dasarnya unsur sosial budaya pada suatu lingkungan berkaitan dengan hubungan manusia dan lingkungan. Unsur sosial adalah hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Unsur budaya dalam lingkungan hidup adalah keseluruhan sistem nilai, gagasan, tindakan, dan kewajiban yang dimiliki manusia untuk menentukan perilaku sebagai makhluk sosial dan dalam kehidupan bermasyarakat yang didapatnya dengan cara belajar. Unsur sosial budaya dapat dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama untuk kebutuhan pokok dan kemudahan hidupnya. Termasuk unsur sosial budaya adalah adat istiadat serta berbagai hasil penemuan manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

B. Arti Penting Lingkungan

Lingkungan hidup merupakan tempat berinteraksi makhluk hidup yang membentuk suatu sistem jaring kehidupan, yaitu jenis dan jumlah masing-masing unsur lingkungan, interaksi atau hubungan antar unsur dalam lingkungan hidup, prilaku dan kondisi unsur lingkungan hidup dan factor nonmaterial, seperti suhu, cahaya, dan kebisingan.

Oleh karena itu makhluk hidup tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya. Kalian tentu dapat membayangkan, apa yang terjadi jika seekor ikan dikeluarkan dari akuarium, kolam, atau sungai yang merupakan lingkungan hidupnya? Ikan tersebut akan mati, bukan? Hal itu terjadi karena tidak adanya unsur-unsur lingkungan yang mendukung kehidupan ikan tersebut. Meskipun lingkungan bersifat mendukung atau menyokong kehidupan makhluk hidup, namun perlu diingat bahwa tidak semua lingkungan di muka bumi ini memiliki keadaan yang ideal untuk kehidupan makhluk hidup. Dalam hal ini, makhluk hidup yang bersangkutan harus dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Sebagai contoh, berdasarkan kondisi fisik pegunungan, kegiatan yang paling sesuai adalah bercocok tanam.

Berdasarkan kondisi fisik, masyarakat yang tinggal di daerah pantai menggantungkan kehidupannya pada usaha yang mengeksploitasi potensi laut, seperti menangkap ikan dan membuat tambak ikan air payau atau tambak garam. Manusia yang hidup di daerah dingin seperti di kutub harus mengenakan pakaian yang tebal agar dapat bertahan di hawa dingin; hewan onta mempunyai kemampuan tidak minum selama berhari- hari, hal ini disesuaikan dengan kondisi lingkungan hidup onta, yaitu di padang pasir yang sulit menemukan air; beberapa jenis tumbuhan menggugurkan daunnya saat musim kemarau agar dapat mengurangi penguapan, sehingga pohon tersebut tidak mati karena kekurangan air.

Hal-hal tersebut merupakan bentuk adaptasi makhluk hidup terhadap kondisi lingkungan yang beragam di muka bumi. Khusus bagi manusia, adaptasi yang dilakukan terhadap lingkungannya akan menghasilkan berbagai bentuk hasil interaksi yang disebut dengan budaya. Budaya- budaya tersebut, antara lain, berupa bentuk rumah, model pakaian, pola mata pencaharian, dan pola kehidupan hariannya. Dengan kemampuan yang dimilikinya, manusia tidak hanya dapat menyesuaikan diri. Akan tetapi, manusia juga dapat memanfaatkan potensi lingkungan untuk lebih mengembangkan kualitas kehidupannya. Bagi manusia, selain sebagai tempat tinggalnya, lingkungan hidup juga dapat dimanfaatkan sebagai :

1. Media penghasil bahan kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan);

2. Wahana bersosialisasi dan berinteraksi dengan makhluk hidup atau manusia lainnya;

3. Sumber energi;

4. Sumber bahan mineral yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kelangsungan hidup manusia; serta

5. Media ekosistem dan pelestarian flora dan fauna serta sumber alam lain yang dapat dilindungi untuk dilestarikan.

C. Bentuk-Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup dan Faktor Penyebabnya

Kualitas hidup juga mempunyai hubungan sebab dan akibat dengan kualitas lingkungan. Oleh sebab itu, kondisi dan kualitas lingkungan hidup tergantung pada sikap dan perilaku manusia yang menghuninya. Ada tiga kriteria menurut Otto Soemarwoto (1989) untuk mengatur kualitas hidup manusia, yaitu terpenuhinya kebutuhan makhluk hidup hayati, seperti air dan udara, terpenuhinya kebutuhan hidup manusia, seperti perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan, dan terpenuhinya derajat kebebasan yang dibatasi oleh hukum tertulis ataupun tidak tertulis seperti aturan-aturan yang telah dibuat oleh pemerintah.

Lingkungan hidup mempunyai keterbatasan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya. Dengan kata lain, lingkungan hidup dapat mengalami penurunan kualitas dan penurunan kuantitas. Penurunan kualitas dan kuantitas lingkungan ini menyebabkan kondisi lingkungan kurang atau tidak dapat berfungsi lagi untuk mendukung kehidupan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Kerusakan lingkungan hidup dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berdasarkan faktor penyebabnya, kerusakan lingkungan dapat dikarenakan proses alam dan karena aktivitas manusia.

Bentuk Kerusakan Lingkungan Akibat Proses Alam

Bumi ini tidak statis, melainkan dinamis secara terus menerus mengalami perubahan. Sampai saat ini, perubahan itu masih tetap berlangsung. Seperti benua bergerak, terjadi gempa bumi, gunung merapi meletus, angin topan (badai siklon), serta terjadi peubahan musim (terjadi penyimpangan musim kemarau dan musim penghujan). Peristiwa tersebut terjadi di luar pengaruh kegiatan manusia dan manusia tidak mampu mencegah dan membendungnya.

Kerusakan lingkungan hidup oleh alam terjadi karena adanya gejala atau peristiwa alam yang terjadi secara hebat sehingga memengaruhi keseimbangan lingkungan hidup. Peristiwa-peristiwa alam yang dapat memengaruhi kerusakan lingkungan, antara lain meliputi hal – hal berikut ini :

a. Letusan Gunung Api

Letusan gunung api dapat menyemburkan lava, lahar, material- material padat berbagai bentuk dan ukuran, uap panas, serta debu-debu vulkanis. Selain itu, letusan gunung api selalu disertai dengan adanya gempa bumi lokal yang disebut dengan gempa vulkanik.

Aliran lava dan uap panas dapat mematikan semua bentuk kehidupan yang dilaluinya, sedangkan aliran lahar dingin dapat menghanyutkan lapisan permukaan tanah dan menimbulkan longsor lahan. Uap belerang yang keluar dari pori-pori tanah dapat mencemari tanah dan air karena dapat meningkatkan kadar asam air dan tanah.

Debu-debu vulkanis sangat berbahaya bila terhirup oleh makhluk hidup (khususnya manusia dan hewan), hal ini dikarenakan debu-debu vulkanis mengandung kadar silika (Si) yang sangat tinggi, sedangkan debu-debu vulkanis yang menempel di dedaunan tidak dapat hilang dengan sendirinya. Hal ini menyebabkan tumbuhan tidak bisa melakukan fotosintesis sehingga lambat laun akan mati. Dampak letusan gunung memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat kembali normal. Lama tidaknya waktu untuk kembali ke kondisi normal tergantung pada kekuatan ledakan dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Akan tetapi, setelah kembali ke kondisi normal, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang subur karena mengalami proses peremajaan tanah.

b. Gempa Bumi

Gempa bumi adalah getaran yang ditimbulkan karena adanya gerakan endogen. Semakin besar kekuatan gempa, maka akan menimbulkan kerusakan yang semakin parah di muka bumi. Gempa bumi menyebabkan bangunan-bangunan retak atau hancur, struktur batuan rusak, aliran-aliran sungai bawah tanah terputus, jaringan pipa dan saluran bawah tanah rusak, dan sebagainya. Jika kekuatan gempa bumi melanda lautan, maka akan menimbulkan tsunami, yaitu arus gelombang pasang air laut yang menghempas daratan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Masih ingatkah kalian dengan peristiwa tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam di penghujung tahun 2004 yang lalu?

Contoh peristiwa gempa bumi yang pernah terjadi di Indonesia antara lain gempa bumi yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam dengan kekuatan 9,0 skala richter. Peristiwa tersebut merupakan gempa paling dasyat yang menelan korban diperkirakan lebih dari 100.000 jiwa. Gempa bumi juga pernah melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada bulan Mei 2006 dengan kekuatan 5,9 skala richter.

c. Banjir

Banjir merupakan salah satu bentuk fenomena alam yang unik. Dikatakan unik karena banjir dapat terjadi karena murni gejala alam dan dapat juga karena dampak dari ulah manusia sendiri. Banjir dikatakan sebagai gejala alam murni jika kondisi alam memang memengaruhi terjadinya banjir, misalnya hujan yang turun terus menerus, terjadi di daerah basin, dataran rendah, atau di lembah-lembah sungai. Selain itu, banjir dapat juga disebabkan karena ulah manusia, misalnya karena penggundulan hutan di kawasan resapan, timbunan sampah yang menyumbat aliran air, ataupun karena rusaknya dam atau pintu pengendali aliran air. Kerugian yang ditimbulkan akibat banjir, antara lain, hilangnya lapisan permukaan tanah yang subur karena tererosi aliran air, rusaknya tanaman, dan rusaknya berbagai bangunan hasil budidaya manusia.

Bencana banjir merupakan salah satu bencana alam yang hampir setiap musim penghujan melanda di beberapa wilayah di Indonesia. Contoh daerah di Indonesia yang sering dilanda banjir adalah Jakarta. Selain itu beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada awal tahun 2008 juga dilanda banjir akibat meluapnya DAS Bengawan Solo.

d. Tanah Longsor

Karakteristik tanah longsor hampir sama dengan karakteristik banjir. Bencana alam ini dapat terjadi karena proses alam ataupun karena dampak kecerobohan manusia. Bencana alam ini dapat merusak struktur tanah, merusak lahan pertanian, pemukiman, sarana dan prasarana penduduk serta berbagai bangunan lainnya. Peristiwa tanah longsor pada umumnya melanda beberapa wilayah Indonesia yang memiliki topografi agak miring atau berlereng curam. Sebagai contoh, peristiwa tanah longsor pernah melanda daerah Karanganyar (Jawa Tengah) pada bulan Desember 2007.

e. Badai/Angin Topan

Angin topan terjadi karena perbedaan tekanan udara yang sangat mencolok di suatu daerah sehingga menyebabkan angin bertiup lebih kencang. Di beberapa belahan dunia, bahkan sering terjadi pusaran angin. Bencana alam ini pada umumnya merusakkan berbagai tumbuhan, memorakporandakan berbagai bangunan, sarana infrastruktur dan dapat membahayakan penerbangan. Badai atau angin topan sering melanda beberapa daerah tropis di dunia termasuk Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia pernah dilanda gejala alam ini. Salah satu contoh adalah angin topan yang melanda beberapa daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

f. Kemarau Panjang

Bencana alam ini merupakan kebalikan dari bencana banjir. Bencana ini terjadi karena adanya penyimpangan iklim yang terjadi di suatu daerah sehingga musim kemarau terjadi lebih lama dari biasanya. Bencana ini menimbulkan berbagai kerugian, seperti mengeringnya sungai dan sumber-sumber air, munculnya titik-titik api penyebab kebakaran hutan, dan menggagalkan berbagai upaya pertanian yang diusahakan penduduk.

Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup karena Aktivitas Manusia

Manusia memanfaatkan kemajuan ilmu dan teknologi untuk mengeksploitasi lingkungan sehingga kebutuhan hidupnya terpenuhi. Namun, ilmu dan teknologi yang dipergunakan oleh manusia telah mengakibatkan tekanan terhadap lingkungan hidup. Karena dalam memanfaatkan alam, manusia terkadang tidak memerhatikan dampak yang akan ditimbulkan. Beberapa bentuk kerusakan lingkungan yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia, antara lain, meliputi hal-hal berikut ini.

1. Pencemaran Lingkungan

Pencemaran disebut juga dengan polusi, terjadi karena masuknya bahan-bahan pencemar (polutan) yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Bahan-bahan pencemar tersebut pada umumnya merupakan efek samping dari aktivitas manusia dalam pembangunan. Salah satunya adalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh zat-zat polutan yang semakin menyesaki bumi akibat dari kemajuan teknologi. Disatu sisi, teknologi memang kita butuhkan tetapi disisi lain telah menyebabkan pencemaran yang sangat membahayakan kehidupan. Hasil dari sisa-sisa kemajuan teknologi itu kini telah meracuni tanah, air, serta udara. Jadi, teknologi hendaknya diciptakan sedemikian rupa sehingga tetap ramah terhadap lingkungan. Berdasarkan jenisnya, pencemaran dapat dibagi menjadi empat, yaitu pencemaran udara, pencemaran tanah, pencemaran air, dan pencemaran suara. Pencemaran udara yang ditimbulkan oleh ulah manusia antara lain, disebabkan oleh asap sisa hasil pembakaran, khususnya bahan bakar fosil (minyak dan batu bara) yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor, mesin-mesin pabrik, dan mesin-mesin pesawat terbang atau roket. Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran udara, antara lain, berkurangnya kadar oksigen (O2) di udara, menipisnya lapisan ozon (O3), dan bila bersenyawa dengan air hujan akan menimbulkan hujan asam yang dapat merusak dan mencemari air, tanah, atau tumbuhan.

Pencemaran tanah disebabkan karena sampah plastik ataupun sampah anorganik lain yang tidak dapat diuraikan di dalam tanah. Pencemaran tanah juga dapat disebabkan oleh penggunaan pupuk atau obat-obatan kimia yang digunakan secara berlebihan dalam pertanian, sehingga tanah kelebihan zat-zat tertentu yang justru dapat menjadi racun bagi tanaman. Dampak rusaknya ekosistem tanah adalah semakin berkurangnya tingkat kesuburan tanah sehingga lambat laun tanah tersebut akan menjadi tanah kritis yang tidak dapat diolah atau dimanfaatkan.

Pencemaran air terjadi karena masuknya zat-zat polutan yang tidak dapat diuraikan dalam air, seperti deterjen, pestisida, minyak, dan berbagai bahan kimia lainnya, selain itu, tersumbatnya aliran sungai oleh tumpukan sampah juga dapat menimbulkan polusi atau pencemaran. Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran air adalah rusaknya ekosistem perairan, seperti sungai, danau atau waduk, tercemarnya air tanah, air permukaan, dan air laut.

Sesungguhnya antara pencemaran udara, tanah dan air ini satu sama lain saling berkaitan, seperti asap pabrik dan kendaraan bermotor melepaskan karbon monoksida ke udara, terjadilah pencemaran udara. Udara yang tercemar itu naik bercampur dengan uap air, terkondensasi dan turun sebagai hujan. Air hujan yang telah tercemar karbon monoksida itu bersifat asam sehingga sering disebut hujan asam. Hujan asam ini jika mengenai tanaman atau hewan secara langsung dapat memperlambat pertumbuhannya dan bahkan membunuhnya. Air hujan asam itu juga memasuki air permukaan seperti sungai atau danau dan meracuni tumbuhan serta hewan-hewan air. Sebagian hujan asam itu meresap ke tanah dan meracuni tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan dan hewan itu jika masih hidup akan menyimpan racun dalam tubuhnya, dan racun tersebut tanpa disadari akan masuk ke dalam tubuh manusia apabila manusia tersebut mengkonsumsi tumbuhan dan hewan yang sudah terkontaminasi racun tersebut.

Pencemaran air pada akhirnya juga menyebabkan pencemaran udara dan tanah. Zat-zat polutan dalam air yang tercemar akan terurai dan tercampur dalam udara ketika berlangsung proses penguapan. Sebagian air yang tercemar juga memasuki tanah sehingga tanah pun itu tercemar. Pencemaran tanah pun akhirnya juga menyebabkan pencemaran air dan udara. Zat-zat polutan yang ada di dalam tanah dapat menguap ke udara, menimbulkan bau yang tidak sedap dan menyesakkan pernafasan. Sebagian zat polutan itu juga memasuki air tanah dan mengisi air sumur, sungai, dan danau. Kalau sudah seperti itu, siapakah yang akan rugi? Tentu manusia-lah yang akan rugi dan menanggung semua akibatnya.

Dan selanjutnya adalah Pencemaran suara adalah tingkat kebisingan yang sangat mengganggu kehidupan manusia, yaitu suara yang memiliki kekuatan > 80 desibel. Pencemaran suara dapat ditimbulkan dari suara kendaraan bermotor, mesin kereta api, mesin jet pesawat, mesin-mesin pabrik, dan instrumen musik. Dampak

pencemaran suara menimbulkan efek psikologis dan kesehatan bagi manusia, antara lain, meningkatkan detak jantung, penurunan pendengaran karena kebisingan (noise induced hearing damaged), susah tidur, meningkatkan tekanan darah, dan dapat menimbulkan stres.

2. Degradasi Lahan

Degradasi lahan adalah proses berkurangnya daya dukung lahan terhadap kehidupan. Degradasi lahan merupakan bentuk kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan lingkungan oleh manusia yang tidak memerhatikan keseimbangan lingkungan. Bentuk degradasi lahan, misalnya lahan kritis, kerusakan ekosistem laut, dan kerusakan hutan.

1). Lahan kritis dapat terjadi karena praktik ladang berpindah ataupun karena eksploitasi penambangan yang besar-besaran.

2). Rusaknya ekosistem laut terjadi karena bentuk eksploitasi hasil-hasil laut secara besar-besaran, misalnya menangkap ikan dengan menggunakan jala pukat, penggunaan bom, atau menggunakan racun untuk menangkap ikan atau terumbu karang. Rusaknya terumbu karang berarti rusaknya habitat ikan, sehingga kekayaan ikan dan hewan laut lain di suatu daerah dapat berkurang.

3).Kerusakan hutan pada umumnya terjadi karena ulah manusia antara lain, karena penebangan pohon secara besar-besaran, kebakaran hutan, dan praktik peladangan berpindah. Kerugian yang ditimbulkan dari kerusakan hutan, misalnya punahnya habitat hewan dan tumbuhan, keringnya mata air, serta dapat menimbulkan bahaya banjir dan tanah longsor.

Degradasi lahan dapat berupa penggundulan hutan (deforestation) dan penggersangan lahan (desertification).

1). Penggundulan hutan (deforestation)

Perusakan dan penebangan hutan secara permanen merupakan tindakan yang menyebabkan hutan gundul. Penebangan hutan sudah dilakukan penduduk selama berabad-abad. Hanya saja, dalam 50 tahun terakhir ini kerusakan mulai dirasakan. Diperkirakan hutan yang hilang setiap hari seluas 400.000 hektar. Sedang di Indonesia, setiap tahun luas hutan berkurang sebanyak 1,6 juta hektar. Seandainya 1 hektar = 1 lapangan sepak bola, dapat dibayangkan betapa cepat hutan hilang dari wilayah Indonesia. Yang lebih memprihatinkan, kebanyakan kerusakan hutan terjadi di wilayah hutan hujan tropis, termasuk hutan Papua, Sumatera, dan Kalimantan. Banyak factor yang menyebabkan manusia melakukan penggundulan hutan. Dorongan ekonomi cukup berperan dalam hal ini.

a. Pembangunan permukiman

Pembangunan permukiman baru sering dilakukan denga cara membuka lahan hutan. Daerah transmigrasi disiapkan untuk ditempati para transmigran agar dapat membangun kembali lingkungan barunya. Lahan transmigran disiapkan di daerah tertentu dengan cara membuka hutan. Selain disediakan rumah-rumah dan laha pekarangan, fasilitas prasarana transportasi juga disiapkan untuk para transmigran. Jalan-jalan dibuat untuk menghubungkan dengan daerah luar, di Indonesia, penyediaan lahan transmigran disiapkan untuk menempatkan jutaan penduduk dari Jawa atau wilayah lain yang berpenduduk padat.

b. Perluasan lahan pertanian

Di Amerika Selatan, pertanian tanaman pangan dan penggembalaan ternak yang membutuhkan lahan luas menimbulkan banyak kerusakan hutan. Sebagai bukti, sekitar 2/3 luas hutan telah rusak. Kebanyakan lahan gundul di wilayah ini pada beberapa dekade terakhir disebabkan oleh pengembangan dan peternakan hewan besar serta perluasan lahan perkebunan. Lahan diwilayah ini tidak cocok untuk pertanian dan peternakan karena kurang subur. Lebih lanjut, lahan pertanian yang dikerjakan intensif tanpa periode jeda telah mempercepat proses degradsi tanah. Kandungan unsur hara dalam tanah menyusut secara cepat dalam beberapa tahun. Pengundulan lahan juga mempercepat degradasi lahan. Di Indonesia, kegiatan perladangan berpindah dituding turut menciptakan hutan gundul.

c. Penggunaan bahan bakar kayu

Pohon-pohon hutan dapat dijadikan kayu bakar. Pemanfaatan kayu sebagai sumber energi terutama terjadi di Negara-negara berkembang seperti Etiopia dan Burkina Faso di Afrika. Di Negara tersebut bahan bakar kayu mengambil porsi lebih dari 90% dari seluruh energy yang digunakan. Diperkirakan kebutuhan bahan bakar kayu pada tahun 2025 menjadi dua kali lipat dari pasokan yang kini tersedia. Peningkatan jumlah penduduk menambah tekanan pada luas lahan hutan. Tekanan akibat peningkatan jumlah penduduk akan memperluas penggundulan hutan. Hal ini disebabkan karena kemampuan regenerasi hutan lebih lambat dibanding kerusakan hutan serta peningkatan kebutuhan penduduk.

d. Penambangan terbuka/ permukan

Bahan tambang perlu dikeluarkan dari dalam bumi agar dapat bermanfaat bagi manusia. Sebagai contoh, batu bara di tambang untuk bahan bakar pembangkit listrik. Lahan yang bayak mengandung cadangan batu bara kebanyakan masih berupa hutan. Untuk mendapatkan batu bara, cara yang umum di lakukan di Indonesia adalah dengan penambangan terbuka/ permukaan (open-cut/ surface mining).

Metode penambangan terbuka menyebabkan lahan hutan yang ditebangi semakin meluas. Akibatnya, hutan menjadi gundul dan permukaan lahan menjadi rusak. Kerusakan lahan hutan akibat kegiatan penambangan terbuka perlu perbaikan yang sungguh-sungguh, yaitu dengan reklamasi dan penghijauan kembali. Jika tidak, akan banyak lubang raksasa atau bopeng-bopeng di permukaan lahan bekas tambang serta lahan gundul menimbulkan degradasi lingkungan yang serius.

e. Pembalakan

Pembalakan yang tidak terkendali menjadi penyebab utama kerusakan hutan. Kegiatan pembalakan atelah mengubah lahan hutan menjadi gundul secara cepat. Fungsi hutan sebagai penutup dan pelindung tanah menjadi hilang. Hujan dan angin mudah mengerosi tanah yang terbuka. Pohon-pohon yang tersisa akan tumbang oleh angin karena tanah tempat tumbuh akar sudah terkikis. Pada lahan yang terbuka, sinar matahari menyinari langsung sehingga tanah menjadi kering, tidak subur, dan sulit diolah.

Selanjutnya kayu-kayu gelondongan hasil pembalakan diangkat keluar dari hutan melalui jalan yang dibuat dengan melintasi tengah hutan. Pengankutan kayu-kayu gelondongan menyebabkan banyak kerusakan pohon-pohon pada jalur lintasan yang dilalui truk pengangkut. Alat-alat berat seperti traktor dan bulldozer juga menghancurkan vegetasi dan memadatkan tanah dilindasannya. Tanah yang padat sulit menyerap air hujan sehingga menghambat vegetasi untuk tumbuh kembali. Kerusakan hutan Indonesia termasuk yang tercepat di dunia. Dalam setahun hutan yang rusak mencapai 1,6 juta hektar atau seluas 3 hektar permenit. Ini berarti hutan yang gundul akibat penggalakan dalam satu menit sama denagn enam kali luas lapangan sepak bola. Dapat dibayangakan betapa hebat dampak pembalakan terhadap kerusakan hutan.

2). Penggersangan lahan (desertification)

Penggersangan lahan banyak terjadi di wilayah iklim kering (arid) dan setengah semi kering (semiarid). Degradasi lahan di wilayah ini menyebabkan terbentuknya gurun. Ini berarti telah terjadi kerusakan lahan secara meluas yang menyebabkan vegetasi tidak dapat tumbuh. Seperti halnya penggundulan hutan, penggersangan lahan merupakan masalah lingkungan pada decade sekarang. Selama berabad-abad para penggembala ternak berpindah-pindah menjelajahi padang gembala bersama ternak-ternaknya. Cara hidup mereka member sedikit pengaruh terhadap kerusakan lahan. Akan tetapi, bila kegiatan ini digabung denagn kerusakan alam secara alami, maka akan berpengaruh besar terhadap pembentukan lahan gersang pada suatu wilayah. Beberapa penyebab penggersangan lahan sebagai berikut :

A. Kegiatan pertanian

Pertumbuhan penduduk di wilayah semiarid biasanya diikiuti oleh kegiatan pertanian yang meningkat. Praktik-praktik pertanian yang buruk dengan menanami lahan secara terus menerus tanpa jeda memang mampu meningkatkan hasil panen. Hanya saja, keadaan ini akan mempercepat penurunan kesuburan  lahan. Lahan yang sudah tidak subur kemudian di tinggalkan. Vegetasi alami tidak dapat tumbuh dan berkembang biak pada lahan gersang karena tanah kekurangan makanan (unsur hara). Jumlah dan ukuran hewan ternak memengaruhi kebutuhan pakan. Pertambahan jumlah hewan ternak telah meningkatkan kebutuhan lading penggembalaan untuk merumput. Hewan gembalaan juga menginjak – nginjak lahan dan memakan rumput yang tinggal sedikit. Lahan yang telah habis rumputnya akan kembali pulih setelah ditinggakan dan di beri cukup kesempatan untuk tumbuh. Akan tetapi, hal ini sulit terwujud karena hewan gembalaan yang telah meninggalkan lading penggembalaan digantikan oleh hewan gembalaan yang lain.

B. Penggunaan teknologi

Penggersangan di wilayah semiarid dapat ditimbulkan oleh pemanfaatan teknologi irigasi modern. Di wilayah Afrika banyak disediakan sumur bor untuk para penggembala dibuat untuk mendapatkan air tanah. Sumur- sumur ini telah menarik para penggembala dan hewan gembalaanya untuk minum dan merumput. Kemudahan mendapatkan air menyebabkan para penggembala tinggal di wilayah itu. Kaki-kaki hewan yang menginjak tanah turut menekan lahan dan memadatkan tanah. Degradasi lahan telah di perburuk oleh hewan-hewan gembala yang menginjak-nginjak lahan subur di lingkungan sekitar. Sebenarnya jika penggembala di lakukan dengan sistem rotasi seperti pada penanaman tanaman pertanian, resiko kerusakan tanah bias diperkecil. Lahan dibiarkan istirahat agar vegetasi alami bias tumbuh kembali, akhirnya pengembalian ketersediaan unsur hara dalam tanah berlangsung lebih cepat.

C. Vegetasi berkurang

Peningkatan jumlah hewan dan manusia mempengaruhi penurunan jumlah vegetasi. Kegiatan pencarian kayu bakar dan hewan-hewan gembala yang merumput menyebabkan jumlah vegetasi berkurang dengan cepat. Ketika lahan menjadi gundul dan terbuka karena pertumbuhan penutupnya hilang, maka angin dan hujan mudah mengerosi lapisan tanah atas yang subur. Lahan yang tererosi tidak dapat menanam dan meresapkan air hujan ke dalam tanah. Kondidi ini menimbulkan lahan gersang sehingga vegetasi tidak dapat tumbuh subur dan lahan menjadi sepi dari kehidupan.


Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: