Home > Kesehatan Lingkungan > KESEHATAN LINGKUNGAN PONDOK PESANTREN

KESEHATAN LINGKUNGAN PONDOK PESANTREN

Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, pembangunan kesehatan diselenggarakan melalui visi “ Indonesia Sehat 2010 “ yaitu “Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat adalah suatu kondisi di mana masyarakat Indonesia menyadari, mau, dan mampu mengenali, mencegah, dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan, baik yang disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, maka misi Depatemen Kesehatan adalah “Membuat Rakyat Sehat” di mana Departemen Kesehatan harus mampu sebagai pengerak dan fasilitator pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama masyarakat termasuk swasta, untuk membuat rakyat sehat, baik fisik, sosial, maupun mental/jiwanya (Depkes, 2006). Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pada pasal 22 ayat 23 berbunyi bahwa penyehatan air meliputi pengamanan dan penetapan kualitas air untuk berbagai kebutuhan hidup manusia. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk menjamin tersedianya kualitas air yang memenuhi syarat kesehatan seperti pembangunan dan perbaikan sarana air bersih/air minum, upaya pengawasan kualitas air serta penyuluhan mengenai hubungan kesehatan dengan air.

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan semua makhluk hidup. Masyarakat menggunakan air untuk keperluan sehari-hari misalnya: minum, mandi, membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Di dalam memenuhi kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari masyarakat di Indonesia banyak memanfaatkan air permukaan tawar dan air tanah sebagai sumbernya (Soemirat, 2004). Air permukaan merupakan sumber air yang tercemar. Hampir semua buangan dan sisa kegiatan manusia dilimpahkan pada air atau dicuci dengan air, dan pada waktunya akan dibuang dalam badan air permukaan. Disamping manusia, flora dan fauna ikut mengotori air permukaan (Depkes, 1995). Air yang tercemar kotoran yang berasal dari hewan, manusia, dan limbah domistik sering mengandung bakteri, virus dan bahan-bahan yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu kualitas air perlu mendapat perhatian, agar tidak terjadi penularan penyakit maupun kejadian luar biasa di masyarakat (Depkes,1995).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air pasal 2 ayat 1, mengatakan bahwa kualitas air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan fisik, kimia, mikrobiologis maupun radioaktif. Syarat kimia air bersih adalah bahwa kandungan unsur-unsur kimia tertentu baik organik maupun anorganik dalam air tidak kurang dari batas minimum dan tidak melebihi batas maksimum. Sedangkan syarat mikrobiologis adalah bahwa air minum tidak boleh mengandung jasad renik yang berbahaya. Indikator kualitas bakteriologis yang digunakan adalah mikroorganisme yang hidup dalam usus seperti Escherichia coli dan kelompok bakteri coliform. Kehadirannya didalam air merupakan bukti bahwa air tersebut terpolusi oleh tinja manusia atau hewan berdarah panas (Machfoedz, 2003).

Pencemaran air tanah oleh limbah domestik dari waktu ke waktu semakin meningkat, baik parameter kimia maupun parameter biologis. Pencemaran detergen dalam air minum khususnya daerah perkotaan menjadi hal yang sangat serius. Hal ini disebabkan konsumsi detergen oleh masyarakat semakin besar sejalan dengan pertambahan penduduk. Dilain pihak fasilitas pengolah limbah domestik yang banyak mengandung senyawa detergen belum memadai atau sangat kurang bahkan belum ada sama sekali. Dengan demikian detergen telah mencemari sungai, danau, laut bahkan air tanah dangkal (BPPT, 1999).

Detergen merupakan bahan pembersih sintetis yang banyak digunakan di masyarakat. Penggunaannya akan menimbulkan pencemaran di lingkungan perairan di sekitar pemukiman penduduk, termasuk air tanah, air sungai yang menjadi bahan baku bagi perusahaan air minum. Deterjen dalam jumlah banyak dapat menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak pada air minum. Detergen akan meningkatkan tingkat keasaman (pH) air sehingga akan mengganggu kehidupan organisme di dalamnya. Tingkat keasaman detergen rata-rata antara 10 sampai 12, sementara pH yang bisa ditoleransi kulit manusia adalah 6 sampai 9. Akibatnya, detergen menimbulkan iritasi pada kulit sehingga membuka pintu bagi masuknya senyawa berbahaya detergen ke tubuh (Connell, 1995).

Detergen atau surfaktan sintetis merupakan zat yang sangat beracun atau toksik, jika tertelan dalam tubuh melalui air minum. Pada detergen terdapat zat aditif seperti golongan ammonium kuartener dan beberapa jenis surfaktan seperti sodium lauryl sulfate (SLS) dan sodium laureth sulfate (SLES). Golongan ammonium kuartener ini dapat membentuk senyawa nitrosamin yang bersifat karsinogenik. Hal ini membahayakan, karena senyawa tersebut bersifat karsinogenik atau dapat menimbulkan kanker bila terakumulasi dalam jangka waktu lama di dalam tubuh (Setiadi, 2003). Permasalahan yang ditimbulkan oleh detergen juga berkaitan dengan banyaknya polifosfat yang juga merupakan penyusun detergen, yang masuk ke dalam air. Polifosfat dari detergen ini diperkirakan memberikan kontribusi sekitar 50% dari seluruh fosfat yang terdapat di perairan. Keberadaan fosfat berlebihan akan menstimulasi terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan (Effendi, 2003).

Salah satu sasaran program lingkungan sehat adalah meningkatkan persentase tempat-tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan (Depkes.2006), salah satunya adalah sanitasi pondok pesantren. Pondok pesantren sebagai salah satu tempat pendidikan di Indonesia saat ini berjumlah kurang lebih 40.000 dan 80% diantaranya masih rawan dalam penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan. Sehingga penyakit menular berbasis lingkungan dan perilaku masih  merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dapat ditemukan di pondok pesantren. Hasil penelitian Herryanto, 2004 mengenai Higiene Sanitasi pondok pesantren di Kabupaten Tangerang tahun 2004, didapatkan angka kejadian penyakit: TB paru klinis (1,3%), ISPA (44,1%), diare (10,5%), scabies (12,3%), Tinea versicolor (4,0%), Tinea cruris (16,0%), dermatitis lain (18,5%), Morbus Hansen (Leprae) 0,6% . Hal ini didukung dengan penelitian Supriyadi (2004) yang meneliti perbedaan sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan terhadap kejadian skabies di pondok pesantren Assalam dan Darul Falah Kabupaten Temanggung menyimpulkan bahwa 76 pondok pesantren di Kabupaten Temanggung semuanya tidak lepas dari masalah penyakit kulit skabies (gudik). Sebagian besar diakibatkan karena kondisi sanitasi lingkungan (kondisi fisik air) yang kurang memadai serta hygiene perorangan yang buruk.

Air sangat vital bagi kegiatan santri, karena di samping digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, memasak dan mencuci, juga digunakan untuk berwudhu setiap akan menjalankan sholat dan keperluan ibadah yang lain. Secara umum air sumur di pondok pesantren sangat beresiko terjadi pencemaran mikrobiologis maupun pencemaran kimia.

Pesantren atau Pondok Pesantren (biasanya juga disebut pondok saja) adalah sekolah Islam berasrama (Islamic boarding school). Para pelajar pesantren (disebut sebagai santri) belajar pada sekolah ini, sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan oleh pesantren. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut Lurah Pondok (Roffiq, 2005).

Pendidikan di dalam pesantren bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang al-Qur’an dan Sunnah Rasul, dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata bahasa bahasa Arab. Istilah Pondok sendiri berasal dari Bahasa Arab (فندوق, funduuq), sementara istilah Pesantren berasal dari kata pe-santri-an. Pesantren adalah sekolah pendidikan umum yang persentase ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan agama Islam daripada ilmu umum. Sekolah–sekolah di lingkungan podok pesantren sering di sebut madrasah. Untuk tingkat taman kanak-kanak disebut madrasah diniyah, untuk tingkat sekolah dasar (primary/elementary school) disebut Madrasah Ibtida’iyah, tingkat sekolah menengah pertama (SMP) disebut Madrasah tsanawiyah, dan untuk se-tingkat SMA disebut Madrasah aliyah (Ngatidjo, 2007).

Secara umum pondok pesantren yang berkembang dalam masyarakat memiliki 3 (tiga) pola pendidikan yaitu:

a.    Pondok pesantren tradisional

Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama Islam saja umumnya disebut pesantren salafi. Pola tradisional yang diterapkan dalam pesantren salafi adalah para santri bekerja untuk kyai mereka, bisa dengan mencangkul sawah, mengurusi empang (kolam ikan), dan lain sebagainya, dan sebagai balasannya mereka diajari ilmu agama oleh kyai mereka tersebut. Sebagian besar pesantren salafi menyediakan asrama sebagai tempat tinggal para santrinya dengan membebankan biaya yang rendah. Pondok pesantren ini mengajarkan kitab-kitab yang ditulis oleh ulama abad XV dengan menggunakan bahasa arab, misalnya kitab kuning. Pola pengajarannya dengan mengunakan sistem “halaqoh” yang dilaksanakan di masjid.

b.    Pondok pesantren Modern merupakan pengembangan dari tipe pesantren tradisional dalam bentuk madrasah atau sekolah yang berlaku secara nasional. Santri ada yang menginap dan tidak, tetapi tempat tinggalnya tidak jauh dari pondok pesantren. Contohnya: Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor.

c.    Pondok Pesantren Komprehensif

Pondok pesantren komprehensif merupakan sistem pendidikan dan pengajaran gabungan antara tradisional dan modern dengan metode perorangan (individu).

Download Link : http://www.ziddu.com/download/18170808/KESEHATANLINGKUNGANPONDOKPESANTREN.docx.html

Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: