Home > Kesehatan Lingkungan > PENGARUH GLOBAL WARMING TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI

PENGARUH GLOBAL WARMING TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI

Banyak orang beranggapan bahwa merokok, membakar sampah, membakar batubara, minyak bumi, kebakaran hutan dan lainnya, prosesnya telah selesai begitu saja karena asap telah hilang berbaur dengan udara. Namun, sebenarnya tidaklah demikian, dampak dari pembakaran tersebut sangat luar biasa dalam jangka panjang, yaitu mengakibatkan pemanasan global (global warming). Pemanasan global tidak saja berdampak pada perubahan iklim dan cuaca di negara di seluruh dunia, namun juga bisa secara khusus berdampak terhadap kesehatan masyarakat, termasuk di dalamnya kesehatan reproduksi manusia. Dampak terhadap kesehatan reproduksi berarti ancaman terhadap eksistensi manusia di muka bumi. Banyak pihak bisa melakukan berbagai upaya dan tindakan pencegahan pemanasan global mulai dari sekarang dan mulai dari hal-hal yang kecil. Upaya ini tentu tak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri atau orang per orang, namun harus merupakan suatu gerakan kolektif dan massif yang melibatkan banyak orang sebagai tindakan penyelamatan generasi yang akan datang.

Pemanasan Global dan Permasalahannya

Jika dilihat dari aspek kejadiannya, pemanasan global merupakan kejadian yang diakibatkan oleh meningkatnya suhu rata-rata pada lapisan atmosfer, air laut, dan juga pada daratan. Gejala terjadinya pemanasan global dapat diamati dan dirasakan dengan adanya berbagai kejadian seperti pergantian musim yang tidak tentu (unpredictable), terjadinya hujan badai dimana-mana, terjadinya angin puting beliung, terjadinya banjir dan kekeringan pada waktu bersamaan, terumbu karang memutih, serta mewabahnya berbagai penyakit yang diakibatkan karena faktor buruknya kesehatan lingkungan. Banyak ahli berpendapat bahwa kausa utama pemanasan global adalah karena ulah manusia, walaupun ada penyebab lain yang bersifat alami. Kontribusi ulah manusia terhadap kejadian pemanasan bumi antara lain direpresentasikan oleh kejadian pembakaran batubara sebagai pembangkit tenaga listrik, pembakaran minyak bumi untuk kendaraan bermotor, dan pembakaran gas alam untuk keperluan memasak.

Akibat pembakaran tersebut, seluruh gas karbondioksida dan gas sisa pembakaran lainnya dilepaskan ke atmosfer, dan keberadaan gas-gas tersebut yang semakin banyak bisa menjadi insulator yang menyekat panas dari sinar matahari yang dipancarkan ke permukaan bumi. Diperkirakan proses menghangat dan mendinginnya bumi ini telah saling berganti dan sudah terjadi sekitar 4 milyar tahun. Peristiwa inilah yang kemudian lebih populer disebut efek rumah kaca. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemanasan global terjadi akibat adanya peningkatan gas rumah kaca, yaitu gas yang memiliki sifat penyerap panas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), nitroksida (N2O), uap air, chloro-fluoro-carbon (CFC), hidro-fluoro-carbon (HFCs), dan sulfur heksafluorida (SF6). Pengaruh gas ini mempunyai dampak dan pengaruh terhadap banyak hal yang berkait dengan kehidupan manusia.

Suhu bumi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang rata-rata peningkatannya sekitar 0,6oC bahkan bisa lebih tinggi 1,4 – 5,8oC. Peningkatan suhu bumi ini sudah tentu bisa mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di kutub utara sehingga meningkatkan permukaan air laut dan pada akhirnya menimbulkan banjir di daerah pantai, menenggelamkan pulau-pulau dan kota-kota besar di tepi laut, peningkatan curah hujan di daerah beriklim tropis, kondisi tanah yang lebih cepat mengering sehingga bisa mengakibatkan krisis penyediaan sumber makanan (pangan), migrasinya hewan dan tanaman ke daerah yang lebih dingin dan musnahnya hewan dan tumbuhan yang tidak bisa berpindah atau beradaptasi.

Secara khusus akibat pembakaran batubara dan minyak bumi yang berlebihan, maka akan keluar gas emisi SO2, partikel dan nitrogen oksida (NO). Jika gas-gas tersebut bereaksi di udara, akan membentuk polutan sekunder seperti NO2, asam nitrat (HNO3), butiran asam sulfat, garam sulfat, dan garam nitrat. Polutan yang jatuh ke bumi dapat menjadi hujan asam, embun asam, dan partikel asam. Derajat keasaman (pH) air hujan bisa mencapai 5,1 dan kondisi ini sangat membahayakan kesehatan manusia dan dapat menyebabkan berbagai kerusakan. Berbagai asap seperti asap rokok, asap kendaraan bermotor, asap industri, asap pembangkit listrik, dan asap kebakaran hutan merupakan kontributor terbesar untuk terjadinya pencemaran udara atmosfer (polusi). Banyak faktor yang dapat menyebabkan polusi udara, di antaranya polusi yang ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia atau kombinasi keduanya. Polusi udara dapat mengakibatkan dampak pencemaran udara baik yang bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global atau tidak langsung dalam kurun waktu kemudian.

Dampak Pemanasan Global Terhadap Kesehatan Manusia

Saat pemanasan global terjadi dan iklim di bumi menjadi lebih panas, para ilmuwan memprediksi akan banyak orang meninggal karena gelombang panas seperti yang terjadi pada musim panas Eropa pada tahun 2003 yang lalu, dimana tercatat sekitar 35.000 orang meninggal dunia. Selain itu, iklim yang panas ini membuat wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis semakin meluas dan kemungkinan dapat berpindah tempat ke daerah yang dulunya dingin dan subtropis seperti Eropa dan Amerika. Pemanasan global dengan segala kompleksitas permasalahannya telah diuraikan dengan jelas. Namun secara spesifik akibat pemanasan global tersebut dapat diidentifikasi dampak langsung terhadap kesehatan manusia secara umum yaitu :

(1) Sesuai teori Blum (1974), bahwa di antara keempat faktor yang mempengaruhi derajat/status kesehatan individu maupun masyarakat, maka faktor lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap terjadinya penyakit pada manusia. Perubahan cuaca dan iklim dunia akibat pemanasan global secara langsung dapat mempengaruhi kondisi lingkungan tempat manusia tinggal. Curah hujan yang tinggi bisa menstimulasi pertumbuhan vektor yang tak terkendali beberapa penyakit infeksi menular seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria. Saat ini, 45% penduduk dunia tinggal di daerah yang rawan terhadap nyamuk pembawa penyakit malaria dan persentase ini akan semakin meningkat menjadi 60% jika suhu meningkat. Berdasarkan data epidemiologis Depkes RI Tahun 2005, semua daerah di wilayah Indonesia saat ini sudah termasuk daerah endemis DBD dan Incidence Rate paling tinggi berada di daerah perkotaan seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, dan kota besar lainnya di Indonesia. Malaria ini menjadi endemik di 106 negara dan mengancam sebagian besar populasi penduduk dunia, terutama di negara berkembang seperti Asia dan Afrika. Hal yang paling mengkhawatirkan dari malaria ini karena parasit ini sudah resisten (tidak mempan lagi) disembuhkan dengan berbagai macam obat dan sangat sulit dikendalikan penyebarannya. Di Indonesia, penyakit malaria ini sering mewabah di Sumatera dan Papua yang menjadi sangat rawan terhadap endemic malaria. Saat suhu rata-rata di Sumatera dan Papua naik di antara 25 – 27oC, suhu tersebut merupakan suhu ideal bagi perkembangan vektor malaria, dalam hal ini nyamuk Anopheles betina. Wabah demam berdarah juga akan melanda di seluruh dunia saat iklim menjadi lebih hangat, terutama di Amerika dan di wilayah subtropis lainnya. Saat curah hujan mulai meningkat dan semua daerah di seluruh belahan bumi ini menjadi lebih hangat, penyebaran penyakit demam berdarah akan semakin meluas. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, 3.5 milyar orang pada tahun 2085 berisiko terkena demam berdarah yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegepty. Di Indonesia penyakit ini terbukti telah memakan korban yang tidak kenal usia, mulai dari bayi sampai usia lanjut yang kerap terjadi setiap tahun saat musim hujan tiba.

(2) Meningkatnya suhu bumi akan semakin meningkatnya risiko terjadinya kematian akibat stress panas (heatstroke) pada manusia, seperti yang dapat kita saksikan saat musim haji di Saudi Arabia yang kebetulan bersamaan dengan terjadinya musim panas dan wilayah benua Afrika.

(3) Meningkatnya suhu bumi akan semakin meningkatkan insidensi penyakit-penyakit alergi (hipersensitivitas) karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold, dan serbuk sari tanaman. Padahal penyakit alergi merupakan penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan sehingga dapat meningkatkan biaya kesehatan dan perawatan kesehatan masyarakat akibat penyakit tersebut.

(4) Meningkatnya insidensi penyakit-penyakit tropikal khas lainnya seperti demam kuning (yellow fever), encephalitis, dan meningitis. Penyakit-penyakit tersebut sangat rawan terjadi pada usia anak-anak sehingga secara langsung pemanasan global merupakan ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak usia balita.

(5) Selain penyakit-penyakit yang telah disebutkan di atas, banyak ilmuwan memprediksikan akan muncul berbagai penyakit baru yang tidak diketahui sebelumnya dan belum ada obatnya seperti SARS, aviant influenza (flu burung), aviant malaria, berbagai macam flu yang mematikan, atau bahkan Ebola. Jika berbagai wabah penyakit ini muncul secara mendadak seperti yang terjadi pada tahun 1918 saat pandemi influenza muncul di dunia, sekitar 40 juta orang meninggal. Dengan demikian sebagian populasi penduduk dunia terancam punah, apalagi di era globalisasi ini dimana orang bisa berpindah/migrasi dari satu negara ke negara lainnya tanpa mengenal ruang dan waktu, maka penyebaran berbagai wabah penyakit akan semakin sulit untuk dikendalikan.

Kesehatan Reproduksi Manusia

Berdasarkan ICPD 1994, kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai suatu keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh yang tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan lainnya yang terkait dengan sistem reproduksi, fungsi, serta prosesnya. Terdapat 10 elemen kesehatan reproduksi yaitu: (1) pelayanan dan konseling, informasi, edukasi, dan komunikasi KB, (2) pelayanan prenatal, persalinan, dan postpartum yang aman, termasuk menyusui, (3) pencegahan dan pengobatan kemandulan, (4) pencegahan dan penanganan aborsi tidak aman, (5) pelayanan aborsi aman, bila tidak melanggar hukum, (6) pengobatan Infeksi Saluran Reproduksi, Infeksi Menular Seksual dan kondisi lain dalam sistem reproduksi, (7) informasi dan konseling mengenai seksualitas, (8) pencegahan secara aktif praktek-praktek berbahaya seperti sunat perempuan/mutilasi kelamin, (9) pelayanan rujukan untuk komplikasi KB, kehamilan, persalinan dan aborsi, kemandulan, ISR, IMS, dan HIV/AIDS, serta kanker kandungan, serta (10) fasilitas diagnosis dan pengobatan IMS seiring dengan meningkatnya penularan HIV. Berdasarkan defisini dan elemen kesehatan reproduksi yang telah dijelaskan di atas jelas bahwa kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari sistem pewarisan generasi.

Dampak Langsung Pemanasan Global Terhadap Kesehatan Reproduksi Manusia

Pemanasan global yang dicetuskan oleh ekses industrialisasi juga bisa meningkatkan curah hujan, khususnya hujan asam. Berdasarkan penelitian sebelumnya, hujan asam dapat meningkatkan risiko terjadinya kelahiran prematur dan kematian bayi baru lahir (neonatus). Demikian halnya tingginya karbonmonoksida dapat menyebabkan seseorang keracunan gas CO. Karbonmonoksida yang masuk ke dalam tubuh akan membentuk karboksihemoglobin (CO-Hb) dalam darah dan menyebabkan fungsi Hb untuk mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh terganggu. Akibat lebih lanjut adalah terjadi penurunan berat janin, berkurangnya intelegensi otak anak, dan peningkatan jumlah kematian bayi serta anak akibat infeksi saluran napas akut (ISPA) sebagai penyebab kematian bayi dan balita pertama di Indonesia. Pun demikian emisi hidrokarbon yang terbentuk dari bermacam-macam sumber. Emisi HC ini akan menghasilkan karbondioksida dan beberapa senyawa, di antaranya mengandung Pb (timbal) bila menggunakan bahan bakar bensin atau S (sulfur) bila menggunakan bahan bakar solar. Hasil emisi HC tersebut telah terbukti dapat meningkatkan risiko terjadinya keganasan pada jaringan tubuh manusia misalnya leukemia (kanker darah) dan kanker organ lainnya, termasuk kanker organ reproduksi. Pemanasan global secara kasat mata pasti akan menambah stresor fisik bagi manusia modern yang kini mendiami muka bumi ini. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa sinyal stress dari seorang ibu dapat mempengaruhi sensitivitas ekspresi gen-gen yang menyusun manusia itu sendiri. Bukti terkini menunjukkan bahwa beberapa zat kimia juga dapat mempengaruhi sistem kendali dan profil genetik manusia seperti pada kasus terjadinya penyakit testicular dysgenesis syndrome. Jika kita meyakini hasil riset ini berarti pemanasan global merupakan ancaman bagi eksistensi manusia dan kemanusiaan di muka bumi.

Repositioning Manusia

Dengan kemampuan analitikal dan sistem pengambilan keputusannya, seorang manusia yang dianggap telah mampu bertanggung jawab sesungguhnya dilimpahi wewenang yang luar biasa. Visi yang diterapkan atasnya pun luar biasa “rahmatan lil ‘alamin”. Eksploitasi lingkungan yang dilakukan manusia tanpa memperhatikan sunnatullah masing-masing komponen yang terlibat di dalamnya akan berakibat pada terjadinya pergeseran keseimbangan yang akan direspons sebagai suatu proses awal terjadinya kerusakan yang berkesinambungan. Suatu sistem yang terinterversi akan melakukan proses lanjutan yang tidak sesuai dengan komitmen awal. Dengan demikian, tingkah manusia yang mengganggu proses tasbihnya konstituen alam semesta maka kerusakan demi kerusakan akan jadi kenyataan. Atas dasar pemikiran itu dibutuhkan repositioning manusia dalam perannya sebagai khalifah di muka bumi, agar ia tidak menjadi penghancur bagi dirinya sendiri. Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah agar pemanasan global tidak terjadi? Pertanyaan itu tak bisa dijawab sendirian namun harus secara bersama-sama. Bersepeda ke kantor merupakan langkah nyata mengurangi dampak pemanasan global. Menggunakan busway yang berbahan bakar biodesel juga merupakan langkah bijak mencegah pemanasan global akibat banyaknya polusi karena kemacetan lalu lintas. Mengatakan tidak untuk tas plastic, mengganti lampu rumah dengan lampu hemat energi, membuka jendela setiap hari sehingga bisa menghemat listrik, mengurangi konsumsi daging sapi akibat gas metana yang dihasilkannya, mematikan peralatan elektronik saat menjelang tidur atau selama siang hari, mengurangi minum kemasan botol, mendukung dan menggunakan produk pertanian lokal, membeli mobil hybrid atau merawat secara benar mobil kita, mencuci dan menutup kulkas dengan benar, membuat kompos dan menggunakan barang bekas, merupakan serangkaian upaya yang bisa dilakukan oleh kita secara bersama-sama dalam mengurangi dampak pemanasan global.

Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: