Home > Kesehatan Lingkungan > GERAKAN KESEHATAN SATWA MENGHADAPI GLOBAL WARMING

GERAKAN KESEHATAN SATWA MENGHADAPI GLOBAL WARMING

Pemanasan global sudah sering menjadi materi pemberitaan media massa bahkan didiskusikan dalam berbagai forum, termasuk dalam forum ini namun demikian masih tetap berjalan aktifvitas yang meningkatkan fenemena alam ini . Secara sederhana dipahami bahwa pemanasan global adalah akibat dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di udara dan “memerangkap” panas/sinar matahari yang dipantulkan bumi ke angkasa luar. Kondisi tersbut meningkatkan suhu di permukaan bumi sehingga menimbulkan akibat di bumi, gambaran yang dramatis adalah melelehnya salju di kutub utara sehingga beruang kutub harus bermigrasi mencari habitat yang sesuai, lenyapnya gunung/daratan es yang mencair ke laut sehingga permukaan lautpun meningkat. Banyak penelitian untuk memprediksi atau mengetahui pengaruh pemanasan global pada berbagai hal telah dilakukan namun demikian sampai saat ini belum ada aktivitas yang mampu menghambat ataupun menghentikan “perubahan a lam” yang terjadi secara perlahan-lahan namun pasti. Sesuai permintaan panitia semina nasional ini maka tulisan ini mencoba melihat pengaruh pemanasan global terhadap kesehatan hewan dan kontribusi bidang veteriner dalam menghambat fenomena alam tersebut sekaligus mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Konsep Dasar Epidemiologi

Kesehatan hewan tidak akan terlepas dari upaya mendukung tubuh untuk mempertahankan keseimbangan fisiologisnya, Kejadian penyakit selalu dihubungkan dengan agen penyebab (misalnya: bakteri, virus) yang menimbulkan ketidak seimbangan dalam tubuh hewan. Postulat Koch menjelaskan bahwa pada kejadian penyakit harus dapat diperoleh agen penyebab spesifik dan bila agen tersebut diinfeksikan ke tubuh hewan sehat akan menimbulkan gejala dan dan lesi yang sama dan sekaligus agen tersebut akan dapat ditemukan kembali (uji biologis). Hubungan agen dan hospes ini lebih dilihata sebagai hubungan sebab akibat fa ktor tunggal. Pemahaman tersebut tidak dapat digunakan dalam menganalisis kejadian penyakit dalam suatu populasi (epidemiologi). Kesehatan populasi ternak pasti akan melibatkan tiga hal yaitu hospes/inang, agen penyakit, dan lingkungan dan pada kasus epidmiologi maka .semua hubungan dan keterkaitan tersebut harus dapat dibuktikan secara biologis dan epidemiologis. Pendekatan tersebut diformulasikan dalil -ldalilnya secara rinci yang dikenal sebagai postulat Evans. Thrusfield (2005) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kesehatan populasi diklasifikasikan menjadi 3 hal yaitu fak tor primer dan sekunder (Agen), faktor intrinsik (dalam tubuh hopes) dan ekstrinsik (di luar tubuh hospes), dan interaksi antara hospes , agen dan lingkungan.

Faktor hospes meliputi keadaan dalam tubuh hewan sendiri seperti gen etik, umur, jenis kelamin, hormonal, dan bangsa. Faktor agen adalah agen biologi yang memiliki faktor virulensi atau patogenisitas yang menimbulkan gangguan dalam tubuh hopes. Faktor lingkungan seperti lokasi, manajemen pemeliharaan, perkandangan, pa kan, transportasi, iklim, dan berbagai hal yang berasal dari luar tubuh hospes . Faktor iklim dibedakan menjadi iklim makro (macroclimate) dan iklim mikro (microclimate). Iklim makro dipahami sebagai iklim yang berkaitan dengan musim dan cuaca dengan komponen seperti suhu, curah hujan, kelembaban, radiasi sinar matahari, dan kecepatan angin. Iklim makro dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung pada kesehatan ternak. Faktor radiasi sinar ultra violet misalnya berperan pada kejadian rusaknya epitel kornea mata hewan sehingga kerusakan itu menjadi tempat kolonisasi bakteri yang akan memperberat infeksi. Kondisi ini sering lebih sering ditemui pada musim kemarau dan terkadang pada musim dingin karena UV dipantulkan salju. Faktor angin sering dikaitkan dengan pro ses penyebaran agen-agen penyakit (bakteri, virus) sehingga menimbulkan penyakit ke berbagai tempat Iklim mikro adalah iklim yang terjadi pada suatu ruang/wilayah kecil seperti beberapa milimeter di permukaan tumbuhan/hewan atau iklim pada suatu daerah pemeliharaan. Dapat juga dipahami sebagai iklim pada suatu teritorial (padang gembalaan, kandang, persawahan) atau biologik (suatu luasan dalm tubuh hospes) . Iklim mikro pada suatu unit ternak produksi yang d ipelihara secara intensif (misal: closed house pada peternakan ayam) merupakan faktor penting pada kejadian penyakit. Kadar amonia dalam kandang sangat berkaitan dengan keratoconjungtivitis ayam dan atropi turbinata pada babi. Pada penderita malaria fase parasitik, saat berkeringat akan meningkatkan kelembaban permukaan tubuh dan kondisi ini menarik lebih banyak nyamuk ke kulit. Pada fase itu, protozoa berada di dalam darah sehingga sangat memungkinkan untuk terhisap oleh nyamuk untuk disebarkan ke individu lainnya. Faktor hospes, agen, dan lingkungan tid ak mungkin berdiri sendiri -sendiri dalam menimbulkan penyakit tetapi karena adanya interaksi satu dengan yang lain. Interaksi inilah yang akan menjadi pedoman memahami munculnya penyakit dan sebaliknya untuk melakukan pencegahan.

Pengaruh Pemanasan Global Terhadap Kesehatan Hewan

Beberapa pendapat yang masih mempertanyakan pengaruh peman asan global terhadap kesehatan hewan karena pada skala tertentu tidak/belum didapatkan bukti nyata keterkaitan kedua hal tersebut. Pertanyaan, bukankah lingkungan sebelum adanya pemanasan global juga telah berpengaruh pada kesehatan hewan? Hal dapat dipahami karena seiring terjadinya pemanasan global juga masih berjalan proses ”perusakan” lingkungan khususnya hutan yang dalihfungsikan sebagai areal pertanian, pemukiman, atau hanya diambil kayunya. Kerusakan hutan ini justru yang dirasakan secara nyata mempengaruhi kehidupan sekaligus kesehatan hewan dan manusia. Pertanyaan yang dapat mengaitkan pemanasan global dengan kesehatan hewan adalah bagaimana pemanasan global menimbulkan perubahan lingkungan?. Perubahan yang dirasakan langsung adalah peningkatan suhu udara dan ini terbukti dengan jelas di daerah kutub utara. Pencairan gunung es yang sangat ekstensif memperlihatkan peningkatan suhu tersebut. Peningkatan suhu udara ini akan mempengaruhi perubahan iklim ( climate change) dan ini yang selanjutnya memicu perubahan -perubahan lingkungan.

Peningkatan suhu di Eropa berkisar 2 -4ºC mengakibatkan semakin panjuangnya musim pertumbuhan rumput memicu kejadian hypomagnesia , defisiensi selenium dan cobalt pada domba. Pada saat yang bersamaan menyebabkan rum put menjadi lebih lunak sehingga memicu meningkatnya permasalah gigi pada domba. Kondisi lain yang terkait dengan peningkatan suhu ini adalah perubahan pola penyakit parasitik (fasioliasis, nematodiasis, dan hemonchosis) karena suhu sangat berperan pada perkembangan fase parasit di lingkungan dan tubuh hospes intermediate berdarah dingin. Marcogliese (2008) memperlihatkan perubahan iklim telah mempengaruhi parasit dan spesies -spesies penting sehingga mempengaruhi jejaring makanan dan konsekuensinya adalah perubahan ekosistem secara masif. Penelitian Gilbert dkk. (2008) memperlihatkan perubahan iklim berpengaruh terhadap pola distribusi, komposisi, dan perilaku populasi unggas air liar (angsa, mentok, bebek). Unggas air ini merupakan hewan reservoir alami untuk Avian Influenza virus (AIV) termasuk Highly pathogenic Avian Influenza (HPAI) sehingga pola distribusi penyakit AI juga terpengaruh seiring migrasi unggas air liar tersebut.

Di Indonesia belum banyak informasi yang menganalisis pengaruh perubahan iklim terhadap kesehatan hewan. Banyaknya bencana alam beberapa tahun terakhir sebagai akibat ekstrimnya curah hujan atau kemarau , berakibat pada rusaknya lingkungan. Pada hewan liar yang hidup di hutan, kerusakan lingkungan ini akan mempengaruhi rantai makan dan pada kondisi terdesak maka hewan -hewan itu seringkali memasuki perkampungan penduduk. Pada daerah bencana seperti banjir atau kemarau panjang ternak/hewan-hewan yang tidak dapat diselamatkan, kemungkinan besar mengalami kematian. Bangkai-bangkai hewan tersebut seringkali tidak dikuburkan/dibakar tetapi hanya tergeletak begitu saja, mengambang di genangan air atau sengaja dibuang ke sungai. Bangkai hewan ini dapat menjadi sumber penularan penyakit baik pada hewan lain maupun pada manusia. Beberapa tahun terakhir juga diindetifikasi beberapa penyakit ”baru” (emerging disease atau reemerging disease) meskipun tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan perubahan iklim seperti Q fever, paratuberculosis, anthraks, dan rabies di Bali.

Kontribusi Gerakan Kesehatan Satwa

Paparan di atas memperlihatkan bahwa perubahan iklim sebagai akibat pemanasan global dapat mempengaruhi kesehatan hewa n. Menghadapi kondisi tersebut maka pemerintah dan masyarakat Indonesia sudah seharusnya bertindak untuk mencegah atau mengurangi resiko yang dapat terjadi. Di Bidang Veteriner, dokter hewan sebagai profesi yang bertanggung jawab pada kesehatan hewan dan kesejahteraan manusia harus mengambil peran sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Saat ini tidak mungkin menyelesaikan masalah penyakit hewan tanpa melibatkan bidang lain karena kompleksitas faktor yang terkait. Kesadaran hal tersebut memunculkan gerakan satu kesehatan yang kemudian banyak dikenal sebagai One World One Health (OWOH), gerakan ini memiliki konsep pemahaman bahwa kesehatan merupakan tanggungjawab bersama dan oleh karenanya harus dilakukan secara komprehensif dan terkoordinasi.

Contoh yang paling memberikan pengalaman empirik bagi Indonesia adalah penanganan kasus HPAI. Pemerintah membentuk Komnas FBP yang beranggotakan bidang ilmu kedokteran dan kedokteran hewan, peternakan, ekonomi, dan bidang lainnya sehingga pengendalian kasus HPAI di Indonesia dilakukan terkoordinasi dari berbagai aspek. Peran bidang veteriner dalam menjamin kesehatan masyarakat tercermin nyata untuk menjaga kesehatan hewan dari penyakit -penyakit yang non zoonotik dan zoonotik. Secara tegas hal ini dituangkan dalam UU No 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Bidang medik veteriner selain berkarya pada sisi kesehatan hewan dapat juga berperan di bidang konservasi satwa liar, lingkungan, epidemiologi seperti dijelaskan oleh badan kesehatan hewan dunia (OIE). Peran-peran ini sudah banyak dijalani oleh dokter hewan Indonesia seperti terlibat dalam lembaga konservasi orang utan, gajah, badak, dan satwa liar lainnya. Satwa-satwa liar yang mulai banyak kehilangan habitatnya tersebut seringkali ”mengganggu” ketenter aman manusia karena merusak pertanian/perkebunan. Aspek lain dari kerugian ekonomi akibat rusaknya tanaman padi/perkebunan adalah aspek kesehatan bagi masyarakat yang dapat saja ditimbulkan karena satwa-satwa tersebut mengindap penyakit yang bersifat zoonotik seperti Tuberculosis, Rabies, Toksoplasmosis, Leptospirosis, dll . Penyelesaian masalah ”eksodus” satwa-satwa ini tidak akan selesai bila tidak membangun kerjasama  dengan bidang lain seperti kehutanan, kesehatan, pemerintah daerah , perekonomian, dan lainnya.

Permasalahan yang masih dihadapi adalah belum semua pihak memiliki cara pandang yang sama dalam penanganan masalah. Salah satu implikasi perubahan tata pemerintaha (otonomi daerah) masih sering menjadi kendala yang sangat terasa di daerah karena pemahaman yang tidak sama tentang penanganan kesehatan komprehensif antara kepala daerah, pemimpin politik, dan pemimpin bidang teknis, dan masyarakat sendiri . Indonesia sudah seharusnya menyadari perannya dalam menjaga ekosistem dunia mengingat luas hutan yang masih menjadi andalan untuk menghasilkan oksigen. Tugas berat ini harus disadari sebagai upaya menjaga kelangsungan peradaban seluruh mahluk bumi dan oleh karenanya semua pihak harus berperan aktif. Pemerintah sebagai mana jer negara harus memyediakan suatu forum yang memikirkan perubahan alam termasuk mengantisipasi pemanasan global sekaligus operasionalisasi program yang telah disusun. Bidang veteriner harus berperan aktif untuk turut serta menjaga keles tarian alam dan khususnya aspek zoonosis sebagai akibat perubahan habitat satwa-satwa liar sebagai konsekuensi pengalihan fungsi hutan ataupun akibat bencana alam . Memasukkan materi konsep one world one health ke dalam kurikulum pendidikan di FKH dan fakultas adalah salah satu upaya membangun pengetahuan kesehatan masyarakat dan lingkungan secara komprehensif. Kebiasaan bekerjasama lintas bidang (misalnya mahasiwa kedokteran hewan dengan mahasiswa kedokteran, peternakan, farmakologi, ekonomi, teknik, biologi, sisiologi, dll) sudah harus dipupuk sejak di bangku kuliah sehingga kesamaan visi dalam memahami konsep satu kesehatan benar-benar dihayati dengan baik. Hal ini sebenarnya telah dirintis UGM dengan menyelenggarakan KKN yang melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas pada setiap unit desa. Tantangan alam di masa datang yang sedemikian serius selayaknya diantisipasi dengan kembali menggiatkan aktivitas penelitian, pendidikan, maupun kegiatan sosial lintas bidang di berbagai lembaga pendidikan. Penekanan kegiatan selain bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat juga hendaknya berorientasi pada perbaikan lingkungan seperti gerakan penanaman pohon, konservasi hewan, pertanian dan peternakan yang eco-friendly, serta perbaikan sanitasihigiene masyarakat dan polah hidup sehat.

Lihat Video Streamingnya :

 

Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: