Home > Kesehatan Lingkungan > KUALITAS LINGKUNGAN KABUPATEN ENDE

KUALITAS LINGKUNGAN KABUPATEN ENDE

Kualitas lingkungan yang baik merupakan salah satu modal dasar penting bagi terlaksananya pembangunan yang berkelanjutan. Kualitas lingkungan berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat lokal, penduduk yang bekerja serta yang berkunjung ke daerah tersebut. Banyak aktivitas manusia yang memiliki dampak buruk terhadap kualitas lingkungan karena pengelolaan sampah dan limbah yang kurang baik, kepedulian masyarakat yang rendah terhadap kebersihan lingkungan, penggunaan yang semakin meningkat bahan-bahan yang tidak mampu didegradasi oleh alam serta bahan xenobiotik lain yang berdampak serius terhadap kualitas lingkungan. Peningkatan jumlah dan penggunaan kendaraan pribadi dan kendaraan yang tidak laik jalan serta operasi industri yang berpengelolaan buruk merupakan penyebab penting lain menurunnya kualitas lingkungan. Perencanaan tata ruang dan wilayah yang tidak mempedulikan kaidah pelestarian lingkungan, kelemahan birokrasi, penegakan hukum dan kelembagaan juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi kualitas lingkungan. Salah satu pertimbangan utama didalam penyusunan Status Lingkungan Hidup adalah menggunakan dan atau mengacu pada Status Lingkungan Hidup Nasional, digabungkan dengan kebutuhan/kepentingan regional (pada tingkat provinsi/kabupaten), serta mendukung penyusunan Status Lingkungan Hidup kabupaten/kota. Status Lingkungan Hidup Daerah disusun agar dapat menjadi bahan masukan bagi proses pengambilan keputusan pembangunan daerah. Pentingnya Status Lingkungan Hidup Daerah tersebut karena merupakan bagian dari akuntabilitas publik, sarana pendidikan dan pengawasan bagi publik serta sarana keterlibatan publik dalam ikut serta berperan menentukan kebijakan pengelolaan dan pengendalian lingkungan hidup di daerah.
Kabupaten Ende merupakan Nama Sebuah Kabupaten Di Pulau Flores Yang Masih Berada Didalam Wilayah Propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur). Letaknya Adalah Di Tengah Daratan Flores. Ende Juga Adalah Nama Ibukota Kabupaten Ende. Jika Kita Melakukan Perjalanan Darat Dari Bagian Timur Pulau Flores Semisal Kota Maumere Atau Kota Larantuka Dalam Perjalanan Menuju Bagian Barat Lainnya Pulau Flores Seperti Kota Bajawa Maupun Ruteng. Maka Kita Harus Melalui Kota Ende Ini, Begitu Juga Jika Sebaliknya, Sehingga Dapat Dikatakan Bahwa Kota Ende Adalah Kota Transit Penghubung Bagian Barat Flores Dan Bagian Timur Flores. Sarana Transportasi Yang Ada Di Kabupaten Ini Pun Sudah Cukup Memadai. Dalam Akses Menuju Wilayah Kabupaten Ende Ini, Jika Menggunakan Sarana Transportasi Udara Dengan Menggunakan Pesawat Terbang, Maka Bandara Udara Haji Hasan Aroeboesman Adalah Sarana Pelayanan Sebagai Sebagai Bandara Udara Kabupaten Ende. Jika Pilihan Anda Adalah Menggunakan Jasa Transportasi Laut, Maka Pelabuhan Laut Ende Adalah Alternatif Pilihan Anda. Ende Seperti Juga Kawasan lain Di Pulau Flores Seperti Manggarai, Manggarai Timur, Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Nagakeo, Kabupaten Manggarai Barat Dan Kabupaten Lembata, Menyimpan Banyak Ragam Kebudayaan NTT (Nusa Tenggara Timur) Yang Belum Terekspos Secara Gamblang.
Batas Wilayah Kabupaten Ende :
    * Sebelah Utara Kabupaten Ende Berbatasan Dengan Laut Flores Di Nangaboa Dan Di Ngalu Ijukate
    * Sebelah Selatan Kabupaten Ende Berbatasan Dengan Laut Sawu Juga Di Nangaboa Dan Di Ngalu Ijukate
    * Sebelah Timur Kabupaten Ende Berbatasan Dengan Kabupaten Sikka Dari Pantai Utara Nangambawe, Hangamanuria Ke Arah Selatan Dan Di Ngalu Ijukate
    * Sebelah Barat Kabupaten Ende Berbatasan Dengan Kabupaten Ngada Dari Pantai Utara Di Nanganiohiba Ke Arah Tengah Utara, Wuse Ke Arah Tengah Selatan, Sanggawangarowa Menyusur Kali Nangamboa Ke Arah Pantai Selatan Dan Di Nangamboa
Dengan luas wilayahnya 2.046,60 Km2, Keanekaragaman bentang alam dan luasnya wilayah ini memberi potensi kekayaan sumberdaya alam yang cukup besar bagi  Kabupaten Ende berupa lahan, sumberdaya air, sumberdaya hutan, sumberdaya pesisir/laut, bahan galian/tambang dan wisata. Selain kekayaan alam, pertumbuhan industri berperan dalam meningkatkan jumlah penduduk Kabupaten Ende dan membentuk potensi sumberdaya manusia. Dengan Wilayah Administratif Yang Terdiri Dari 20 Kecamatan Yang Dibagi Lagi Menjadi 165 Desa Dan 20 Kelurahan.
    * Kecamatan Nangapanda
    * Kecamatan Pulau Ende
    * Kecamatan Maukaro
    * Kecamatan Wewaria
    * Kecamatan Detusoko
    * Kecamatan Wolojita
    * Kecamatan Wolowaru
    * Kecamatan Kelimutu
    * Kecamatan Maurole
    * Kecamatan Detukeli
    * Kecamatan Kota Baru
    * Kecamatan Lio Timur
    * Kecamatan Ende
    * Kecamatan Ende Selatan
    * Kecamatan Ndona
    * Kecamatan Ndona Timur
    * Kecamatan Ndori
    * Kecamatan Ende Timur
    * Kecamatan Ende Tengah
    * Kecamatan Ndona Timur
Degradasi sumberdaya alam khususnya air dan lahan, yang ditandai dengan deplesi sumber air (permukaan dan air bawah tanah, baik kuantitas maupun kualitasnya), semakin meluasnya tanah kritis dan DAS kritis, penurunan produktifitas lahan, semakin meluasnya kerusakan hutan (terutama karena perambahan) baik hutan pegunungan maupun hutan pantai (mangrove). Permasalahan pencemaran, baik pencemaran air, udara maupun tanah yang penyebarannya sudah cukup meluas dan terkait dengan industri, rumah tangga dengan segala jenis limbahnya, terutama sampah. Permasalahan kebencanaan alam, yaitu Kabupaten Ende termasuk wilayah rawan gempa. Wilayah ini termasuk daerah yang paling sering tertimpa musibah gempa dibanding wilayah tengah lainnya di Indonesia. Terbatasnya sarana dan prasarana pemantauan lingkungan (termasuk laboratorium lingkungan) serta sistem informasi lingkungan. Lemahnya fungsi pengendalian, sebagai akibat kurang efektifnya kegiatan pemantauan, dan juga akibat rendahnya penegakan hukum (law enforcement), dan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
Wilayah Kabupaten Ende Ini Termasuk Juga Dalam Deretan Jalur Gunung Berapi, Sebut Saja Gunung Berapi Iya Yang Memiliki Ketinggian 637 Mdpl, Dimana Letusan Terakhirnya Terjadi Pada Tahun 1969. Masih Ada Juga Gunung Berapi Mutubusa Yang Memiliki Ketinggian 1.690 Mdpl, Dimana Terakhir Kalinya Tercatat Memuntahkan Lahar Panas Pada Tahun 1938.

Visi dan Misi Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bahwa Misi Kabupaten Ende yang berhubungan dengan bidang Lingkungan Hidup adalah: ““Terwujudnya perbaikan kualitas fungsi lingkungan hidup melalui Kementerian Negara Lingkungan Hidup sebagai institusi yang handal dan proaktif untuk mencapai pembangunan berkelanjutan melalui penerapan prinsip-prinsip Good Enviromental Governance, guna meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia”. Sejalan dengan misi Kabupaten Ende, maka Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL)/BLHD Kabupaten Ende yang bertanggungjawab dalam mengkordinasikan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan di Kabupaten Ende, merumuskan suatu visi, yaitu ”“Terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup sebagai daya dukung pembangunan berkelanjutan menuju Ende Lio Sare Pawe”. Makna dari visi tersebut secara eksplisist mengandung arti adanya suatu harapan terciptanya kondisi lingkungan hidup yang semakin baik yang ditandai dengan adanya komitmen yang tinggi dan tingkat kepedulian dari para pihak di Kabupaten Ende, baik dari aparatur, dunia usaha, maupun masyarakat sendiri. Penjelasan makna dari pernyataan visi tersebut dimaksudkan agar dalam melaksanakan pembangunan di Kabupaten Ende ini harus disesuaikan dengan kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan, agar tetap terjaga keseimbangan lingkungan hidup. Implementasi pembangunan berkelanjutan mempunyai spektrum yang luas dan mengandung pengertian yang komprehensif, dimana dituntut keterpaduan perencanaan program dan pelaksanaan kegiatan serta keterlibatan seluruh stakeholders termasuk masyarakat. Penyebarluasan informasi yang berkenaan dengan lingkungan hidup merupakan bentuk implementasi pembangunan berkelanjutan.
Untuk mencapai visi tersebut di atas, maka akan ditempuh melalui perwujudan Misi Bapedalda/BLHD yang meliputi 4 (empat) hal yaitu :
    * Meningkatkan pentaatan terhadap hukum dan peraturan bidang lingkungan.
    * Meningkatkan kapasitas lembaga, SDM, dan instrumen pendukung pengendalian lingkungan.
    * Meningkatkan pengendalian terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan.
    * Menigkatkan pelayanan informasi lingkungan hidup bagi kepentingan masyarakat, aparatur, dan dunia usaha.
Status Lingkungan Hidup Kabupaten Ende bertujuan :
    * Menyediakan data, informasi dan dokumentasi untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan pada semua tingkat dengan memperhatikan aspek daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup daerah;
    * Menyediakan sumber informasi utama Repetada, Propeda dan kepentingan Investor;
    * Sebagai salah satu sumber informasi dalam penyusunan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI);
    * Sebagai bagian dari sistem pelaporan publik serta sebagai bentuk akuntabilitas publik yaitu sebagai laporan pertanggungjawaban kepala daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup kepada para stakeholder;
    * Meningkatkan mutu informasi tentang lingkungan hidup sebagai bagian dari sistem pelaporan publik serta sebagai bentuk dari akuntabilitas publik;
    * Menyediakan sumber informasi utama bagi rencana dan program pembangunan tahunan daerah serta untuk kepentingan penanaman modal (investor), peningkatan peran publik dalam pembangunan berkelanjutan.
Gambaran isu-isu yang mempengaruhi kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Ende selama ini secara umum adalah :
Adapun isu utama lingkungan hidup yang berkaitan dengan sumberdaya air yang terjadi di Kabupaten Ende selama kurun waktu ini adalah sebagai berikut :
1. Air
Penyebaran sumberdaya air di Kabupaten Ende secara alamiah tidak merata, ada daerah yang memiliki potensi sumber air cukup tinggi tetapi ada juga daerah yang minim sumber air. Potensi sumberdaya air di wilayah Kabupaten Ende digambarkan melalui kondisi sumber air permukaan dan air tanah. Kuantitas air sungai relatif cukup tinggi meskipun terjadi fluktuasi debit aliran yang cukup besar antara musim hujan dan musim kemarau, sedangkan kualitasnya menunjukkan adanya indikasi pencemaran di beberapa sungai. Kebutuhan air akan meningkat seiring pertumbuhan kegiatan dan jumlah penduduk Kabupaten Ende. Kebutuhan ini harus tetap bisa dipenuhi dari sumber-sumber air yang ada, sehingga diperlukan tindakan pelestarian sumberdaya air, baik air permukaan maupun air tanah.
Mengantisipasi kebutuhan air yang terus meningkat, perlu dilakukan identifikasi dan inventarisasi seluruh sumberdaya air yang ada, termasuk kemungkinan pemanfaatan teknologi di bidang pemurnian air (daur ulang, desalinasi air laut) Perkembangan kegiatan industri meningkatkan tekanan terhadap sumberdaya air dalam hal penurunan kualitas air (terjadi pencemaran air), demikian juga buangan limbah domestik (rumah tangga) ikut memberi andil terhadap penurunan kualitas air. Indikator terjadinya pencemaran air mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Adapun isu utama lingkungan hidup yang berkaitan dengan udara yang terjadi di Kabupaten Ende selama kurun waktu ini adalah sebagai berikut :
2. Udara dan Atmosfer
Pencemaran udara dapat terjadi yang disebabkan oleh adanya kontaminan (pencemar) di udara yang mengakibatkan kandungan senyawaan gas menjadi berubah. Perubahan ini dapat memberikan dampak negatif bagi kelangsungan hidup makhluk hidup karena menimbulkan reaksi kimia secara spontan di udara. Berdasarkan bentuk fisiknya, pencemar udara dibedakan menjadi dua yaitu yang berbentuk partikulat dan berbentuk gas. Indikator terjadinya pencemaran udara mengacu pada 2 peraturan yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No. 41 Tahun 1999 tentang Baku Mutu Udara Ambien dan SK Menaker No. 51/Menaker/1999 tentang nilai ambang batas (NAB). Pencemaran udara di Kabupaten Ende terutama di daerah perkotaan dari waktu ke waktu diperkirakan akan semakin meningkat seiring dengan laju pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor seperti sektor industri, perhubungan/transportasi dan pariwisata. Hal ini perlu mendapatkan perhatian secara serius dan perlu penanganan atau pengendalian secara baik dan komprehensif antara instansi terkait.
Adapun isu utama lingkungan hidup yang berkaitan dengan sumberdaya lahan dan hutan yang terjadi di Kabupaten Ende selama kurun waktu ini adalah sebagai berikut :
3. Lahan dan Hutan
Peningkatan jumlah penduduk di Kabupaten Ende berdampak pada peningkatan kebutuhan ekonomi. Masyarakat pedesaan yang terbatas sumberdaya ekonominya mencari alternatif sumberdaya ekonomi dengan mengeksploitasi sumberdaya alam yang terdekat dan termudah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tersebut. Komponen lingkungan atau sumberdaya alam yang paling mudah dieksploitasi oleh masyarakat desa ialah lahan pekarangan miliknya atau yang ada di sekitar mereka. Yang sering dijumpai ialah kegiatan penambangan liar berupa penggalian pasir baik di bukit maupun di sungai. Selain penambangan pasir juga ada penebangan hutan secara liar yang tidak mengindahkan aspek kelestarian lingkungan hidup.
Adapun isu utama lingkungan hidup yang berkaitan dengan sumberdaya keanekaragaman hayati yang terjadi di Kabupaten Ende selama kurun waktu ini adalah sebagai berikut :
4. Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati merupakan sumberdaya penting bagi kehidupan sosial ekonomi dan kebudayaan masyarakat. Bagi Kabupaten, keanekaragaman hayati dapat menjadi sumberdaya yang mempunyai arti ekonomi penting. Banyak jenis tumbuhan yang terdapat di hutan seperti rotan, bambu, tumbuhan-tumbuhan obat, dan lain-lain yang dapat dijadikan pemasukan bagi Kabupaten. Mengingat pentingnya sumberdaya hayati ini, maka konservasi kawasan hutan termasuk flora dan fauna serta keunikan alam perlu ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah, jenis spesies, dan ekosistem. Degradasi luas hutan memacu hilangnya atau punahnya sumberdaya hayati tersebut. Berdasarkan hasil citra landsat DEPHUT 2002 dan land use Repprot 1986 terjadi degradasi luas kawasan hutan sebesar 45,39% atau 474.400 Ha yang berubah fungsi menjadi savana, semak belukar, pertanian, tambak, pertambangan, dan lain-lain. Konservasi keanekaragaman hayati yang telah dilakukan pemerintah adalah dengan membentuk beberapa bentuk kawasan konservasi diantaranya taman nasional, suaka alam, suaka alam laut, suaka margasatwa, cagar alam, dan hutan lindung. Indikator terjadinya kerusakan keanekaragaman hayati yang menyebabkan penurunan keanekaragamannya mengacu pada Undang-undang No. 5 Tahun 1994 tentang Keanekaragaman Hayati.
Adapun isu utama lingkungan hidup yang berkaitan dengan sumberdaya pesisir dan laut yang terjadi di Kabupaten Ende selama kurun waktu ini adalah sebagai berikut :
5. Pesisir dan Laut
Jika dilihat dari asal kejadiannya, jenis kerusakan lingkungan di pesisir, pantai dan laut bisa berasal dari luar sistem wilayah pesisir, pantai dan laut maupun yang berlangsung di dalam wilayah pesisir, pantai dan laut itu sendiri. Pencemaran yang terjadi di wilayah daratan akan terbawa oleh aliran sungai masuk ke muara dan akhirnya tersebar ke seluruh pantai dan pesisir di sekitarnya. Pencemaran dapat berasal dari limbah yang dibuang oleh berbagai kegiatan (seperti tambak, perhotelan, pemukiman, industri, dan transportasi laut) yang terdapat di dalam wilayah pesisir; dan juga berupa kiriman dari berbagai dampak kegiatan pembangunan di bagian hulu. Sedimentasi atau pelumpuran yang terjadi di perairan pesisir sebagian besar berasal dari bahan sedimen di bagian hulu (akibat penebangan hutan dan praktek pertanian yang tidak mengindahkan asas konservasi lahan dan lingkungan), yang terangkut aliran air sungai atau air limpasan dan diendapkan di perairan pesisir. Kegiatan pengolahan pertanian dan kehutanan (up land) yang buruk tidak saja merusak ekosistem sungai (melalui banjir dan erosi), tetapi juga akan menimbulkan dampak negatif pada perairan pesisir dan pantai. Sementara itu, kerusakan lingkungan yang berasal dari wilayah pesisir, pantai dan laut bisa
berupa degradasi fisik habitat pesisir (mangrove, terumbu karang dan padang lamun); abrasi pantai; hilangnya daerah konservasi/kawasan lindung; eksploitasi sumberdaya alam yang berlebih (over exploitation); dan bencana alam. Indikator terjadinya pencemaran dan kerusakan pesisir dan laut mengacu pada PP No. 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut.

Video Streaming :

Download di :
http://www.ziddu.com/download/17949446/KualitasLingkunganKab.Ende.docx.html

Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: