Archive

Archive for the ‘Sanitasi Lingkungan’ Category

Serangga Perkotaan

Jenis dan Karakteristik Serangga Pengganggu di Perkotaan

Nyamuk, kemungkinan sebagai serangga hama yang paling penting di daerah perkotaan Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan Bali. akam tetapi, lebih dari 2 dekade terakhir ini, kecoa, semut, tikus, lalat rumah, pinjal dan rayap, juga menunjukkan peningkatan dan penting untuk diperhatikan. Pada 1980, berdasarkan survei kesioner di Pulau Pinang, Malaysia, nyamuk adalah hama rumah tangga yang penyebarannya paling luas, tersebar dimana – mana. Penelitian yang lain dilakukan pada tahun 1995 dengan responden 800 rumah di pulau Penang, Malaysia menunjukkan bahwa ranking pada hama rumah tangga adalah hampir sama kecuali semut yang berubah pada posisi ketiga dalam kepentingannya sebagai serangga rumah tangga dalam jumlah dan kepentingannya. Read more…

Categories: Sanitasi Lingkungan

Toksikologi Lingkungan

Pengertian dan Sejarah Toksikologi Lingkungan

Toksikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari racun (toxicon : racun, logos : ilmu). Dalam kaitan dengan kesehatan toksikologi membahas pengaruh racun pada tubuh manusia. Toksikologi merupakan ilmu yang disusun berdasarkan dari berbagai ilmu antara lain ilmu kimia, biokimia, fisik, biologi, fisiologi, farmakologi, patologi dan kesehatan masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya Toksikologi terbagi menjadi banyak cabang (subdisiplin) ilmu yang mempelajari racun dengan tekanan bahasan pada aspek tertentu. Toksikologi klinik (Clinical Toxicology) membahas racun dan keracunan dengan tekanan pada aspek medikolegal sementara aspek lingkungan racun (pencemaran udara, air dan tanah, serta residu racun dalam rantai makanan) dibahas dalam Toksikologi Lingkungan (Environmental Toxicology). Racun dalam kaitannya dengan aspek pertahanan dan keamanan negara dibahas lebih rinci di dalam Toksikologi Perang (Warfare Toxicology). Toksikologi Medical (Medical Toxicology) membahas racun dari aspek cara kerja dan efeknya pada tubuh, diagnosis, preventif dan terapi keracunan.

Pengetahuan tentang racun sesungguhnya sudah ada sejak zaman dahulu tetapi belum tersusun secara sistematis menjadi suatu ilmu. Baru pada awal abad ke – 16 seorang ahli racun terkenal yang hidup pada tahun 1493 – 1541, Phillipus Aureolus Theophrastus Bombastus von Hohenheim Paracelcus (PATBH Paracelcus) memperkenalkan istilah toxicon (toxic agent) untuk zat (substansi) yang dalam jumlah kecil dapat mengganggu fungsi tubuh. Ia adalah orang pertama yang meletakkan dasar ilmu dalam mempelajari racun dan mengenalkan dalil sebagai berikut : Read more…

Categories: Sanitasi Lingkungan

Saringan Pasir lambat

Spesifikasi dan Daya Kerja Saringan Pasir Lambat

Saringan pasir lambat dibuat pertama kali oleh John Gibb di Paisley Skotlandia tahun 1804 dalam skala yang kecil. Kemudian pada tahun 1829 James Simpson membuat saringan pasir lambat dalam skala yang besar untuk perusahaan air Chilsea di Inggris (Birdi, 1979). Saringan pasir lambat merupakan instalasi pengolahan air yang mudah, murah, dan efisien. Saringan pasir lambat mempunyai derajad keefisiennan yang tinggi untuk menghilangkan kekeruhan, rasa, dan bau pada air, bahkan mampu menghilangkan bakteri dengan sangat baik. Untuk menghilangkan rasa dan bau pada air kadang-kadang perlu dilengkapi dengan karbon altif, dan untuk menghilangkan bakteri sering dipergunakan kaporit (Reynold, 1982).

Kelebihan saringan pasir lambat telah dibuktikan secara meyakinkan dalam kaitannya dengan kualitas air minum yang aman untuk dikonsumsi dari segi bakterologis pada tahun 1892 di kota Hamburg dan Altona, yang air minumya tercemar sehingga mengakibatkan epidemi penyakit kolera. Di kota Altona yang menggunakan instalasi pengolahan air dengan saringan pasir lambat terhindar dari epidemi penyakit itu, sedangkan kota Hamburg yang tidak menggunakan instalasi pengolahan air dengan saringan pasir lambat, terjangkit wabah dengan kematian warganya sebanyak 7582 orang (Huisman, 1975). Kelemahan dari saringan pasir lambat adalah daya penyaringannya yang rendah, sehingga dalam konstruksinya memerlukan area yang luas. Rendahnya daya penyaringan ini disebabkan karena kecepatan air mengalir melalui saringan pasir lambat sangat kecil. Saringan pasir lambat sangat cocok digunakan dalam skala kecil (Birdi, 1979).

Spesifikasi saringan pasir lambat

Beberapa kriteria desain saringan pasir lambat :

  1. Kecepatan filtrasi 0,1 meter/jam – 0,4 meter/jam
  2. Tinggi permukaan air yang diukur dari media saringan pasir 1 meter – 1,5 meter, ini untuk menciptakan head penyaringan yang cukup
  3. Tebal filter yang baik antara 1 meter – 1,4 meter, tapi masih diizinkan antara 0,5 meter – 0,8 meter
  4. Diameter efektif pasir antara 0,15 mm – 0,36 mm dengan koefisien keseragaman yang dianjurkan adalah 2, tapi masih diizinkan antara 1,5 – 3,0.
  5. Kerikil penyaring dipilih dengan bahan batu kerikil yang mampu menghalangi masuknya pasir ke dalam rongga penampung air. Diameter kerikil (dari alas bawah) untuk lapisan pertama, kedua, ketiga, dan keempat masing-masing adalah: 0,4 mm – 0,6 mm, 1,5 mm – 2,0 mm, 5 mm – 8 mm, 15 mm – 25 mm. Ketebalan untuk masing-masing lapisan = 10 cm (Tjokrokusumo, 1998)

Sedangkan Birdi (1979) menyebutkan spesifikasi saringan pasir lambat adalah sebagai berikut:

  1. Ketinggian instalasi 2,5 m hingga 4 m
  2. Luas 100 m2 hingga 200 m2
  3. Tebal pasir 60 cm – 90 cm
  4. Diameter butir kerikil 0,3mm – 3,5 mm
  5. Koefisien keseragaman pasir 1,75
  6. Kecepatan filtrasi 34 liter per m2 per hari
Categories: Sanitasi Lingkungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.