Archive

Archive for the ‘Kebijakan Kesehatan’ Category

Pendekatan Promosi Kesehatan

Pendekatan dan Kebijakan Promosi Kesehatan (Promkes) dalam Penyelesaian Masalah Kesehatan Masyarakat

Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran dari-oleh-untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Menolong diri sendiri artinya bahwa masyarakat mampu berperilaku mencegah timbulnya masalah-masalah dan gangguan kesehatan, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta mampu pula berperilaku mengatasi apabila masalah gangguan kesehatan tersebut terlanjur terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Banyak masalah kesehatan yang ada di negeri kita Indonesia, termasuk timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) yang erat kaitannya dengan perilaku masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh KLB Diare dimana penyebab utamanya adalah rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat seperti kesadaran akan buang air besar yang belum benar (tidak di jamban), cuci tangan pakai sabun masih sangat terbatas, minum air yang tidak sehat, dan lain-lain.

Promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan saja, tetapi juga disertai upaya-upaya menfasilitasi perubahan perilaku. Dengan demikian promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan) baik di dalam masyarakat sendiri maupun dalam organisasi dan lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, politik dan sebagainya). Atau dengan kata lain promosi kesehatan tidak hanya mengaitkan diri pada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan saja, tetapi juga meningkatkan atau memperbaiki lingkungan (fisik dan non-fisik) dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi masyarakat agar merubah perilakunya, yaitu :

  1. Fasilitasi, yaitu bila perilaku yang baru membuat hidup masyarakat yang melakukannya menjadi lebih mudah, misalnya adanya sumber air bersih yang lebih dekat;
  2. Pengertian yaitu bila perilaku yang baru masuk akal bagi masyarakat dalam konteks pengetahuan lokal,
  3. Persetujuan, yaitu bila tokoh panutan (seperti tokoh agama dan tokoh agama) setempat menyetujui dan mempraktekkan perilaku yang di anjurkan dan
  4. Kesanggupan untuk mengadakan perubahan secara fisik misalnya kemampuan untuk membangun jamban dengan teknologi murah namun tepat guna sesuai dengan potensi yang di miliki.

Pendekatan program promosi menekankan aspek ”bersama masyarakat”, dalam artian :

  1. Bersama dengan masyarakat fasilitator mempelajari aspek-aspek penting dalam kehidupan masyarakat untuk memahami apa yang mereka kerjakan, perlukan dan inginkan,
  2. Bersama dengan masyarakat fasilitator menyediakan alternatif yang menarik untuk perilaku yang beresiko misalnya jamban keluarga sehingga buang air besar dapat di lakukan dengan aman dan nyaman serta
  3. Bersama dengan masyarakat petugas merencanakan program promosi kesehatan dan memantau dampaknya secara terus-menerus, berkesinambungan.

Strategi Promosi Kesehatan

Pembangunan sarana air bersih, sarana sanitasi dan program promosi kesehatan dapat dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan apabila :

  1. Program tersebut direncanakan sendiri oleh masyarakat berdasarkan atas identifikasi dan analisis situasi yang dihadapi oleh masyarakat, dilaksanakan, dikelola dan dimonitor sendiri oleh masyarakat.
  2. Ada pembinaan teknis terhadap pelaksanaan program tersebut oleh tim teknis pada tingkat Kecamatan.
  3. Ada dukungan dan kemudahan pelaksanaan oleh tim lintas sektoral dan tim lintas program di tingkat Kabupaten dan Propinsi.

Strategi untuk meningkatkan program promosi kesehatan, perlu dilakukan dengan langkah kegiatan sebagai berikut :

  1. Advokasi di Tingkat Propinsi dan Kabupaten : Pada tingkat Propinsi dan tingkat Kabupaten dalam pelaksanaan Proyek Kesehatan telah dibentuk Tim Teknis Propinsi dan Tim Teknis Kabupten. Anggota Tim Teknis Propinsi dan Tim Teknis Kabupaten, adalah para petugas fungsional atau structural yang menguasai teknis operasional pada bidang tugasnya dan tidak mempunyai kendala untuk melakukan tugas lapangan. Advokasi dilakukan agar lintas sektor, lintas program atau LSM mengetahui tentang Proyek Kesehatan termasuk Program Promosi Kesehatan dengan harapan mereka mau untuk melakukan hal-hal sebagai berikut :

  • Mendukung rencana kegiatan promosi kesehatan. Dukungan yang dimaksud bisa berupa dana, kebijakan politis, maupun dukungan kemitraan;
  • Sepakat untuk bersama-sama melaksanakan program promosi kesehatan; serta
  • Mengetahui peran dan fungsi masing-masing sektor/unsur terkait.

Advokasi di tingkat Propinsi dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Propinsi dan advokasi di tingkat Kabupaten dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten.

  • a. Peran Tim Teknis Propinsi: • Perencanaan dan penganggaran kegiatan (termasuk promosi kesehatan). • Pelatihan teknis. • Bimbingan teknis, monitoring dan evaluasi. • Pemecahan masalah yang dihadapi oleh Kabupaten. • Menyusun strategi pelaksanaan kegiatan (termasuk promosi higiene sanitasi).
  • b. Peran Tim Teknis Kabupaten: • Perencanaan dan penganggaran kegiatan APBD, dana pinjaman dan kontribusi masyarakat.• Pembinaan teknis perencanaan pembelajaran partisipatif di sekolah, peningkatan peran guru, orang tua siswa dan komite sekolah, serta peningkatan mobilisasi sumber daya.• Pembinaan teknis fungsi dan peran LKM, Badan Pengelola untuk keterpaduan dan kesinambungan program higiene sanitasi.• Pembinaan teknis monitoring dan evaluasi.• Menyusun strategi pelaksanaan kegiatan termasuk promosi higiene sanitasi.
  • c. Peran Tim Lintas Program Dinas Kesehatan Kabupaten: • Pembinaan teknis program promosi higiene sanitasi di sekolah dan di masyarakat.• Mengintegrasikan program higiene sanitasi pada Program Pamsimas dengan program lain.• Mengembangkan indikator perubahan perilaku.• Pgembangan media komunikasi berdasar atas kebutuhan masyarakat

Advokasi bisa dilakukan dengan beberapa cara misalnya : melalui lokakarya, pertemuan-pertemuan atau dengan memanfaatkan pertemuan rutin yang sudah ada/sudah berjalan atau melakukan pertemuan resmi/tidak resmi pada saat tertentu/kegiatan tertentu di Puskesmas atau di ibukota propinsi/kabupaten.

2. Menjalin Kemitraan di Tingkat Kecamatan : Melalui wadah organisasi tersebut Tim Fasilitator harus lebih aktif menjalin kemitraan dengan TKC untuk :• mendukung program kesehatan.• melakukan pembinaan teknis.• mengintegrasikan program promosi kesehatan dengan program lain yang dilaksanakan oleh Sektor dan Program lain, terutama program usaha kesehatan sekolah, dan program lain di Puskesmas.

3. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Masyarakat: Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mengelola program promosi kesehatan, mulai dari perencanaan, implementasi kegiatan, monitoring dan evaluasi harus dilaksanakan sendiri oleh masyarakat, dengan menggunakan metoda MPA-PHAST. Untuk meningkatkan keterpaduan dan kesinambungan program promosi kesehatan dengan pembangunan sarana air bersih dan sanitasi, di tingkat desa harus dibentuk lembaga pengelola, dan pembinaan teknis oleh lintas program dan lintas sector terkait.

Pesan perubahan perilaku yang terlalu banyak sering membuat bingung masyarakat, oleh karena itu perlu masyarakat memilih dua atau tiga perubahan perilaku terlebih dahulu. Perubahan perilaku beresiko diprioritaskan dalam program higiene sanitasi pada Proyek Kesehatan di sekolah dan di masyarakat :

• Pembuangan tinja yang aman.

• Cuci tangan pakai sabun

• Pengamanan air minum dan makanan.

• Pengelolaan sampah

• Pengelolaan limbah cair rumah tangga

Setelah masyarakat timbul kesadaran, kemauan / minat untuk merubah perilaku buang kotoran di tempat terbuka menjadi perilaku buang kotoran di tempat terpusat (jamban), masyarakat dapat mulai membangun sarana sanitasi (jamban keluarga) yang harus dibangun oleh masing-masing anggota rumah tangga dengan dana swadaya. Masyarakat harus menentukan kapan dapat mencapai agar semua rumah tangga mempunyai jamban.

Pembangunan sarana jamban sekolah, tempat cuci tangan dan sarana air bersih di sekolah, menggunakan dana hibah desa atau sumber dana lain. Fasilitator harus mampu memberikan informasi pilihan agar masyarakat dapat memilih jenis sarana sanitasi sesuai dengan kemampuan dan kondisi lingkungannya (melalui pendekatan partisipatori).

Promosi Kesehatan Rumah Tangga/Masyarakat

Program kesehatan di masyarakat menekankan pada kegiatan kampanye dan aktivitas lainnya dengan target-target sasaran tertentu di dalam masyarakat. Fasilitator masyarakat dan petugas kesehatan setempat seperti sanitarian/petugas kesehatan lingkungan, PKK, kader desa dan bidan desa secara bersama-sama dapat melakukan kegiatan promosi kesehatan. Target/sasaran kegiatan seperti ibu muda yang mempunyai anak bayi/balita, ibu hamil, remaja putri, kelompok perempuan dan kelompok laki-laki, karang taruna, kelompok miskin dan kelompok menengah ke atas. Yang perlu di perhatikan adalah kemampuan membaca dari masyarakat dan kesederhanaan pesan yang di sampaikan.

Beberapa jenis kegiatan yang dapat di lakukan dalam Promosi Kesehatan di Masyarakat, adalah :

• Penyuluhan kelompok terbatas

• Penyuluhan kelompok besar (masa)

• Penyuluhan perorangan (penyuluhan antar teman/peer group education)

• Pemutaran film/video

• Penyuluhan dengan metode demonstrasi

• Pemasangan poster

• Pembagian leaflet

• Kunjungan/wisata kerja ke daerah lain

• Kunjungan rumah

• Pagelaran kesenian

• Lomba kebersihan antar RT/RW/Desa

• Kegiatan pemeliharaan dan membersihkan tempat-tempat umum

• Kegiatan penghijauan di sekitar sumber air

• Pelatihan kader, unit kesehatan

Program promosi kesehatan di tatanan rumah tangga atau masyarakat di desa-desa perlu dikoordinasikan dengan program penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten setempat, maupun unit lain yang terkait dan berminat untuk melalukan kampanye tentang hidup bersih dan sehat, seperti missal PKK, Pramuka, dll.

Promosi Kesehatan Sekolah.

Siswa sekolah merupakan komunitas besar dalam masyarakat, dalam wadah organisasi sekolah yang telah mapan, tersebar luas di pedesaan maupun perkotaan, serta telah ada program usaha kesehatan sekolah. Diharapkan setelah siswa sekolah mendapat pembelajaran perubahan perilaku di sekolah secara partisipatif, dapat mempengaruhi orang tua, keluarga lain serta tetangga dari siswa sekolah tersebut.

Siswa sekolah dasar terutama kelas 3, 4 dan 5 Sekolah Dasar merupakan kelompok umur yang mudah menerima inovasi baru dan mempunyai keinginan kuat untuk menyampaikan pengetahuan dan informasi yang mereka terima kepada orang lain. Program promosi kesehatan di sekolah harus diintegrasikan ke dalam program usaha kesehatan sekolah, melalui koordinasi dengan Tim Pembina UKS di tingkat Kecamatan, Kabupaten, Propinsi dan Pusat. Program promosi kesehatan di tempat ibadah dilakukan untuk menggalakan kegiatan promosi kesehatan dan melibatkan tokoh agama atau pemimpin tempat ibadah (imam masjid, pendeta, pastor, pedande atau biksu). Diharapkan dengan melibatkan tokoh dan pemimpin agama, perubahan perilaku kesehatan dapat segera terwujud.

Seringkali terjadi jamban di sekolah hanya terdiri atas dua unit, yaitu satu untuk guru dan yang lain untuk murid. Sementara kondisi jamban murid sangat berbeda jauh dengan jamban guru. Di mana jamban murid sangat jauh dari kondisi bersih dan terpelihara atau tidak jarang dalam kondisi rusak. Akibatnya banyak murid yang kemudian buang air baik buang air kecil maupun buang air besar di halaman sekolah. Kebiasaan ini membuat sekolah menjadi bau dan sangat rentan untuk menjadi sarang penyakit. Selain itu, seringkali jamban di sekolah tidak dilengkapi dengan penerangan yang cukup. Murid yang masih duduk di kelas 1 atau 2 akan merasa takut untuk menggunakan jamban yang kondisinya gelap, berbau dan kotor. Kondisi seperti ini harus dihindari dengan cara membuat jamban dengan penerangan yang cukup baik dari lampu ataupun sinar matahari beserta ventilasi yang memadai.

Salah satu kegiatan Kesehatan Sekolah Program adalah membangun jamban sekolah dan sarana cuci tangan. Sekolah harus memberikan pengajaran baik kepada guru maupun murid bagaimana cara memelihara jamban sekolah yang akan di bangun dan sarana cuci tangan. Misalnya seorang guru di serahkan tanggung jawab untuk pemeliharaan jamban. Ia akan mengkoordinasi murid dengan cara membuat “roster” atau jadwal membersihkan jamban dan sarana cuci tangan yang dibagi secara merata antara murid laki-laki dan murid perempuan.

Selain program pembangunan fisik, program pendidikan kesehatan tentang hubungan antara air, jamban, perilaku dan kesehatan juga menjadi kegiatan yang penting dalam program kesehatan sekolah. Di antaranya adalah hubungan antara air-kondisi sanitasi dan penyakit; bagaimana sarana sanitasi dapat melindungi kesehatan kita; bagaimana penyakit dapat timbul dari kondisi sanitasi dan perilaku yang buruk; Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun; Pencegahan Penyakit Kecacingan; dan monitoring kualitas air. Materi-materi pembelajaran bagi siswa dilaksanakan secara partisipatif menggunakan metode PHAST. Guru-guru sebagai tenaga pengajar akan di beri pelatihan terlebih dahulu oleh Dinas Kesehatan setempat dan Tim Fasilitator Masyarakat, khususnya TFM bidang kesehatan.

Adapun lingkup kegiatan yang termasuk dalam kegiatan Promosi Kesehatan Sekolah adalah sebagai berikut :

  • a. Pembangunan sarana air bersih, sanitasi dan fasilitas cuci tangan termasuk pendidikan menjaga kebersihan jamban sekolah
  • b. Pendidikan pemakaian dan pemeliharaan jamban sekolah
  • c. Penggalakan cuci tangan pakai sabun (CTPS)
  • d. Pendidikan tentang hubungan air minum, jamban, praktek kesehatan individu, dan kesehatan masyarakat
  • e. Kampanye pemberantasan penyakit kecacingan
  • f. Pendidikan kebersihan saluran pembuangan/SPAL
  • g. Pelatihan guru dan murid tentang PHAST
  • h. Kampanye, “Sungai Bersih, Sungai Kita Semua”
  • i. Pengembangan tanggungjawab murid, guru dan pihak-pihak lain yang terlibat di sekolah, mencakup: Pengorganisasian murid untuk pembagian tugas harian, pembagian tugas guru pembina dan Komite SekolahMeningkatkan peranan murid dalam mempengaruhi keluarganya Beberapa jenis kegiatan yang dapat di lakukan dalam Promosi Kesehatan Sekolah, adalah : Penyuluhan kelompok di kelas, penyuluhan perorangan (penyuluhan antar teman). Pemutaran film/video.• Penyuluhan dengan metode demonstrasi• Pemasangan poster, leaflet• Kunjungan/wisata pendidikan. Lomba kebersihan kelas Lomba membuat poster Lomba menggambar lingkungan sehat.• Absensi jamban, Absensi CTPS. Kampanye kebersihan perorangan/murid.• Lomba cepat tepat tentang kesehatan dan lingkungan sehat. Kegiatan pemeliharaan dan membersihkan jamban sekolah.• Penyuluhan terhadap warung sekolah, pedagang sekitar sekolah.• Pelatihan guru UKS.• Pelatihan siswa/kader UKS

Bila dalam satu desa terdapat lebih dari satu sekolah dasar, LKM dan masyarakat dapat memilih dan menentukan apakah semua sekolah dasar atau hanya satu saja yang akan diintervensi dengan Program Kesehatan. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam menentukan jumlah sekolah dasar yang akan diintervensi dengan program kesehatan adalah :

  • Besarnya biaya yang dibutuhkan. Biaya untuk program promosi kesehatan termasuk program promosi kesehatan di sekolah jumlahnya terbatas. Oleh sebab itu jangan sampai terjadi biaya yang dibutuhkan untuk program kesehatan di sekolah melebihi dari disediakan. Oleh sebab itu penting kiranya untuk menentukan prioritas sekolah dasar mana saja yang perlu di intervensi dengan program kesehatan sekolah.
  • Jumlah murid yang bersekolah. Penting kiranya dalam menentukan sekolah dasar yang akan di intervensi dengan program kesehatan melihat jumlah murid. Sekolah yang memiliki jumlah murid terbesar dari desa setempat layak dipilih untuk di intervensi dengan program kesehatan. Tujuannya adalah membuat murid-murid sebagai “change agent” atau perubah dilingkungan sekolah (sesama teman), di keluarga dan di lingkungan masyarakat.
  • Apabila di desa tersebut tidak terdapat sekolah dasar, sementara semua anak bersekolah di sekolah yang terletak di desa lain yang berdekatan, maka LKM dan masyarakat dapat menentukan apakah program kesehatan akan diberikan pada sekolah tersebut atau tidak. Yang perlu di ingat adalah tujuan dari Program Pendidikan Kesehatan di sekolah adalah agar muridmurid sekolah dapat bertindak sebagai agen perubahan bagi orangtua mereka, saudara-saudara, tetangga dan kawan-kawan mereka dapat terwujud.

Keberhasilan promosi kesehatan di masyarakat dan sekolah di tingkat desa banyak dipengaruhi oleh hubungan jaringan komunikasi antara Facilitator, PUSKESMAS (kepala Puskemas, Sanitarian, Staf lain, Bidan Desa), Cabang Dinas Pendidikan (termasuk Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah, orang tua siswa) serta Tokoh Masyarakat (Aparat Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta semua anggota masyarakat). Agar ada keterkaitan antara program promosi kesehatan di masyarakat, dan sekolah berjalan baik dan benar maka rencana kegiatan promosi kesehatan harus dibahas pada pleno masyarakat, pada waktu menyusun RKM (Rencana Kerja Masyarakat).

Prioritas Kegiatan Promosi Kesehatan

Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit berbasis air dan lingkungan, dilakukan dengan dua kegiatan pokok yaitu :

a). Perubahan perilaku buruk yang masih terjadi di masyarakat menjadi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tentang :

• Stop buang air besar sembarangan

• Cuci tangan pakai sabun.

• Mengelola air minum dan makanan yang aman.

• Mengelola sampah dengan benar.

• Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman

b). Pembangunan sarana :

• Pembangunan jamban keluarga.

• Pembangunan sarana air bersih.

Prioritas pesan dalam promosi hygiene sanitasi adalah sebagai berikut :

1. Stop buang air besar sembarangan

Kebiasaan buang air besar di tempat terbuka / sembarang tempat, harus dirubah menjadi kebiasaan buang kotoran di tempat yang benar dan aman sesuai dengan kaidah kesehatan lingkungan. Seandainya belum mempunyai jamban, dengan buang kotoran di tempat jauh dari sumber air, dan ditutup dengan tanah sudah dapat mencegah terjadinya penularan penyakit. Khusus pengembangan sarana sanitasi keluarga, di proyek Kesehatan mengadopsi Pendekatan STBM (Community Led Total Sanitation) yang sekarang dikenal dengan istilah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

STBM adalah suatu pendekatan partisipatif yang mengajak masyarakat untuk mengalisa kondisi sanitasi mereka melalui suatu proses pemicuan, sehingga masyarakat dapat berpikir dan mengambil tindakan untuk meninggalkan kebiasaan buang air besar mereka yang masih di tempat terbuka dan sembarang tempat. Pendekatan yang dilakukan dalam STBM menyerang/menimbulkan rasa ngeri dan malu kepada masyarakat tentang kondisi lingkungannya.

Melalui pendekatan ini kesadaran akan kondisi yang sangat tidak bersih dan tidak nyaman di timbulkan. Dari pendekatan ini juga ditimbulkan kesadaran bahwa sanitasi (kebisaan BAB di sembarang tempat) adalah masalah bersama karena dapat berimplikasi kepada semua masyarakat sehingga pemecahannya juga harus dilakukan dan dipecahkan secara bersama. Dengan demikian, masyarakat akan secara sukarela membangun jamban secara swadaya tanpa tergantung sedikitpun dari proyek/pihak lain.

Pada proses seleksi desa, tingkat kemajuan dalam mencapai free open defacation menjadi salah satu indikator penilaian. Salah satu persyaratannya adalah minimal sudah ada komitmen dari masyarakat untuk mau merubah kebiasaan buang air besarnya dari tempat terbuka menjadi di jamban/tempat tertutup. Penjelasan tentang STBM dan bagaimana STBM dalam proyek Kesehatan dapat di lihat pada Buku Panduan Lapangan STBM di Kesehatan.

Stop buang air besar sembarangan juga harus ditujukan pada anak-anak, baik balita maupun bayi. Hal ini disebabkan karena Penyakit diare sebagian besar menyerang pada kelompok anak-anak termasuk bayi. Dalam tinjanya mengandung bakteri dan virus penyebab penyakit diare. Sering masyarakat beranggapan bahwa tinja bayi dan anak-anak tidak berbahaya, perilaku ini juga harus dirubah. Oleh karena itu kebiasaan membuang tinja bayi dan balita di tempat terbuka harus dirubah menjadi kebiasaan membuang tinja di jamban.

2. Mencuci Tangan Pakai Sabun

Tangan dapat terkontaminasi dengan tinja sewaktu cebok atau pada waktu membersihkan anak setelah buang air besar. Tangan harus dicuci dengan sabun setelah kontak dengan tinja (setelah buang air besar / setelah membersihkan kotoran bayi atau balita), yaitu dengan menggunakan sabun, karena untuk melarutkan partikel lemak yang mengandung kuman penyakit. Mencuci tangan sebelum makan, sebelum menyuapi anak, sebelum menyiapkan makanan juga dapat mencegah penularan penyakit. Tetapi harus diingat pesan terlalu banyak tidak praktis.Yang perlu diingat dan perlu dilakukan sehingga menjadi kebiasaan ialah “Mencuci tangan dengan sabun setelah terjadi kontak dengan tinja”.

3. Pengamanan Air Minum dan makanan

Kebersihan dan penanganan air minum di tingkat rumah tangga juga merupakan satu hal yang penting dalam menurunkan angka penyakit yang berbasis air dan lingkungan. Masyakat perlu difasilitasi dalam menjamin kebersihan dan keamanan air yang mereka konsumsi untuk berbagai kebutuhan. Kegiatan-kegiatan mulai dari mengambil air dari titik-titik air bersih, penyimpanannya sampai pada proses pengolahannya, harus menjamin air yang di konsumsi bebas dari bakteri penyebab penyakit. Makanan yang dikonsumsi masyarakat juga harus mendapatkan perhatian, baik makanan yang disediakan di rumah tangga, di warung makan dan restoran, juga makanan yang disajikan dikantinkantin sekolah.

4. Pengelolaan sampah dengan benar

Sampah merupakan merupakan produk sampingan kegaiatn di rumah tangga. Kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa sampah merupakan benda atau barang yang tidak berguna dan harus dibuang. Perkembangan dewasa ini ternyata bergeser, dimana sampah dapat juga dimanfaatkan kembali, melalui pendekatan yang disebut 3R (reduse, reuse dan recycle). Sampah organik seperti daun, bekas makanan, dll dapat dimanfaatkan kembali untuk bahan pupuk. Sampah an-organik dapat dipilah-pilah, dan kemudian dimanfaatkan sesuai dengan jenis dan kebutuhan. Sampah bila tidak dikelola dengan benar akan dapat merupakan perindukan vektor penyakit, yaitu seranga dan binatang mengerat yang befungsi sebagai host penyakit menular

5. Pengelolaan limbah cair rumah tangga dengan aman

Dengan banyaknya air yang tersedia di masyarakat, akibat suksesnya program penyediaan air bersih dan air minum bagi masyarakat akan menyebabkan jumlah limbah cair yang harus dibuang juga meningkat. Limbah cair yang dibuang tidak dengan benar akan menyebabkan turunnya keindahan dan kebersihan lingkungan, dan juga sebagai tempat perindukan vektor penyakit menular.

Categories: Kebijakan Kesehatan

Kinerja Lingkungan

Prosedur Pengukuran dan Standar Kinerja Lingkungan

Pengukuran kinerja lingkungan adalah bagian penting dari sistem manajemen lingkungan. Ini merupakan ukuran hasil dan sumbangan yang dapat diberikan sistem manajemen lingkungan pada perusahaan secara riil dan kongkrit. Pengukuran kinerja lingkungan ditafsirkan bermacam cara. Antara lain yang melihatnya semata kuantitatif, atau hasil proses, atau juga menyertakan kualitatif dan inprocess. Artikel ini disusun dengan membahas masalah pengukuran kinerja dari sisi pertimbangan bisnis perusahaan.

Menurut Sink dan Tuttle (1989), setiap orang dalam organisasi mulai dari top manajemen sampai dengan operator memiliki dua fungsi penting untuk dipenuhi :

  • Menjalankan pekerjaan dengan benar (yang berarti dikerjakan pada waktunya, dalam spesifikasi mutu, dan menggunakan jumlah sumber daya yang tepat).
  • Secara berkelanjutan mengembangkan diri, kelompok, organisasi, dan sistem kinerja Pernyataan diatas secara tidak langsung menganggap setiap orang dapat terus merubah kinerjanya. Proses perubahan yang berlanjut harus dimonitor untuk menjaga agar arahnya mendekati visi.

Definisi manajemen kinerja adalah suatu proses yang mengandung (Sink dan Tuttle, 1989) :

  • Menciptakan visi yang merumuskan apa yang diinginkan di masa mendatang
  • Perencanaan, memeriksa status relatif organisasi saat ini terhadap visi, membuat strategi bagaimana rumusan di masa mendatang dapat dicapai, membangun kekuatan sedemikian rupa sehingga perusahaan dapat bergerak mendekati visi.
  • Merancang, mengembangkan dan mengimplementasikan dengan efektif intervensi pengembangan yang memiliki kemungkinan perusahaan dapat cepat bergerak mendekati bentuk yang telah ditetapkan di masa mendatang, terutama dalam batasan tingkat kinerja.
  • Merancang ulang, mengembangkan dan mengimplementasikan ukuran sistem evaluasi yang dapat menilai apakah perusahaan sedang bergerak ke arah yang telah ditetapkan dan menilai sejauh mana yang telah dikerjakan.
  • Menjamin sistem budaya pendukung berada di tempatnya, sehingga perusahaan dapat memberikan imbalan dan mendorong kemajuan. Hal ini perlu untuk memelihara keunggulan yang sedang dicapai dan mengendalikan tingkat kinerja yang dibutuhkan dalam berkompetisi di masa mendatang.

Kinerja secara umum didefinisikan dalam konteks bisnis tiga dimensi sebagai berikut

  1. Efektifitas, secara luas memenuhi kebutuhan konsumen
  2. Efisiensi, menggunakan sumber daya perusahaan secara ekonomis
  3. Kemampuan untuk berubah (beradaptasi), persiapan perusahaan secara luas untuk menghadapi perubahan di masa mendatang.

Sink (1985) dan Sink dan Tuttle (1989) setelah mengamati perkembangan produktifitas tradisional dikaitkan dengan kemajuan yang diraih perusahaan, mengusulkan kinerja suatu sistem organisasi adalah hubungan yang kompleks diantara 7 kriteria berikut (Rolstadas, 1995) :

  1. Efektifitas, mengerjakan sesuatu yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan kualitas yang tepat, dst.
  2. Efisiensi, mengerjakan sesuatu yang tepat
  3. Mutu, dalam konsep yang luas meliputi keseluruhan proses dalam suatu organisasi dan karakteristik yang dikirimkan keluar organisasi. Misalnya yang berkaitan dengan kepuasan konsumen adalah apakah pelayanan sesuai dengan yang diharapkan atau dispesifikasikan konsumen.
  4. Produktifitas, dalam pengertian tradisional yaitu hubungan antara jumlah satu atau lebih input dengan jumlah output dari suatu proses yang diidentifikasi dengan jelas. Misalnya produktifitas tenaga kerja adalah jumlah jam kerja untuk setiap unit fisik output.
  5. Kualitas kehidupan kerja
  6. Inovasi
  7. Keuntungan / anggaran, sasaran pokok untuk beberapa organisasi

Ketujuh kriteria diatas menunjukkan kinerja dapat diukur dengan bermacam cara, yaitu secara kuantitatif dan atau kualitatif. Indikator kinerja dapat diklasifikasikan secara umum sebagai (Fiksel dalam Willig et.al. (ed), 1995) :

  • Kualitatif, adalah ukuran yang didasarkan pada penilaian semantik, pandangan, persepsi seseorang berdasarkan pengamatan dan penilaiannya terhadap sesuatu. Keuntungan dari metrik ini adalah pengumpulan datanya relatif mudah dilakukan dan mudah diimplementasikan. Kerugiannya adalah metrik ini secara implisit melibatkan subyektifitas dan karenanya sulit divalidasi.
  • Kuantitatif, adalah ukuran yang didasarkan pada data empiris dan hasil numerik yang mengkarakteristikkan kinerja dalam bentuk fisik, keuangan, atau bentuk lain. Contohnya adalah batas baku mutu limbah. Keuntungan dari metrik ini adalah obyektif, sangat berarti, dan dapat diverifikasi. Kerugiannya adalah data yang diperlukan mungkin sulit diperoleh atau bahkan tak tersedia.

Ukuran yang sering dimasukkan dalam kelompok ukuran kinerja bisnis secara umum adalah sebagai berikut :

  • Produktifitas, dalam pengertian tradisional adalah jumlah satu atau lebih input dibandingkan dengan jumlah output dari suatu proses yang diidentifikasi dengan jelas. Ukuran paling umum adalah ukuran produktifitas tenaga kerja, dimana diukur jumlah input tenaga kerja (misalnya jam tenaga kerja atau pegawai) untuk setiap unit fisik output. Ukuran lainnya adalah produktifitas material, yaitu jumlah output diukur kemudian dibandingkan dengan imput jumlah fisik material.
  • Mutu, meliputi keseluruhan proses dalam suatu organisasi dan karakteristik yang dikirimkan ke luar organisasi. Dalam organisasi, ukuran mutu yang dapat terjadi adalah scrap, recycle dan bentuk lain dari limbah yang mempengaruhi kinerja. Aspek lain dari mutu (kepuasan konsumen) berhubungan dengan apakah pelayanan yang dibuat sesuai dengan apa yang diharapkan, diinginkan, atau dispesifikasikan konsumen. Beberapa ukuran konsumen terutama yang berhubungan dengan pelayanan cukup subyektif, bentuknya bisa timbul dari postaudit review, keluhan, survai kepuasan konsumen, dll.
  • Ketepatan waktu, sering dianggap bagian dari mutu, tetapi pengiriman tepat waktu dapat diketahui dari ketepatan teknis produk.
  • Siklus waktu, adalah ukuran waktu yang diperlukan dalam proses kunci, mulai dari awal sampai dengan proses selesai.
  • Pemanfaatan, adalah ukuran sumber daya yang digunakan dibandingkan dengan sumber daya yang tersedia untuk dipakai. Meskipun pemanfaatan biasanya dianggap berhubungan dengan kapasitas peralatan pabrik, tetapi sesekali diperlukan oleh kelompok manajemen.
  • Kreatifitas atau inovasi, sangat diperlukan dalam jenis perusahaan tertentu seperti periklanan atau pekerjaan seni. Untuk mengukur kreatifitas dan inovasi secara langsung sangat sulit, tetapi bila terjadi orang dapat mengetahui dan melihatnya.
  • Hasil / akibat. Kadang-kadang output langsung suatu proses hampir tidak berarti atau sulit diukur, tetapi pada akhirnya pada suatu batas waktu ada akibat atau hasil terpenting yang dapat diukur. Contohnya output seorang tenaga penjual bukan pada banyaknya brosur yang dibagikan atau jumlah penawaran telepon pada konsumen, tetapi adalah berhasil atau gagalnya transaksi penjualan dengan konsumen.

Menurut Bredrup (Rolstadas, 1995) setiap perusahaan mempunyai struktur unik yang terbentuk pada fasilitas, peralatan, produk, kompetensi, dan infrastruktur. Aktifitas dan proses yang terjadi di perusahaan bisa saja bersifat universal, tetapi ada definisi struktur yang menjadi identitas perusahaan dan membedakannya dengan perusahaan lain. Kinerja bisnis sangat tergantung pada kecocokan antara struktur dengan persyaratan lingkungan.

Proses inovasi dan motivasi untuk berprestasi tergantung pada kesesuaian struktur dengan persyaratan yang dibutuhkan oleh kegiatan tersebut. Hal-hal yang termasuk human interest juga termasuk didalamnya. Maka indikator kualitatif masih akan sangat berperan dalam menentukan tingkatan kinerja organisasi. Faktor utama lain mengapa indikator kualitatif masih penting adalah karena fokus pada manusia itu sendiri sebagai pelaku kegiatan akan menjadi sangat kuat. Eksplorasi penilaian sumberdaya manusia sebagai aset bernilai perusahaan tidak bisa hanya menggunakan indikator kuantitatif yang lebih sesuai diterapkan pada aset fisik saja. Indikator kualitatif perlu memiliki pola pengukuran yang jelas dan meliputi semua aspek yang ada dalam organisasi. Terdapat banyak cara mengukur kinerja lingkungan seperti halnya ISO 14001, CERES, The Natural Step, GRI, TQEM CGLI, dan Balanced Scorecard. Setiap metoda tersebut memiliki jawaban tersendiri mengenai kinerja lingkungan, namun setiap jawaban adalah sebagian dari pertanyaan tersebut. (Pojasek, 2001).

tanpa mempelajari misi kelompok. Selanjutnya perlu diperhatikan produk dan jasa yang menjadiMetoda tentang kelompok ukuran yang biasa digunakan untuk meningkatkan kinerja dalam suatu organisasi dijelaskan oleh Thor (Christopher (ed.), 1993) contohnya : Pembuatan ukuran kinerja yang baik dalam kelompok kerja perlu dipertimbangkan karakteristiknya. Mengapa kelompok tersebut ada, apa misinya, dsb. Untuk mendapatkan ukuran yang bernilai, hanya dapat dikembangkan melalui ukuran yang diciptakan lewat pemantauan kegiatan-kegiatan atau hasil yang cukup penting. Ukuran yang penting tidak dapat ditentukan tanggung jawab kelompok. Jika ada pernyataan misi kelompok, biasanya ada indikator yang jelas yang dinyatakan tidak langsung, misalnya siapa yang menjadi konsumen dari output kelompok (bisa internal atau eksternal organisasi). Setiap kali kunci pada produk atau jasa dan konsumen telah ditetapkan, maka harus ditentukan prioritas, yakni peningkatan obyek terpenting.

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa indikator kinerja kuantitatif harus terkait dengan tujuan, visi dan misi organisasi tersebut. Khusus mengenai indikator kinerja lingkungan kuantitatif, model pendekatan pengukurannya adalah seperti halnya ISO 14031. Dalam model itu disebutkan 2 macam indikator kuantitatif yaitu Indikator kinerja lingkungan (Environmental Performance Indicator / EPI) dan indikator kondisi lingkungan (Environmental Condition Indicator / ECI). Mereka adalah parameter-parameter berbeda yang menjelaskan potensi dampak aktifitas-aktifitas, produk, atau jasa pada lingkungan. Parameterparameter ini adalah hasil dari mengkarakteristikkan intervensi lingkungan atau aspek-aspek lingkungan yang telah diklasifikasikan (Sturm, 1998).

Categories: Kebijakan Kesehatan

Transportasi Berwawasan Lingkungan

Penerapan Transportasi Berwawasan Lingkungan 

Pada dekade terakhir ini muncul masalah lingkungan sebagai isu global yang menjadi salah satu perhatian bangsa-bangsa didunia. Indonesia sudah tentu mempunyai komitmen terhadap masalah lingkungan tersebut. Hal ini tercermin dari berbagai kegiatan penentuan kebijaksanaan pembangunan dalam hampir semua masyarakat yang senantiasa yang memperhatikan aspek lingkungan. Transportasi yang merupakan urat nadi kehidupan bangsa dan salah satu kedudukan yang menyatu dengan kehidupan masyarakat itu sendiri, tidak terlepas dari keharusan memperhatikan aspek lingkungan, karena berbagai transportasi yang keunggulan juga menimbulkan permasalahan.

Salah satu permasalahan yang muncul adalah pencemaran lingkungan dan peningkatan kadar pencemarannya sebanding dengan intensitas penyelenggaraan transportasi itu sendiri, baik berupa kebisingan serta pencemaran udara. Disisi lain keberhasilan pembangunan menuntut dukungan jasa pelayanan transportasi, melalui pemilihan teknologi transportasi tepat guna yang berorientasi pada lingkungan, terutama pencemaran udara dan gas buanagn kendaraan bermotor yang diemisikan ke udara lingkungan. Masalah pencemaran udara dibeberapa kota besar di Indonesia telah menunjukkan kondisi yang menuntut perhatian secara serius dari semua pihak, misalnya kota Jakarta ibu kota Indonesia negara kita. Mengingat bahwa zat-zat pencemar tersebut sangat membahayakan kehidupan manusia serta merusak tatanan lingkungan nasional maupun global maka berbagai negara di dunia berupaya mencari teknologi yang tetap dan handal dalam memenuhi kebutuhan transportasi dengan konstribusi pencemaran udara yang rendah.

Transportasi Berwawasan Lingkungan

Dapat diketahui bahwa kendaraan bermotor memberikan konstribusi paling besar dalam mencemari udar lingkungan. Oleh karena itu, berbagai langkah dalam rangka mewujudkan teknologi transportasi berwawasan lingkungan, anatar lain melalui pemilihan model teknologi yang tepat, menggunakan sarana transportasi yang bersifat massal, peraturana sistem lalu lintas dan angkutaan jalan yang efektif dan efisien, pengendalian sumber zat pencemar, dan lain sebagainya.

Adapun teknologi berwawasan lingkungan yang dipilih, hendaknya tetap berorientasi pada tujuan penyelenggaraan transportasi demi tercapainya tujuan nasional. Kesalahan dalam menetapkan tujuan penyelenggaraan trasportasi tersebut dapat berakibat biaya yang terlalu tinggi yang pada gilirannya justru dapat menurunkan efektivitas dan efisiensinya. Mengingat luas dan kompleksnya cakupan teknologi transportasi berwawasan lingkungan tersebut, maka makalah ini hanya membatasi lingkup bahansan yang hanya menitikberatkan pada aspek teknologi pengendalian sumber zat pencemar.

APLIKASI BAHAN BAKAR UNTUK KENDARAAN BERMOTOR

Dilihat dari fungsi kendaraan bermotor, yang dituntut selalu mampu bergerak (mobile) ke seluruh penjuru jalan yang dikehendaki, maka kendaraan bermotor tersebut mememrlukan jenis bahan bakar yang bukan saja memenuhi syarat kesempurnaan pembakaran, melainkan juga harus mudah dibawa, relatif ringan, mudah malakukan pengisian kembali, masih banyak lagi. Bahan bakar yang memenuhi kriteria tersebut adalah bahan bakar minyak. Namun dewasa ini, bahna bakar fosil ini mengalami berbagai kendala, antara lain : keterbatasan sumber yang tersedia, tidak dapat diperbaharui, menimbulkan pencemaran udara yang dapat mengganggu kehidupan manusia serta keseimbangan lingkungan dan lain sebagainya.

Salah satu zat pencemar yang dihasilkan oleh bahan bakar minyak pada waktu itu adalah munculnya timah hitam yang sengaja dicampurkan pada bahan bakar minyak itu. Dengan kenyataan tersebut maka pakar otomotif bekerjasama dengan paara pakar energi menciptakan bahan bakar minyak yang memenuhi persyaratan motor bakar tanpa mengandung timah hitam.

Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

Di Indonesia, jenis bahan bakar yang secara komersial telah diperkenalkan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori yakni :

  1. Bensin (motor gasoline=mogas)
  2. Solar
  3. Bahan bakar gas (compressed natural gas)

Dilihat dari kadar zat pencemar udara yang dihasilakna dari hasil pembakaran bahan bakar tersebut, masing-masing memiliki keunggulan maupun kelemahan sesuai dengan karekteristik serta sistem pembakaran.

BAHAN BAKAR BENSIN

Sejak tahun 1923, penggunaan timah hitam atau Tetra Ethil Lead (TEL) sangat populer dan dipakai sebagai zat campuran tambahan bahan bakar minyak jenis bensin. Keberadaan TEL tersebut kemudian dipermasahkan para ahli lingkungan yang menemukan fakta bahwa kandungan TEL tersebut sangat mengganggu kesehatan manusia karena sifat racun yang dikandung oleh timah hitam. Oleh karena itu, para pakar kemudian menggunakan zat kimia tanpa timah hitam yang dapat meningkatkan bilangan oktan bensin, yakni zat organik yang dioksigenasi, seperti alkohol dan eter. Penggunaan MTBE (Methyl Tertiary Buthyl Eter) merupakan pilihan pengganti timah hitam yang dianggap paling baik, tidak higroskopik dan tidak mudah tercampur dengan air. Rapat jenis, tekanan uap dan titik didihnya berada dalam daerah kerja bensin.

BAHAN BAKAR DIESEL (SOLAR)

Prinsip pembakaran pada motor disel adalah karena terbakar dengan sendirinya antara campuran solar yang dinjeksikan (dikabutkan) dengan udara yang dimasukkan ke ruang bakar hampir secara adiabatik. Zat pencemar karbon monoksida yang dihasilkan oleh motor disel melalui gas buangannya sangat kecill, karena biasanya mesin disel bekerja dengan kelebihan udara. Tetapi disisi lain, akan terbentuk nitrogen oksida. Kualitas penyalaan bahan bakar disel dapat diperhatikan dengan penambahan sejumlah kecil zat kimia tertentu, misalnya nitrat organik, dan peroksida (contoh amilnitrat, asetoperoksida). Asap yang dipancarkan oleh motor disel adalah partikulat dalam gas buangan yang berisi PAHs dan jelaga. Gas buangan yang berasap hitam merupakan / menandakan kegagalan pembakaran atau adanya pembentukan karbon diruang bakar atau kerusakan lainnya. Pembentukan jelaga pada pengoperasian mesin disel pada beban penuh dapat dikurangi dengan mengurangi beban mesin. Pada beban rendah, motor disel bekerja dengan campuran miskin, sehingga kemungkinan timbulnya jelaga dapat diperkecil. Oleh karena daya maksimum yang dapat dihasilkan oleh motor disel dilihat dari kehitaman warna asap gas buangannya. Jelaga berwarna hitam yang dipancarkan melalui gas buangan motor disel harus dihindari, karena bukan saja mengganggu lalu lintas, tetapi juga mengandung karsinogen yang dapat menyebabkan penyakit kanker pada manusia.

BAHAN BAKAR GAS (BBG) / COMPRESSED NATURAL GAS (CNG)

Hampir semua emzim kendaraan bermotor dapat diubah bahan bakarnya dengan bahan bakar gas (BBG) yang menghasilkan polusi lebih rendah. Penggunaan bahan bakar gas (BBG) pada kendaraan bermotor dapat mengurangi kadar karbon monoksida (CO) sebanyak 90% dan kadar hidrokarbon (HC) 40%. Hal ini terjadi karena penggunaan BBG sangat memungkinkan terjadinya campuran udara-bahan bakar lebih merata, sehingga pembakaran dapat terjadi secara sempurna.

APLIKASI KENDARAAN BERMOTOR BERPOLUSI RENDAH

Zat pencemar udara yang berasal dari kendaraan bermotor bersumber dari :

  • - gas buangan
  • - penguapan bahan bakar
  • - blow by gas

ZAT PENCEMAR DARI GAS BUANGAN KENDARAAN BERMOTOR

Zat pencemar udara utama yang terkandung dalam gas buangan kendaraan bermotor pada umumnya terdiri dari :

  • - karbon monoksida (CO)
  • - karbon dioksida (CO2)
  • - Hidrokarbon (HC)
  • - Partikulat

Sedang zat pencemar udara lainnya, seperti sulfur oksida (SOx) dan senyawa timah hitam (Pb) biasanya berasal dari bahan bakar yang digunakan oleh kendaraan bermotor tersebut.

Karbon monoksida (CO)

Pembentukan karbon monoksida di ruang bakar disebabkan oleh proses pembakaran yang tidak sempurna. Oleh karena itu besar atau kecilnya jumlah karbon monoksida yang dihasilkan oleh setiap kendaraan tersebut sangat tergantung pada tingkat kesempurnaan proses pembakaran. Sebagai salah satu contoh, dapat dijelaskan proses terjadinya pembakaran bahan bakar bensin (C8H18) pada ruang enjin otto. Proses permbakaran dapat terjadi sempurna jika kebutuhan oksigen / udara untuk membakar bahan bakar bensin tersebut dijaga pada rasio yang memadai. Oleh karena itu agar proses pembakaran tersebut terjadi secara sempurna, harus memnuhi reaksi kimia tersebut :

2C8H18 + 25O2 MENJADI 16CO2 + 18H2O

Artinya :

Untuk membakar secara sempurna 2 molekul C8H18 diperlukan 25 molekul O2. Dengan perkataan lain, untuk membakar sempurna 228 gr C8H18 diperlukan oksigen seberat 800 gr atau 1 gr C8H18 memerlukan 3,5 gr oksigen.

Karbon dioksida (CO2): Karbon dioksida (CO2) merupakan hasil pembakaran antara bahan bakar dengan udara di ruang bakar. Karbon dioksida selalu terbentuk disepanjang proses pembakaran berlangsung.

Hidrokarbon (HC)
: Hidrokarbon (HC) terbentuk karena adanya bahan bakar yang tidak terbakar pada saat proses pembakaran.

Nitrogen Oksida (NOx)
: Nitrogen oksida (NOx) dihasilkan senyawa nitrogen dan oksida yang terkandung di udara dari capuran udara-bahan bakar. Kedua unsur tersebut bersenyawa jika temperatur didalam ruang bakar diatas 1.800OC. 95% dari Nox yang terdapat pada gas buangan berupa nitric oxide (NO) yang terbentuk di dalam ruang bakar, dengan reaksi kimia berikut :

N2 + O2 MENJADI 2NO

Nitric oxide ini selanjutnya bereaksi denagn oksigen diudara membentuk nitrogen dioksida (NO2). Dalam kondisi normal, nitrogen (N2) akan stabil berada diudara atmosfer sebesar hampir 80%, namun dalam keadaan temperatur tinggi (diatas sekitar 1.800OC) dan pada konsentrasi oksigen yang tinggi, maka nitrogen bereaksi dengan oksigen membentuk NO. Pada kondisi ini maka konsentrasi NOx justru akan semakin besar pada proses pembakaran yang sempurna.

Sulfur Oksida (SOx) dan Senyawa Timah Hitam

Besarnya zat pencemar sulfur oksida (SOx) dan senyawa timah hitam sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan bakar yang mengandung sulfur potensial sebagai sumber penyebab terjadinya sulfur oksida (SOx). Sedangkan bahan bakar yang sengaja menggunakan TEL untuk menaikkan angka oktannya, akan menimbulkan zat pencemar timah hitam.

ZAT PENCEMAR DARI PENGUAPAN BAHAN BAKAR

Zat pencemar dari penguapan bahan bakar ini biasanya berupa hidrokarbon, berasal dari tangki dan karburator.

ZAT PENCEMAR DARI BLOW-BY GAS

Blow-by gas adalah gas yang terbakar naupun tidak terbakar yang menyelip di antara piston dengan dinding silinder, kemudian keluar ke udara melalui cankcase.

Teknologi Pengendalian Sumber Pencemar

Besarnya konsentrasi zat pencemar dari kendaraan bermotor didalam udara sangat dipengaruhi oleh besarnya zat pencemar yang dihasilkan oleh masing-masing kendaraan bermotor yang bersangkutan serta banyaknya kendaraan bermotor yang menyeburkan zat pencemar pada suatu wilayah tertentu pada kurun waktu tertentu.

Oleh karena itu, penggunaan kendaraan bermotor yang mengeluarkan zat pencemar besar, berarti denagn sengaja memberikan konstribusi peningkatan konsentrasi pencemaran udara di wilayah yang bersangkutan. Usaha pengunaan teknologi motor yang lebih baik, penggunaan bahan bakar berkualitas lebih baik, peningkatan kualitas perawatan serta pengendalian pencemaran uadra dari kendaraan bermotor perlu segera dilakukan oleh semua pihak.

Oleh karena itu, para pakar otomotif cenderung melakukan kegiatan rancang bangun dan rekayasa motor yang mengarah kepada teknologi yang kompak, ringan, menghasilkan daya motor yang tinggi dengan zat pencemar yang rendah , serta irit bahan bakar. Untuk itu beberapa pakar otomotif telah mengembangkan berbagai teknologi kendaraan bermotor, anatar lain : penyempurnaan sistem pembakaran, penggunaan peralatan elektronik, pemilihan / penggunaan bahan bakar kualitasnya lebih baik, melaksanakan perawatan dengan baik, melaksanakan pengujian terhadap setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan dijalan dan lain sebagainya.

Namun demikian, memilih teknologi yang tepat dalam rangka menurunkan dan / atau mengendalikan zat pencemar kendaraan bermotor kadang-kadang mengalami kesulitan, karena usaha penurunan kadar polutan tersebut biasanya diikuti oleh penurunan tenaga motor dan /atau konsumsi bahan bakar bertambah boros dan / atau memerlukan biaya yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh korelasi yang sangat erat antara faktor satu dengan faktor lainnya, sedemikian rupa sehingga memperbaiki parameter yang satu dapat memperburuk parameter yang lain.

Mengingat kebutuhan yang sangat mendesak, semua pihak diharuskan untuk menurunkan kadar polutan gas buangan kendaraan bermotor meskipun perlu diikuti pengorbanan, berupa penurunan tenaga mesin, pemakaian bahan bakar yang lebih poros maupun biaya relatif lebih tinggi. Oleh karena itu, banyak para ahli teknologi kendaraan bermotor bekerja keras untuk mengembangkan cara yang lebih efektif dan efisien untuk mengendalikan zat pencemar gas buangan kendaraan bermotor dengan pengorbanan sekecil-kecilnya.

Penggunaan Bahan Bakar Berkadar Pencemaran Rendah

  • Dari sekian jenis zat pencemar dari kendaraan bermotor terdapat jenis zat pencemar yang keberadaannya sangat ditentukan oleh kualitas atau unsur-unsur yang terkandung dalam bahan bakar yang digunakan. Zat pencemar dimaksud adalah timah hitam dan sulfur.
  • Timah hitam yang dihirup masuk ke paru-paru sangat membahayakan kesehatan manusia. Zat ini sengaja ditambahkan ke dalam bensin dalam bentuk tetra-ethyl lead atua tetra methyl lead, karena merupakan cara paling murah untuk menaikkan bilangan oktan bensin.
  • Dalam proses pembakaran, timah hitam tidak tertinggal di ruang bakar, tetapi diemisikan ke udara bersama-sama dengan gas buangan kendaraan bermotor.
  • Bahan bakar bensin yang tidak mengandung timah hitam, namun tetap mempunyai bilangan oktan tinggi telah digunakan dan dikembangkan di beberapa negara. Oleh karena itu, para pakar otomotif telah mengembangkan rancang bangun dan rekayasa motor modern dengan menggunakan bahan bakar bebas timah hitam.
  • Penggunaan bahan bakar gas (BBG) sebagai bahan bakar alternatif kendaraan bermotor merupakan salah satu jawaban terhadap permasalahan pengendalian pencemaran uadra dari kendaraan bermotor. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan bakar jenis ini mampu meredusir kadar pencemaran sebesar lebih 90% bila dibandingkan dengan bensin. Namun, penurunan kadar emisi gas buangan tersebut diikuti dengan penurunan daya sekitar 10 – 17%. Walaupun demikian, penggunaan bahan bakar alternatif jenis ini perlu ditingkatkan.
  • Disamping itu, masih banyak energi alternatif lain yang membantu kebijaksanaan udara bersih, antara lain penggunaan energi listrik, hidrogen, energi matahari, dan lain sebagainya. Namun energi jenis ini masih dalam penelitian dan percobaan negara maju.


Pengendalian System Transportasi dan Lalu Lintas Secara Optimal

  1. Konsentrasi zat pencemar udara dari kendaraan bermotor sanagt bergantung pada kadar zat pencemar yang diemisikan oleh masing-masing kendaraan bermotor serta jumlah kendaraan bermotor yang dioperasikan paad suatu wilayah / daerah dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, pengendalian sistem transportasi dan lalu lintas secara optimal merupakan salah satui cara untuk mengurangi konsentrasi zat pencemar tersebut. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain adalah masalah pemilihan sarana angkutan yang tepat, optimalisasi pemanfaatan ruas jalan, mengemudikan kendaraan bermotor secara baik dan benar, kondisi lingkungan transportasi dan lalu lintas, kelancaran lalu lintas sistem pengaturan dan pengendalian dan lain sebagainya.
  2. Pemilihan sarana angkutan umum yang bersifat massal merupakan salah satu usaha untuk memanfaatkan ruas jalan secara optimal. Pemilihan sarana angkutan massal tersebut disamping dapat memecahkan masalah transportasi, juga sangat membantu penataan kondisi lalu lintas yang lebih lancar, menghemat pemakaian energi per penumpang / ton barang, tarif yang relatif murah, mengurangi banyaknya konsentrasi zat pencemar di udara, dan lain sebagainya. Untuk itu, Departemen Perhubungan telah menetapkan kebijaksanaan yang mengarahkan penggunaan sarana pengangkutan yang bersifat massal ini.
  3. Ketrampilan serta tingkah laku pengemudi kendaraan bermotor juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya zat pencemar yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor bahwa ada hubungan yang sangat erat antara cara mengemudikan kendaraan bermotor dengan besarnya zat pencemar yang dihasilkannya :
  • Gas CO meningkat, jika kendaraan bermotor diperlambat atau dalam keadaan idling.
  • Gas HC meningkat pada saat terjadinya penggantian persneling dan kendaraan bermotor mengalami perlambatan.
  • Gas NOx meningkat pada saat kendaraan bermotor dipercepat.
Categories: Kebijakan Kesehatan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.