Home > Kesehatan Lingkungan > TOLAK UKUR KINERJA LINGKUNGAN

TOLAK UKUR KINERJA LINGKUNGAN

Pengukuran kinerja lingkungan adalah bagian penting dari sistem manajemen lingkungan. Ini merupakan ukuran hasil dan sumbangan yang dapat diberikan sistem manajemen lingkungan pada perusahaan secara riil dan kongkrit. Pengukuran kinerja lingkungan ditafsirkan bermacam cara. Antara lain yang melihatnya semata kuantitatif, atau hasil proses, atau juga menyertakan kualitatif dan inprocess. Artikel ini disusun dengan membahas masalah pengukuran kinerja dari sisi pertimbangan bisnis perusahaan.
Manfaat yang akan diperoleh pembaca dari artikel ini adalah :
- pembaca dapat memahami dasar pengukuran kinerja lingkungan dan pengertian manajemen kinerja
- pembaca dapat memahami jenis pengukuran kinerja dan dasar penentuan indikator kinerja lingkungan
- pembaca memperoleh gambaran penerapan pengukuran kinerja lingkungan di tingkat organisasi
- pembaca mampu mengembangkan pengukuran kinerja lingkungan di tingkat perusahaan.
Menurut Sink dan Tuttle (1989), setiap orang dalam organisasi mulai dari top manajemen sampai dengan operator memiliki dua fungsi penting untuk dipenuhi :
·  Menjalankan pekerjaan dengan benar (yang berarti dikerjakan pada waktunya, dalam spesifikasi mutu, dan menggunakan jumlah sumber daya yang tepat).
·  Secara berkelanjutan mengembangkan diri, kelompok, organisasi, dan sistem kinerja Pernyataan diatas secara tidak langsung menganggap setiap orang dapat terus merubah kinerjanya. Proses perubahan yang berlanjut harus dimonitor untuk menjaga agar arahnya mendekati visi.
Definisi manajemen kinerja adalah suatu proses yang mengandung (Sink dan Tuttle, 1989) :
·  Menciptakan visi yang merumuskan apa yang diinginkan di masa mendatang
·  Perencanaan, memeriksa status relatif organisasi saat ini terhadap visi, membuat strategi
bagaimana rumusan di masa mendatang dapat dicapai, membangun kekuatan sedemikian rupa sehingga perusahaan dapat bergerak mendekati visi.
·  Merancang, mengembangkan dan mengimplementasikan dengan efektif intervensi pengembangan yang memiliki kemungkinan perusahaan dapat cepat bergerak mendekati bentuk yang telah ditetapkan di masa mendatang, terutama dalam batasan tingkat kinerja.
·  Merancang ulang, mengembangkan dan mengimplementasikan ukuran sistem evaluasi yang dapat menilai apakah perusahaan sedang bergerak ke arah yang telah ditetapkan dan menilai sejauh mana yang telah dikerjakan.
·  Menjamin sistem budaya pendukung berada di tempatnya, sehingga perusahaan dapat memberikan imbalan dan mendorong kemajuan. Hal ini perlu untuk memelihara keunggulan yang sedang dicapai dan mengendalikan tingkat kinerja yang dibutuhkan dalam berkompetisi di masa mendatang.
Kinerja secara umum didefinisikan dalam konteks bisnis tiga dimensi sebagai berikut
1. Efektifitas, secara luas memenuhi kebutuhan konsumen
2. Efisiensi, menggunakan sumber daya perusahaan secara ekonomis
3. Kemampuan untuk berubah (beradaptasi), persiapan perusahaan secara luas untuk menghadapi perubahan di masa mendatang.
Sink (1985) dan Sink dan Tuttle (1989) setelah mengamati perkembangan produktifitas tradisional dikaitkan dengan kemajuan yang diraih perusahaan, mengusulkan kinerja suatu sistem organisasi adalah hubungan yang kompleks diantara 7 kriteria berikut (Rolstadas, 1995) :
1. Efektifitas, mengerjakan sesuatu yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan kualitas yang tepat, dst.
2. Efisiensi, mengerjakan sesuatu yang tepat
3. Mutu, dalam konsep yang luas meliputi keseluruhan proses dalam suatu organisasi dan karakteristik yang dikirimkan keluar organisasi. Misalnya yang berkaitan dengan kepuasan konsumen adalah apakah pelayanan sesuai dengan yang diharapkan atau dispesifikasikan konsumen.
4. Produktifitas, dalam pengertian tradisional yaitu hubungan antara jumlah satu atau lebih input dengan jumlah output dari suatu proses yang diidentifikasi dengan jelas. Misalnya produktifitas tenaga kerja adalah jumlah jam kerja untuk setiap unit fisik output.
5. Kualitas kehidupan kerja
6. Inovasi
7. Keuntungan / anggaran, sasaran pokok untuk beberapa organisasi
Ketujuh kriteria diatas menunjukkan kinerja dapat diukur dengan bermacam cara, yaitu secara kuantitatif dan atau kualitatif. Indikator kinerja dapat diklasifikasikan secara umum sebagai (Fiksel dalam Willig et.al. (ed), 1995) :
·  Kualitatif, adalah ukuran yang didasarkan pada penilaian semantik, pandangan, persepsi seseorang berdasarkan pengamatan dan penilaiannya terhadap sesuatu. Keuntungan dari metrik ini adalah pengumpulan datanya relatif mudah dilakukan dan mudah diimplementasikan. Kerugiannya adalah metrik ini secara implisit melibatkan subyektifitas dan karenanya sulit divalidasi.
·  Kuantitatif, adalah ukuran yang didasarkan pada data empiris dan hasil numerik yang mengkarakteristikkan kinerja dalam bentuk fisik, keuangan, atau bentuk lain. Contohnya adalah batas baku mutu limbah. Keuntungan dari metrik ini adalah obyektif, sangat berarti, dan dapat diverifikasi. Kerugiannya adalah data yang diperlukan mungkin sulit diperoleh atau bahkan tak tersedia.
Ukuran yang sering dimasukkan dalam kelompok ukuran kinerja bisnis secara umum adalah sebagai berikut :
·  Produktifitas, dalam pengertian tradisional adalah jumlah satu atau lebih input dibandingkan dengan jumlah output dari suatu proses yang diidentifikasi dengan jelas. Ukuran paling umum adalah ukuran produktifitas tenaga kerja, dimana diukur jumlah input tenaga kerja (misalnya jam tenaga kerja atau pegawai) untuk setiap unit fisik output. Ukuran lainnya adalah produktifitas material, yaitu jumlah output diukur kemudian dibandingkan dengan imput jumlah fisik material.
·  Mutu, meliputi keseluruhan proses dalam suatu organisasi dan karakteristik yang dikirimkan ke luar organisasi. Dalam organisasi, ukuran mutu yang dapat terjadi adalah scrap, recycle dan bentuk lain dari limbah yang mempengaruhi kinerja. Aspek lain dari mutu (kepuasan konsumen) berhubungan dengan apakah pelayanan yang dibuat sesuai dengan apa yang diharapkan, diinginkan, atau dispesifikasikan konsumen. Beberapa ukuran konsumen terutama yang berhubungan dengan pelayanan cukup subyektif, bentuknya bisa timbul dari postaudit review, keluhan, survai kepuasan konsumen, dll.
·  Ketepatan waktu, sering dianggap bagian dari mutu, tetapi pengiriman tepat waktu dapat diketahui dari ketepatan teknis produk.
·  Siklus waktu, adalah ukuran waktu yang diperlukan dalam proses kunci, mulai dari awal sampai dengan proses selesai.
·  Pemanfaatan, adalah ukuran sumber daya yang digunakan dibandingkan dengan sumber daya yang tersedia untuk dipakai. Meskipun pemanfaatan biasanya dianggap berhubungan dengan kapasitas peralatan pabrik, tetapi sesekali diperlukan oleh kelompok manajemen.
·  Kreatifitas atau inovasi, sangat diperlukan dalam jenis perusahaan tertentu seperti periklanan atau pekerjaan seni. Untuk mengukur kreatifitas dan inovasi secara langsung sangat sulit, tetapi bila terjadi orang dapat mengetahui dan melihatnya.
·  Hasil / akibat. Kadang-kadang output langsung suatu proses hampir tidak berarti atau sulit diukur, tetapi pada akhirnya pada suatu batas waktu ada akibat atau hasil terpenting yang dapat diukur. Contohnya output seorang tenaga penjual bukan pada banyaknya brosur yang dibagikan atau jumlah penawaran telepon pada konsumen, tetapi adalah berhasil atau gagalnya transaksi penjualan dengan konsumen.
Menurut Bredrup (Rolstadas, 1995) setiap perusahaan mempunyai struktur unik yang terbentuk pada fasilitas, peralatan, produk, kompetensi, dan infrastruktur. Aktifitas dan proses yang terjadi di perusahaan bisa saja bersifat universal, tetapi ada definisi struktur yang menjadi identitas perusahaan dan membedakannya dengan perusahaan lain. Kinerja bisnis sangat tergantung pada kecocokan antara struktur dengan persyaratan lingkungan.
Proses inovasi dan motivasi untuk berprestasi tergantung pada kesesuaian struktur dengan persyaratan yang dibutuhkan oleh kegiatan tersebut. Hal-hal yang termasuk human interest juga termasuk didalamnya. Maka indikator kualitatif masih akan sangat berperan dalam menentukan tingkatan kinerja organisasi. Faktor utama lain mengapa indikator kualitatif masih penting adalah karena fokus pada manusia itu sendiri sebagai pelaku kegiatan akan menjadi sangat kuat. Eksplorasi penilaian sumberdaya manusia sebagai aset bernilai perusahaan tidak bisa hanya menggunakan indikator kuantitatif yang lebih sesuai diterapkan pada aset fisik saja. Indikator kualitatif perlu memiliki pola pengukuran yang jelas dan meliputi semua aspek yang ada dalam organisasi. Terdapat banyak cara mengukur kinerja lingkungan seperti halnya ISO 14001, CERES, The Natural Step, GRI, TQEM CGLI, dan Balanced Scorecard. Setiap metoda tersebut memiliki jawaban tersendiri mengenai kinerja lingkungan, namun setiap jawaban adalah sebagian dari pertanyaan tersebut. (Pojasek, 2001).
tanpa mempelajari misi kelompok. Selanjutnya perlu diperhatikan produk dan jasa yang menjadiMetoda tentang kelompok ukuran yang biasa digunakan untuk meningkatkan kinerja dalam suatu organisasi dijelaskan oleh Thor (Christopher (ed.), 1993) contohnya : Pembuatan ukuran kinerja yang baik dalam kelompok kerja perlu dipertimbangkan karakteristiknya. Mengapa kelompok tersebut ada, apa misinya, dsb. Untuk mendapatkan ukuran yang bernilai, hanya dapat dikembangkan melalui ukuran yang diciptakan lewat pemantauan kegiatan-kegiatan atau hasil yang cukup penting. Ukuran yang penting tidak dapat ditentukan tanggung jawab kelompok. Jika ada pernyataan misi kelompok, biasanya ada indikator yang jelas yang dinyatakan tidak langsung, misalnya siapa yang menjadi konsumen dari output kelompok (bisa internal atau eksternal organisasi). Setiap kali kunci pada produk atau jasa dan konsumen telah ditetapkan, maka harus ditentukan prioritas, yakni peningkatan obyek terpenting.
Sehingga dapat kita simpulkan bahwa indikator kinerja kuantitatif harus terkait dengan tujuan, visi dan misi organisasi tersebut. Khusus mengenai indikator kinerja lingkungan kuantitatif, model pendekatan pengukurannya adalah seperti halnya ISO 14031. Dalam model itu disebutkan 2 macam indikator kuantitatif yaitu Indikator kinerja lingkungan (Environmental Performance Indicator / EPI) dan indikator kondisi lingkungan (Environmental Condition Indicator / ECI). Mereka adalah parameter-parameter berbeda yang menjelaskan potensi dampak aktifitas-aktifitas, produk, atau jasa pada lingkungan. Parameterparameter ini adalah hasil dari mengkarakteristikkan intervensi lingkungan atau aspek-aspek lingkungan yang telah diklasifikasikan (Sturm, 1998).
Download di :

http://www.ziddu.com/download/18004508/TolakUkurKinerjaLingkungan.docx.html

About these ads
Categories: Kesehatan Lingkungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: